STRATEGI MASA DEPAN DALAM MENGEMBALIKAN SUMBAR SEBAGAI PENYUMBANG INTELEKTUAL TERBESAR DI TANAH AIR

Disampaikan pada Seminar Guru,
oleh LSM Pelangi Indonesia,
Minggu, 3 Agustus 2008
di Payakumbuh

I

DENGAN kita menelusuri kembali kenapa Sumatera Barat dahulu pernah menjadi penyumbang intelektual terbesar di tanah air — sekurangnya secara propor-sioal berbanding dengan jumlah penduduk –, kitapun secara konseptual bisa pula menunjukkan bagaimana strategi untuk mengembalikannya. Namun tentu saja, manakala faktor-faktor yang diperlukan itu tidak tersedia, maka semua itu hanyalah sebuah ilusi fatamorgana. Bak si pungguk merindukan bulan. Karena kondisi dan situasinya telah berubah, dan karena faktor-faktor yang diperlukan itu tidak tersedia lagi. Perjalanan sejarah sering-sering memperlihatkan hal yang seperti itu. Dia berlalu untuk tidak berulang lagi.
Namun semua itu juga bisa dihadirkan kembali manakala azamnya kuat dan diperkuat, dan kita secara sadar berjuang keras untuk itu, sementara semua faktor yang diperlukan untuk itu disiapkan dan dilengkapi. Apalagi jika dikaitkan dengan kesadaran akan ketentuan dari Atas, bahwa “Tuhan tidak akan merubah nasib sesuatu bangsa jika bangsa itu tidak berusaha merubah apa yang ada dalam dirinya sendiri (mā bi anfusihim).” Jelas yang dimaksud dengan ungkapan wahyu Ilahi ini adalah perubahan paradigmatik dan sikap mental yang dimulai dari diri sendiri. Baru yang lain-lainnya akan berubah secara kolektif dan sosietal manakala paradigma-paradigma dan sikap mental yang diperlukan itu telah berubah secara signifikan sesuai dengan kebutuhan akan tujuan yang diinginkan.

II

Inti dari permasalahan kita, kenapa Sumbar atau etnik Minang-kabau pernah tampil ke depan dalam memberikan sumbangan terbesar dari munculnya kelompok intelektual di tanah air adalah karena bertemunya tiga unsur pokok budaya yang ketiga-tiganya sifatnya kondusif dan saling bersinergi dalam menumbuhkan kelompok intelektual dimaksud. Ketiga unsur pokok budaya itu tidak lain dari A (adat), I (Islam) dan M (modernisme).
Ketiga-tiganya datang dari rumpun budaya yang berbeda. A, adat, sifatnya indigenous, asli, membersit dari buminya sendi-ri, yang karakter budayanya adalah rasional-kritis-filosofis, de-ngan orientasi “berguru kepada alam.” Artinya berguru kepada “hukum-hukum alam” (natural laws) yang sangat logis dan rasional yang diciptakan oleh Sang Maha Pencipta sendiri sebagai iktibar bagi hamba-Nya sebagai khalifah Allah di muka bumi untuk juga berfikir dan berbuat logis, rasional dan saintifik, seperti yang Allah telah lakukan dengan makhluk-Nya itu. Dalam unsur A ini tidak ada orientasi magis-animistis-supernatural-kosmologis, seperti di kebanyakan budaya-buda-ya tradisional-primordial lainnya.
I (Islam), yang kemudian menjadi anutan agama satu-satunya bagi orang Minang, seperti dengan suku-suku Melayu lainnya, memberi roh spiritual yang mencantolkan semua-semua secara vertikal ke atas, kepada keesaan dan kemaha-kuasaan Allah SWT dalam mengatur semua isi alam ini. Dengan Islam maka semua yang bertentangan dan tak sejalan dari Adat dibersihkan, sehingga terjadilah proses purifikasi, seperti yang dilakukan oleh gerakan Paderi di abad ke 19 dan dilanjutkan oleh gerakan kaum muda di paruh pertama abad ke 20. Semua itu berujung pada terjadinya sintesis dari Adat dan Islam, yang kemudian lalu terbuhul ke dalam adagium: ABS-SBK, Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah. Konsep ABS-SBK inilah yang sekarang ingin dihidupkan dan diimplementasikan kembali dalam konteks otonomi daerah. Jelas, kaitan antara Adat dan Syarak tidaklah horizontal-sinkre-tik, tetapi vertikal-sintetik, dengan Islam sebagai unsur penen-tu, dan Adat yang menyesuaikan diri, sesuai dengan rangkaian adagium lainnya: “Syarak mengata, Adat memakai.”
Sementara M (modernisme), adalah budaya impor yang datang dari Barat dan dibawa masuk oleh penjajah Belanda melalui sekolah dan pencerahan (aufklärung) setelah diper-kenalkannya etische politiek di perkisaran abad ke 19 dan 20, dan berlanjut sampai sekarang dengan juga masuknya budaya global. M (modernisme), melengkapi cara berfikir yang rasio-nal dan spiritual dari A (Adat) dan I (Islam) tadi, terutama melengkapi dari segi metodologi dan teknik-teknik pencapaian dengan prinsip manajemen dan cara berfikir yang rasional, logis dan saintifik untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu dengan prinsip efektivitas, efisiensi, dan produktivitas yang optimal. Faktor waktu, daya, dana dan peluang serta tantangan masuk dalam perhitungan.
Ketiga unsur budaya ini saling bersinergi dan isi mengisi dalam melahirkan generasi baru yang tercerahkan dan mun-culnya kelompok intelektual Minangkabau dalam jumlah yang sangat berarti pada saat yang tepat dan dibutuhkan itu. Dan ketiga Trilogi budaya A, I, M ini sekaligus juga memberi dimensi yang lengkap dan melengkapi dari kuosien I (intelektual), E (emosional) dan S (spiritual) yang diperlukan dalam membangun kehidupan yang integral, terpadu, dan kaffah, menyeluruh, yang jargonnya kebetulan sekarang lagi populer dipasarkan di bursa pemikiran.

II
Namun, dan inilah dilema dan sekaligus malapetaka yang terjadi. Ketika para intelektual Minang ikut tungkus-lumus dalam mendirikan negara ini, filosofi yang dianut oleh negara ini tidak sejalan dengan filosofi dan budaya orang Minang, dan orang Melayu umumnya, yang dasarnya adalah trilogi-budaya A, I dan M tadi yang telah terintegrasi ke dalam satu kesatuan budaya yang bersintesis, dengan adagium ABS-SBK tadi. Filosofi negara yang didisain oleh Sukarno adalah “Pancasila” yang dasarnya adalah campur-sari budaya yang sifatnya bukan sintetik, tetapi sinkretik. Kendati dalam sila pertamanya dinya-takan pengakuan akan Ketuhanan Yang Maha Esa, yang per definisi mestinya hanya Islam yang diakui, karena hanya Islam yang mempunyai kepercayaan akan Ketuhanan Yang Maha Esa itu, nyatanya semua agama diakui, baik yang esa, yang tri-esa (Kristen), yang poli-esa (Hindu) dan bahkan yang tidak tahu siapa tuhan yang sesungguhnya itu (Budha) di samping yang animis sekalipun (Konghuchu). Konghuchu masuk dalam nomenklatur Pancasila berkat pengakuan dan pengesahan yang diberikan oleh seorang waliyullah yang kebetulan pernah menjadi Presiden di NKRI ini.
Dari segi ini saja terlihat bahwa filosofi Pancasila bukan-lah sintetik tetapi sinkretik, pengakuan akan semua agama sebagai sama sesuai dengan kepercayaan Kejawen yang sinkre-tik itu, yang menyatakan bahwa: “sadaya agami sami kemawon,” semua agama adalah sama dan sama benarnya.
Pun juga dengan sila yang lain-lainnya yang tidak merujuk kepada sila yang pertama, tetapi saling merujuk dan meleng-kapi secara sinkretik itu.
Ketika ditanya, apakah NKRI itu sekuler atau religius, jawabannya kadang adalah serba-bukan, bukan-sekuler dan bukan-religius, tapi kadang juga serba-iya, ya ini ya itu.
Lalu apa ini namanya? Itulah yang sinkretisme itu. Serba iya dan serba bukan; tergantung kepada siapa yang menga-takannya, dari segi pandang mana dia melihatnya, dan apa gezag, authority, yang dia miliki dalam sistem kekuasaan yang berorientasi vertikal dan top-down, sebagai pengejawantahan dari budaya feodalisme, paternalisme, etatisme, nepotisme, dsb, yang diwarisi dari budaya nenek-moyang masa lalu di zaman Majapahit dan Mataram dahulu. Hubungan antara negara-pemerintah dengan rakyatnya adalah hubungan patron-klien kawulo-gusti, sama dengan hubungan antara Tuhan dan hamba-Nya. Kawulo atau hamba yang namanya rakyat itu adalah milik, property, dari sang penguasa, bukan dan tidak pernah dianggap sebagai manusia merdeka yang mempunyai kemauan dan kehendak sendiri. Rakyat karenanya tidak ditem-patkan dalam posisi subyek tetapi obyek, obyek yang diatur dan dikendalikan secara top-down.
Perbauran antara filosofi hidup yang sinkretik dengan sistem kekuasaan yang sentralistik, etatik, sentripetal, top-down, dan sistem sosial-budaya yang feodalistik, paternalistik, nepo-tik, dsb, itulah yang mewarnai dan bahkan mendominasi kehi-dupan politik bernegara selama masa kemerdekaan ini, teruta-ma setelah Sukarno mengambil alih kekuasaan secara absolut dengan mengklaim diri sebagai presiden seumur hidup, pe-mimpin besar revolusi dan bapak bangsa, 5 Juli 1959. Suharto lalu mengkup Sukarno, seperti ceritanya di zaman Majapahit dahulu, di mana kekuasaan beralih tangan melalui intrik-intrik istana dan pergumulan kekuasaan, sering dengan pertumpahan darah.
Dengan sistem kekuasaan yang terpusat seperti itu, maka semua kebijakan apapun datang dari atas, yang di bawah tinggal mengamini. Perbedaan visi dan pendapat tidak disukai. Semua sistem dan struktur lalu diseragamkan, sama untuk seluruh Indonesia, dengan model Jawa, dan Jawa sentris. Ketika nagari dirubah dan diseragamkan dengan desa seperti di Jawa, dan ketika otonomi daerah yng dituntut oleh PRRI, Permesta, dsb, sebelumnya, dijawab dengan mulut meriam, dan ketika tokoh-tokoh daerah dikucilkan, kecuali yang mau berkapitulasi dan tunduk pada kemauan pusat, ketika itulah surutnya secara besar-besaran peranan yang dimainkan sebe-lumnya oleh tokoh-tokoh daerah, termasuk para intelek-tualnya.
Yang berkembang lalu adalah SDM dalam pengertian ekonomi sebagai “tenaga kerja,” yang dihasilkan melalui pabrik-pabrik pendidikan, dari TK sampai PT, dalam berbagai bidang kejuruan dan keahlian. Buta huruf telah dilenyapkan, dengan mayoritas penduduk melalui sekolah bisa tulis-baca. Dan praktis semua anak-anak masuk sekolah, dari tidak tahu lalu menjadi tahu. Tapi apa sekolah lalu mencetak dan mem-persiapkan para intelektual? Itulah soalnya.
Di Sumbar ini saja kita memiliki ribuan sarjana di berbagai bidang keilmuan, dan di berbagai strata sampai doktor-doktor sekalipun, dan profesor-profesor, dengan setiap kota ada perguruan tinggi atau universitasnya. Tetapi apakah mereka adalah juga intelektual? Inilah soalnya.
Cobalah hitung dan kumpulkan, apakah habis jari yang sepuluh ini untuk menghitung jumlah intelektual yang ada di Sumbar ini, sekarang, dan sejak PRRI kemari ini? Untuk menghitung sampai lima sajapun barangkali akan kesukaran. Karena tidaklah setiap sarjana adalah intelektual, sementara seorang intelektual tidak pula harus sarjana. Mesin pendidikan selama Orde Lama, Orde Baru, sampaipun ke masa reformasi sekarang ini, tidaklah, dan tidak pernah, mencetak intelektual. Karena manusia intelektual itu adalah “binatang” yang berba-haya, berbahaya bagi kestabilan dan kemapanan regim, karena intelektual selalu bersifat mempertanyakan, beradu argumen, untuk mencari yang terbaik, dan solusi terbaik, dari semuanya itu. Seorang intelektual tidak hanya mengasah otak dengan kecerdasan intelektualnya, tetapi dia sekaligus harus juga yang E dan yang S-nya itu, artinya emosional dan spiritual, sehingga semua itu “menggeribit” di kepala, di dada dan di sanubarinya. Intelektual, berbeda dengan sarjana, tidak hanya mengandal-kan kepada I tetapi sekaligus kepada E dan S-nya itu, dan dengan “keberanian” untuk mengatakan yang benar itu adalah benar, dan yang salah itu salah – dengan risiko apapun, walau penjara akan tantangannya.
Dalam kenyataannya, sejak Orde Lama, apa lagi Orde Baru, semua intelektual dibungkam, tidak boleh macam-macam dan tidak boleh neko-neko, karena akan mengganggu kelancaran roda pemerintahan dan kestabilan nasional.
Dengan itu, dan karena itu, bisalah dibayangkan, betapa para intelektual, tidak punya tempat di NKRI ini. Mana yang ada satu per satu rontok, dikucilkan, dan tidak diberi hak hidup. Belum lagi, sejak PRRI, kita melihat tidak sedikit intelektual Minang yang dikucilkan, dihilang-lenyapkan, tidak diberi ruang hidup (lebensraum), untuk sedikitnya tidak lagi dibawa beria. Terlalu panjang daftar dari nama-nama intelek-tual Minang yang dikucil dan disingkirkan, sejak dari nama-nama besar, mulai Bung Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, Natsir, Yamin, Bahder Johan, Hamka, dst., sampai ke yang mene-ngahan atau lokal sekalipun. Kecuali tentunya mereka yang bermental kerupuk yang lalu sedia berkolaborasi, lalu diberi tempat di kabinet, di pemerintahan, dsb.

III
Apa lalu sebenarnya yang di belakang pergumulan itu? Tidak lain dari pergumulan budaya dan nilai-nilai budaya. Dua kelompok budaya Nusantara dengan orientasi filosofis yang berbeda dan saling bertentangan satu sama lain sejak semula, dalam pertarungannya, setakat ini, telah dimenangkan oleh budaya sinkretik yang sekaligus etatik-feodalistik. Kebetulan akarnya itu ada pada kebudayaan Jawa. Dengan pusat kekuasaan sejak semula ada di Jawa, dan konsentrasi penduduk juga ada di Jawa, maka wajar, dari segi matematika sejarah, yang kuat menguasai yang lemah, yang besar menguasai yang kecil.
Dalam budaya sinkretik yang etatik-feodalistik ini, ruang bergerak untuk yang lain-lainnya pada dasarnya tetap ada tersedia, selagi dan selama tidak neko-neko, tidak ada pikiran untuk menentang, apalagi “menantang,” tetap bisa bermain di halaman yang telah ditentukan batas-batasnya itu, dan tetap menempatkan diri dalam fungsi sebagai kawulo yang patuh pada kekuasaan. Seperti yang diperlihatkan pada zaman ramai-ramainya P4 dengan permainan simulasi, dsb, itu, dahulu, pengambilan keputusan adalah hak prerogratifnya pemegang kekuasaan. Setelah “bapak” mendengarkan semua persoalan yang dibawakan kepadanya, bapak akan mengatakan, bapak akan pelajari dengan baik, dan pada waktunya bapak akan memberikan keputusan. Keputusan adalah hak prerogatifnya pemegang kekuasaan, bukan haknya rakyat, karena kedaulatan itu tidak terletak di tangan rakyat, tetapi di tangan pemegang kekuasaan. Ketika kekuasaan sekarang beralih dari eksekutif ke legislatif, permainannya hanyalah sekadar bertukar tempat di tikar yang sehelai, yang rakyat tetap saja tidak punya kedau-latan dan tidak punya hak untuk menentukan yang terbaik untuk dirinya sendiri.
Perkembangan politik dan sosial-budaya yang telah ter-jadi selama nyaris setengah abad pula, yakni dari Dekrit Presiden 5 Juli 1959, untuk kembali ke UUD 1945, sampai saat ini, yang menyebabkan hilangnya tokoh-tokoh intelektual Minang dan Melayu lainnya dari peredaran. Yang muncul adalah para sarjana yang dihasilkan dari mesin pendidikan yang sifatnya massal, dan yang hanya semata mengasah otak, tetapi membiarkan E, emosi, dan S, spiritualitas, kosong tidak terisi. Dengan I menghasilkan Sarjana, tetapi dengan gabungan I, E dan S (atau gabungan dari unsur kognitif, afektif dan psikomotorik dalam istilah ilmu pendidikannya), menghasilkan intelektual.

IV
Sekarang, jika kita ingin mengembalikan munculnya kembali para intelektual dalam jumlah yang berarti dari Suma-tera Barat, termasuk yang di rantaunya, maka mau tak mau semua persyaratan yang diperlukan untuk itu harus dimun-culkan kembali. Intelektual baru tidak akan muncul jika per-syaratan-persyaratan untuk itu tidak dipenuhi. Sementara persyaratan itu adalah universal dan berlaku di mana-mana, kapanpun.
Pertama, kita harus melihat manusia itu sebagai sebuah totalitas, yang terdiri dari berbagai segi dan dimensinya. Yang dibangun bukan hanya fisik jasadiyahnya, tetapi juga ruhani-yahnya, yang terdiri dari kombinasi dari intelektualitas, emosio-nalitas dan spiritualitasnya itu.
Kedua, perlu ada pembebasan dari unsur-unsur ruhani-yah itu sehingga ruhaninya yang merupakan kombinasi dari unsur-unsur I, E dan S itu hanya satu saja bekas dia takut dan tunduk sepenuhnya, yaitu kepada Allah swt, Tuhan pencipta sekalian alam. Selebihnya dia adalah manusia merdeka dan hubungannya dengan sesama manusia lainnya adalah hubung-an saling mengasihi dan tolong-menolong antar sesama manu-sia merdeka. Karenanya, sementara hubungan dengan Al Kha-liq adalah hubungan vertikal yang bersifat penghambaan, hubungan dengan sesama manusia adalah hubungan horizon-tal yang bersifat persaudaraan dan kasih-sayang, yang orien-tasinya adalah sentrifugal, bukan sentripetal. Bukan meraup kepada diri apa yang dapat saya peroleh, tetapi memberikan apapun dari diri untuk kepentingan orang banyak. Pertanya-annya bukanlah, “apa yang bisa saya dapatkan,” tetapi adalah, “apa yang bisa saya berikan.”
Ketiga, bahwa pendidikan formal dan informal, pendi-dikan di sekolah, di keluarga dan di masyarakat, haruslah juga saling terkait, yang satu mendukung dan melengkapi yang lainnya. Pendidikan di sekolah jelas tidak hanya sekadar bersi-fat kognitif dengan belajar mengenal berbagai macam obyek ilmu, tetapi juga berkaitan dengan aspek affektif dan psiko-motoriknya, yaitu menfungsikan secara optimal sisi-sisi yang berkaitan dengan rasa dan kersa serta karya, sehingga si anak didik menjadi tanggap diri dan tanggap lingkungan. Menonjol dari antaranya adalah disiplin hidup yang tinggi, rasa santun dan hormat antara sesama, rasa sosial yang tinggi, dan rasa tanggung jawab yang penuh akan apapun yang dilakukan. Menonjol juga dari antaranya adalah pengenalan dan peman-faatan secara optimal akan arti waktu, peluang dan tantangan, sehingga tidak ada hidup yang sia-sia, semua terisi penuh dengan penuh makna. Sebagai insan bertaqwa, dia tidak bangun pagi, tetapi bangun subuh, yang dari sana jadwal kegiatan yang 24 jam sehari itu diatur dan diukur. Pembiasaan pengaturan waktu menurut jam-jam shalat ini sudah harus dimulai ketika anak masih kecil di bawah asuhan dan penga-wasan orang-tua.
Sistem pendidikan yang ada sekarang yang cenderung berkeping-keping tanpa ada keterkaitan antara satu sama lain, karenanya harus dirobah total. Output dari sekolah yang tadinya hanya menghasilkan SDM dalam artian ekonomi dengan iastilah “tenaga kerja,” sekarang dirubah menjadi mempersiapkan manusia-manusia yang mandiri, percaya diri dan berkepribadian.
Keempat, trilogi budaya A, I, M yang tadinya telah menjadi landasan bagi tumbuh dan berkembangnya para cen-dekiawan dan intelektual di Minangkabau harus dihidup dan diaktifkan kembali yang atas landasan itu prinsip ABS-SBK juga difungsikan kembali.
Kelima, agar intelektual Minang juga bisa kembali memainkan peranannya secara aktif di pentas nasional, orientasi sentrifugal dengan semangat keterpanggilan dari manusia Minang harus difungsikan kembali dengan kembali mengaktifkan diri di berbagai sektor kegiatan – di bidang apapun – sehingga “yang sedikit yang bisa membanyakkan” dapat difungsikan dan diaktifkan kembali.
Tentu saja ada sekian banyak lagi kiat-kiat, resep, taktik dan strategi lainnya yang dapat diangkatkan agar tujuan untuk kembali berperan aktif sebagai manusia Minang yang berkualitas, yang menjadi panutan dan suluh-bendang sebagai intelektual di pentas nasional dan dunia dapat dihidup dan disemarakkan kembali.
Kalau orang Yahudi yang jumlahnya hampir sama dengan orang Minang, dapat menguasai dunia, orang Minang sedikit-nya harus juga bisa berperan aktif dan positif di pentas nasional di tanah air sendiri sebagai intelektual, seperti yang contohnya telah diperlihatkan oleh para pendahulu kita. ***

0 Responses to “STRATEGI MASA DEPAN DALAM MENGEMBALIKAN SUMBAR SEBAGAI PENYUMBANG INTELEKTUAL TERBESAR DI TANAH AIR”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: