TIGA PERTIMBANGAN KENAPA SAYA MAJU LAGI SEBAGAI CALON ANGGOTA DPD-RI 2009-2014

Mochtar Naim

SATU

DPD-RI (Dewan Perwakilan Daerah Republik Indo-nesia) yang sekarang usianya sudah memasuki tahun yang kelima, adalah bagaikan “itik lumpuh.” Ia se-sungguhnya bisa banyak berbuat untuk mempercepat pemba-ngunan di daerah dalam semua bidang, tetapi dalam kenya-taannya tidak bisa banyak berbuat. Hal ini adalah karena peran dan wewenangnya dibatasi oleh pasal 22 D UUD1945 yang hanya “dapat mengajukan rancangan undang-undang yang berkaitan dengan otonomi daerah,” “ikut membahas” dan “dapat melakukan pengawasan atas pelaksanaan undang-un-dang mengenai otonomi daerah,” tetapi tidak dapat memutus sendiri ataupun ikut memutus, kendati rancangan undang-undang itu dibuat dan disiapkan oleh DPD-RI sendiri. Yang mempunyai hak memutus adalah, dan hanyalah, DPR-RI. Makanya banyak sudah RUU, saran dan pendapat serta hasil bahasan dan pengawasan yang diajukan ke DPR-RI banyak, atau bahkan sebahagian besar, tidak digubris atau bahkan dia-baikan begitu saja oleh DPR-RI.
Dengan demikian keinginan agar terdapat keseimbangan dan kesetaraan antara dua lembaga legislatif di tingkat nasional dalam konteks bikameral antara DPR-RI dan DPD-RI tidak terjadi. Makanya DPD-RI adalah bagaikan itik lumpuh. Ingin berbuat banyak untuk daerah tapi tidak bisa.
Jika kita masih mengharapkan DPD-RI yang kuat dan berimbang dengan DPR-RI, khususnya dalam tugasnya seba-gai pemacu pembangunan di daerah di tingkat nasional, maka penghalang utamanya itu harus disingkirkan, yaitu dengan me-lakukan amandemen atau perubahan dengan pasal atau pasal-pasal yang mengungkungnya itu dalam UUD-1945.
Ini tentu saja memerlukan anggota-anggota DPD-RI, yang juga adalah anggota-anggota MPR-RI, yang kuat dan tangguh serta gigih dalam memperjuangkannya. Bukan justru hanya sekadar duduk, atau menyerahkan urusan kepada partai yang diwakilinya, jika ia utusan partai. Sekarang di samping utusan perseorangan dari daerah provinsi masing-masing, utusan dari partai pun dibolehkan untuk duduk di DPD-RI. Namun partai-partai, seperti halnya dengan pemerintah pusat sendiri, cenderung juga berpikir sentralistik, karena semua ke-bijakan diatur dan dikendalikan dari atas oleh Dewan Pimpin-an Partai di pusat. Anggota DPD-RI dari partai praktis tidak bisa jalan sendiri kecuali sejalan dengan keinginan partai.
Sekali lagi, DPD-RI memerlukan orang-orang yang kuat, gigih dan jujur dalam menggolkan cita-cita bikameral dengan kekuatan berimbang dan setara dengan DPR-RI itu. Karena itu pula, di samping tenaga-tenaga muda yang bersemangat tinggi yang sewajarnya masuk ke dalam DPD-RI itu, juga di-perlukan sejumlah tenaga-tenaga senior yang sangat mengerti dan sangat perduli serta sangat berpengalaman dengan tuntut-an perjuangan DPD-RI dalam rangka memperjuangkan kepen-tingan daerah itu.

DUA
Dengan negara sebesar Indonesia ini, yang adalah negara kelima terbesar di dunia, setelah Amerika Serikat, Rusia, Cina dan India, baik dari segi luas wilayah maupun jumlah pendu-duk, sendirinya tidak mungkin kalau kita masih berpikir uni-kameral, di mana semua-semua urusan kenegaraan diatur oleh dan dari pusat, tetapi sudah waktunya bikameral, seperti kebanyakan negara-negara besar lainnya, yakni di samping DPR-RI atau Parlemen ada DPD-RI atau Senat yang khusus memikirkan dan memperjuangkan kepentingan-kepentingan daerah. Dan daerah-daerah sendiri memiliki hak otonomi yang luas, baik di tingkat Kabupaten/Kota maupun di tingkat Provinsi dan Desa atau Nagari.
Kendati secara formal otonomi telah diberikan kepada daerah-daerah di tingkat kabupaten dan kota, tetapi dalam kenyataan, yang diberikan kepada daerah-daerah kabupaten dan kota itu hanyalah “urusan-urusan,” dan tidak “wewe-nang.” Wewenang itu masih terpegang di tangan pusat, oleh departemen-departemen terkait, dan mengenai otonomi itu sendiri, oleh Departemen Dalam Negeri, dengan menjadikan Gubernur sebagai ujung tombak atau wakil pusat di daerah.
Karenanya, yang terjadi dalam praktek, adalah ketidak-harmonisan hubungan antara Bupati/Walikota dan Gubernur yang menjadi wakil pusat di daerah itu tanpa provinsi punya hak otonomi sendiri. Pada hal, kecuali lima tugas kenegaraan yang diserahkan kepada pusat (yaitu pertahanan, keamanan, luar negeri, keuangan, agama) tidak kurang dari 36 tugas kenegaraan lainnya melalui otonomi daerah diserahkan kepada daerah. Namun yang diserahkan itu hanyalah urusannya, dan bukan wewenangnya, sehingga ketergantungan daerah kepada pusat masih berjalan seperti sediakala sebelum era otonomi daerah.
Otonomi semu seperti ini tentu harus dirubah dengan memberikan otonomi sepenuhnya kepada daerah, bukan hanya di tingkat kabupaten dan kota tetapi juga di tingkat provinsi dan di tingkat desa atau Nagari. Ini adalah perjuangan berat ke depan yang harus dipikul oleh DPD-RI dalam rangka memajukan daerah-daerah itu.
Untuk inipun DPD-RI memerlukan anggota-anggota yang kuat, tangguh, jujur dan berpengalaman.

TIGA
Dari praktek-praktek yang kita lihat di jajaran eksekutif, legislatif dan yudikatif di NKRI ini, dari pusat sampai ke daerah-daerah, sejak masa Orde Baru sampai ke era Reformasi sekarang ini, kelihatan sekali betapa luasnya penyalah-gunaan wewenang telah terjadi, dan karenanya korupsi di mana-mana merajalela. Oleh dunia, Indonesia bahkan telah dicap sebagai salah satu dari negara terkorup di dunia.
Untuk itu, dalam memilih wakil-wakil rakyat dan daerah yang akan duduk di lembaga-lembaga legislatif, di pusat dan daerah, — di DPR-RI, DPD-RI dan DPRD –, perlu sekali kita dan rakyat seanteronya memilih dan menyeleksi siapa calon-calon yang mengajukan diri yang memiliki kualitas kepribadian yang kuat, tangguh dan tahan uji, yang selalu berkata benar, yang iya… iya dan yang tidak… tidak. Dan yang menjadikan politik itu adalah juga bahagian dari ibadah – pengabdian bukan hanya kepada bangsa dan tanah air, tetapi juga kepada agama, dan Allah swt, yang nanti juga akan dipertanggung-jawabkan di akhirat. ***

0 Responses to “TIGA PERTIMBANGAN KENAPA SAYA MAJU LAGI SEBAGAI CALON ANGGOTA DPD-RI 2009-2014”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: