SURAU MAHASISWA: DENGAN “ABS-SBK” DAN DALAM RANGKA “KEMBALI KE NAGARI – KEMBALI KE SURAU,” KITA BANGUN SURAU MAHASISWA DI KOTA-KOTA PERGURUAN TINGGI DI SUMATERA BARAT

Padang, 15 Oktober 2008

I

PRAKTIS semua kota di Sumatera Barat memiliki pergu-ruan tinggi, negeri maupun swasta, umum maupun agama, walau konsentrasi terbanyak masih terletak di kota Padang. Dari belasan perguruan tinggi itu diperkirakan jumlah mahasiswanya tidak kurang dari 100 ribu. Para maha-siswa itu selain datang dari berbagai daerah di Sumatera Barat, juga cukup banyak yang dari luar Sumbar, dari Sumatera lainnya, dan dari pulau-pulau lainnya di Indonesia ini.
Karena rata-rata perguruan tinggi tidak menyediakan asrama mahasiswa, para mahasiswa tinggal di rumah-rumah penduduk di sekitar kampus. Kebanyakan berupa “rumah kos” atau pondokan yang tidak disertai oleh pemiliknya. Kecuali ada yang memenuhi persyaratan, tetapi kebanyakan tidak atau kurang memenuhi persyaratan. Rata-rata dengan fasilitas yang kurang memadai selain juga penghuninya melebihi kapasitas ruangan kamar. Hubungan dengan pemilik rumah umumnya hanyalah sebatas sewa-menyewa kamar. Sedikit yang lebih dari itu. Dan rata-rata pemilik rumah tidak mau tahu dan tidak mau direpotkan dengan apapun yang terjadi dengan para penghuni yang mahasiswa itu. Dalam hubungan yang minim dan longgar itu, apalagi dengan hubungan antar-gender yang makin tidak mengenal batas dalam masyarakat kita sekarang ini, tidak mengherankan jika sering kita dengar ekses-ekses, misalnya, hubungan penghuni dengan tamu-tamu mereka melampaui batas kesopanan, yang kadang bahkan batas kesusilaan, di samping hubungan di antara sesama penghuni yang ‘siapa lu siapa gue,’ di samping minimnya hubungan sosial dengan masyarakat sekitar.
Dalam rangka kita kembali menghidupkan semangat “ABS-SBK” dengan “Kembali ke Nagari, kembali ke Surau” sekarang ini, tepat sekali kalau kita juga sekaligus merealisasi-kan konsep “Surau Mahasiswa” (disingkat SM), yang telah juga bergulir sejak cukup lama di kota Padang. Konsep SM ini telah diuji-coba dan direalisasikan oleh Yayasan Amal Saleh (YAS) dan Islamic Center Al Quds, dekat kampus UNP di kawasan Air Tawar Barat, Padang, sejak cukup lama. Di UNP maupun di Unand sekarang ini juga tersedia asrama mahasiswa di kompleks kampus, walau ditempati oleh mahasiswa dalam jumlah yang masih sangat terbatas. Sistemnya masih asrama, belum Surau Mahasiswa. Di Islamic Center ada sekitar 30-an mahasiswa, semua laki-laki, sementara di YAS sekitar 70-an mahasiswa, laki-laki dan perempuan dalam surau terpisah, di 5 Surau Mahasiswa.
Pengalaman selama belasan tahun mengelolakan SM di YAS dan Islamic Center ini dapat dijadikan contoh dan sekaligus sebagai model untuk mengembang-luaskan konsep SM ini ke berbagai kota di Sumbar, bahkan ke luar Sumbar. Surau Mahasiswa kita jadikan acuan, karena, berbeda dengan asrama, apalagi pondokan, dia melanjutkan dan menghidupkan kembali semangat bersurau, sekarang khusus untuk para mahasiswa yang sedang mempersiapkan diri untuk menjadi calon pemimpin ummat dan pemimpin bangsa ke masa depan. Masyarakat Minang telah membuktikan bahwa bahagian terbe-sar dari pemimpin yang dilahirkan di Sumbar dulu justeru besarnya di surau, dan suraulah yang mempersiapkan mereka untuk menjadi pemimpin yang tangguh dan tanggap dalam menghadapi segala macam persoalan dan permasalahan. Di SM mereka hidup seperti di surau. Yang diambil adalah sema-ngatnya, semangat bersurau, walau rumah yang ditempati adalah rumah sewaan milik penduduk di sekitar kampus. Dengan SM, yang dibina adalah hubungan segi-tiga antara kampus, SM dan mesjid terdekat. Kampus tempat mereka menimba ilmu; mesjid tempat mereka menyatu dengan masyarakat dengan beribadah berjemaah, dan turut serta dalam kegiatan bermasyarakat; di SM mereka hidup bersama seperti layaknya di surau, tetapi dengan manajemen dan pendekatan moderen. Mereka masak dan makan bersama, menjaga keber-sihan dan keamanan bersama, melakukan bermacam kegiatan yang akan meningkatkan kemampuan dan keterampilan inte-lektual, emosional dan spiritual mereka, bersama, dan, tentu saja, belajar berorganisasi, bersama.
Kesan-kesan kuat yang didapatkan oleh para alumni SM memperlihatkan bahwa mereka rata-rata merasa beruntung dan bangga mendapatkan pengalaman dan kesempatan tinggal di SM secara bersama-sama. Sendirinya ada bekal bermakna yang mereka bawa dari hasil tempaan hidup bersama di SM itu. Rata-rata selama beberapa tahun tinggal bersama di SM sifat dan watak mereka bisa banyak berubah, dari hidup egois-tis sendiri-sendiri ke hidup bersama dengan kesadaran sosial yang tinggi. Bekal itu sangat diperlukan bagi mereka untuk mempersiapkan diri menjadi pemimpin ummat dan masyara-kat ke masa depan, ke manapun mereka “tercampak” nantinya.

II
SM secara fisik adalah rumah penduduk yang disewa per tahun yang bisa bervariasi sampai sekitar 10 juta per tahun sesuai dengan kondisi dan daya tampung dari rumah bersang-kutan. Yang perlu dicarikan melalui donatur adalah sewa tahun pertama. Dengan para penghuni membayar setiap bulan sela-ma setahun pertama itu, maka pada akhir tahun terkumpullah duit untuk sewa tahun kedua. Dan begitulah seterusnya. Dengan demikian dana yang perlu dicarikan hanyalah untuk sewa tahun pertama itu. Selebihnya sistemnya menggelinding sendiri. Kendati membayar, untuk menutupi sewa per tahun secara bersama itu, jumlah yang dibayar oleh masing-masing jauh di bawah dari kalau tinggal dan menyewa sendiri-sendiri di rumah kos atau pondokan.
Dengan tinggal di SM secara bersama itu sendirinya di samping munculnya semangat bersama dan kebersamaan itu, para penghuni yang merupakan santri mahasiswa di SM itu akan menciptakan organisasi SM sendiri dengan berbagai kegiatan terprogram, baik ke dalam maupun ke luar. Sendiri-nya, seperti di Yayasan Amal Saleh dan di Islamic Center itu, akan muncullah semangat berorganisasi dan semangat melaku-kan amal-pengabdian, ke dalam maupun ke luar, secara ber-sama.

III
Dalam rangka pengembangan SM ke berbagai linkungan kampus perguruan tinggi di kota-kota di Sumbar ini, sejauh ini, telah ada kesepakatan oleh sejumlah pimpinan perguruan tinggi, baik di Padang, di Bukittinggi dan di Batusangkar, untuk menyebar-luaskan praktek pengembangan SM ini ke berbagai kota perguruan tinggi di Sumbar. Juga disepakati bahwa filosofi dasar yang dipakai adalah “ABS-SBK” dan dalam rangka “Kembali ke Nagari-Kembali ke Surau,” yang telah menjadi pedoman hidup dan landasan berbuat yang diterima secara konsensus dan terbuka oleh masyarakat di Sumbar ini.
Akan ideal sekali kalau di samping kesepakatan dari pimpinan perguruan tinggi itu juga didukung oleh DPRD dan Pemda di Sumbar ini, baik di tingkat Provinsi, Kabupaten dan Kota. Dengan demikian konsep SM (Surau Mahasiswa) menjadi konsep bersama masyarakat yang didukung secara penuh oleh lembaga legislatif maupun eksekutif di Sumbar ini.

IV
Target kita untuk 2008-2009 dan 2009-2010 ini adalah 100 SM yang tersebar di berbagai kota perguruan tinggi di Sumbar ini. Dengan penghuni rata-rata 10-15 orang per SM, jumlah mahasiswa yang terakomodasikan baru sekitar 1 % dari jumlah mahasiswa di Sumbar ini. Kita mengharapkan untuk 10 tahun yad, sedikitnya 25 % dari jumlah mahasiswa dapat terakomodasikan di SM itu. Usaha bersinergi antara pimpinan kampus dalam membangun SM di lingkungan kampus dengan usaha bersama dengan masyarakat seperti yang diluncurkan ini tentu akan mempercepat proses.
Dalam waktu yang dekat ini diharapkan agar terbentuk badan yang akan memberikan pengarahan dalam mengelola-kan SM yang ditempatkan di lingkungan kampus di kota-kota perguruan tinggi di Sumbar ini. Selain itu diperlukan tim inti yang akan mengkoordinasikan kegiatan pengembangan SM ini, di samping tim teknis untuk masing-masing SM di masing-masing kota.
Dukungan DPRD dan Pemda, baik Provinsi maupun Kabupaten dan Kota, sewajarnya dituangkan secara tertulis dalam program daerah dan anggaran yang diperlukan dimasuk-kan ke dalam APBD 2008/2009 maupun 2009/2010 nanti. Sementara itu peranan lembaga amil zakat, di samping bantuan sosial dari perusahaan-perusahaan swasta maupun BUMN (dalam rangka pelaksanaan tugas “corporate social responsibi-lity” atau kewajiban sosial dari perusahaan mereka), organisasi para perantau maupun muhsinin-muzakki perorangan lainnya, sangat sekali diharapkan. ***
______

Untuk sementara Sekretariat Penghubung untuk pengembangan SM ini kita tempatkan di LP2SM YAS (Lembaga Pengelolaan dan Pengembangan Surau Mahasiswa Yayasan Amal Saleh, d/a: Jl Perkutut 6, Air Tawar Barat, Padang 25132. Tel. 0751-442247.

0 Responses to “SURAU MAHASISWA: DENGAN “ABS-SBK” DAN DALAM RANGKA “KEMBALI KE NAGARI – KEMBALI KE SURAU,” KITA BANGUN SURAU MAHASISWA DI KOTA-KOTA PERGURUAN TINGGI DI SUMATERA BARAT”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: