PENANAMAN BUDAYA MUTU DI SEKOLAH PADA ERA GLOBALISASI

Mochtar Naim
Anggota DPD-RI utusan Sumbar

Disampaikan dalam Diskusi Diknas Kabupaten Agam,
Lubuk Basung,
Di hadapan Para Kepsek SMP, SMA dan SMK,
Kamis, 19 Februari 2009

I

SUDAH lebih dua per tiga abad kita merdeka. Tetapi kemajuan yang kita capai di bidang pendidikan, terutama kalau kita bicara dalam paradigma “mutu,” rasanya lam-bat betul waktu berjalan, dan sedikit nian yang sudah kita dapatkan dalam hal mutu pendidikan itu. Malah, jika diban-dingkan dengan mutu pendidikan di zaman dahulu, di zaman kolonial sebelumnya, terasa bahwa yang dahulu itu relatif lebih baik dari yang sekarang. Apalagi kalau yang kita maksudkan dengan pendidikan itu bukan hanya semata pengajaran tetapi jumlah keseluruhan dari sistem pendidikan itu, di mana terma-suk ketiga komponen utama dari pendidikan itu: Kognitif, Afektif dan Psikomotorik. Atau dalam jargon yang juga dipakai sekarang ini: tiga komponen utama: Intelektual, Emo-sional, Spiritual.
Mutu pendidikan tidaklah ditentukan oleh waktu ataupun tempat (zamān wa makān), tetapi oleh alkemi persenyawaan antara faktor-faktor yang turut menentukan dan membentuk-nya itu, yang terus menerus berproses dalam waktu. Tidak ada jaminan bahwa yang dahulu lebih baik atau lebih buruk dari yang sekarang, dan bahwa pendidikan di satu tempat, di manapun, lebih baik atau lebih buruk dari di tempat lainnya. Karenanya sejarah bergelombang. Termasuk sejarah pendi-dikan itu sendiri.
Kalau sekarang kita menginginkan mutu pendidikan yang baik, maka yang dikaji dan diupayakan adalah faktor-faktor penunjang yang menyebabkan baiknya mutu pendidikan itu. Dan faktor-faktor itu tidak berdiri sendiri-sendiri, tapi saling kait-berkait, dan saling bersenyawa dan bersinergi. Mutu pendidikan yang baik adalah hasil persenyawaan dari sekian faktor penentu yang semua baik-baik. Sebaliknya juga begitu. Mutu pendidikan yang jelek adalah hasil persenyawaan dari sekian faktor penentu yang semua atau sebagian juga jelek.
Dan paradigma ini adalah universal. Terpakai di mana-mana, dan kapanpun. Karenanya juga kita bisa saling belajar, baik secara internal, ke dalam, ke masa lalu kita, maupun secara eksternal ke luar ke berbagai pengalaman dari bangsa-bangsa di dunia ini, dari dahulu sampai sekarang. Era globa-lisasi sekarang ini memudahkan kita untuk saling belajar dan saling mengambil yang baik dari manapun, lalu mencampur-kannya dalam alkemi pendidikan itu.
Pendidikan tidak mengenal Timur maupun Barat – lā syarqiyatan wa lā gharbiyatan — dan tidak mengenal dulu maupun sekarang. Karenanya, jika kita memang mau maju, dan mau cepat maju, manfaatkanlah semua daya yang ada pada kita dan manfaatkan pula apa yang kita bisa dapatkan dari luar, dari mana saja. Tidak sia-sia kalau ada ungkapan seperti hadith yang mengatakan: “Uthlubul ‘ilma walau bish Shīn.” Tuntutlah ilmu itu walau ke negeri Cina sekalipun.
Pendidikan, sekali lagi, sifatnya adalah universal. Kalau ada ungkapan: Al Islām raĥmatan lil ‘ālamīn, maka pendidikan sebagai manifestasi dari perwujudan Islam itu, adalah juga raĥmatan li kulli ummatin fil ‘ālam. Pendidikan adalah rahmat bagi sekalian ummat di alam ini. Melalui pendidikan, manakala semua makhluk lainnya tinggal melata di bumi, manusia bisa terbang ke bulan dan ke angkasa luar lainnya, dan menjadi khalifah penguasa di muka bumi ini. Apalagi Tuhan sendiri mengatakan: “Semua dan seisi alam ini Kami ciptakan untuk kamu.”
Namun, sebagaimana dengan agama juga, di mana dikatakan: Al Islām maĥjūbun bil muslimīn,” Islam itu tertutup oleh orang Islam sendiri, pendidikan pun juga begitu. Pendidikan terhalang dan tertutup oleh para pihak yang terkait dengan pendidikan itu sendiri, di mana tidak terkecualinya termasuk guru sendiri.

II
Dari titik persetumpuan filosofis ini kita berangkat, sehingga kita tidak akan bersikap a priori terhadap unsur alkemi pendidikan manapun yang kita aduk dan senyawakan. Sederhananya kita berpegang saja pada prinsip, seperti juga yang terpakai dalam adat dan budaya kita sendiri: “Yang baik, dari manapun datangnya, dipakai, yang buruk dibuang.” Era globalisasi ini adalah peluang dan sekaligus adalah tantangan yang paling baik yang patut kita sambut dan kita pergunakan seoptimal mungkin.
Cara atau metoda yang paling baik untuk menjawab per-tanyaan dari topik diskusi kita ini, yaitu: “Penanaman Budaya Mutu di Sekolah pada Era Globalisasi,” adalah dengan mela-kukan opname diagnosis terlebih dahulu untuk menemukan “apanya yang sakit.” Setelah diketahui ada bahagian-bahagian dari organ dan dari sistemnya yang rusak, maka melakukan upaya terapi penyembuhan menjadi mudah. Yang sakit yang diobat, dan diobat dengan cara dan macam obat yang tepat.
Ada sejumlah simptom yang telah cukup lama kita detek-si yang menyebabkan sakitnya sistem pendidikan kita di Indo-nesia ini.
Pertama, adalah caranya kita menempatkan pendidikan ini dalam konstelasi kehidupan kita sendiri. Kita tidak menem-patkan pendidikan ini sebagai part and parcel atau bagian yang esensiel dan sentral dalam kehidupan kita. Pendidikan hanya diperlakukan sebagai alat atau instrumen untuk mendapatkan keterampilan kerja. Pendidikan adalah alat untuk penupang hidup, bukan hidup itu sendiri. Karenanya, ketika secarik kertas (baca: ijazah) yang diupayakan dan yang diinginkan sela-ma ini melalui proses persekolahan, didapatkan, maka mesin pembelajaran dalam diri terhenti atau berhenti sendirinya. Buku ditutup. Semangat belajar, membaca, menulis, mencari tahu, dan semangat berfikir, berkontemplasi, berhenti. Keselu-ruhan sisa hidupnya hanyalah untuk pengisi perut dan mencari kesenangan hidup yang sifatnya fisik dan materialistik. Hidup bukan untuk pendidikan. Filosofi hidup: education for life, life is for education, dan life-long education praktis tidak dikenal. Tersang-kutnya kita pada faktor budaya, karena budaya yang kita anut, tidak mengenal itu. Kendati Islam mengenal, dan adalah sumber rujukan dari filosofi long-life education, and education for life itu, tapi ajaran itu hanya tinggal di teks, tekstual, dan tidak kontekstual dan empirikal, bilā ‘amal. Sehingga menjadilah pendidikan itu bagai pohon tak berbuah — kasysyajarah bilā tamar.
Kedua, karena pendidikan itu hanyalah diperlakukan seba-gai alat untuk hidup, maka ilmu pengetahuan yang dituntut juga dibikin bertingkat-tingkat, yang satu lebih tinggi dari yang lainnya. Demikianlah, kita telah menempatkan ilmu-ilmu eksakta, ilmu pasti, sebagai yang tertinggi. Anak-anak dengan IQ tinggi masuk ke bidang ini. Di tengahnya ilmu-ilmu sosial, dengan anak-anak yang diterima yang ber IQ sedang. Anak-anak yang ber IQ rendah, tidak lagi bisa masuk ke mana-mana, maka masuklah ke Sekolah Guru dan Sekolah Agama.
Bias kebiasaan membagi-bagi jurusan ilmu ini bertingkat-tingkat seperti ini adalah fatal, bagai dosa tak berampun, bagi pendidikan itu sendiri. Karena sikap terhadap ilmu seperti itu telah menempatkan guru sebagai kelompok “residual,” yang karena tidak bisa ke mana-mana, lalu masuk ke sekolah guru atau sekolah agama.
Jika ini dipraktekkan, seperti yang kita praktekkan dalam masyarakat dan sistem pendidikan kita sendiri, maka inilah salah satu penyebab terbelakangnya sistem pendidikan di Indonesia ini. Lain halnya di negara-negara maju – termasuk tak kurangnya di Singapura dan Malaysia sendiri. Di negara-negara maju itu, yang akan menjadi guru itu diambilkan dari kelompok 10 % intake teratas. Mereka lalu diberi beasiswa dan diasramakan. Kebutuhan pokoknya dijamin selama berse-kolah. Dan di Malaysia, sebagai contoh, hari pertama mereka diangkat jadi guru, dua kunci sekali diberikan. Satu kunci rumah dan satu lagi kunci mobil.
Ketiga, artinya, kesejahteraan hidup guru yang terjamin.
Keempat, karenanya, dari akumulasi faktor-faktor positif yang saling menunjang itu, penghargaan yang tinggi terhadap guru yang diberikan oleh masyarakat. Mereka terhormat dan dihormati. Kalau di Jepang, penghormatan terhadap guru diperlihatkan dalam bentuk rundukan berkali-kali berlebih daripada kepada orang lain. Dan yang namanya sensei (guru) itu punya aura khusus yang hanya dimiliki oleh guru. Sama seperti kita di zaman penjajahan dulu itu memberikan penghormatan kepada para guru yang hidupnya terjamin dan muruahnya terjaga.
Faktor kelima, keenam, ketujuh, dst, tinggal menambah-kan faktor-faktor penunjang lainnya, baik fisik prasarana, peralatan, buku-buku, sistem manajemen persekolahan, sistem jaringan kerjasama antara sekolah, orang tua, rumah tangga, masyarakat dan negara, dsb.

III
Penanaman budaya mutu di sekolah, adalah derivatif sifatnya, yang ada karena adanya faktor-faktor pendorong dan penghalang tadi. Dan ada karena dikondisikan dengan meka-nisme sistem pengelolaan yang bersasaran, terprogram dengan baik dalam rangka mencapai sasaran-sasaran itu, dan dengan disiplin serta sistem kontrol dan sanksi yang ketat dan efektif. Sendirinya faktor kepemimpinan dan suri keteladanan tidak kurangnya juga memainkan peranan penting.
Mutu dicapai dan budaya mutu hidup di sekolah, ibarat jentera, karena masing-masing bahagian berjalan sesuai dengan peran dan fungsi masing-masing, dan semua itu saling meleng-kapi serta saling terkait satu sama lain, dalam satu kesatuan sistemik dan struktural-fungsional yang utuh dan terpadu.
Reviu, revisi dan evaluasi dari waktu ke waktu secara berkala dilakukan, untuk meminimalisasi risiko dan kerugian dan mengoptimalisasi hasil serta keuntungan sebagai buah dari jentera pendidikan yang berkelanjutan dan berkesinambungan itu. ***

0 Responses to “PENANAMAN BUDAYA MUTU DI SEKOLAH PADA ERA GLOBALISASI”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: