DI BALIK SUCCESS STORY ITU

Disampaikan pada Pertemuan Silaturrahmi
Saudagar Minang Sedunia
Padang, 19-21 Okt 2007

NAMANYA boleh Basrizal Koto, atau apapun dan siapapun. Yang penting adalah apa yang di balik nama itu, yang membikin dia menjadi seperti yang sekarang, sehingga dia menjadi idola dan anak muda sedang berminyak-minyaknya yang menjadi kebanggaan kita.
Semua kita tahu dan diberitahu bagaimana dia menjadi seperti yang sekarang. Dia berangkat dengan merangkak dari bawah, dengan sekolah yang SDpun tak tamat. Tapi dia men-jadi seperti yang sekarang. Dia menyeruak ke mana saja. Dia saudagar, dia pengusaha, dia pemborong, pembangun real estat, hotel-hotel, mal-mal, dia industrialis di bidang macam-macam, dan dia adalah juga yang membentuk dan mengendali-kan opini publik melalui perusahaan surat-surat kabarnya. Dan dia manfaatkan dalam artian positif siapapun yang ada di sekelilingnya. Yang bergelar Doktor dan Professor pun ada, pada hal dia SD saja tidak tamat. Dia dekati semua orang, dan semua penguasa, dari atas sampai ke bawah, agar usahanya jalan dan berjalan lancar. Dan dia bergaul dengan siapa saja. Siapapun juga senang kepadanya. Apalagi Allah memberi kelebihan lain padanya, yaitu tampang yang gagah, ganteng, dan pandai pula berkata-kata. Karenanya tak cukup satu yang menjadi teman hidupnya. Wah, kalah saya!
Untuk ukuran biasa, dia memang luar biasa. He is a phenomenon, kata orang bule sana. Dia adalah fenomena dan masuk kategori legendaris. Tetapi sekali lagi, apa yang di balik success story dari seorang anak muda yang kebetulan kam-pungnya di Pariaman, Sumatera Barat, dan menjadi rajanya saudagar dan pengusaha di Riau, dan sekarang juga mengem-bangkan sayapnya di Jakarta. Dan sebentar lagi, insya Allah, Indonesia seanteronya dan Asia Tenggara.
Agaknya semua itu, kalau saya raba-raba, adalah karena daging yang segumpal yang ada dalam dadanya. Dia tahu itu, dan dia jadikan itu menjadi motor penggerak dari dinamika kehidupannya. Daging yang segumpal yang bernama “hati,” atau qalb bahasa agamanya, yang kerasnya bisa bagaikan baja, tapi yang lunaknya juga boleh disudu, qalb inilah yang mengendalikan otaknya untuk bisa menyeruak ke mana saja, menggapai apapun keinginannya, menghadang semua rintang-an apapun macamnya, dan menyelesaikan apapun permasalah-annya.
Qalb inilah pula rupanya yang tertutup selama ini bagi kebanyakan kita, karena kita lebih banyak mengalah pada kea-daan, dan pada sistem yang berlaku, yang ternyata mengung-kung kita selama ini. Kita dari kecil telah dikungkung oleh tradisi, bukan yang kita pusakai dari nenek-moyang kita orang Minangkabau, tapi dari luar yang masuk sejak kita menjadi warga dari masyarakat Indonesia yang lebih luas. Kita juga dikungkung oleh sistem persekolahan yang kita masuki dan oleh sistem sosio-kultural yang mengatur dan mengekang kita yang juga menjadi norma bagi bangsa sejak kita merdeka ini.
Coba lihat. Dahulu dalam masyarakat kita, sejak umur lima tahun pertama, kemudian sepuluh tahun pertama, lalu akil baligh, dulu semua kita yang dari Minang ini dipersiapkan untuk menjadi manusia mandiri, bisa melakukan dan menye-lesaikan apapun permasalahan hidup sendiri. Kita dibiasakan untuk hidup frugal, sederhana, dan tidur di surau tanpa kasur, bersama-sama. Dan kita bahkan dihardik dan dibengisi mana-kala kita cengeng ndak bisa menyelesaikan diri dan urusan sendiri.
Dan Basrizal dan sejumlah kecil kita mendapatkan di-dikan itu. Karenanya, ke manapun dia tercampak, dia bisa tumbuh dan menyelesaikan dirinya sendiri, dan menggapai apa yang dia maui.
Sekarang anak-anak kita makannya disuapin. Dan malah dikejar ke sana kemari, oleh mamanya, oleh pembantunya, dsb, untuk memasukkan makanan ke mulutnya, yang kadang dia muntahkan pula. Pada hal dia sudah waktunya untuk bisa makan sendiri. Yang takut bukan anak itu kepada ibu dan ayahnya, tapi justeru ibu dan ayahnya itulah yang takut kepada anaknya. Tak jarang si anak justeru yang menghardik kepada ortunya, bukan sebaliknya. Karenanya banyak anak-anak sekarang yang kurang ajar kepada ortunya dan bahkan kepada gurunya dan siapapun. Yang hilang adalah rasa hormat kepada orang tua, kepada guru, kepada yang tua-tua, dsb. Karenanya banyak anak-anak kita yang sudah jadi pemuda tetap berwatak anak-anak dan tidak terlihat kematangan dan kedewasaannya. Hidup tergantung selalu itu rupayanya adalah ciri dari budaya yang kita anut sekarang ini.
Asuhan ‘borju’ keningrat-ningratan dan kepriyayian inilah yang menyelusup masuk yang juga dipakai dan banyak berlaku sekarang di mana-mana. Bisakah kita, lalu, mengharapkan bahwa dari anak-anak yang dididik seperti ini muncul nanti seorang Basrizal Koto, dan Basrizal yang lain-lainnya? Basrizal kecil dulu dididik secara keras, sauk air mandikan diri. Ber-pantang cengeng. Berpantang mengadu. Dan menanggung, mengerjakan dan menyelesaikan apapun sendiri.
Umur sekolah, mereka, anak-anak kita, masuk sekolah. Dari TK, SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi, Universitas, entah apa lagi. Tapi yang dari awalnya, mulai dari hari pertama masuk sekolah, sampai jadi sarjana pula nanti, jadi doktor, profesor, segala, pikirannya dicekoki, aktivitas dan kreativitas-nya dikungkung dan dibatasi. Mereka tidak boleh membantah. Harus terima apapun yang dikatakan oleh siapapun yang di atas. Apalagi kalau sudah berkaitan dengan filosofi dan ideologi bernegara. Yang ada adalah, dan hanyalah, indok-trinasi. Semua kita diajar untuk berfikir monolitik. Bahkan senofobik. Tak suka meniru yang baik dari manapun datang-nya, dan membuang yang tidak baik, dari manapun pula datangnya. Yang diambil justeru yang kulit-kulit luarnya. Yang sensual, yang cengeng, yang bergaya, dan yang hedonistik.
Karenanya, dari sononya, si anak berjiwa terbelah. Skizofrenik. Di satu sisi, ada desikan hati nurani, yang sifatnya alami, yang bisa menilai mana yang baik dan yang tidak baik. Karena bagaimanapun masih ada sisa-sisa lama budaya nenek-moyang orang Minang itu. Tapi di sisi yang lain ada indoktri-nasi dari penguasa sekolah, penguasa masyarakat dan penguasa negara, yang tidak membolehkan mempunyai pendapat dan cara sendiri. Sehingga sekolah adalah juga penjara, dan masya-rakatpun penjara.
Makanya, kita lihatlah, mana yang tumbuh dan berkem-bang jadi orang sekarang ini. Apa lagi orang-orang sekali-bernya Pak Natsir, Buya Hamka, Inyiak Haji Agus Salim, Tan Malaka, Mohd Yamin, Assaat, Bahder Djohan, dan banyak lagi.
Malah, yang masuk sekolah, dan jadi sarjana, pandainya cuma jadi pegawai negeri. Pegawai negeri, artinya jadi orang suruhan. Ciri pegawai negeri adalah: penakut, tak mau dan tak berani mengambil inisiatif, karena takut akan salah. Bekerja kalau lagi diawasi, tapi banyak malasnya, mondar-mandir ke sana-kemari, banyak ngobrolnya, suka main game di komputer yang mestinya waktu kerja; dan di setiap ruangan kerja pasti ada TVnya yang hidup terus walau tak dilihat. Suka penurut tapi di balik belakang selalu menggerutu. Lagi-lagi, ciri jiwa terbelah, skizofrenika.
Karenanya hampir tidak ada yang bersekolah yang mau jadi saudagar. Karena jadi saudagar banyak tantangannya. Banyak risiko, dan penuh ketidak-pastian. Karenanya yang banyak yang jadi saudagar dari orang Minang itu adalah yang sekolahnya tak selesai seperti Basrizal itu. Karena tidak ada beban, dan tidak ada risiko.
Dalam situasi yang belum berubah dan masih seperti itu juga seperti sekarang ini, rasanya sukar mengharapkan akan muncul generasi baru para saudagar dan pengusaha yang punya nyali dan keberanian untuk menghadang segala ketidak pastian itu. Apalagi pemerintah sendiri sampai saat ini belum lagi memberikan perhatian yang cukup dan penuh kepada saudagar dan pengusaha pribumi. Pemerintah yang diwakili oleh para penguasa negara itu, sukanya mengharapkan tam-bahan pendapatan dari usaha-usaha ekstra yang sifatnya kolutif, dalam bentuk komisi, balas jasa, sogok atau apapun namanya, sehingga birokrasi pemerintahan adalah yang terko-rup yang pernah dikenal selama ini, dan dalam skala interna-sional malah dapat julukan sebagai negara termasuk terkorup di dunia ini.
Untuk memunculkan generasi saudagar dan pengusaha dari penduduk pribumi seperti contoh kasus Basrizal Koto ini banyak hal harus dirubah, yang sifatnya struktural dan men-dasar.
Sasaran kita, bagaimanapun, saudagar dan pengusaha pri-bumi harus jadi tuan di rumahnya sendiri dalam waktu yang bisa diperkirakan. Dalam jangka waktu paling lama 50 tahun, seluruh ekonomi Indonesia sudah harus terpegang di tangan bangsa sendiri, seperti halnya di Cina, Jepang, Korea, dsb. itu.
Kita bersyukur dan bangga bahwa Basrizal Koto adalah termasuk generasi pertama yang berani menyeruak masuk dan mempelopori terjadinya perubahan yang bersifat mendasar itu. ***

0 Responses to “DI BALIK SUCCESS STORY ITU”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: