MOHAMMAD NATSIR Dengan Konsep Integral dan Toleransinya

Disampaikan pada Seminar Nasional
“Dr Mohd Natsir Penyelamat NKRI”
11 Agustus 2007, di Padang

PARA ahli sejarah berkata: Panta Rei. Sejarah mengalir. Dan semua bermuara ke laut kehidupan yang penuh riak dan gelombang. Ada pasang naik dan ada pasang surutnya sebagai akibat dari kekuatan daya tarik-menarik dari benda-benda alam yang saling terkait antara satu sama lain. Bagaimanapun, para ahli sejarah juga mengatakan, sejarah tidak dinukil oleh massa yang mengambang di atas permukaan laut kehidupan itu, tetapi oleh tokoh-tokoh terpilih yang dipilih oleh sejarah itu.
Satu dari antara yang terpilih itu, dalam konteks sejarah Indonesia moderen sekarang ini, tercantum nama Mohammad Natsir (1908-1993). Dan Dr H Mohammad Natsir gelar Dt Sinaro Panjang dengan sederetan nama tokoh-tokoh lain-lainnya adalah “the founding fathers” dari Republik ini. Lebih khusus lagi, Mohd Natsir adalah pahlawan NKRI, ketika negara yang baru dilahirkan itu tercabik-cabik ke dalam negara-negara boneka ciptaan Belanda di samping Negara Republik Indonesia hasil perasan otak, keringat dan darah dari para pejuang kemerdekaan itu.
KMB – Konferensi Meja Bundar – di Den Haag mene-lorkan Republik Indonesia Serikat, gabungan dari negara-nega-ra boneka bikinan Belanda dan Republik Indonesia, yang RI harus hijrah ke Yogya karena Jakarta dengan bantuan Sekutu diduduki Belanda. Mohammad Natsirlah, sebagai pemimpin partai Islam Masyumi dan anggota BP KNIP sebelumnya, yang mengajukan “mosi integral” agar RIS dilebur dan men-jadi NKRI. Semua negara-negara itu, baik yang bikinan Belanda maupun yang RI sendiri, berintegrasi ke dalam NKRI – Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dan Mohammad Natsir adalah Perdana Menteri pertamanya.
Namun konsep NKRI yang ada dalam kepala Natsir waktu itu tidaklah sama dengan konsep NKRI yang ada sekarang. Kesatuan dalam konsep Natsir adalah dengan mem-berikan hak dan peluang yang sama untuk semua daerah yang orientasinya bukanlah sentralistik tetapi desentralistik. Natsir ingin melihat bahwa dengan NKRI itu tidak ada daerah yang dianak-emas atau dianak-tirikan. Semua diperlakukan sama dalam satu kesatuan kenegaraan yang utuh.
Ini dibuktikan oleh sikap dan tindakan Natsir sendiri, ketika pemberontakan PRRI pecah, Natsir bersama Syafrudin Prawiranegara dan Burhanuddin Harahap memilih untuk ber-gabung dengan Dewan Banteng, dll membentuk PRRI, kare-na Natsir melihat dalam pertarungan antara pusat dan daerah itu, daerahlah yang menafsirkan NKRI itu secara benar dan konsekuen, sementara Sukarno menginginkan agar kekuasaan negara terpusat ke tangannya selaku presiden dan kepala nega-ra meniru dan menghidupkan kembali sistem kekuasaan abso-lut seperti di zaman Majapahit dan Mataram dahulu.
Daerah tidak hanya diperlakukan sebagai obyek tetapi juga sebagai kuda beban pelajang bukit untuk kebesaran dan kemegahan pusat. Walau tidak lagi beraja-raja seperti di zaman Majapahit dan Mataram dahulu, tetapi etatisme, feodalisme dan paternalisme dihidupkan kembali yang mendasari hubung-an birokratik atas-bawah dan hubungan antara para penguasa dan rakyat. Rakyat yang dalam konsep NKRI adalah peme-gang kedaulatan sekarang diturunkan kembali sebagai abdi dan kawula negara yang mengabdi kepada kekuasaan absolut dari penguasa tertinggi negara. Dan impian ini segera direalisasikan oleh Sukarno dengan dekrit pernyataan kembali ke UUD1945 tgl 5 Juli 1959 dengan Sukarno mengambil alih seluruh keku-asaan dan menjadikan dirinya sebagai Presiden seumur hidup dan menyandang gelar “bapak bangsa” dan “pemimpin besar revolusi.” Dan ini sekaligus menghapus keputusan apa-pun yang telah dihasilkan oleh Dewan Konstituante di Ban-dung dalam rangka mendudukkan dasar-dasar negara dalam konsti-tusi baru pengganti UUD1945. UUD1945 yang disiapkan se-cara tergesa-gesa yang tadinya hanya bersifat sementara seka-rang dikukuhkan menjadi permanen melalui dekrit Presiden itu.
Jelas bahwa konsep NKRI menurut Natsir dan PRRI tidak sama dengan konsep NKRI yang dipaksakan oleh pusat di bawah kendali Presiden Sukarno – kemudian Suharto — yang kental orientasi sentralisme etatik dan Jawa sentriknya itu. Jika kita pilah kembali apa yang menjadi tuntutan PRRI yang sekaligus mewakili tuntutan daerah seluruh Indonesia itu, identik dengan yang diperjuangkan oleh kekuatan reformasi sekarang ini. NKRI Natsir dan PRRI menginginkan pembaha-gian rezeki antar daerah dan antara pusat dan daerah yang adil dan merata, pun juga begitu dengan tuntutan reformasi. NKRI Natsir dan PRRI menginginkan otonomi dan desentralisasi bagi daerah-daerah, pun juga begitu dengan tuntutan refor-masi. Dst, dst. Bahwa dengan membagi kue pembangunan itu secara adil dan merata ke daerah-daerah maka semua daerah akan bangun, dan tak ada yang merasa ditinggalkan. Dalam konteks keadilan dan pemerataan itu maka yang kuat akan membantu yang lemah, yang kaya akan membantu yang mis-kin, dan yang sudah lebih maju akan memberi peluang lebih banyak kepada yang masih tertinggal. Indonesia yang luas ini sesungguhnya tak lain dari jumlah keseluruhan (the sum total) dari daerah-daerah itu yang dilihat dan diperlakukan sebagai satu kesatuan yang integral.
Esensinya, oleh karena itu, antara NKRI konsep Natsir dengan cita perjuangan PRRI dan keinginan daerah-daerah lainnya adalah satu, dan ini bertentangan dengan konsep NKRI yang dihembuskan atau bahkan dipaksakan oleh para pentolan nasionalis ultra yang orientasinya adalah pada keme-gahan dan kebesaran pusat kekuasaan dengan model kerajaan di zaman Majapahit dan Mataram itu. Lihatlah, seperti yang ada sekarang ini, betapa menyoloknya perbedaan antara Jakar-ta dan kota-kota besar lainnya di Jawa, dengan keadaan di daerah-daerah di luar Jawa yang banyak dari antaranya masih seperti sediakala dan belum tersentuh oleh tangan-tangan pembangunan. Bagian besar dari penghasilan negara berasal dari daerah-daerah di luar Jawa sementara bagian besar dari pemakaiannya diletakkan di Jawa. Jawa telah menjadi pusat industri, perdagangan dan pelayanan ekonomi lain-lainnya, dengan gedung-gedung pencakar langit, jalan-jalan tol yang berseliweran dan bertingkat-tingkat, dengan mal-mal, super-market dan tempat-tempat hiburan dan olah raga sudah seperti di luar negeri di negara-negara maju lainnya, laiknya. Yang terjadi, bukan yang kuat membantu yang lemah, tetapi yang lemah diperas lagi untuk memperkuat yang telah kuat. Dan ini dipicu lagi oleh kecenderungan “resentralisasi” belakangan ini melalui jalur-jalur sektoral dari departemen-departemen yang tadinya wewenangnya sudah diserahkan kepada daerah-daerah, tetapi ditarik kembali dengan berbagai peraturan dan keten-tuan yang diatur langsung oleh pusat melalui departemen-departemen itu.
Ketimpangan-ketimpangan yang menyolok inilah yang menyebabkan hubungan antara pusat dan daerah, dan antara Jawa dan luar Jawa umumnya, bukan makin mengerat tetapi makin merapuh, dan menjadi duri dalam daging, sehingga konsep NKRI bukan makin mengarah kepada yang dicita-citakan oleh Natsir tetapi makin menjauh, yang dalam konsep NKRI sekarang ini bisa saja makin mengundang benih-benih perpecahan antara daerah-daerah dengan pusat dan antara Jawa dan luar Jawa. Ini bukan saja munculnya tuntutan otonomi dengan hak-hak istimewa seperti yang telah berhasil didapatkan oleh Aceh dan Papua tetapi juga akan menyusul yang lain-lainnya. Yang dituntut bukan lagi hanya otonomi tetapi bisa-bisa federasi seperti di negara-negara demokratis dan besar lainnya di dunia ini, atau bahkan lepas sama sekali menjadi negara-negara yang berdiri sendiri-sendiri. Jika semua ini menjadi tidak terkendali, dan menjadi bola liar, maka yang dihadang tidak lain dari disintegrasi, bukan integrasi seperti yang diidamkan oleh Natsir dengan mosi dan konsep integralnya itu.
Dari segi ini kita melihat betapa jauhnya jangkauan visi ke depan dari Natsir, tetapi diartikan salah oleh kelompok yang berpikiran etatik dan terpusat itu. Akibatnya, maka beginilah jadinya. Karenanya konsep NKRI Natsir perlu diterjemahkan ulang kembali sesuai dengan konsep aslinya semula. Bahwa Indonesia adalah satu dan satu kesatuan, tetapi dalam kesatuan itu semua mendapatkan hak dan peluang yang sama, terlepas dari perbedaan corak budaya, agama, dan latar-belakang etnik dan sosio-kultural lain-lainnya.
*
Konsep “tasamuh” atau toleransi dari Natsir adalah baha-gian yang tak terpisahkan dari konsep integral itu. Walau Natsir dkk di Konstituante Bandung memperjuangkan ideo-logi kenegaraan yang berdasarkan Islam, yang dimaksudkan adalah Islam yang tasamuh dan toleran itu, sesuai dengan ajaran Islam itu sendiri.
Bahwa Natsir melalui perjuangan politik di Konstituante memang menginginkan negara berdasar Islam karena faktanya adalah bahwa bahagian terbesar dari rakyat Indonesia beragama Islam. Berdasarkan prinsip demokrasi yang dianut dan dijunjung tinggi oleh NKRI dan yang menjadi salah satu dasar yang termaktub dalam ajaran Pancasila itu, maka adalah halal dan sah jika kelompok mayoritas terbesar dalam NKRI itu menginginkan Islam sebagai agama negara yang memberi isi kepada ajaran Pancasila itu. Apatah lagi, sila pertama dari Pancasila itu sendiri secara jelas-jelas menyatakan “percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa.” Agama mana pula dari semua agama-agama yang ada dan diakui di NKRI ini, dan yang dianut oleh bahagian terbesar dari rakyat Indonesia ini, yang murni kepercayaannya kepada Tuhan YME itu, kecuali adalah dan hanyalah Islam.
Dan Islam, kebetulan, adalah agama yang tidak mem-beda-bedakan mana yang dunia mana yang akhirat. Tidak ada konsep pembedaan maupun pemisahan antara church dan state, seperti pada agama lainnya. Akhirat yang baik didapatkan melalui usaha di dunia yang baik, yang semua itu dilandaskan oleh tuntunan dan ajaran yang kāffah, yang artinya adalah integral dan menyeluruh dari Islam, yang mencakup semua sisi kehidupan. Tetapi pada tarikan nafas yang sama, Islam, sesuai dengan arti harfiah dari kata Islam itu sendiri, adalah agama yang damai dan toleran yang tidak boleh melakukan paksaan kepada agama manapun dan siapapun yang bukan Islam dan muslim (lā ikrāha fid dīn). Islam memberikan peluang yang sama luasnya kepada penganut agama manapun untuk melak-sanakan ajaran agamanya manakala Islam menjadi agama negara.
Ditilik dari asas demokrasi sekalipun, yang dipraktekkan di mana-mana di dunia ini, yang juga menjadi sila dari Pancasila dari NKRI ini, tidak ada salahnya jika kelompok mayoritas memperjuangkan hak asasinya, asalkan caranya juga demokratis dan terbuka. Bahwa pada Konstituante Bandung kelompok Islam gagal memperjuangkannya, sebagaimana kelompok yang lain-lainnya juga gagal memperjuangkan dasar negara yang mereka inginkan, adalah hal lain dari segi permainan politik demokrasi itu. Tetapi bola akan bergulir terus selama Islam itu masih ada dan demokrasi masih menjadi landasan bagi kehidupan berpolitik dan bernegara secara terbuka di NKRI ini. Tidak seorangpun yang bisa mengatakan bahwa generasi, ataupun generasi-generasi berikutnya, tidak akan bangkit memperjuangkannya. Jika ada bahagian-bahagian dari konstitusi yang ada sekarang yang dinyatakan tidak boleh berubah, itu adalah sebuah konsensus dari generasi sekarang, yang tidak ada jaminan yang generasi berikutnya akan terikat kepadanya, sebagaimana tidak terikatnya generasi sekarang de-ngan generasi sebelumnya. Ini adalah hukum sejarah: Panta rei.
Dari segi praktek pengamalannya, betapa satu per satu dari ajaran Islam yang dipraktekkan secara bernegara dan ber-manca-negara sekarang ini ternyata lebih ampuh dan memberi keberkatan dan kemanfaatan yang optimal bagi semuanya. Lihatlah contoh dari bagaimana sistem perbankan dan eko-nomi syariah yang mulai dipraktekkan secara luas dan diakui oleh negara sendiri, memberi nilai lebih yang jauh lebih menguntungkan bagi semua pihak yang berkaitan, karena ekonomi Islam dasarnya adalah dengan tujuan saling kerjasama untuk saling menguntungkan (syirkah) dan bukan yang sifat-nya eksploitatif ribawi seperti dalam sistem ekonomi kapi-talistik-pasar bebas yang dipraktekkan di negara ini dan di mana-mana di dunia ini, yang sifatnya bisa sangat merugikan bagi pihak-pihak yang lemah yang mestinya perlu dibantu dan diangkatkan. Artinya juga, sistem ekonomi Islam bisa diprak-tekkan oleh siapapun tanpa melihat agama dan kepercayaan yang dianut, bersebelahan dengan sistem ekonomi kapitalistik yang dipraktekkan selama ini. Syarat yang diperlukan adalah adanya pilihan alternatif yang terbuka bagi siapapun tanpa dihalangi dan dikurangi haknya dalam melakukan kebaikan. Apalagi Islam sendiri mengajarkan prinsip bertolong-tolongan dalam melakukan kebaikan dan taqwa (wa ta’āwanū ‘alal birri wat taqwā).
Begitu juga di bidang pendidikan yang mengedepankan keseimbangan antara pendidikan jasmani dan rohani, intelek-tual dan akhlak, umum dan agama, sehingga semua itu ber-integrasi. Sejarah mencatat, Mohd Natsir bahkan adalah pele-tak dasar dari sistem pendidikan yang integral ketika orang-orang di Indonesia ini di awal 1930-an masih terkotak-kotak ke dalam pendidikan yang sekuler di satu pihak dan pendi-dikan agama di pihak yang lain. Keduanya bagaikan rel keretapi yang tidak pernah bertemu yang dikembangkan oleh penjajah Belanda yang di negerinya sendiri memang dilandas-kan kepada prinsip separation of church and state dalam bingkai sekularisme itu. Melalui sekolah Pendidikan Islam (Pendis) yang beliau rintis di Bandung, yang dimulai hanya dengan 7 orang murid, di sebuah rumah penduduk yang disewa, kemudian berkembang ke kota-kota lain di Jawa Barat, dan sekarang, Allah mentakdirkan, telah menjadi basis pendidikan yang diterima oleh banyak pihak dan banyak kalangan, di seantero Indonesia ini. Pemerintahpun sudah mulai tergerak hatinya untuk menerapkan pendidikan integral konsep Natsir ini di seluruh Indonesia di mana tidak ada lagi perbedaan dan pemisahan antara sekolah umum dan sekolah agama, madra-sah atau pesantren.
Seperti yang kita lihat kecenderungannya belakangan ini, sekolah-sekolah yang membukakan diri untuk menerapkan pendidikan integral ala Natsir itu, jauh lebih maju dan yang siswa-siswanya mendapatkan prioritas untuk diterima di universitas-universitas ternama sekalipun, dalam maupun luar negeri. Hal ini tidak lain karena pendekatan integral tadi itu yang menyeimbangkan antara pendidikan intelektual dan spiritual yang bersenyawa dalam satu sistem pendidikan yang integral dan terpadu, di mana ketiga komponen pendidikan: kognitif, psikomotorik dan afektif berintegrasi dan menyatu dalam satu kesatuan yang utuh.
*
Dan Natsir bukan hanya menyuarakan dan menuang-kannya dalam konsep-konsep yang ditawarkannya kepada siapapun. Natsir, di atas semuanya, memulai dari dirinya sendiri, sesuai dengan prinsip agama yang menghunjam jauh dalam diri dan lubuk hatinya. Ketika saya bertanya kepada seorang ibu, Hj Asma Malin, yang umurnya dihabiskannya untuk berdakwah dan beramal mengikuti jejak Engku Natsir, dan dalam wadah organisasi yang juga diciptakan oleh Abah Natsir, saya bertanya, apa yang paling berkesan, dari semua yang berkesan, dari kepribadian Pak Natsir; ibu itu dengan cepat tanpa ragu menjawab dengan satu kata saja: Ikhlas!
Teringat, saya, nama samaran yang dipakai oleh Buya Natsir dalam tulisan-tulisannya sebelum perang adalah: A. Muchlis. Mukhlis tidak lain artinya adalah orang yang ikhlas.
Ikhlas, dan berjuang secara ikhlas, inilah yang menjadi ruh, dan motor penggerak, dari semua tingkah laku, sepak terjang, dan langkah perjuangan, dari Mohammad Natsir, sejak mudanya, yang karenanya hidup dan pembawaannya seder-hana, bahkan zuhud dan bersahaja. Banyak cerita yang kita dengar tentang kesederhanaan dan kezuhudan sosok Natsir ini. Bagaimana, seperti diungkapkan oleh pengagum dan anak didik Pak Natsir: Yusril Ihza Mahendra, Pak Natsir sampai dibelikan oleh kawan-kawan dekatnya sepasang baju jas karena dia diangkat menjadi Menteri Penerangan pertama di Republik Yogya. Seperti yang diceritakan oleh Marthias Pandu, dan banyak lain-lainnya yang mengenal dekat dengan kehidupan beliau, terlalu besar nama beliau untuk dalam kenyataannya hidup dalam dua kamar sewaan selepas keluar dari penjara tanpa diusut di bawah Orde Baru, yang satu jadi dapur, dan satu lagi tempat tidur beralas kayu, sekaligus untuk menerima tamu yang tak putus-putusnya. Saya sendiri hanya melihat rumah beliau, ketika bertamu ke rumahnya yang di Jalan Jawa 42 itu, yang itupun juga sangat sederhana, dengan perabot yang sudah tua-tua, yang sangat tak pantas untuk seorang tokoh setenar itu. Saya ketika itu membawakan konsep Universitas Mohd Natsir yang jika beliau setuju akan dibangun di Padang. Ternyata beliau setuju dengan universitas tetapi tidak setuju dengan nama beliau dipakai. Pak Natsir pernah menelepon saya ke Padang untuk masuk ke PPP untuk mem-perkuat partai itu dari dalam, karena PPP menurut beliau memerlukan dukungan para intelektual muslim. Dan saya lakukan. Dan sayapun pernah jadi Ketua MPW PPP Sumbar, masuk dalam daftar calon PPP untuk DPR RI, tetapi tersekat karena ada calon DPP PPP pusat yang disisipkan dari atas.
Dengan prinsip hidup yang dimulai dengan ikhlas itu, sendirinya akan muncul sifat-sifat utama lainnya, jujur, ama-nah, berani karena benar, takut karena salah, dan istiqamah dalam sikap dan pendirian, zuhud, qana’ah, sehingga lebih memilih untuk hidup di balik jeruji besi dan didekam untuk masa yang tak diketahui berapa lamanya, daripada melacurkan diri secara politis dan menggadaikan iman dan keyakinan seperti yang dilakukan oleh banyak orang dan banyak pemim-pin di republik ini.
Konsep “integral” dan “toleransi” yang diartikan secara murni dan kaffah yang intinya adalah ajaran Islam itu sendiri ternyata adalah juga pakaian hidup beliau yang beliau bawa sampai mati.
Mudah-mudahan kitapun banyak belajar dari beliau, ka-rena beliau semasa hidupnya telah mempersiapkan dan menye-diakan dirinya menjadi contoh tauladan yang baik, sebagai-mana seorang pemimpin laiknya. ***

0 Responses to “MOHAMMAD NATSIR Dengan Konsep Integral dan Toleransinya”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: