GURU Kini, Kemarin dan Esok

Disampaikan sebagai bahan pemikiran
Bagi PAH III, DPD RI
(Pendidikan, Agama dan Kebudayaan)
28 September 2007

BELUM pernah terjadi dalam sejarah Guru di Indonesia ini di mana keadaannya seburuk dan seterpuruk seperti sekarang ini. Dilihat dari segi manapun keadaannya tidak menggembirakan, bahkan membahayakan masa depan Indonesia ini. Sinyal SOS sudah harus dibunyikan jika me-mang kita perduli dengan masa depan bangsa ini, khususnya generasi penerus dan anak-keturunan kita di kemudian hari. Guru adalah yang membentuk masa depan anak bangsa.
Situasi guru begitu buruk dan terpuruk, karena, pertama, yang jadi guru itu rata-rata adalah orang-orang residual, yang tidak bisa masuk ke mana-mana, lalu masuk ke sekolah guru. Orang Indonesia telah memperlakukan ilmu dan professi ilmu secara bertinggi-berendah. Yang IQ dan kemampuan intelek-tualnya tinggi, masuk ke eksakta, yang sedang ke sosial, dan yang rendah, ke humaniora, di mana ilmu keguruan dan ilmu agama masuk ke dalamnya. Jika situasi ini berjalan lebih dari satu generasi, maka generasi berikutnya akan dibentuk oleh generasi residual yang jadi guru itu. Begitulah situasi ini berke-lanjutan di mana yang lemah menganakkan yang lebih lemah secara ad invinitum.
Kedua, sebagai konsekuensinya, rendahnya penghargaan terhadap guru. Kapasitas kemampuan yang rendah menghasil-kan penghargaan yang rendah. Masyarakat, orang tua dan anak-didik sendiri melihat rendah kepada guru. Guru bahkan suka dipermainkan oleh muridnya sendiri, di mana bukan murid yang takut kepada guru, tetapi sebaliknya, guru yang takut kepada murid. Apalagi jika guru tahu bahwa orang tua si murid lebih tinggi gengsi dan kelas sosialnya. Dan si muridpun bertengger di atasnya.
Ketiga, kelas sosial yang berbeda-beda ini tercipta karena kita sebagai bernegara dan berbangsa kembali menghidupkan nilai-nilai masa lalu yang feodalistis, berkelas-kelas, paternalis-tis dan etatis. Sementara di bidang ekonomi para fungsionaris pemerintahan, sivil maupun militer, dan sekarang juga para politisi, kembali bersandar kepada kaum saudagar pengusaha-merkantilis-spekulatif, yang sebagian terbesar adalah non-pri, untuk menerimakan upeti dan imbalan jasa lainnya di luar gaji resmi karena membantu menservis dan melicinkan jalannya usaha mereka. Kerjasama simbiotik antara penguasa dan pengusaha ini dihidup-suburkan pula dengan sistem ekonomi kapitalistik pasar bebas yang kita kembangkan sehingga ekonomi Indonesia seluruhnya dikendalikan oleh para kapita-lis, non-pri dan MNC (multinational corporations), dengan lin-dungan para penguasa, sivil maupun militer.
Biasnya adalah juga kepada sistem pendidikan, di mana di samping sistem pendidikan yang dikelolakan oleh pemerintah, untuk rakyat banyak, juga muncul sekolah-sekolah elit-unggul-an, baik yang dikelola dan dibiayai oleh kelompok pengusaha non-pri (dengan biasanya memanfaatkan institusi kegerejaan), maupun oleh kelompok elit pribumi (dengan biasanya juga memanfaatkan institusi keagamaan Islam yang elitis). Sekolah-sekolah elit ini berderet dari TK sampai ke PT, yang sifatnya nyaris eksklusif, karena hanya bisa dimasuki oleh anak-anak dari keluarga-keluarga berduit dan berkedudukan. Guru-guru yang mengajar di sekolah-sekolah elit dan eksklusif ini sen-dirinya terangkatkan yang tingkat kesejahteraannya jauh berbe-da dengan guru biasa di sekolah-sekolah untuk rakyat biasa. Makanya dualisme pendidikanpun tercipta melalui jalur ini, di mana yang satu untuk rakyat berderai, yang merupakan ba- hagian terbesar dari penduduk, dan yang satu lagi untuk kelompok elit-eksklusif yang di tangannya terpegang kekayaan dan kekuasaan di negara ini.
Ketiga, karena professi guru diatur melalui birokrasi pemerintahan, maka guru lebih menempatkan diri sebagai guru yang pegawai dengan semangat kepegawaiannya daripada menempatkan diri sebagai guru yang pendidik. Penyakit dan sifat-sifat buruk sebagai pegawai juga masuk dan menjalar ke tubuh guru yang pegawai. Ciri-ciri pegawai yang buruk, a.l.: masuk suka terlambat, pulang suka duluan, suka cari-cari alasan untuk tidak masuk, bekerja tidak di hati, disipilin kerja rendah, kurang rasa tanggung jawab, yang dipikirkan cuma hak, kewajiban dikesampingkan, dsb. Hubungan ke dalam dengan sesama guru adalah hubungan birokratik atas-bawah di mana kepala sekolah tidak ikut mengajar dan menempatkan diri lebih sebagai bos yang memerintah. Rapat-rapat guru mirip rapat dinas. Tidak ada dialog memikirkan masalah-masalah besar persekolahan dan pendidikan antara sesama guru. Guru cepat mengalah dan patah semangat karena yang menentukan bukan mereka tetapi para birokrat yang mengatur urusan pendidikan di anjung sana.
Keempat, karena gaji dan insentif lainnya kecil dan tak memadai, guru-gurupun melakukan berbagai macam usaha sampingan yang konsekuensinya bisa menggeser professi utama sebagai guru, dan menjadikan usaha sampingan sebagai utama. Belum kalau usaha sampingannya itu cenderung merendahkan pandangan masyarakat kepadanya, seperti jadi tukang ojek, buruh kasar, jualan di kaki lima, dsb. Untuk tambahan penghasilan maka di sekolah, apapun dimark-up dan dikomersialkan, termasuk buku pelajaran, pakaian seragam dan keperluan sekolah lainnya, di samping macam-macam pungut-an yang kadang tanpa ada kejelasan dan pertanggung-jawab-annya. Belum kalau macam-macam proyek yang masuk ke sekolah, seperti BOS kemarin ini, suka pula dimanipulasi. Yang dimanipulasi, di mana perlu, adalah juga nilai rapor anak, kalau di balik itu ada berudang di balik batu. Budaya korupsi dan penyalah-gunaan wewenang karenanya juga masuk ke sekolah.
*
Pada hal kemarin situasinya tidak begitu. Di zaman kolonial dahulu, guru dan professi guru adalah terhormat. Gajinya besar, pakaiannya rapi, orang hormat kepadanya, dan tidak sembarang orang bisa jadi guru. Ketika dalam pendidikan, calon guru diasramakan, diberi pakaian, uang saku, dan semua keperluan pokoknya dicukupkan. Di awal kemer-dekaan pun professi guru juga terhormat karena missinya dalam membangun bangsa belum tercemari oleh berbagai godaan dan pujuk rayu kebendaan.
Terlihat sekali ketimpangan pandangan terhadap guru, dulu dan seka-rang. Dari orang terhormat, dan disegani, menjadi kelompok orang yang suka dicecar dan ditimpakan semua kesalahan kepadanya sebagai guru. Sementara yang orang tua dan masyarakat sendiri tahunya cuma terima bersih. Tak terlihat ada kerjasama simbiotik antara guru di sekolah dan orang tua di rumah dan dengan masyarakat di luaran. Kalaupun orang tua diundang ke sekolah, itupun hanya untuk menerimakan rapor anak dan basa-basi sekedarnya. Macam-macam organisasi, seperti POMG, dsb, bukan tidak ada. Tetapi semua itu hanya formalitas, tanda ada, tetapi tidak fungsional.
Waktunya agaknya sekarang, dan sekarang, untuk merek-tifikasi, membetulkan, semua itu. Sudah cukup lama sistem pendidikan di Indonesia ini salah atur dan salah urus, yang akibatnya semua kita merasakan. Dan Negara ini sakit karenanya.
Agar bangsa ini tidak terus-menerus meluncur terus ke arah yang makin buruk dan makin terpuruk, jangan-jangan menuju oblivion, peluit SOS memang sudah harus dibunyikan. Masalah pendidikan sudah harus menjadi program nomor satu dengan prioritas satu, baik secara menyeluruh di tingkat nasional, maupun secara sektoral di berbagai bidangnya, di pusat dan di daerah. Tuntutan konstitusional 20 % tidak bisa ditawar-tawar. Realisasinya adalah sekarang, dan sekarang juga. Segala cara harus dilakukan. Kurangi dan potong yang lain-lainnya. Sederhanakan birokrasi. Turunkan ekonomi biaya tinggi. Pererat ikat pinggang. Jebolkan para koruptor ke penjara. Konfiskasi harta kekayaan konglomerat hitam yang melarikan dana BLBI dalam jumlah triliyunan ke luar negeri, yang jumlahnya melebihi kebutuhan dana 20 % untuk pendidikan. Hidup sederhana dengan contoh pertama dimulai dari orang pertama, dari Presiden dan Wakil Presiden di tingkat nasional, ke Gubernur, Bupati dan Walikota di daerah-daerah. Sekarang hidup mereka umumnya yang aduhai, membangun istana dengan segala kemewahan, di pusat dan daerah. Rombongan pesiar tiap sebentar ke luar negeri dengan satu pesawat terbang penuh, pada hal cukup dengan beberapa orang terkait saja, seperti cara Singapura yang selalu berhitung.
Semua ini jangan dijadikan demagogi, tetapi action dengan perubahan sikap politik yang harus revolusioner dan konstruk-tif. Karena perubahan itu tidak mungkin lagi ditunggu-tunggu dan ditunda-tunda. Slogannya mestilah: Now or never! Sekarang atau tidak bakalan.
Semua itu tentu saja harus dituangkan ke dalam program aksi yang terencana dan terorganiasi dengan baik. Seperti yang dilakukan oleh tetangga dekat kita, Malaysia, dimulai dengan pemetaan stock taking, di mana dan bagaimana kita sekarang, lalu bagaimana kita maunya untuk 10 dan 20 tahun yang akan datang, untuk juga bagaimana selanjutnya.
Pemetaan dan pemotretan keadaan sekarang haruslah yang seobyektif dan sebagaimana adanya, tanpa harus ada yang ditutup-tutupi, termasuk misalnya ketimpangan dualistik-diko-tomik yang sangat menyolok antara kelompok kecil penduduk non-pri (3 %) yang tinggal di perkotaan, yang menguasai seba-gian terbesar (97 %) aset ekonomi nasional, sementara kelom-pok terbesar penduduk (97 %) berbanding terbalik menguasai sebagian terkecil (3 %) aset ekonomi nasional, tinggal di pedesaan dan daerah-daerah kumuh dan miskin di perkotaan.
Sebagai perbandingan: keperansertaan bumiputera di bidang ekonomi di Malaysia di awal 1970 hanya dinilai 2 % oleh Mahathir, dengan Melayu merupakan 57 % dari pendu-duk. Sementara Cina yang berupa 30an % penduduk dengan penguasaan aset ekonomi nyaris 90an %, berbanding terbalik dengan bumiputera. Sembilan puluh persen Cina ada di bandar, sepuluh persen di luar bandar, sementara Melayu sebaliknya, 90 % di luar bandar dan 10 % di bandar. Semua itu, kata Mahatir, harus ditata-ulang, yang tujuannya adalah pemerataan peluang dan kesejahteraan agar kemelut sosial tidak lagi berulang setiap tahun. Dari sana NEP (New Economic Policy) pun diciptakan, yang sasarannya, dalam jangka 20 tahun (1970-1990) keperansertaan kelompok Melayu naik dari 2 menjadi 20 %. Realisasinya malah 22 %. Dengan semua menggelinding, dan semua puak menerimanya, orang Melayu di tanah airnya sendiri sekarang sudah bisa kembali menjadi tuan di rumahnya sendiri, dan ada di mana-mana. Mereka sudah bisa menegakkan kepala, masuk ke dalam semua sektor kehidupan, dan pintu gerbang utamanya tidak lain adalah pendidikan.
Langkah-langkah besar di bidang pendidikan ini dilaku-kan. Bujet pendidikan sejak dari awal di atas 20 % (realisasinya sampai 23 %). Ribuan anak-anak Melayu disekolahkan ke luar negeri ke berbagai negara. Ratusan banyaknya guru-guru juga didatangkan dari negara tetangga, Indonesia, di samping dari luar negeri lainnya. Pintu sekolah sampai ke perguruan tinggi dan universitas-universitas dibukakan dengan academic require-ment yang ditoleransi sementara untuk puak Melayu. Rekrut-men tenaga guru diambilkan dari lulusan terbaik. Mereka diasramakan dan dengan jaminan fasilitas dan kesejahteraan yang sangat memadai selama masa pendidikan. Malah, hari pertama mereka mulai mengajar, dua kunci sekali diberikan: kunci rumah dan kunci mobil, dengan jaminan asuransi hari tua sekali. Karenanya guru dilarang moonlighting, cari kerja lain di luaran, agar perhatian penuh kepada pendidikan. Karenanya penghargaan terhadap guru tinggi dan mereka diistimewakan karena di tangannyalah terletak masa depan bangsa dan anak bangsa.
*
Akar persoalan kita secara nasional adalah itu, dan di situ, di mana rakyat Indonesia yang sudah merdeka secara politis sesungguhnya masih terjajah secara ekonomi dan sosial-budaya. Ketimpangan dan kesenjangan sosial-ekonomi antara etnik Cina dan pribumi ini mesti dibukakan sebagaimana adanya, seperti yang dilakukan oleh Mahatir di Malaysia sejak awal 1970 itu, dan tidak perlu ditutup-tutupi atau diufemisme-kan, seperti mengganti istilah Cina dengan warga keturunan, usaha kecil pribumi dengan UKM, menyebut etnik tertentu sebagai sara, dsb. Justeru semua ini harus dibukakan secara apa adanya, yang makin gamblang makin menyelesaikan sifatnya, bukan memperkeruh. Bahasa yang dipakai adalah bahasa yang obyektif dan rasional apa adanya, bukan bahasa yang emosio-nal dengan istilah-istilah yang diperlunak dan dipercantik.
Program Guru ke depan, oleh karena itu, harus dimulai dengan sejumlah paradigma yang tepat dan pasti-pasti. Per-tama mengenai rekrutmen guru. Guru haruslah diambilkan dari lulusan terbaik, minimal dari the top ten. Bukan residual seperti selama ini. Seleksi kelayakan terhadap calon guru haruslah ketat, karena di tangan mereka nasib bangsa diper-taruhkan.
Kedua, setiap calon guru mesti melalui proses pendidikan dan pelatihan yang intensif dan efektif di tingkat perguruan tinggi, walau untuk mengajar di SD sekalipun. Jika perlu dengan penguasaan Bahasa Indonesia dan Inggeris maupun Arab yang andal dan aktif, sama seperti di zaman Belanda dahulu yang aktif berbahasa Belanda. Kemampuan berbahasa akan memperkuat kepercayaan diri dan membuka pintu khaza-nah kepustakaan dalam berbagai bahasa. Melalui buku mencer-daskan bangsa.
Ketiga, gaji guru serta insentif lainnya haruslah sangat memadai dan di atas rata-rata agar ada kegairahan dalam melaksanakan tugas sebagai guru. Mereka sedikitnya harus bisa hidup 35 hari dalam sebulan, bukan 30, apalagi 20 atau kurang lagi seperti sekarang ini. Karenanya, seperti di Malaysia, guru dilarang moonlighting, melakukan kegiatan sampingan penambah penghasilan. Kebutuhan perumahan dan dana hari tua haruslah diprioritaskan.
Keempat, dll, masyarakat dan orang tua khususnya kem-bali memberikan penghargaan yang tinggi kepada guru dengan menciptakan jembatan kerjasama dalam memajukan upaya pendidikan di segala segi, di samping pemerintah sendiri memberikan prioritas utama kepada masalah pendidikan ini.
Dengan senantiasa bermohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala, kiranya kita segera terlepas dari kemelut pendidikan ini yang pangkalnya adalah karena kita melecehkan nasib insan yang bernama Guru ini. Amin. ***

0 Responses to “GURU Kini, Kemarin dan Esok”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: