PADANG-BANDA ACEH

Petualangan Jalan Darat
via Pekanbaru-Dumai-Medan
(23-25 Nov 2008)
Dalam rangka Sosialisasi Kerjasama
DPD-RI dan KPK
Dalam Upaya Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
Di Daerah (Banda Aceh, 26-28 Nov 2008)

*
DUDUK di dua PAH (Panitia Ad Hoc) tambah beberapa panitia alat kelengkapan lainnya di DPD-RI membikin saya sibuk, aktif dan sehat selalu. Alhamdu lillah. Saya duduk di PAH I (Otonomi Daerah) dan juga, sejak dua tahun ini, di PAH III (Pendidikan, Agama, Kesehatan). Mestinya setiap anggota dari empat anggota dari setiap daerah duduk di salah satu PAH dari empat PAH yang ada. PAH II mengenai ekonomi dan SDA&SDM, diisi oleh Zairin Kasim, dan PAH IV mengenai anggaran, pajak dan keuangan lainnya diisi oleh Afdal.
Kebetulan, Irman Gusman, karena terpilih jadi Wakil Ketua DPD-RI, dan juga karena kesibukannya selaku unsur pimpinan itu, tidak bisa duduk di PAH III, yang jadi jatahnya. Ketimbang masalah-masalah pendidikan, agama dan kesehatan yang begitu penting ini tak tertangani oleh siapapun dari Sumbar, saya kemudian sejak dua tahun ini lalu menyediakan diri untuk juga duduk di PAH III menempati tempat Irman Gusman. Saya jadinya, kayak “beristeri dua,” pontang-panting dari PAH I ke PAH III, dan sebaliknya. Bayangkan kalau jadwal acara programnya juga berdempetan, lalu bertubrukan. Belum pula ikut di beberapa alat kelengkapan lainnya, terma-suk Tim Pemerintahan Desa, Kelompok DPD di MPR-RI dan Tim Tipikor yang menangani masalah korupsi.
Kebetulan sayapun selaku team leader di bawah supervisi Wakil Ketua Laode Ida telah pula ikut melakukan studi banding ke Brisbane, Australia, tahun lalu, melihat dan mempelajari bagaimana Australia berhasil menangani masalah korupsi yang tadinya juga meruyak seperti di Indonesia ini. Mitra kami di Brisbane adalah dari Griffith University yang khusus mempelajari dan memantau terus penanganan korupsi di Australia, khususnya di negara bagian Queensland. Tim Griffith pun sudah kami bawa ke Jambi, Denpasar, Jayapura dan Yogya di samping diskusi di DPD-RI di Jakarta.
Dalam kaitannya dengan penanganan masalah korupsi itulah saya juga terpilih untuk turut dalam tim yang melakukan sosialisasi kerjasama antara DPD RI dengan KPK dalam upaya pemberantasan tindak pidana korupsi di daerah, kali ini dengan Pemda Provinsi Otsus NAD – Nanggroe Aceh Darusslam — dan jajaran terkait lainnya, di Banda Aceh.
Karena saya sudah di Padang juga dalam rangka kunker ke daerah, saya memutuskan untuk berangkat langsung dari Padang ke Banda Aceh, jalan darat, sementara anggota rombongan lainnya berangkat bersama dari Jakarta, Rabu, 26 Nov 2008, dengan pesawat. Di Banda Aceh sampai 28 Nov dan kembali serombongan ke Jakarta tgl 28 itu sorenya.
Naluri sosiologi saya mengatakan, ‘kamu sebaiknya jalan darat saja, via Pekanbaru, Dumai dan Medan, karena ada teng-gang waktu tiga hari yang dapat kamu pakai. Melalui jendela bis yang kamu tompangi kamu akan dapat melihat dengan mata-kepala sendiri apa-apa yang telah berubah dan apa-apa yang masih seperti sediakala. Apa lalu kesan dan kesimpulan yang kamu perdapat melalui jalan darat, ketimbang setiap kali jalan udara yang kamu lihat hanya awan belaka.’
Apalagi semangat petualangan yang saya olahragai dan sukai sejak kecil menghasung saya untuk melakukan itu walau keluarga mengingatkan saya akan usia yang sudah berembang petang dan sudah pula berkepala tujuh. Semangat petualangan dengan keingin-tahuan yang tinggi inilah sebenarnya yang telah membawa saya ke manapun ke berbagai penjuru dunia, di Timur dan di Barat, sejak masa muda saya, sehingga banyak bahagian dunia yng telah saya jelajahi. Di umur senja saya itu, saya bahkan berhasil menaiki tembok Cina di Beijing sampai ke puncaknya, yang anggota rombongan MPR-RI lainnya tak ada yang sanggup mendakinya. Dari atas orang-orang di bawah sudah sebesar semut saja kelihatannya. Sebagai bukti bahwa saya sudah sampai di atas, saya mendapatkan sertifikat dari pos penjaga tanda sudah sampai ke puncak. Dan, semua itu, ke manapun saya pergi, nyaris tak ada yang keluar dari kantong sendiri.
Berikut, inilah cerita petualangan saya Padang-Banda Aceh itu!
*
Dengan sengaja meminta tempat langsung di belakang sopir, saya berangkat dari Padang siang hari jam 13.30, Minggu 23 Nov, dengan bis Kurnia ke Medan via Pekanbaru dan Dumai, dan dengan bis Anugerah dari Medan ke Banda Aceh. Panjang jalan yang ditempuh keseluruhannya sekitar 700an km selama tiga hari perjalanan. Tadinya saya mengharapkan akan lewat Sibolga dan Tarutung-Pematang Siantar yang dulu ketika sempat bermukim setahun di Medan tahun 1970-an sering saya lalui, yang jalannya melalui punggung Bukit Barisan yang berkelok-kelok, menurun-mendaki, dan berpemandangan in-dah-menawan, apalagi menyusur danau Toba pula. Rupanya jalan bis antar-provinsi ke Medan telah dialihkan ke dataran rendah pantai Timur. Untung juga karena saya belum sempat melalui ruas jalan itu.
Sampai ke Pekanbaru jalan ini sudah biasa saya tempuh, bahkan juga ke Dumai. Karena lewat Bukittinggi-Payakumbuh hari sudah mulai berembang petang, senja lalu bersambut malam sebelum memasuki daerah Riau, kesempatanlah bagi saya untuk bisa tidur-tidur ayam dengan sesekali juga membu-kakan mata untuk melihat apa saja negeri-negeri yang sudah dilalui.
Dari Pekanbaru ke Dumai dan sampai ke perbatasan Sumatera Utara mata ini lebih banyak terpejamnya karena malam sudah makin larut juga. Bersambut dengan pagi kami sudah memasuki daerah Sumatera Utara. Pengetahuan saya bertambah karena saya belum pernah menempuh daerah ini, kecuali dahulu ketika di Medan, saya pernah berkunjung ke Tanjung Balai-Rantau Prapat melalui danau Toba, dan juga ke Padang dari Medan melalui Gunung Tua ke daerah Tapanuli lalu masuk ke ranah Pasaman, Sumbar.
Sebenarnya masuk ke daerah Riau lalu tembus ke daerah Sumut, bahkan berlanjut lagi ke daerah Aceh, kebanyakan yang kita lihat dan lalui adalah perkebunan-perkebunan besar sawit yang ditingkahi oleh karet. Dulu terutama kopra dan karet, tetapi sekarang sudah terbalik. Sawit lalu karet dan kopra. Di sela-sela dan di barisan depan perkebunan-perkebunan inilah kita melihat jejeran perkampungan dan kota-kota. Apa yang dahulu saya hapal melalui pelajaran atlas di sekolah, sekarang saya lihat dengan mata kepala saya sendiri. Nama-nama kota itu saya cocokkan dengan ingatan nama-nama di kepala saya. Makanya tiap kali masuk dan lewat di setiap kota, yang saya cari dengan mata saya melalui papan-papan nama pertama-tama adalah nama kota atau tempat-tempat yang dilalui itu.
Rumah-rumah penduduk di sepanjang jalan memang sudah banyak yang baru-baru dengan arsitektur bangunan yang mengarah ke kota. Praktis sudah tidak kita temukan sisa-sisa kemiskinan masa lalu, walau tarafnya masih jauh ketinggalan dari kota. Di bagian Sumbar dan daerah Riau yang berdekatan ke Sumbar, rumah-rumah penduduk selain yang berjejer di sepanjang jalan dengan pola pita (ribbon pattern), yang jarang ada rumah lagi di belakang jejeran rumah di sepanjang jalan itu, juga ditemukan kompleks perkampungan berkelompok (cluster pattern) yang menandakan sistem perkampungan tradi-sional yang utuh. Artinya, dalam ungkapan lama, lengkap ber-balai-bermesjid, berumah bertanah lapang dan berpencuran tempat mandi, di samping satu-satu berpasar. Sekarang pen-curan tempat mandi itu sudah banyak yang pindah ke rumah, bahkan seperti di kota juga, bersisian dengan kamar tidur atau sejejer dengan dapur di belakang.
Lepas dari Kuok-Bangkinang-Air Tiris di Kabupaten Kampar, Riau, yang bahasa dan orientasi budayanya ke barat ke ranah Minang, pola perkampungan tradisional ini menghi-lang dan berganti dengan pola perkampungan yang berbaris di sepanjang jalan, yang sekaligus juga menghubungkan satu kota dengan kota berikutnya. Dan ini berlanjut sampai-sampai ke Sumut dan Aceh.
Secara sosio-demografis pola ini tentu akan juga berpe-ngaruh kepada corak pergaulan dan cara hidup dari penduduk. Penduduk dengan perkampungan berpola klaster akan lebih tinggi tingkat kohesi sosialnya dari penduduk dengan perkam-pungan berpola pita. Apalagi ketika kita sudah berada di wilayah Sumut, di mana di samping berpola pita, perkam-pungan juga cenderung terkelompok kepada kelompok anutan agama dan dari etnik yang berbeda. Mesjid-mesjid yang lebih dominan akan ditingkahi oleh gereja-gereja yang sekaligus menunjukkan pola migrasi dari suku-suku Batak ke pantai Timur sejak dua abad kemari ini. Suku-suku Melayu, Minang dan Jawa bisa dan biasa berbagi mesjid, karena sama-sama Islamnya. Semua suku tentu nanti akan bertemu di pasar-pasar dan tempat-tempat umum lainnya, sehingga sudah susah membedakan mana yang satu dan yang lainnya. Kecuali kalau sudah ngomong. Baru ketahuan.
Di mana ditemukan perkebunan yang luas dan berjejer di kedua sisi jalan maka dapat diperkirakan bahwa penduduk migran Jawa akan lebih dominan, dulu maupun sekarang, karena mayoritas buruh perkebunan adalah dari dan keturunan Jawa. Kelompok Pujakesuma (Putera Jawa Kelahiran Suma-tera) bahkan merupakan mayoritas di kawasan perkebunan ini.
Saya tentu saja teringat akan nama-nama peneliti Amerika dan Belanda yang melakukan studi tentang migrasi atau transmigrasi Jawa di daerah-daerah perkebunan di Sumatera Timur. Ada nama-nama seperti Cunningham, Bruner, Reed, Liddle, Pelzer, dsb, yang selalu lekat di kepala saya, karena saya membaca buku-buku mereka untuk disertasi saya mengenai Merantau (Univ of Singapore, 1973). Prof Karl J Pelzer asal Jerman tentu saja akan selalu saya ingat karena saya pernah tinggal hampir setahun di rumahnya di North Haven, Con-necticut. Beliau adalah Ketua Program Studi Asia Tenggara di Yale Univ dan ahli tentang geografi dan ekonomi pertanian perkebunan dengan fokus perhatian pada perkebunan di Sumatera Timur; sedang saya, sambil menyusun tesis untuk McGill Univ di Montreal, Kanada, juga membantu sebagai asisten beliau di Universitas Yale.
Dari apa yang saya dapatkan dari para ahli itu di tahun-tahun ketika saya bersekolah di Amerika, di tahun 60-an, otak saya berputar dan menerawang terus mencocokkan kembali apa yang saya lihat setengah abad kemudian sekarang ini dengan yang mereka sebut dalam buku-buku mereka itu. Memang asyik berkelana sambil menerawang hilir-mudik ke masa lalu dan masa sekarang itu.
Sampai di Medan sudah sore, hari kedua. Saya memu-tuskan untuk menginap semalam di Medan agar saya bisa leluasa melihat Aceh yang akan saya lalui besok di siang hari. Dengan dipandu oleh tukang becak motor, saya diantarkan ke hotel melati, Hotel Lida, di Jalan Gatot Subroto. Saya memilih kamar ‘VIP’ di lantai dasar dengan sewa 150 ribu semalam. Namun yang namanya VIP room itu kasurnya tidak beralas kain sprei dan kita tidur langsung di atas bed cover yang sudah mulai kusam, dengan selimut kain quilt dilipat yang dipakai oleh semua tamu tanpa tiap kali diganti. Kamar mandinya ada di ruang kamar yang sama yang hanya disekat dengan tembok setengah tiang yang airnya ditampung dalam bak mandi. Namun yang saya cari memang itu. Pertama karena sudah biasa masuk hotel berbintang selama jadi anggota DPD dan MPR sebelumnya. Kedua mau merasakan bagaimana pula rakyat berderai tinggal di hotel melati seperti itu. Dan ketiga, menghemat. Bagaimanapun, sempat juga saya nyeletuk kepada resepsionis hotel: janganlah pakai istilah ‘VIP’ room kalau tempat tidurnya tidak pakai kain sprei alas kasur.
Karena masih ada waktu untuk bermagrib ke Mesjid Raya, mesjid Sultan Deli, saya ambil oplet melalui pusat kota ke Jalan Sisingamangaraja tempat berdirinya mesjid Sultan Deli yang megah, indah dan dengan gaya arsitektur Turki walau sudah dimakan usia itu. Maksud untuk juga melihat rumah tempat saya sekeluarga tinggal dulu selama setahun di tahun 70-an di Jalan Majapahit, di Medan Baru, tidak kesampaian, karena saya harus cas tenaga dengan cepat tidur untuk berangkat melanjutkan perjalanan besok paginya ke Banda Aceh.
Pagi jam 04.00 saya sudah bangun untuk mengejar bis pertama yang berangkat jam 06.00 pagi. Maksudnya supaya bisa lihat Aceh dengan kampung dan kotanya di sepanjang jalan lewat jendela kaca bis. Apa yang saya lihat memang perlu saya ceritakan. Kalau di Riau, sejak lepas Pekanbaru sampai ke Dumai dan tembus sampai ke perbatasan dengan Sumut, jalannya banyak berlubang dan tidak rata. Mungkin akibat dari truk-truk dan tanki-tanki minyak berkapitas tinggi yang lalu lalang setiap hari. Antara Rumbai dan Dumai memanglah daerah ladang pengeboran minyak, yang jalannya juga banyak berminyak.
Di sepanjang jalan di pantai timur Sumut jalannya lebih bagus. Tapi ketika begitu masuk ke wilayah Aceh Darussalam, jalannya mulus, lebar dan baru selesai diapgreid. Sampai-sampai ke Banda Aceh, perbaikan dan rehabilitasi jalan meru-pakan salah satu dari ikon pembangunan Aceh pasca Tsunami yang patut kita banggakan.
Selain jalan, pembangunan sarana dan prasarana yang menonjol kelihatannya adalah rumah-rumah sekolah, dan kantor-kantor pemerintah yang semua praktis baru. Malah kantor-kantor bupati dan DPRD kelihatan mewah dan menonjol sekali. Ini terjadi ‘berkat’ Tsunami, karena bantuan dari berbagai penjuru dunia pada berdatangan yang salah satu dari obyek utamanya adalah rumah sekolah, rumah sakit dan kantor-kantor pemerintah. Selain itu tentu saja rumah ibadat, khususnya mesjid, yang sejak dari Sumut sampai-sampai ke Banda Aceh lebih bergaya Turki campur dengan gaya moghul-India. Sebelah Sumut prototipe bangunan mesjidnya ber-orientasi ke mesjid Sultan, Deli, Serdang dan Langkat, sementara di NAD ke mesjid raya Baiturrahman, Banda Aceh. Mesjid-mesjid ini dulu dibangun ketika kekalifahan Turki di dunia Islam berpengaruh gaya arsitekturnya sampai ke keraja-an-kerajaan di Sumatera dan semenanjung Melayu.
Jajaran perkebunan sawit juga berlanjut sampai ke Aceh Temiang. Tapi lewat Arun-Lho’ Seumawe, yang di sebelah kanan jalan terpampang pabrik raksasa migas, sampai-sampai ke Banda Aceh perkebunan-perkebunan besar makin tidak lagi dominan. Saya masih harus tanyakan kenapa demikian. Yang luas terbentang adalah sawah, sawah, sawah.
Melihat toko-toko dan kedai-kedai yang berjejer sepan-jang jalan di perkotaan, dari Sumbar, Riau, Sumut dan Aceh, kelihatan ada dua pola yang berbeda. Di Sumbar dan Aceh tidak hanya kedai, tetapi tokopun banyak yang dikuasai oleh pribumi; sementara di Riau dan Sumut, kedai, pribumi, dan toko, non-pribumi, Cina.
Di semua daerah yang dilalui ini, atau bahkan di seluruh Indonesia, di manapun, setelah kebanyakan atau bahkan prak-tis semua toko dikuasai non-pri Cina, naik setingkat ke tingkat jaringan distribusi dan ekspedisi pun, semua juga dikuasai non-pri Cina. Hampir tidak ada selanya, setiap truk barang yang lewat lalu-lalang antar kota dan antar daerah pastilah milik Cina sebagai bagian dari sistem jaringan perdagangan yang semua mereka kuasai.
Apalagi, naik lagi ke tingkat produksi, impor-ekspor, dan jaringan perdagangan dan manufaktur secara nasional dan mancanegara, praktis seluruhnya dikuasai oleh non-pri Cina, yang di belakangnya dibekap oleh uknum pejabat yang hidup bagai benalu terhadap usaha perdagangan dan ekonomi non-pri Cina itu.
Saham dan peranan korporasi multi-nasional, bagaimana-pun, lebih tertumpu kepada industri-industri pertambangan dan manufaktur berskala besar, di samping juga perkapalan, perkebunan, dan perbankan. Perusahaan-perusahaan multi-nasional inipun cenderung mempergunakan atau bekerjasama dengan konglomerat Cina dalam manajemen perusahaannya. Perusahaan multi-nasional lebih mengandalkan kepada kelom-pok non-pri Cina yang gesit dan mengerti dagang untuk bekerjasama daripada dengan pribumi yang tidak punya naluri perdagangan dan industri.
Non-pri Cina dalam mengelolakan usahanya, bagaimana-pun, memerlukan dukungan dan bahkan proteksi dari oknum pejabat dengan jajaran terkait lainnya. Kolusi penguasa pri dan pengusaha non-pri yang praktis mendominasi dan bahkan memonopoli jalur perdagangan dan industri, termasuk perke-bunan dan kehutanan, di manapun, adalah sumber utama dari penyebab korupsi. Dan di balik korupsi itu bersaranglah yang namanya budaya feodalisme dari sistem kekuasaan dunia pri-bumi yang berkolusi dengan budaya merkantilisme dari Cina pendatang yang berdarah dagang.
Dan ini telah berjalan bukan hanya sekarang atau bela-kangan, tetapi telah berurat-berakar selagi masih di era Maja-pahit dan Mataram di jaman-jaman dahulu sebelum masuknya VOC dan penjajahan Belanda. Kebetulan pula, ingsun kraton penguasa pribumi memiliki budaya dagang yang negatif yang mengaitkan usaha dagang dengan budaya maling dan kicuh. Tidaklah becik dan ora ilok kalau ndoro-ndoro penguasa ikut-ikut pula berdagang. Cukup kalau menerima hasil upetinya saja untuk menghidupi kraton dan kerajaan. Non-pri Cina yang dunianya adalah dunia dagang itu tentu saja bertengger di atas budaya kraton pribumi yang menjauhkan diri dari gelimangan usaha dagang, tapi hidup bersenang-senang dengan segala kemewahan dan kemegahan dengan dunia priyayi dan kening-ratannya itu.
Dan kelompok non-pri Cina sendiri bahkan melihat Indonesia ini hanyalah satu dari simpul-simpul jaringan yang beruang-lingkup Nan Yang — Asia Tenggara. Di kota-kota di manapun di Asia Tenggara barang-barang bikinan Cina, dari mainan, ke pakaian, ke elektronika, dsb, yang harganya murah dan kualitasnya cukup baik, mengisi semua toko dan pasar yang mereka kuasai, sekarang ini. Makanya di kota-kota di mana mol-mol dan pusat-pusat belanja lainnya bertumbuhan, di samping juga real estat dengan kondo dan apartemen-apar-temen yang menjulang ke udara di kota-kota besar, pastilah yang punya dan menguasai adalah mereka.

*
Dalam perjalanan, di samping melihat ke luar jendela, ke depan maupun ke samping, karena duduk di belakang sopir dekat jendela, sayapun sempat ngobrol banyak dengan sosok yang duduk di sebelah kiri saya. Sepanjang perjalanan dari Padang ke Medan, duduk di samping saya seorang pria paroh-baya, dan ternyata pergi ke Padang mengantarkan seratusan pemuda Aceh untuk melanjutkan studi di UNP Padang jurusan keterampilan teknik. Semua dengan biaya luar negeri berkat Tsunami, dengan semua biaya kuliah ditanggung lem-baga sponsor plus 1 juta per orang per bulan untuk ongkos makan dan pondokan. Putera-putera Aceh ini selain ke UNP Padang juga dikirim ke Bandung dan Malang dalam jumlah yang juga besar.
Melalui beliau yang selain guru SMK adalah juga nyambi sebagai pengusaha bangunan di Biruen, saya mendapatkan gambaran tentang Aceh masa kini yang buanyak sekali. Ter-nyata beliau banyak menguasai masalah dengan tinjauan analitis yang cukup tajam di samping juga gambaran perban-dingan dengan negara-negara yang sudah beliau kunjungi, termasuk Jepang, Singapura dan Malaysia. Tekanan beliau adalah perlunya kesiapan SDM di Aceh dan Indonesia umumnya berorientasi teknik dan teknologi ke masa depan.
Melalui dialog ini saya sengaja lebih banyak bertanya dan mengorek-ngorek sementara beliau menjelaskan, apalagi yang saya tanyakan adalah masalah-masalah Aceh masa kini yang saya perlu tahu lebih banyak. Namun sampai-sampai kami berpisah di terminal bis Medan saya sampai tidak sempat menanyakan siapa namanya. Hanya wajahnya terekam di kepala saya. Beliau melanjutkan perjalanan dengan bis yang sama ke Bireun, sedang saya turun di Medan bermalam dan melanjutkan besok paginya ke Banda Aceh dengan bis lain, Anugerah namanya.
Dalam perjalanan ke Banda Aceh, masih di perbatasan Sumut-Aceh, naik seorang gadis berjilbab umur 19-an, agak kurusan tapi berparas elok, duduk di samping saya, yang tempat duduknya sejak dari Medan masih kosong. Dari tanya-tanya, si gadis yang namanya sama dengan anak tertua saya, Amelia, masih duduk di kelas terakhir di MAN di kotanya. Dia cerita, kenapa sudah 19 belum tamat jua dari sekolah mene-ngah. Dia tidak bersekolah selama satu tahun, karena, katanya, dia diguna-gunai oleh pihak jejaka yang menginginkannya, tapi dia tidak suka. Cukup lama dia merasa seperti tidak dengan dirinya. Pikirannya suka menerawang kosong, dan selalu dalam ketakutan seperti ada yang mengganggunya. Barulah ketika dia dibawa berobat ke seorang dukun di Banda Aceh, halusinasi dsb itu mulai hilang, lalu setelah pulih, kembali bersekolah.
Melia, panggilannya, dalam perjalanan ke Banda Aceh untuk menghadiri upacara wisuda bakal tunangannya yang masuk sekolah polisi. Mereka sudah lima tahun berpacaran jarak jauh – lewat HP-SMS –, berarti sudah berpacaran sejak masih SMP. Mereka hanya beberapa kali ketemu ketika vakansi. Kedua orang tua sudah setuju, dan selama di Banda Aceh Melia akan tinggal dengan bakal mertuanya.
Pertemuan tak disangka dengan Melia kesempatan pula bagi saya untuk menyelami bagaimana dunia fantasi anak muda sekarang. Sepanjang perjalanan, sebagian besar waktu Melia habis dengan berhape-hapean, dan esemesan. Karena dia ngomong seadanya dekat saya yang bisa pula mengikuti apa yang dia omongin, masih di awal perjalanan Melia ternyata menerima telepon HP dari seorang jejaka yang kesengsem dengan kawannya Melia. Tetapi berkali-kali Melia bertanya kenapa menelepon dia. Dan Melia berusaha menjelaskan bahwa kawan perempuannya itu orangnya lemah-lembut, dan suka sekali sama kamu, katanya. Tapi, yang saya luput menang-kapnya, kok Melia tidak berterus-terang saja mengatakan bahwa dia sudah punya pacar yang dia ke Banda Acehnya adalah untuk menemui pacarnya itu. Pacar Melia adalah anak Aceh, sementara Melia sendiri adalah keturunan Jawa, yang ibunya lahir di Tapanuli, dan ayahnya di Sumatera Timur. Ayahnya seperti kebanyakan pujakesuma lainnya adalah buruh perkebunan. Saya tahunya ini setelah menanyakan kepada Melia kenapa Melia tidak pernah mempergunakan bahasa Aceh tetapi bahasa Indonesia terus dalam omongannya di HP itu. Orang Aceh, seperti juga orang Padang dan lainnya, lebih suka berbahasa daerah dalam komunikasi informal sehari-hari di antara sesama. Kemudian juga baru saya ketahui bahwa di Aceh tidak satu bahasa daerah, tapi ada belasan, tergantung daerahnya. Di Aceh Temiang, dari Kuala Simpang ke Langsa, baru masuk dari arah Sumut, orang sana berbahasa Melayu. Di pantai barat, dari Meulaboh, Tapak Tuan, Singkel dan di pulau Simeuleu, orang berbahasa Minang, dan mereka adalah ‘anak jameu’ yang sedikitnya merupakan 10 % dari penduduk Aceh. Di Takengon-Kutacane bahasa dan budayanya adalah Gayo-Alas, dan tidak lagi berorientasi ke Aceh Besar. Melalui silang-budaya inilah lahirnya keinginan belakangan untuk pemekaran Aceh menjadi dua atau tiga provinsi, karena yang Aceh Darussalam itu selama ini orientasinya lebih ke Aceh Besar di bagian Utara.
*
Sampai di Banda Aceh hari sudah jam 10.30 malam. Kami agak lama tertahan di terminal sebuah kota sebelumnya karena bis Anugerah yang kami tompangi mengalami keru-sakan dan menunggu penggantinya untuk melanjutkan perja-lanan ke Banda Aceh. Lagi-lagi di terminal bis Banda Aceh saya minta bantuan sama tukang becak motor membawa saya ke penginapan yang rada murahan. Ternyata dua penginapan pertama di pusat belanja yang didatangi penuh semua. Yang ketigalah baru saya dapat kamar yang kelihatannya tinggal satu itu pula.
Ternyata Wisma Kartini di Jalan Kartini di kawasan pusat belanja itu milik non-pri Cina. Ketika keesokan paginya kete-mu dengan pemiliknya yang berpakaian sangat sederhana, tipi-kal engkoh-engkoh Cina zaman kemarin, saya mendapatkan cerita pengalaman Tsunami yang dialaminya sendiri dengan keluarganya. Dan dia ceritakan ini dengan penuh emosi, sepertinya dia juga memutar filem ingatan tragedi itu kembali. Isteri dan dua anaknya ikut hilang. Dia harus mulai dari bawah kembali dengan merubah bangunan yang sekarang ini dari tadinya dia bikin untuk rumah burung walet menjadi hotel penginapan seperti sekarang ini. Dan dia buka usaha macam-macam lainnya. Di hotel itu isteri baru dan anak-menantunya ikut langsung mengelolakan hotel itu.
Ketika saya bilang, sambil pamitan, saya masuk hotel sudah jam 11 malam, apa tak ada diskonnya. Dia spontan menurunkan sampai 125 ribu dari tarif semula 165 ribu. Dalam hati saya bertanya, apakah contoh seperti ini ada pada pengusaha pribumi? Pengusaha Cina berpikir selalu berusaha memelihara langganan, sementara pengusaha pribumi berpikir dengan ‘filsafat aji mumpung.’ Mending kalau pengunjung yang sama akan kembali lagi, pikir si pri.
Kebenaran, Ibu Hafni yang anggota DPD-RI dari Aceh, yang bawaannya ceriahan dan suka bergaul, sebelum saya keluar dari hotel, menelepon. Dan langsung menawarkan akan menjemput saya untuk pindah ke hotel Hermes d/h Swissbell Hotel berbintang lima ataukah tujuh. Semua rombongan DPD-RI menginap di sana. Anda bayangkan, saya berpindah dari tongkang ke anjungan kapal pesiar mewah untuk orang-orang ‘penting’ dan berduit saja. Memang di hotel-hotel mewah itu macam kelas orang yang masuk hanya dua saja, kalau tidak pengusaha, yang biasanya sipit-sipit atau bule-bule, lalu penguasa pribumi, entah eksekutif, legislatif maupun yudi-katif. Mereka pintar sekali memanfaatkan celah dan peluang, dan hidup selalu di atas angin, tanpa peduli bagaimana nasib rakyat berderai yang mereka atasnamakan.
Saya sendiri kebagian kamar de luxe executive di lantai 2, yang di samping kamar tidur ada ruang tengah penerima tamu dengan dua televisi berparabola, satu di ruang tamu, dan satu di kamar tidur lebih besaran. Melongoh ke luar jendela, di bawah disambut dengan kolam renang yang air mancurnya keluar dari mulut katak dan penyu. Kata resepsionis, special offer dengan harga sama dengan kamar biasa. Ya iyalah…
Acara sosialisasi diadakan di gedung serbaguna di kompleks Kantor Gubernur Aceh, Kamis 27 Nov. Ruangan cukup penuh dan dihadiri oleh para bupati dan walikota serta pejabat-pejabat lainnya dari berbagai instansi. Ada acara pembukaan yang diisi dengan pidato sepatah kata tuan rumah, dari Kantor Gubernur, wejangan pembuka oleh Wakil Gubernur, Nazar, pengantar sosialisasi oleh Ketua Tim DPD-RI, H Rusli Rahman, senator ‘Lasykar Pelangi’ dari Belitong, Babel, yang semua diawali dengan bacaan Al Qurān dan ditutup dengan do’a. Tukar-menukar cenderamata, lalu jeda, sekitar hampir sejam pula.
Di kepala saya, apa ya harus begini caranya. Ceremony for the sake of ceremony. Kayaknya tidak afdol kalau tidak pakai seremoni itu. Tapi itulah Indonesia itu. Di ‘negeri’ saya, dulu, entah di Kanada, Amerika, Eropah, Jepang, Singapura, tidak ada yang begini. Langsung saja kalau mau seminar kek, sosialisasi kek, ceramah, kek. Sehingga tidak membuang waktu.
Yang namanya sosialisasi kerjasama KPK-DPD itu diisi dengan curahan dari DPD yang kebetulan diserahkan kepada saya, yang naskahnya berpower point, dan sudah disiapkan sebelumnya oleh staf ahli. Lalu disusul dengan penyampaian materi dengan gaya pencerahan dari KPK yang disampaikan oleh seorang staf muda-energik, Asep Saefullah. Yang meng-angkat tangan untuk bertanya hanya satu; karenanya ketua, Rusli Rahman, langsung menutup.
Sorenya kami dibawa lagi keliling kota Banda Aceh oleh Ibu Hafni dan suami, Azwir, dosen Unsyiah, melanjutkan yang kemarin baru sampai untuk pergi cari “ayam tangkap.” Masakan khas Aceh ini memang nyam-nyam rasanya dengan daun pandan dan daun apa begitu yang juga digoreng bersama ayam itu. Makannya lalu pakai kecap manis dan bawang goreng.
Bu Hafni dan suami membawa kami melihat bekas-bekas tsunami, ke Uleleu melihat kapal terdampar di daratan, dan kapal atau perahu lain di tempat lain lagi yang tersekat di atas rumah penduduk. Soping-soping tentu juga tak ketinggalan, sekadar cari oleh-oleh dari Aceh untuk keluarga di Jakarta.
Lalu, inilah cerita yang memilukan yang kebetulan me-nimpa Bu Hafni dan suami anak-beranak. Sebelumnya kami sudah diceritakan, tapi kemudian dilihat sendiri dengan mata kepala, bahwa rumah bertingkat yang sedang dibangun oleh keluarga Azwir di tanah dekat pantai yang sudah mereka beli, dirubuhkan dengan buldozer oleh pemerintah kota, pada hari yang sama mereka menceritakan itu. Dalihnya karena tidak sesuai dengan tata ruang. Ratusan juta uang yang sudah habis untuk membangun rumah dambaan itu, yang sudah sampai ke lantai dua. Kami baca di koran besoknya, lengkap dengan foto, alasan pemerintah kota melakukan penggusuran itu.
Bu Hafni, istilahnya, selamat dari tsunami memiliki nya-wa kedua, karena waktu tsunami beliau terseret arus air bah deras, lalu tersangkut di sebuah pohon, untuk kemudiannya selamat. Sekarang tanpa punya rumah di Banda Aceh, dan menumpang di rumah saudara, membangun rumah baru. Tapi itu pula yang terjadi. Untungnya Bu Hafni maupun Bung Azwir sang suami sangat pandai menahan diri dari emosi. Bu Hafni selalu bilang, insya Allah yang lebih baik pasti akan datang. Mereka merasa dizalimi, karena surat-menyurat ada semua, termasuk yang kopynya ada pada penjual tanah, dsb. Lain juga rasanya, memang, karena musibah ini terjadi dengan kami ikut melihat sendiri.
Bu Hafni dan Bung Azwir, simpati kami yang mendalam.*

0 Responses to “PADANG-BANDA ACEH”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: