IDENTIKKAH MASYARAKAT HUKUM ADAT DENGAN ‘INDIGENOUS PEOPLE”?

Disampaikan pada Sarasehan Nasional
Peningkatan Pemberdayaan Masyarakat Hukum Adat Melalui Pemenuhan Hak-hak Konstitusionalnya,
Hotel Sheraton Media,
Jakarta, 13-14 Desember 2008

DI DUNIA akademik sekalipun ada kegalauan dalam mempergunakan istilah-istilah yang maknanya saling bertumpang-tindih tapi mempunyai konotasi yang berbeda-beda. Kegalauan ini kebetulan juga berjumpa dengan kita membicarakan mengenai masalah-masalah yang ada kait-annya dengan masyarakat hukum adat yang diakui keberada-annya oleh UUD1945 (Pasal 18 B, ayat (1) dan (2) perubahan kedua). Selama ini kita mengenal, di samping masyarakat adat dan masyarakat hukum adat, juga ada masyarakat suku ter-asing, atau masyarakat suku terbelakang. Atau juga suka disebut dalam konotasi sosiologisnya masyarakat marjinal dan terpinggirkan. Dulu di zaman kolonial bahkan juga dikenal ada istilah ‘suku primitif,’ yang sekarang kayaknya sudah diting-galkan karena konotosinya yang derogatori, insulting, menghina. Tetapi juga ada istilah pribumi dan non-pribumi (Malaysia: bumiputera dan non-bumiputera) untuk membedakan antara warga asli dan warga keturunan (Cina, India, Arab, Eropah, dll).
Lalu semua itu digalaukan lagi dengan kita juga mengenal istilah “indigenous people” yang disebut dalam UN Declaration on the Rights of Indigenous Peoples, yang telah disahkan pada SU PBB 13 Sep 2007 yl, dan juga disebut dalam Konvensi ILO 169 tahun 1989 yang sampai hari ini, setelah 20 tahun, Indonesia belum lagi meratifikasinya.
Pertanyaan mendasarnya adalah, apakah yang dimaksud-kan dengan ‘indigenous people’ itu semua masyarakat hukum adat pada semua tingkat perkembangannya, yang untuk kita berarti semua warga pribumi asli di manapun mereka berasal dan berada di Indonesia ini, ataukah terbatas kepada masyarakat suku terbelakang atau terasing belaka yang adalah kelompok eksklusif dari masyarakat hukum adat itu — yang karena kon-disi ekosistemnya hidup menyendiri dalam keadaan terbela-kang dan terasing dari kelompok masyarakat hukum adat lain-nya yang sudah membaur dan berintegrasi. Di negara-negara lain di dunia ini kecenderungannya adalah bahwa yang dimak-sud dengan “indigenous people” itu bukan semua masyarakat asli pribumi, yang berarti semua orang Cina di Cina, semua orang India di India, dst, tetapi adalah, dan hanyalah, mereka yang terpinggirkan secara ekosistemik itu, yang karenanya terbela-kang dan cenderung menutup diri.
Secara etno-sosiografis kitapun memang membedakan antara kedua kelompok masyarakat hukum adat ini, yang sudah berintegrasi dan yang masih menyendiri. Di hampir setiap pulau atau gugusan pulau di Indonesia ini kita masih mengenal suku-suku yang kita anggap dan bahkan perlakukan sebagai suku terbelakang atau terasing itu. Di Sumatera saja, di gugusan pulau-pulau di lepas pantai Barat ada masyarakat hukum adat Mentawai dan Enggano, yang dahulupun masya-rakat Nias biasa dimasukkan ke dalamnya. Di daratan Suma-tera sendiri ada suku Talang Mamak, Sakai, Suku Kubu atau Anak Dalam, Orang Laut, dll. Di Jawa ada Orang Badui, Orang Tengger. Di Kalimantan ada Orang Dayak dengan belasan suku-suku. Di Sulawesi dan Indonesia Timur lainnya ada sekian banyak suku-suku yang diklasifikasikan sebagai suku terasing atau terbelakang itu. Lalu di Papua, kecuali yang sudah turun ke kota-kota, kebanyakan yang masih tinggal di daerah-daerah pegunungan masih dianggap dan diperlakukan sebagai orang suku terasing atau terbelakang.
Sekali lagi, apakah mereka-mereka yang kita sebut sebagai suku terkebelakang dan terasing ini saja yang kita anggap dan klasifikasikan sebagai ‘indigenous’ ataukah termasuk semua kita bangsa pribumi yang lahir dan dibesarkan di bumi Indone-sia ini.
Lantunannya tentulah juga, pada tingkat berikutnya, apa-kah yang dimaksud dengan “kesatuan masyarakat hukum adat” beserta hak-hak tradisionalnya, seperti dalam Pasal 18 B ayat (2) UUD1945 itu, adalah kelompok masyarakat pribumi yang masih tinggal di desa-desa asli dan tunduk kepada hak-hak tradisionalnya, ataukah juga yang sudah pindah ke perkotaan tapi masih mempunyai ikatan batin dan sosial-budaya dengan kampung halamannya, seperti kebanyakan penduduk kota di manapun di Indonesia ini masih berstatus seperti itu sekarang ini. Pulang mudik setiap hari lebaran dalam jumlah tak terkirakan, hanyalah contoh nyata dari fenomena dimaksud. Sementara bermacam corak pembangunan yang dilakukan di kampung halaman adalah juga hasil buah tangan dari usaha merantau itu. Mereka berpindah ke kota bukan untuk tujuan migrasi permanen tapi dalam artian “merantau mencari rezeki” yang ikatan batin dengan kampung halaman tidak putus. Dan karenanya mereka masih ‘mengisi adat’ dan tunduk kepada hukum adat yang berlaku di kampung halaman masing-masing. Dan pertanyaannya, bagaimana dengan mereka yang secara fisik dan spatial sudah tidak berada di daerah hukum adatnya lagi tetapi punya hubungan batin dan sosial-budaya dengan kampung halaman yang ditinggalkannya itu.
Lalu, karena Pasal 18 B ayat (1) UUD1945 menyebut bahwa “Negara mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau bersifat istime-wa,” sendirinya akan menggugah para sultan dan raja yang tidak lagi memiliki kekuasaan memerintah wilayah kuasa adat-nya untuk berupaya mengklaim dan menghidupkan kembali hak-hak khusus atau istimewanya itu. Lalu ke mana kita akan dibawa oleh diakuinya satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus dan istimewa itu?
Ini semua, dengan sendirinya, mengharuskan kita untuk menjuruskannya kepada pengklarifikasian dan penuangannya dalam bentuk undang-undang seperti yang diinginkan oleh bunyi Pasal 18 B UUD 1945 itu. ***

0 Responses to “IDENTIKKAH MASYARAKAT HUKUM ADAT DENGAN ‘INDIGENOUS PEOPLE”?”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: