MENYIAPKAN DIRI UNTUK MASUK KE PASAR GLOBAL

Ceramah di muka Para Mahasiswa AKPER
(Akademi Perawat)
Pariaman,
Selasa, 24 Maret 2009

SALAH satu dari komoditi SDM yang sangat laris dan dicari-cari di pasar dunia sekarang ini adalah tenaga profesional perawat, sehingga ada negara-negara di Asia ini, khususnya Filipina, Thailand, Bangladesh, Srilangka dan India, yang memang mempersiapkannya secara terprogram dan terarah. Hasil bersih berupa pendapatan nasional dari sektor ini termasuk sangat signifikan sehingga negara-negara bersangkutan memasukkan dalam agenda pembangunannya sektor pengadaan SDM yang satu ini untuk dipersiapkan secara optimal. Milyaran dolar setiap tahunnya mengalir beru-pa devisa ke keluarga-keluarga mereka dan ke pundi-pundi negara bersangkutan dari hasil panen komoditi SDM di bidang para-medis keperawatan itu.
Komoditi SDM di pasar internasional ini tentu saja ada di setiap tingkat profesi keahlian, dari yang semata mengandalkan tenaga kasar seperti yang kita lakukan selama ini berupa TKI dan TKW, sampai ke yang sangat profesional sekalipun, baik di bidang akademik, sains dan teknologi, maupun di bidang industri dan jasa lainnya. Di antaranya itu adalah tenaga para-medis keperawatan itu.
Kenapa tenaga para-medis keperawatan itu dicari-cari di pasar dunia?
Satu, tentu saja, tidak setiap orang bisa melakukannya tanpa pendidikan dan latihan kejuruan tertentu, yang keahli-annya itu bisa pula bertingkat dari setara diploma akademi sampai ke tingkat S1, S2 dan S3 sekalipun. Di negara-negara maju, bidang para-medis dan keperawatan itu disetarakan dengan bidang medis sekalipun, karena yang satu tidak bisa menggantikan yang lainnya, sementara keduanya saling me-lengkapi dalam sebuah sistem pelayanan medis yang terpadu. Jadi biasa kalau di bidang para-medis dan keperawatan ini ada tingkat-tingkat pendidikannya setara S1, S2 dan S3 sekalipun. Tenaga-tenaga yang mengajarkannya adalah juga para profesor dan doktor dalam berbagai bidang keahlian para-medis dan keperawatan yang cukup rinci dan spesialis. Termasuk ke dalamnya adalah bidang manajemen rumah sakit dengan segala perangkat dan peragat digital-elektroniknya.
Rumah sakit, klinik dan poliklinik, serta laboratorium dan perusahaan farmasi sampai ke apotik dan toko-toko obat sekalipun, sekarang ini, adalah sebuah industri raksasa yang menyediakan jasanya secara sangat profesional, yang di samping berorientasi benefit, juga, dan terutama sekarang ini bahkan, profit. Kayaknya, orang juga menciptakan industri dan lapangan kerja yang mencari profit di atas kesakitan orang, yang menjadikan pasien sebagai obyek komoditi pula. Apalagi, sakit dan senang tidak pernah beranjak dari kehidupan manu-sia ini.
Dan dunia moderen sekarang ini mau tak mau ber-gantung kepada jasa industri medis dan para-medis ini. Dunia moderen tidak bisa dan tidak mungkin lagi lari kembali ke belakang dengan mengandalkan para dukun, kecuali barangkali di bidang yang tidak hanya semata fisiologis, tapi terutama spiritual, yang belum dimasuki oleh kedokteran moderen. Peranan para dukun, bagaimanapun, di dunia yang sedang berkembang, masih saja diperlukan, dengan mengingat, lapisan bawah dari masyarakat yang masih terlilit oleh kemiskinan dan keterbelakangan, masih bergantung kepada layanan para dukun. Karena keterbelakangan dan kemiskinan itu mereka berada di luar jangkauan layanan kedokteran moderen – kecuali di negara-negara sosialistis dan islamis yang memberi layanan medis kepada rakyatnya tanpa menghiraukan latar belakang ekonomi dan status sosialnya. Indonesia jelas tidak termasuk ke dalam kategori ini. Dunia medis di Indonesia ini telah dicekoki oleh sistem liberal-kapitalistik pasar bebas yang menjadikan layanan medis sebagai komoditi. Si pasien bahkan di RSUP CM yang notabene milik pemerintah sekalipun di Jakarta tidak dibolehkan pulang sebelum melunasi segala per-ongkosan yang dia harus bayar, tanpa melihat latar-belakang kemampuan ekonomi dan status sosialnya itu. Di Padang sendiri, kendati dokter spesialis sedang berdinas di RSUP MD, yang gajinya tentu jalan terus, manakala pasien memerlukan layanannya, si pasien harus membayar seperti dia berobat ke dokter spesialis di luar rumah sakit. Sedemikian jauh sekarang komersialisasi pelayanan medis di NKRI tercinta yang panca-silais dan yang katanya berkeadilan sosial itu.
Dua, untuk masuk ke pasar dunia, kecuali keterampilan dan keahlian di bidang para-medis itu, juga diperlukan kemam-puan berkomunikasi di bidang bahasa lisan dan tulisan di samping bahasa badan. Artinya, kalau tidak akan lebih, sekurangnya memiliki kemampuan yang efektif dalam berko-munikasi itu. Tidak mungkin seorang para-medis luaran dite-rima di sebuah negara yang membutuhkan manakala yang bersangkutan tidak mampu berkomunikasi dalam bahasa yang dipakai oleh masyarakat bersangkutan di negara itu. Karena kebanyakan negara-negara yang memerlukan tenaga para-medis impor adalah negara-negara kaya yang berbahasa Ing-geris, baik di Eropah, Amerika, Kanada dan Australia, maka mau tak mau penguasaan bahasa Inggeris adalah pre-rekuisit, syarat mutlak, untuk bisa masuk dan diterima dalam pasar kerja para-medis di negara tersebut.
Sebaliknya, beruntunglah masyarakat dari negara-negara bekas jajahan Inggeris maupun Amerika itu yang memiliki warisan penguasaan bahasa Inggeris yang kemampuannya sama dengan masyarakat dari negara-negara berbahasa Ingge-ris itu.
Tiba di kita, yang penguasaan bahasa Inggerisnya me-mang terbatas, dan untuk itu tidak pula berupaya keras, baik oleh individu para-medis bersangkutan yang ingin cari kerja ke luar negeri, maupun oleh sekolah/akademinya sendiri, maka masalah penguasaan bahasa ini bisa jadi momok. Pada hal, jika mau, dan mau kerja keras, apa yang tidak bisa. Kita lihat, betapa banyaknya para-medis dari negara-negara bukan berba-hasa Inggeris, seperti Thailand, dan sekarang juga Vietnam, Laos, Kambodia, yang banyak diterima di negara-negara ber-bahasa Inggeris itu.
Khusus untuk negara-negara berbahasa Arab di Timur Tengah, sendirinya Bahasa Arab yang lebih diutamakan, walau penguasaan Bahasa Inggeris tetap dijadikan persyaratan. Di rumah-rumah sakit yang bertaraf internasional di negara-nega-ra Timur Tengah itu, penguasaan Bahasa Inggeris lebih diuta-makan.
Tiga, tentu saja profesionalisme di bidang kepara-medisan dan keperawatan itu yang juga diiringi dengan sikap percaya diri dan kematangan dalam bersikap dan bertindak. Apalagi menghadapi komunitas asing di negara mereka sendiri.
*
Mempersiapkan diri untuk turun dan turut bersaing di pasar bebas tentu tidak gampang. Tetapi tanyakan kepada diri –bukan kepada hilalang sehelai atau rumput yang bergoyang –, kenapa orang bisa, kita tidak? Pada hal profesi ini sangat menjanjikan dan sangat dibutuhkan di mana-mana.
Larinya tentulah kepada diri sendiri dan tidak kurangnya kepada institusi pendidikan yang mempersiapkan calon-calon para-medis perawat itu.
Yang jelas, jangan harap kalau tenaga para-medis/pera-wat yang akan berangkat ke luar negeri itu orang-orang ‘peng-gacur’ dan tidak pula menyiapkan diri untuk menghadapi segala macam tantangan itu. Diperlukan orang-orang pembe-rani, dan berani menghadapi segala macam rintangan dan risiko. Voltase daya juangnya harus tinggi. Dia ‘bagak’ dan senang dengan tantangan-tantangan itu. Dia merasa belajar dengan bermacam tantangan itu. Semangat perantau masa lalu juga harus mereka miliki, menghadapi segala macam ketidak-pastian. Dan dia bahkan resah tanpa tantangan itu.
*
Peranan institusi pendidikan keperawatan itu sendiri tidak kurang menentukannya. Institusi pendidikan keperawatan akan mencetak tenaga lulusan sesuai dengan program serta sarana dan prasarana yang disediakan. Jika yang dicetak adalah tenaga lulusan yang cocok hanya untuk konsumsi lokal dalam negeri, tentu yang dihasilkan adalah itu. Tetapi jika program yang disiapkan dan dibekali pula dengan sarana dan prasarana yang khusus ditujukan untuk konsumsi ekspor luar negeri, maka itulah yang dihasilkan. Tinggal mengukur sampai sejauh mana kesiapan institusi dimaksud untuk memenuhi tuntutan pasar, yang makin siap makin menjamin banyaknya lulusan yang disalurkan.
Semua ini akan tunduk kepada hukum penawaran dan permintaan (law of demand and supply). Untuk itu institusi akan bisa berkaca kepada praktek pengalaman dari lembaga-lembaga serupa di dalam maupun luar negeri – tapi terutama luar negeri yang tingkat keberhasilannya relatif tinggi, seperti Filipina.
Jalan ke arah itu mungkin panjang. Untuk itu mungkin diperlukan kerjasama-kerjasama, dengan pemerintah dan departemen serta dinas terkait, dengan swasta dalam negeri yang berkepentingan dengan ‘bisnis’ itu, dan dengan institusi sejenis di luar negeri dalam bentuk exchange program.
Mahasiswa sendiri, pada gilirannya, sudah harus mengorientasikan dirinya sejak dini dalam mempersiapkan diri untuk memasuki pasar dunia di bidang keperawatan. Informasi dan kontak-kontak melalui internet dan melalui media lain-lainnya sudah harus disiapkan dan siap untuk memulai langkah ke arah memasuki pasar global itu. ***

0 Responses to “MENYIAPKAN DIRI UNTUK MASUK KE PASAR GLOBAL”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: