DUNIA MELAYU DALAM DIALEKTIKA KEBUDAYAAN NUSANTARA

Disampaikan dalam Seminar
“Semarak Warisan Budaya Serumpun”
Universitas Padjadjaran, Bandung
Sabtu, 17 Mei 2008

Kerjasama
Unit Pencinta Budaya Minangkabau
Universitas Padjadjaran
dan
Persatuan Kebangsaan Pelajar Malaysia
Di Indonesia

I

ADALAH naive orang yang menganggap jika dunia Melayu hanyalah sebatas kedua sisi dari Selat Melaka, plus Serawak, Sabah dan Berunai di Kalimantan Utara, sementara yang lainnya tidak. Dunia Melayu sesungguhnya bahkan jauh lebih luas dari Indonesia tambah Malaysia sendiri. Dunia Melayu secara etnografis dan historiografis mencakup keseluruhan kawasan Nusantara di Asia Tenggara ini, di mana juga termasuk Thailand bagian Selatan (Pattani), Malaysia keseluruhannya, tambah Berunai di Kalimantan Utara, lalu Indonesia keseluruhannya (minus NTT, Maluku dan Papua, yang masuk ke dalam kelompok etnografik non-Melayu), dan Filipina (khususnya pribumi Melayu Filipina termasuk Moro di bagian Selatan). Jika diluaskan lagi, belahannya ada di Mada-gaskar, Srilanka, Birma, bahkan di Campa, Kambodia dan Vietnam.
Secara kenegaraan dalam bentukan kontemporer seperti sekarang ini, dunia Melayu mencakup lima negara di Asia Tenggara ini: Thailand, Malaysia, Berunai, Indonesia dan Filipina. Tan Malaka dari Indonesia, Jose Rizal dari Filipina dan Tuanku Burhanuddin dari Semenanjung Melayu, bahkan masih sebelum Perang Dunia Kedua, sudah mengimpikan sebuah negara Melayu Raya yang mencakup seluruh kawasan Melayu itu. Dan impian ini bukan tidak bermakna ke masa depan, sekurangnya dalam bentuk konfederasi atau Negara Persemakmuran (commonwealth) Melayu. Munculnya belakangan ini gagasan Dunia Melayu Bersatu, atau Melayu Sedunia Bersatu, adalah simptomatis yang denyutnya makin menuju ke arah terealisasinya impian itu ke masa depan.

II
Dunia Melayu seperti yang kita lihat dalam peta etnografinya sekarang ini tidak hanya terbagi ke dalam yang proto dan deutero-Malay (Melayu tua dan Melayu muda), tetapi juga ke dalam anutan agama yang dominan dianut. Melayu tua (proto Malay), seperti suku-suku Mentawai, Nias, Batak, Dayak, Minahasa, dan Toraja di Indonesia, dan suku-suku Melayu pribumi di Filipina, kebanyakan telah dikristen-kan, walau masih kuat terikat dengan budaya animisme sarwa-roh nenek-moyang, dan karenanya melepaskan asosiasinya dengan dunia Melayu kontemporer secara kultural. Melayu muda (deutero Malay), sebaliknya, rata-rata penganut Islam, di mana adat dan agama telah berjalin-berkelindan.
Orang Bali khususnya adalah orang Melayu yang meng-hindarkan diri dari proses peng-islaman di Jawa dan mem-bentuk suku Bali sendiri yang menganut agama Hindu Bali. Orang Jawa, Madura dan Sunda, secara etnik adalah orang Melayu, tetapi karena orientasi budayanya yang bersifat sinkretik, dan tidak sintetik seperti Melayu lainnya, mereka cenderung mendissosiasikan diri dari ikatan kemelayuannya. Mereka merasa seolah-olah bukan bagian dari dunia Melayu, kendati mereka secara etnografik adalah Melayu.
Secara kultural, suku-suku Melayu yang tali pengikatnya adalah adat dan agama Islam, karenanya juga terbagi ke dalam yang berorientasi sinkretik dan yang sintetik itu. Uraian maka-lah ini lebih terfokus kepada dikotomi atau bahkan polarisasi dari orang Melayu yang sesama Islam tetapi berbeda orientasi budayanya, yakni di mana yang satu berorientasi sinkretik dan yang satu lagi berorientasi sintetik. Kecuali itu, ada gerak isyarat yang makin dirasakan ke arah pan-Melayu masa depan yang menjadikan Selat Melaka bukan lagi garis pemisah, tetapi justeru jembatan penghubung antara kedua rumpun Melayu yang selama ini dipisahkan oleh sejarah politik yang berbeda.

III
Polarisasi budaya Melayu yang secara garis besar terbagi ke dalam dikotomi budaya sinkretik dan sintetik itu kebetulan juga berjalan seiring dengan dikotomi Jawa vs Luar-Jawa yang sudah berjalan sejak sekian abad ke belakang, sekurangnya sejak pengaruh budaya-budaya luar mulai masuk ke Nusantara ini. Tentu saja sejak masuknya pengaruh Hindu-Buddha dari India, lalu Islam, lalu pengaruh Barat dan dunia moderen dan global sekarang ini. Dalam proses perkembangannya, bagai-manapun, yang secara eksplisit membangsakan diri kepada kelompok budaya Melayu adalah Melayu yang berbudaya sintetik. Kelompok Melayu yang berbudaya sinkretik walau secara implisit tetap mengakui Melayu, tetapi dalam pengka-tegoriannya mereka lebih menonjolkan budaya sub-etniknya sendiri, yaitu Jawa, Sunda dan Madura. Karenanya secara geo-kultural, laut Jawa telah berfungsi sebagai garis pembatas antara dunia Jawa di bagian Selatan dan dunia Luar Jawa di bagian Utara. Dunia Jawa didominasi oleh budaya Jawa yang sinkretik, sementara dunia Luar Jawa didominasi oleh budaya Melayu yang sintetik.
Tersibaknya budaya Melayu ke dalam yang sinkretik dan yang sintetik itu adalah akibat dari, a.l., satu, sampai sejauh mana mereka mengakomodasikan budaya nenek-moyang be-rupa animisme yang berorientasi kepada supernaturalisme serba-roh dan budaya Melayu pra-Islam yang berorientasi kepada naturalisme (berguru kepada alam). Budaya Melayu yang sinkretik berorientasi supernaturalistik serba-roh, semen-tara budaya Melayu yang sintetik berorientasi naturalistik, yaitu mengikuti kaedah-kaedah hukum alam yang rasional-logis, dengan adagium: “Alam terkembang jadikan guru.” Adagia dalam bentuk proverb, pepatah-petitih, mamangan, dsb., secara konsisten memperlihatkan orientasi naturalistik dari budaya Melayu sintetik ini.
Dua, kendati kedua-dua budaya Melayu yang sinkretik dan yang sintetik penganutnya rata-rata atau kebanyakan adalah Islam, namun pemahaman dan penyerapannya terhadap Islam terkait kepada struktur serta orientasi budayanya masing-masing itu. Budaya Melayu yang sinkretik yang rata-rata dianut oleh suku Jawa (termasuk Madura dan Sunda), memahami Islam dalam pengertian yang sinkretik itu, dalam arti, antara Islam dan adat serta kepercayaan lama nenek-moyang dalam proses pengakulturasiannya tidak terjadi persenyawaan berupa sintesis baru, tetapi lebih pada aglomerasi secara sinkretik dari masing-masing unsur budaya itu.
Karenanya masing-masing unsur budaya itu relatif berdiri sendiri-sendiri, kendati saling menyerap tetapi tidak bersenya-wa. Pengejawantahannya secara sempurna dalam konteks dunia moderen Indonesia sekarang ini terlihat dari ramuan budaya yang terkandung dalam falsafah kenegaraan Pancasila yang wataknya adalah sinkretik, bukan sintetik. Sementara dalam pengejawantahan kehidupan hari-hari, Islam sebagai agama bukanlah anutan satu-satunya, tetapi multilateralisme dari berbagai agama yang semua dianggap sebagai sama, dengan adagium: “Sadaya agami sami kemawon.” Karenanya juga, yang ditekankan adalah keserasian, harmoni dan kedamaian serta toleransi di atas keberbagaian dan keragaman itu. Adagiumnya adalah: “Bhinneka Tunggal Ika” – Berbagai-bagai namun satu, yang sekarang juga jadi lambang NKRI, dengan simbul (coat of arms) burung Garuda yang hanya ada dan ditemukan dalam mitologi budaya Jawa. Karenanya juga, bukanlah barang aneh jika dalam keluarga Jawa yang sama, ditemukan ada bermacam anutan agama yang berbeda, seba-gaimana juga dalam masyarakatnya sendiri.
Di dunia Melayu utara Laut Jawa, yang suka dijuluki dengan kawasan Luar Jawa, atau kawasan budaya Melayu itu, orientasi budayanya adalah sintetik. Walau proses akulturasi antara adat dan agama juga berjalan panjang, melintasi sekian abad ke belakang, namun klimaksnya adalah pada terjadinya sintesis antara adat dan agama itu, yang dibuhul dalam sebuah adagium: “ABS-SBK – Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah.” Pada orang Melayu Minangkabau, pembuhulan ABS-SBK ini baru terjadi setelah Perang Paderi di Abad ke 19, dengan perjanjian Bukit Marapalam dari ketiga unsur kepe-mimpinan TTS (Tungku nan Tigo Sajarangan, atau Tali nan Tigo Sapilin), yakni antara wakil Ninik Mamak (adat), Alim-ulama (agama) dan Cerdik-pandai (intelektual).
Dalam persenyawaan baru antara adat dan agama (Islam) itu kedua unsur adat dan agama tidaklah ditempatkan dalam posisi yang sejajar-horizontal, tetapi vertikal. Islam di atas dan adat di bawah; dalam arti, adat yang dipakai adalah adat yang sejiwa dan serasi dengan agama Islam. Adat yang tidak sejiwa dan serasi dengan Islam dibuang, adat yang sejiwa dan serasi dipakai. Adagium berikutnya, lalu: (Adat) yang baik dipakai, (adat) yang buruk dibuang. Adat yang baik disebut sebagai: adat yang islami; adat yang buruk, adat jahiliyah. Dalam adagium terkait lainnya dikatakan: “Syarak mengata, adat memakai.” Di sini jelas terlihat supremasi dan sekaligus do- minasi syarak di atas adat. Tidak sebaliknya dan tidak pula timbal-balik.
Karenanya secara ideal-konsepsional tidak mungkin ter-jadi konflik maupun kontroversi antara adat dan agama, karena adat secara a priori telah menyatakan tunduk dan menyesuaikan diri kepada agama. Dan ini dibuhul dalam adagium di atas: ABS-SBK – Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabul-lah. Bahwa dalam praktek terjadi konflik dan kontroversi antara adat dan agama, tentu saja ranahnya bukan lagi ranah ideologis-filosofis, tetapi adalah ranah sosiologis-empiris, yang wajar terjadi karena proses perpaduan yang belum selesai antara dua konsep yang datang dari dua filosofi dan dua pandangan hidup yang berbeda, kemudian berakulturasi dan bersenyawa dalam masa yang relatif juga panjang ke belakang.
Konsep ABS-SBK inilah yang mempertemukan seluruh dunia Melayu utara Laut Jawa (Luar Jawa) di mana juga termasuk kawasan dunia Melayu di Pattani (Thailand Selatan), Malaysia dan Filipina. Inti dan sekaligus pusat-jala dari budaya Melayu itu adalah adagium ABS-SBK ini yang sifatnya adalah sintetik itu. Karenanya juga, tidaklah diharapkan orang Melayu dalam artian sintetik ini menganut berbagai macam agama selain Islam, seperti yang biasa terjadi dalam masyarakat Jawa yang sinkretik dan pluralistik tadi. Bagi orang Melayu, alternatif yang tersedia hanyalah: Islam atau bukan-Islam, dan tidak: Islam dan bukan-Islam. Alternatifnya bukan this and that, tetapi either this or that. Ini sejalan dengan ajaran Islam sendiri, yang kalau sudah sampai kepada masalah aqidah, pilihannya adalah pilihan alternatif either-or: “Bagi kamu agama kamu, dan bagi kami agama kami.” (Al Kāfirūn 6). “Bagi kami amalan kami, dan bagi kamu amalan kamu” (Al Baqarah 139).
Budaya Melayu yang sintetik kebetulan memilih submissi adat kepada syarak, sehingga yang diikuti adalah petunjuk syarak atau Islam itu. Orang Melayu, karenanya, adalah orang Islam. Dia berhenti menjadi orang Melayu ketika atau kalau dia keluar dari Islam, untuk sebab apapun. Namun, dalam per-gaulan kemanusiaan yang sifatnya pluralistis antar-agama dan antar-bangsa, yang dikedepankan adalah tasāmuh (toleransi) dan saling mengenal (ta’āruf) serta saling kerjasama secara multilateral, bahkan global, bagi kebaikan dan kedamaian sesama umat manusia (Al Ĥujurāt 13). Karenanya, Islam menekankan, “tidak ada paksaan dalam agama” (Al Baqarah 256).
Karena orientasi budaya Melayu yang sintetik dengan adagium ABS-SBK itu maka konsekuensi logisnya adalah, dia juga mengikat dan sekaligus membentuk prilaku budaya di bidang yang bermacam-macam itu; ya politik, ekonomi, sosial-budaya, dsb. Sebagaimana dengan adat, yang lain-lain dan yang bermacam-macam itu, tidak ada satu yang boleh bertentangan dan berlawanan dengan syarak atau agama. Tugas adat dan yang lain-lain yang bermacam-macam itu, adalah menyesuai-kan diri dengan agama dengan prinsip ABS-SBK itu. Karena-nya yang dituju adalah: apapun adalah yang islami. Politiknya islami, ekonominya islami dan sosial-budayanya islami. Karena dalam Islam tidak ada konsep pemisahan antara church and state, seperti dalam agama Keristen, yakni antara agama dan politik, agama dan ekonomi serta agama dan sosial-budaya, maka semua adalah di atas petunjuk dan arahan dari agama, yang sumber dari segalanya adalah wahyu Allah yang tertuang dalam bukusuci Al Qur`an, Kitabullah.

IV

Problema dan problematik dunia Melayu ke depan sendi-rinya adalah, bagaimana menggeser dari orientasi budaya yang tadinya non-islami ke yang islami. Dunia Melayu yang tadinya selama sekian lama di bawah penjajahan dan dominasi asing, khususnya Barat, sekarang mulai merubah paradigma-paradig-ma di bidang yang berbeda-beda dan beragam itu kepada yang islami dimaksud. Contoh sederhana saja, betapa dalam waktu yang relatif singkat, sistem ekonomi syariat dengan prinsip kerjasama bagi-hasil dan bagi-keuntungan memasyarakat, yang tidak hanya diterima oleh kalangan Islam tetapi yang bukan Islam sekalipun, dan yang sifatnya sekaligus mengglobal. Walau sekarang penguasaannya baru sekitar 5 %, tetapi pertumbuhannya berjalan relatif cepat, karena dengan sistem syariat bagi-hasil dan bagi keuntungan ini tidak sesiapa yang dirugikan. Juga, betapa, prinsip musyawarah dan mufakat dalam budaya politik di manapun juga diterima dan menjadi budaya dunia di samping demokrasi, dsb. Proses islamisasi dari sektor budaya politik, ekonomi dan sosial-budaya ini di dunia Islam dan dunia Melayu khususnya akan dan sedang mengge-linding terus ke dekade-dekade ke depan di abad ke 21 dan seterusnya ini. Ini semua berangkat dari sebuah keyakinan: Islam adalah rahmat bagi sekalian alam.

V
Malaysia secara keseluruhan sudah setapak lebih maju, karena selain negaranya berdasar Islam, juga politiknya, ekono-minya, dan sosial-budayanya sudah berorientasi kepada nilai-nilai Islam – walau jalan ke depan dalam perubahan paradig-matik dimaksud masih panjang.
Indonesia sendiri secara bernegara kelihatannya masih bertahan pada yang bersifat sinkretik, pluralistik, inklusif, dan liberal, yang berarti mengikuti kehendak budaya Melayu yang sinkretik yang dianut oleh kelompok budaya dominan Jawa, yang jumlah penduduknya kebetulan juga dominan. Para elit penguasa negara, di ketiga bidang eksekutif, legislatif dan yudi-katif, sipil maupun militer, kebetulan juga dominan Jawa, di samping pusat kegiatan politik, ekonomi dan sosial-budaya sejak semula juga ada di Jawa. Dikotomi Jawa-Luar Jawa telah terbentuk sejak semula, yang sumbernya tidak hanya politis, tetapi juga ekonomi dan sosial-budaya. Untuk semua itu, Jawa memainkan peranan sebagai subyek-penentu, sementara Luar-Jawa adalah obyek-yang ditentukan. Separuh sampai dua per tiga dari hasil alam Luar-Jawa dibawa ke Jawa. Delapan puluh sampai 90 % dari wang yang beredar ada di Jawa. Semua sekolah sampai universitas berkualitas ada di Jawa. Dan pem-bangunan infrastruktur pun terpusat di Jawa. Belum pula jika keinginan daerah di Luar Jawa untuk mendapatkan otonomi yang lebih luas selalu terkendala dan tersendat-sendat. Yang ditemukan, sering, bukannya desentralisasi, tetapi resentralisa-si. Setiap kali ada upaya untuk mendapatkan otonomi yang lebih luas, setiap kali pula ada tarikan sebaliknya untuk kembali dikendalikan oleh pusat, di Jawa. Yang paling ditakuti oleh pusat saat ini adalah kecenderungan ke arah bentukan federa-lisme, yang berangkat dari adanya otonomi daerah ini. Mereka mengkuatirkan terjadinya proses politik dari otonomi ke fede-rasi dan ke bebas lepas.
Sudah barang tentu yang terpendam dari semua ini adalah dendam dan sakit hati. Dan dendam dan sakit hati yang terus menumpuk mudah sekali untuk dipicu menjadi pembe-rontakan dan kerusuhan yang dalam sejarah NKRI selama 60-an tahun ini sudah berulang-kali terjadi. Dengan adanya dikotomi yang menjurus ke arah polarisasi Jawa-Luar Jawa ini, perimbangan-perimbangan baru bukan mustahil terjadi, dan sering hanya sebuah konsekuensi logis. Dengan kebangkitan dunia Melayu yang sintetik dengan poros Luar Jawa – Malaysia sekarang ini, pergeseran-pergeseran paradigmatik dan orientasi jangkauan pandang ke masa depan, sejumlah kemungkinan bisa saja diantisipasi.
Dalam banyak hal, Malaysia berhasil meletakkan dasar-dasar yang kokoh bagi pembangunan jangka panjang ke depannya, di bawah kepemimpinan yang solid dan kepemim-pinan yang mempunyai visi dan visionari yang jauh ke depan. Rakyat pribumi, atau bumiputera, yang adalah orang Melayu, sejak awal 1970-an sudah berhasil diselamatkan dan diangkat-kan harkat dan porsi peranannya, tidak hanya di bidang politik dan sosial-budaya tetapi juga di bidang ekonomi. Orang Melayu di Malaysia sekarang sudah bisa menegakkan kepala-nya, dan mereka ditemukan di setiap sektor kegiatan ekonomi moderen. Ribuan mahasiswa Melayu dikirim belajar ke luar negeri yang pulangnya menempati posisi-posisi penting dalam berbagai sektor kegiatan publik maupun swasta. Yang menge-luh sekarang bukan lagi bumiputera Melayu, tetapi warga Cina dan India yang merasa dianak-tirikan oleh pemerintah yang dikuasai oleh bumiputera dan yang mendahulukan kepenting-an bumiputera yang merupakan pewaris yang sah dari negara itu, tetapi yang keadaannya pada waktu mula berangkat di awal 1970-an hanya menguasai 2 % share dari ekonomi negara yang terkonsentrasi hanya di sektor tradisional di luar bandar. Selebihnya di tangan non-pribumi khususnya Cina. Setelah dua kali perputaran pembangunan jangka panjang, 2 x 20 tahun, share bumiputera telah meningkat dari 2 menjadi 22 % di perputaran pertama dan sekarang pada perputaran kedua mendekati 40 %.
Saudara serumpunnya sesama Melayu di Indonesia, sebaliknya, hidup makin merana dan tanpa harapan ke masa depan, setelah 60-an tahun merdeka. Walau mereka merupa-kan 95 % dari penduduk – berbanding hanya 50-an % sauda-ranya di Malaysia – yang menguasai ekonomi negeri bukan mereka, tetapi saudara jauh mereka yang berasal dari daratan Tiongkok, yang jumlahnya tidak lebih 5 % dari keseluruhan penduduk. Saudara jauh warga keturunan inilah yang sekarang menguasai dan bahkan memonopoli seluruh jalur ekonomi dari hulu sampai ke hilir, baik di bidang produksi, distribusi maupun jasa. Dan dari Sabang sampai ke Merauke.
Dengan ekonomi biaya tinggi, sektor pendidikan dan kesehatan pun sekarang telah menjadi usaha industri dan ko-mersial, walau UUD 1945 memberi jaminan akan tersedianya bagi warga negara sebagai tanggung-jawab sosial dari negara. Warga keturunan yang tadinya hanya diberi jatah 5 % untuk masuk ITB, misalnya, sekarang dengan uang kuliah puluhan juta per semester atau seratusan juta per tahun kuliah, yang dominan masuk adalah anak-anak dari kelompok non-pri, karena merekalah yang mampu, sementara yang pribumi, pintar sekalipun, terpaksa gigit jari, dan tersisih ke tepi. Pengangguran kelompok terdidik menggejala dan kalau tak tersalurkan merekalah yang akan kembali menghoyak negeri ini.
Dan semua ini terjadi karena nafsu elit penguasa yang melihat negeri ini sebagai milik dan lahan mereka. Mereka mau cepat kaya tanpa perlu berusaha dan kerja keras, lalu melakukan jalan-jalan pintas. Di belakangnya itu ada bayangan budaya feodalisme yang dihidupkan kembali dari khazanah kebudayaan primordial lama. Kolusi, nepotisme dan korupsi luar-biasa pun terjadi antara elit politik yang pribumi dan elit ekonomi yang non-pribumi. Karenanya korupsi, kolusi dan nepotisme serta penyalah-gunaan kekuasaan meraja-lela, yang Indonesia oleh dunia bahkan sudah dicap sebagai negara terkorup di Asia.
Dalam perspektif Indonesia sekarang ini, Indonesia praktis tidak punya prospek masa depan. Dengan mata ber-kunang-kunang yang terbayang adalah gejolak-gejolak, mala-petaka dan kehancuran, jika tidak segera kesadaran bernegara datang kembali. Yang kita perlukan lalu bukanlah pejabat yang korup tapi negarawan yang berpikiran dan berhati bersih yang mendahulukan kepentingan rakyat banyak dan yang mau segera turun tangan menyelamatkan negara dan rakyat yang 200-an juta ini. Yang kita perlukan juga bukan saudara jauh yang menguasai dan memonopoli usaha ekonomi dari hulu sampai ke hilir, dari Sabang sampai ke Merauke ini, tetapi saudara dekat yang mau berbagi rasa dan membangun ber-sama-sama negara yang sedang sakit ini.
Akibat dari lemahnya kepemimpinan, lemahnya sistem dan lemahnya disiplin kehidupan di samping lemahnya hukum, bangsa ini kelihatannya sedang dalam kehilangan pegangan dan arah kehidupan. Yang menuai keuntungan sudah barang tentu adalah mereka yang memegang kendali kekuasaan politik dan ekonomi – politik oleh elit politik pribumi, dan ekonomi oleh elit ekonomi non-pribumi, khususnya warga keturunan Cina. Yang disengsarakan siapa lagi kalau bukan warga pri-bumi asli yang merupakan 90-an % dari penduduk Indonesia ini.
Makanya menoleh kepada pengalaman sukses saudara serumpun di Malaysia adalah sebuah keniscayaan. ***

0 Responses to “DUNIA MELAYU DALAM DIALEKTIKA KEBUDAYAAN NUSANTARA”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: