KITA TINGKATKAN PROFESIONALISME GURU UNTUK MEWUJUDKAN PENDIDIKAN YANG BERKUALITAS

Disampaikan pada
Seminar Sehari Diknas Kabupaten Agam
Kamis, 26 Maret 2009
di Lubuk Basung

JSR 98, 26/03/09

KUALITAS profesionalisme guru bisa ada bisa tidak ada kaitannya dengan tingkat gaji dan kesejahteraan-nya. Ada guru yang tingkat profesionalismenya ren-dah kendati gaji dan tingkat kesejahteraannya tinggi. Sebalik-nya, ada guru yang tingkat profesionalis-menya tinggi, kendati gaji dan tingkat kesejahteraannya rendah. Di samping juga, tentunya, ada guru yang profesionalismenya tinggi karena gajinya tinggi, dan sebaliknya.
Ini menunjukkan bahwa bukan hanya gaji dan tingkat kesejahteraannya itu saja yang menentukan tinggi-rendahnya tingkat kualitas profesionalisme guru. Ada sejumlah faktor lainnya yang sifatnya menunjang ataupun menghambat di samping bahkan ada yang sifatnya menentukan (determinan). Faktor penunjang ataupun penghambat ini adalah eksternal sifatnya. Sementara yang sifatnya penentu adalah internal, yang datangnya dari dalam, dan dari dalam diri itu.
Faktor-faktor yang sifatnya menunjang ataupun meng-hambat, berkaitan dengan kebutuhan hidup yang sifatnya material, yang skalanya bisa dari sangat sederhana ke sangat berlebihan. Secara gradasinya faktor-faktor eksternal-material ini bisa diukur dengan tingkat kesejahteraan hidup: di bawah atau di atas standar minimal. Di bawah, menghambat, di atas, menunjang.
Faktor-faktor yang sifatnya menentu, atau menentukan, adalah yang datangnya dari dalam itu, yang kadang, tidak segera ada kaitannya dengan faktor-faktor penunjang yang dari luar tadi. Faktor determinan ini dia bersarang dalam diri kita, yang keluar memperlihatkan diri dalam semangat, tekad, jihad, kerja keras, disiplin, tabah, tekun, tahan uji, tahan banting, optimis, suka kerjasama, dsb. Atau sisi yang negatifnya, lemah semangat, lesu, tak bergairah, suka menyerah, nunut saja, tak berdisiplin, tak punya visi dan misi ke depan, sukar kerjasama, dsb.
Guru yang baik, sebagaimana manusia yang baik, adalah yang memiliki ciri-ciri internal yang pertama, sementara guru yang tidak baik, sebagaimana juga manusia yang tidak baik, adalah yang memiliki ciri-ciri internal yang kedua. Guru yang baik, selain dari punya properti internal yang baik itu, juga dibekali dengan pengetahuan dan pengalaman profesional dalam bidang pengajaran dan kependidikan itu secara optimal. Guru yang baik adalah yang menempatkan profesi keguruan itu sebagai ‘calling (Inggeris),’ ‘beruf (Jerman),’ atau panggilan hidup. Dan dia dedikasikan seluruh kehidupannya untuk menjadi guru itu. Dan ke depan dia selalu mengusahakan bagaimana yang sekarang lebih baik dari yang kemarin, dan yang besok lebih baik dari yang sekarang. Karena itu dia selalu belajar terus. Dan selalu menyempurnakan terus apa yang dikakapnya hari ini. Kepada dirinyapun dia menerapkan life-long education itu. Tidak hanya disampaikan kepada anak-didiknya, tetapi juga kepada dirinya sendiri. Sehingga dia menjadi suri-tauladan kepada anak-didiknya, dan kepada sesama koleganya. Bahkan kepada masyarakat sekalipun. Guru, dalam arti harfiah dari kata ‘guru’ itu sendiri adalah panutan, pembimbing dan penerangi jalan.
Jika sudah demikian, maka tuntutan yang sifatnya ekster-nal, material, menjadi faktor pelengkap, penunjang. Tentu saja, sebagai manusia biasa, seperti manusia biasa lainnya, si guru ingin pula hidup yang berkecukupan, yang tidak kurang suatu apa. Tapi sekali lagi, sifatnya penunjang, bukan penentu.

*
Tetapi, inilah tetapinya. Banyak, atau bahkan kebanyakan guru sekarang ini, mengutamakan faktor penunjang dan pelengkap daripada faktor determinan yang sifatnya mendasar dan tidak mungkin tidak itu. Hari-hari yang dibicarakan dan digerutui hanyalah masalah kebutuhan pokok belaka. Kurang ini, kurang itu. Masalah gaji lah. Masalah tunjangan macam-macam lah. Masalah fasilitas, kenaikan pangkat, perumahan, kendaraan, sekolah anak, cuti libur, dsb. Dan sekarang, bagaimana pelaksanaan peningkatan APBN yang 20 % itulah.
Sedikit sekali yang menghiraukan tentang tuntutan kedua, yang justeru mendasar, yaitu bagaimana meningkatkan mutu pengajaran, bagaimana menegakkan dan meningkatkan disiplin sekolah, disiplin belajar-mengajar, disiplin anak didik, disiplin karyawan dan disiplin para guru sendiri. Lalu bagaimana meng-atur sistem pengajaran itu sendiri, dari yang tadinya hanya semata kognitif, lalu menjadi tiga sisi yang saling menunjang dan saling melengkapi, yaitu: Kognitif (K), Psikomotorik (P) dan Afektif (A). Atau dalam jargon filosofis yang juga populer sekarang, segi tiga kuosien: Intelektual (I), Emosional (E) dan Spiritual (S). Ketiga kuosien ini saling tunjang-menunjang, saling melengkapi, dan yang satu tidak mungkin tanpa yang lainnya.
Pendekatan pendidikan ke depan, karenanya, tidak lagi terkotak-kotak dan jalan sendiri-sendiri, tapi terpadu, dan saling terkait satu sama lain. Dengan demikian, dalam sistem pendidikan yang integral ini, yakni yang memadukan ketiga kuosien I, E dan S itu, seperti juga K, P dan A itu, ketiganya sekali diberikan dan diberikan bukan hanya sekadar ilmu yang kognitif, pengisi otak di kepala, tetapi diamalkan dan diterapkan secara integral, kaffah dan terpadu dalam sebuah sistem.
Pergeseran tugas dan tanggung-jawab guru adalah juga di sini. Kalau selama ini tugas guru hanyalah sekadar mengajar, dan mengajarkan, sekarang juga mendidik, membentuk prilaku dan melatih anak-didik dalam mengamalkannya. Dan semua itu ada dalam satu sistem yang terpadu itu, di mana kuosien I, E dan S saling terkait, dan yang dijalin lagi dalam segitiga I, I dan A: Iman, Ilmu dan Amal, dalam satu sistem yang kaffah dan terpadu. Dengan itu kita memiliki tiga segi-tiga kuosien yang saling terjalin dan berkaitan serta saling isi-mengisi satu sama lain. I, E, S; I, I, A; dan K, P, A.

I I K

+ +
. .

E S I A P A
Tiga Segitiga Kehidupan
*
Karenanya, sia-sialah, kalau yang dimaksud dengan “peningkatan profesionalisme guru” itu hanyalah semata peningkatan kemampuan mengajar dan mengajarkan subyek ilmu tanpa juga memberikan perhatian bahwa ilmu yang diajarkan haruslah juga diamalkan dan dilandasi oleh keiman-an. Pepatah Arab mengatakan: “Al ‘ilmu bilā ‘amal kasy syajarah bilā tamar. Ilmu yang tidak diamalkan bagaikan pohon tak berbuah.” Dan juga, Hadith, Ad dīn huwal ‘aql, lā dīna liman lā ‘aqla lah. Agama itu adalah akal (ilmu), tidak ada agama tanpa akal/ilmu.” Dan antara ilmu dan iman tidak boleh ada pertentangan atau jalan sendiri-sendiri, seperti yang kita ikuti selama ini dengan sistem pendidikan sekuler Barat. Ilmu, ilmu, agama, agama, bagaikan dua rel kereta api yang sejalan tapi tak pernah bertemu.
Waktunya, ke depan, kita meninggalkan cara berpikir yang sekuler, yang memisahkan atau bahkan mempertentang-kan antara I yang Iman dan I yang Ilmu. Dan semua kita padu dengan kedua-duanya kita amalkan (A) secara terpadu.
Sekarang ini buku-buku pelajaran sejak dari SD, SMP, SMA sampai PT orientasinya masih sekuler. Ungkapan: Jangan bawa-bawakan agama dalam berilmu, masih saja santer. Seolah-olah agama itu tidak berilmu. Dan ilmu itu tidak ber-agama. Waktunya kita menyetop mempertentang-kan antara ilmu dan agama itu, karena dalam agama (Islam) tidak ada agama yang bertentangan dengan ilmu, sebagaimana tidak ada ilmu yang bertentangan dengan agama. Cobalah lihat, betapa banyak temuan-temuan ilmu dari dahulu sampai sekarang, dan sampai kapanpun, yang temuan ilmu itu tidak ada satupun yang bertentangan dengan agama. Bahkan banyak temuan itu yang justeru telah disebutkan dan diprediksi dalam wahyu Allah sendiri, yaitu Al Qur’an. Dan tak satupun dari temuan-temuan itu yang bertentangan dengan Al Qur’an. Malah mem-benarkan, dan membuktikan kebenaran penjelasan dan predik-si Al Qur’an yang telah disabdakan 15 abad yl itu.
[Saya kebetulan telah mengklasifikasikan ayat-ayat Al Qur’an ke dalam 5 klasifikasi ilmu, yang sudah diterbitkan, dari 10 yang saya rencanakan. Kelima klasifikasi itu adalah: (1) Fisika dan Geografi; (2) Biologi dan Kedokteran; (3) Botani dan Zoologi; (4) Ekonomi; (5) Hukum. Lima berikutnya, yang tiga sudah saya selesaikan, dua belum. Yang sudah selesai itu: (6) Kisah-kisah Sejarah; (7) Eskatologi: Hidup setelah mati, akhirat, surga dan neraka; (8) Himpunan Ayat-ayat Doa. Dua yang belum: (9) Etika/Akhlaq; dan (10) Aqidah (Theologi)].

*
Sebagaimana selama ini diharapkan, konsep paradigmatik yang baik akan tetap tinggal di konsep manakala tidak diterapkan dan dituangkan dalam bentuk perencanaan. Dan perencanaan ke dalam program, dan ke dalam program aksi. Lalu perlu pula disiapkan mekanisme monitoring, kontrol dan sanksi, sampai sejauh mana program telah dijalankan dalam menuju sasaran yang ingin dicapai yang telah dituangkan dalam program itu. Kita lalu mengenal, ada sasaran jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang.
Jika tujuan kita adalah untuk meningkatkan profesionalis-me guru dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan da-lam pengertian yang kaffah, integral, dan holistik, seperti dijabarkan tadi, maka tiada jalan lain kecuali semua itu dituangkan dalam bentuk perencanaan itu yang diikuti dengan langkah-langkah eksekusi dan pelaksanaannya dan dengan mekanisme monitoring dsb itu. Dan sebelum semua-semua itu perlulah didahului dengan niat dan tekad yang kuat dan padu bahwa para guru menginginkan perubahan, dari keadaan sekarang yang cenderung bergeleceran ke keadaan seperti yang diinginkan dalam perubahan paradigmatik itu.

*
Khusus untuk kita di Agam ini, tentukanlah pilihan Anda terlebih dahulu; mau seperti ini saja terus-menerus, atau mau perubahan ke arah yang diinginkan itu. Jika yang pertama, biar-kanlah diri Anda hanyut terkatung-katung dibawa arus, terus-menerus, seperti selama ini. Biarkan diri selalu jadi ‘obyek’ yang diatur-atur sebagaimana maunya yang mengatur, yang dianya yang jadi subyek penentu. Apalagi dalam sistem hirarkis, vertikal, burokratik seperti selama ini. Atau mau yang kedua, di mana Anda menyatakan kepada diri Anda sendiri: Enough! Kifāyah! Cukup! Cukup sampai di sini. Dan saya akan bangkit untuk menjadi ‘subyek’ dalam mengatur diri saya sendiri. Saya akan meretas jalan baru menuju paradigma baru, di mana saya akan benar-benar menempatkan diri sebagai ‘guru’ dalam arti yang sesungguhnya, dalam rangka meningkat-kan mutu profesionalisme guru, yang muaranya adalah dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan di tanah air tercintaku ini. Di sini aku berkiprah. Dan di sini aku mati.
Kalau sudah demikian tekadnya, maka aturlah bagaimana maunya untuk lima, sepuluh, dua puluh, dan lima puluh tahun ke depan. Semua tertuang dalam bentuk perencanaan dan program-program, yang kemudian tertuang dalam program aksi.
Kalau sudah demikian tekadnya, maka tidak ada gunung yang terlalu tinggi, tidak ada lurah yang terlalu dalam. Insya Allah, Agam, seperti selama ini juga, akan tetap jadi pelopor dan jadi suri tauladan untuk daerah-daerah lainnya, di Sumatera Barat, dan di Indonesia ini. Makanya banyak-banyaklah kita melihat ke luar jendela. Bagaimana orang kok bisa. Orang Melayu di Malaysia, bisa. Orang Cina di Singapura, di Cina sendiri, dan di mana-mana, kok bisa. Kita kok tidak.
Semua tinggal terpulang kepada Anda, dan kepada kita semua, untuk membalikkan semua itu. ***

0 Responses to “KITA TINGKATKAN PROFESIONALISME GURU UNTUK MEWUJUDKAN PENDIDIKAN YANG BERKUALITAS”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: