KUALITAS KEPEMIMPINAN MINANGKABAU SEBELUM DAN SESUDAH PRRI

Disampaikan pada “Sipasan ‘08”
Silaturrahmi Perantau Agam Se-Nusantara 2008
di Maninjau, 7-9 Oktober 2008

I

PRRI dalam konteks kesejarahan dan sosiologi masya-rakat Minangkabau telah membawa perubahan besar, sehingga terasa perbedaan yang signifikan antara yang sebelum dan sesudah terjadinya peristiwa PRRI di tahun 1958 itu. Kendati riak dan gelombang perubahan dalam masyarakat Minangkabau telah juga terjadi sejak jauh sebelumnya, yakni dari zaman kolonial ke zaman kemerdekaan sekarang ini, namun goncangan keras ke arah perubahan yang sifatnya drastis, terasa sekali dengan peristiwa PRRI itu. Belum pernah terjadi sebelumnya di mana gerakan migrasi secara besar-besaran karena gangguan keamanan dilakukan oleh warga masyarakat untuk menyelamatkan diri. Karenanya PRRI dapat dipakai sebagai sebuah tonggak sejarah yang membedakan antara peristiwa sebelum dan sesudahnya itu, dengan kurve perkembangan sosio-kultural yang cenderung makin menurun secara kualitatif. Salah satu dari yang berubah itu adalah sistem dan corak kepemimpinan dalam masyarakatnya, sejalan dengan perubahan yang juga terjadi terhadap yang lain-lainnya.

II
Masyarakat Minang yang tadinya dominan agraris, pede-saan, tradisional dan berorientasi ke masa lalu, dengan PRRI dan perubahan-perubahan yang telah terjadi sebelumnya itu mulai makin mengarah ke perkotaan, dan meninggalkan desa dan kampung halaman secara relatif massal. Tinggal tetap di desa tidak lagi memberi kenyamanan, baik karena keseim-bangan (ekuilibrium) antara ketersediaan suplai dan peluang dengan tuntutan kebutuhan hidup yang makin meningkat, makin terlampaui, maupun dan apa lagi hidup di desa tidak memberi prospek yang menjanjikan ke masa depan dalam pola kehidupan yang sudah berubah.
Gerakan migrasi keluar dari desa ini antara lain juga dipicu oleh sistem pendidikan yang dikembangkan yang rata-rata memang berorientasi urban yang efeknya mendorong atau bahkan “mengusir” orang, khususnya anak-anak muda, untuk keluar dari desa ke kota.
Melalui proses pendidikan ini yang sekarang formatnya tidak lagi mengacu kepada kearifan lokal, tetapi diatur dan dikendalikan secara sentralistik dan seragam serta homogen untuk seluruh Indonesia dari pusat kekuasaan nasional di Jakarta, peranan dari kearifan lokal sendirinya makin tersingkir dan terpinggirkan.
Orang Minang, dan suku manapun di luar Jawa umumnya, karenanya, makin teralienasi dari budaya lokal dan primordialnya itu dan makin berproses menjadi orang Indonesia, yang pola budayanya bukan saja berbeda tetapi banyak yang bertolak-belakang dari pola budaya lokal-primordialnya.
Logis kalau akibat dari sistem pendidikan yang berorien-tasi nasional dengan pola budaya dominan yang bercorak hirarkis-birokratis dan paternalistis-neofeodalistis, tidak lagi menghasilkan calon-calon pemimpin masa depan, seperti sebelumnya, tetapi hanyalah tenaga-tenaga terdidik atau semi-terdidik untuk masuk ke jajaran tenaga kerja di sektor publik maupun swasta.
Karena pendidikan yang dikembangkan secara nasional tidak lagi mempersiapkan anak didik untuk menjadi orang-orang yang mandiri dan mampu menciptakan lapangan kerja sendiri — apatah lagi untuk menjadi calon-calon pemimpin masa depan –, mereka rata-rata hanya mengimpikan untuk menjadi pegawai negeri atau jadi buruh ataupun karyawan di sektor swasta. Di sektor swasta sendiri mereka hanya menjual tenaga dan keterampilannya, sementara perusahaan yang dima-suki, apapun bentuknya, rata-rata dikuasai oleh para konglo-merat dan asing lainnya. Merekalah pada kenyataannya yang menguasai jaringan ekonomi Indonesia ini, dari hulu sampai ke hilir ke muara.
Orang-orang yang keluar dari kampung halaman rata-rata bergerak di bidang non-agraris di rantau barunya. Bagi yang pendidikannya tanggung, kebanyakan bergerak di bidang non-formal, menggalas di pasar-pasar dan di kaki lima, buka warung dan restoran, berdagang kecil dan menengah, usaha konfeksi dan kerajinan lainnya, memburuh, dsb. Bagi yang berpendidikan cukup, bekerja atau mencari kerja di sektor formal, di kantor-kantor, sebagai pegawai negeri ataupun karyawan swasta. Sedikit yang tergolong ke dalam kelompok profesional dan jasa, yang memilih untuk membentuk usaha sendiri atau berkongsi kendati harus dimulai dari usaha berskala kecil sekalipun. Dan lebih sedikit lagi, berbeda jauh dengan generasi sebelumnya, yang aktif bergerak di bidang politik, diplomatik, jurnalistik, sastra-bahasa, pendidikan, atau-pun sebagai tokoh masyarakat di bidang sosial, budaya dan keagamaan, yang dahulu menjadi ikon dan berperan besar bahkan menonjol dalam skala kepemimpinan nasional.

III
Semua ini tak terlepas kaitannya dari dampak negatif dari PRRI, di samping proses pengeroposan yang memang juga telah terjadi sebelumnya dalam tatanan masyarakat sendiri. Kekalahan PRRI berarti proses peminggiran dari kelompok etnik Minang di pentas nasional dari yang tadinya sentral ke periferal. Dan PRRI adalah trauma sejarah yang dampaknya akan terasakan sampai ke generasi-generasi berikutnya, selama dan selagi esensi permasalahan yang diperjuangkan oleh PRRI belum terealisasi di NKRI ini. Cita PRRI identik dengan pembebasan, kesamaan peluang dan kesempatan dalam berbuat, kesamaan harkat dan perlakuan, egaliterianisme sentrifugal, keadilan dan kesejahteraan yang sama dan merata, demokrasi dan ekonomi kerakyatan, dsb. Sementara NKRI yang dikomandoi oleh Orde Lama dan Orde Baru, dan yang berlanjut sampai ke Era Reformasi sekarang ini, adalah regim yang terkait erat dengan filosofi kenegaraan yang orientasinya adalah etatisme, feodalisme, paternalisme, birokratisme, kapi-talisme pasar bebas, dsb. Konsep dikotomi dari pola budaya M dan J yang saya langsir selama ini adalah refleksi dan sekaligus manifestasi dari konflik dan dialektika budaya yang bermain di pentas nasional di Indonesia ini.

IV
Kalau dahulu rantau mereka adalah rantau pipit, sekarang telah mengarah ke rantau Cina. Apalagi, yang lari dan melom-pat pertama kali ke perkotaan dan di bidang non-agraris dan non-tradisional itu adalah lapisan sosial berumur muda dan relatif berpendidikan, yang tidak lagi melihat dan merasa bahwa masa depan mereka ada di desa, di nagari. Di bidang pertanian yang ditinggalkan, karena kekurangan dan bahkan kelangkaan tenaga kerja, tidak ada lagi sistem pengolahan yang dilakukan dengan cara gotong-royong, tetapi semua telah main upah atau paroan hasil. Struktur ekonomi desa yang tadinya sifatnya kolektif, komunal, runtuh sudah.
Pada waktu yang bersamaan, anak-anak muda yang laki-laki, sejak PRRI, tidak ada lagi yang tidur di surau, tetapi di rumah orang tua, bersama dengan saudara-saudaranya yang perempuan dan anggota keluarga lainnya. Surau menjadi trauma karena sasaran empuk bagi tentera pusat untuk mencari anak-anak muda yang rata-rata ikut PRRI. Yang hilang adalah tradisi tidur di surau, yang artinya adalah tradisi hidup mandiri, bersahaja, kekar, frugal dan jantan, di samping santun sosial dan berorientasi sentrifugal alter-ego. Artinya, mempersiapkan diri untuk menjadi orang yang berguna dalam kaum, keluarga dan masyarakat luas di kemudian hari.
Dengan tidur di rumah orang tua, maka sifat-sifat keperempuanan pun menjalar ke anak laki-laki; sehingga mere-kapun suka bersolek jual tampang dan berprilaku domestik keperempuan-perempuanan. Apalagi semua ini juga dipicu oleh makin gencarnya advertensi kosmetika dan kostum melalui jalur-jalur strategis media informasi, sehingga yang ditekankan tidak lagi kecantikan batin (inner beauty) melalui pembinaan watak dan kepribadian, seperti selama ini yang ditekankan oleh generasi pendahulu, tetapi kecantikan luaran (surface beauty) melalui poles-polesan wajah dan potongan pakaian dan rambut yang seleranya tiap kali berganti karena dikendalikan oleh pusat-pusat perusahaan-perusahaan multi-nasional kostum dan kosmetika itu. Dengan mengklik canel yang berbeda-beda dari TV digital-parabola yang ke manapun bisa diarahkan, atau membalik-balik halaman majalah dan surat-surat kabar setiap hari, terlihat gaya global yang di manapun nyaris seragam karena dikendalikan oleh rumah-rumah mode yang sifatnya juga global itu, dan yang setiap musim berubah terus.

V
Semua faktor perubah ini kelihatannya seperti sekali muncul sebagaimana juga semua dengan nilai-nilai lama juga sekali pudar dan menghilang. PRRI kelihatannya hanyalah sekadar faktor pemicu (casus belli) untuk terjadinya perubahan ini sekali serempak.
Keterserabutan dari akar budaya ini, baik yang masih di kampung, apa lagi yang pergi merantau, yang rata-rata ber-umur muda, menyebabkan mereka kehilangan pegangan dan sekaligus kehilangan identitas budaya. Orang Minang dari generasi sebelumnya punya pegangan yang solid terhadap akar budayanya itu, yang kendati badan sudah tercampak ke rantau tapi orientasi budaya masih utuh ke akar budaya Minangkabau. Dan rata-rata mereka bangga dengan identitas itu.
Generasi pasca PRRI, kendati masih di kampung, praktis sudah tak mengenal lagi nuansa kebudayaan lokal, baik adat-nya, langgam bahasa yang kaya dengan nuansa kata kias — kata mendaki, melereng, mendatar dan menurun–, kaya dengan kata-kata berbunga, dengan pepatah-petitih, retorika berpersembahan, bersilat lidah, dsb, maupun sistem nilai yang menyerasikan antara adat dan syarak dan pengaruh luar lainnya.
Kampung tak lagi berposisi dan berpretensi untuk mem-persiapkan generasi muda untuk siap mengharungi dunia luas. Urusan pembinaan generasi anak sudah terpulang kepada orang tua masing-masing. Peranan mamak dalam rumah kaum yang tadinya adalah pelindung (guardian) dan penjaga muruah dari anak kemenakan dalam kaum, makin terpinggirkan, kare-na pergeseran struktur ekonomi yang tidak lagi mengandalkan pada tanah dalam konteks masyarakat yang agraris, lalu beralih menjadi ekonomi uang, dengan munculnya peranan bapak yang makin menentukan sebagai penanggungjawab langsung bagi kesejahteraan anak dan keluarga batih.
Sementara, dalam masyarakat kampung sendiri, surau tak lagi berperan sebagai pusat pelatihan dan pengembangan bagi anak-anak muda dalam mempersiapkan diri untuk menjadi ‘orang’ di kemudian hari, baik di kampung maupun di rantau.
Hasil bersihnya tidak lain dari: hilangnya proses pemben-tukan kaderisasi pemimpin yang berjalan secara informal dan naluriah, dalam skala yang berspiral dari yang kecil dari diri, keluarga, kampung dan masyarakat luas secara berdaerah dan bernegara. Sementara penggantinya, pasca PRRI, ketika Sumatera Barat dan Minangkabau tinggal hanyalah bahagian dari Indonesia yang lebih luas, dan nyaris kehilangan jati diri sebagai bersuku-bangsa, yang datang dari atas secara nasional bernegara adalah sistem pembentukan anak bangsa yang seragam melalui jalur pendidikan formal maupun non-formal. Yang ditekankan tidak lagi pada unsur pembentukan watak dan kepribadian sebagai anak bangsa, seperti tadinya kuat sekali dalam masyarakat etnis Minangkabau, tetapi lebih pada penyiapan mereka untuk menjadi faktor SDM dalam para-digma ekonomi ketenagakerjaan yang menekankan kepada kepatuhan dan ketundukan kepada supersistem, baik di jalur birokrasi pemerintahan sebagai pegawai negeri maupun di jalur korporasi swasta sebagai buruh, pekerja dan karyawan. Nomenklatur kepemimpinan, pasca PRRI, telah bergeser dari yang tadinya pada pembentukan watak dan kepribadian yang kuat dan tahan banting kepada urutan panjang dari barisan pencari kerja, baik di sektor formal pemerintahan sebagai pegawai negeri, maupun di sektor swasta sebagai buruh, pekerja dan karyawan yang siap untuk dipromosikan pabila berprestasi baik tapi juga siap untuk dipecat dan diberhentikan kapan saja manakala tidak berprestasi baik atau manakala suhu konjungtur perusahaan terjun menukik.
Dalam konstelasi masyarakat pasca PRRI ini sukar untuk membayangkan akan muncul calon-calon pemimpin dari anak bangsa yang lahir secara alami dan naluriah seperti tadinya di masa pra PRRI. ***

0 Responses to “KUALITAS KEPEMIMPINAN MINANGKABAU SEBELUM DAN SESUDAH PRRI”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: