BUDAYA INTELEKTUAL DALAM KAMPUS DAN MASYARAKAT KITA

Disampaikan pada Focus Group Discussion
BEM FIS UNP Padang
30 Desember 2007

I

KONON dalam jasad atau tubuh kasar kita ini ada tiga komponen sarana kehidupan yang diberikan oleh Sang Pencipta, Allah swt, yang hanya diberikan kepa-da makhkluk manusia ini, dan tidak kepada makhluk lain-lainnya dalam wujudnya yang relatif sempurna (At Tīn 4: Laqad khalaqnal insāna fī aĥsani taqwīm) seperti yang kita miliki sekarang ini. Sekaligus ini pula yang membedakan kita manusia dari makhluk lain-lainnya itu.
Ketiga komponen sarana kehidupan itu satu sama lain saling terkait, yang kerjanya bisa saling tunjang-menunjang secara harmonis, tetapi juga bisa saling bertabrakan. Masing-masingnya mempunyai fungsi otonom yang berbeda-beda satu sama lainnya.
Ketiga komponen itu adalah: satu, komponen intelektual (I), dua, komponen emosional (E), dan tiga, komponen spiritual (S). Masing-masing komponen itu memiliki wilayah kerjanya masing-masing. Dan masing-masing bisa berkembang secara naluriah, tetapi juga bisa diasah melalui pendidikan dan pencerahan serta proses peradaban lainnya untuk mencapai tingkat quotient yang tinggi. Yang membedakan manusia antara yang satu dengan yang lainnya, dan antara satu bangsa dengan bangsa yang lainnya, adalah itu, yakni, sampai sejauh mana mereka mengembangkan masing-masing komponen itu dan menyerasikannya antara satu sama lain. Tinggi-rendah tingkat perkembangan sejarah peradaban manusia, dari dahulu sampai sekarang, diukur dari kemampuan ketiga komponen kehidup-an manusia ini, secara satu per satu, ataupun secara ketiganya.
Betapapun tinggi-rendah tingkat peradaban manusia itu, di mana saja, dan dalam kurun manapun, pada hakekatnya yang kita lihat adalah, sampai sejauh mana mereka memanfaat-kan dan menfungsikan ketiga komponen pokok kehidupan yang built-in ada dalam jasad manusia itu. Jasad manusia, sejauh ini, dan selama kita mengenalnya, tak jauh beranjak dari pen-ciptaan semula jadi. Kalaulah jasad manusia pertama itu bisa disaksikan dalam keranda kaca jasadinya, mungkin tak akan banyak beda dengan yang kita miliki dan bawa ke sana-kemari sekarang ini. Tetapi, komponen I, E dan S manusia itu berkembang, ada yang perlahan, ada yang cepat melejit, dan ada yang praktis tidak pernah berkembang, tetap saja terbe-lenggu dalam gua peradabannya sampai hari ini. Perkem-bangannya tidak linier, tapi bergelombang dari masa ke masa. Itulah yang namanya pasang naik dan pasang surut peradaban itu. Semua itu tergantung kepada bagaimana dan sampai sejauh mana mereka memanfaatkan tiga komponen pemberian Allah yang tidak terpermanai itu.
Karena hal ini bukanlah ranah permainan akademik saya, saya harus berhenti sampai di sini, lalu mengambil aspek tertentu saja yang akan dibicarakan secara lebih empirikal dari-pada teoretikal. Aspek yang saya sorot di sini adalah aspek intelektual (I) dari kita manusia Indonesia ini, khususnya dalam kaitannya dengan kehidupan intelektual-akademik di lingkung-an perguruan kita. Namun dari awal-awal kita sudah harus menyadari bahwa membicarakan komponen intelektual tidak akan mungkin dilakukan tanpa kaitannya dengan komponen dua yang lainnya, yakni E dan S itu. Ketiga komponen I, E dan S itu pada dasarnya tidaklah berdiri sendiri-sendiri, tetapi saling terkait, walau masing-masingnya punya otonomi sendiri-sendiri.
Komponen I, katanya, letaknya di kepala, dalam otak kiri kita, sementara otak kanan adalah tempat dikendalikannya komponen E, emosi kita. Tapi di mana lalu tempatnya S dalam tubuh kasar kita, apakah di otak juga, atau di hati, ataupun jantung. Istilah qurani mengatakan, ada segumpal darah yang namanya “qalb,” yang biasa kita terjemahkan dengan ‘hati.’ Tetapi apakah qalb itu memang hati, yang letaknya di rongga dada, ataukah qalb dalam pengertian abstraknya yang bisa di sana, di rongga dada, atau justeru di otak. Sekali lagi, ini bukanlah ranah permainan akademik saya. Saya tidak bisa menjawabnya. Saya serahkanlah kepada para ahli. Yang pen-ting adalah ada saling keterkaitan fungsional antara I, E dan S itu, yang satu tidak mungkin dipisahkan dari yang lain, walau, sekali lagi, masing-masing punya ranah kerjanya masing-masing.

II
Ada bangsa-bangsa yang mengutamakan fungsi I dalam kehidupannya, sehingga pertimbangan I ini yang menonjol dalam kehidupannya. Ada pula yang mengutamakan fungsi E sehingga yang menonjol memang fungsi E itu, di samping juga ada yang lebih menonjolkan fungsi S dari yang lain-lainnya.
Ambillah gampangnya, untuk masyarakat yang kita kenal di sekeliling kita, yang menonjolkan I daripada E adalah suku-bangsa M, Minang atau Melayu luasnya, sementara sukubangsa J, Jawa, lebih menonjolkan E daripada I. Ketika Islam masuk ke dalam kedua-dua sukubangsa ini, sehingga S-nya diperkaya dengan konsep spiritual-keagamaan yang universal dan orientasinya adalah transendental dengan prinsip ketauhidan, kita lalu melihat ada kecenderungan yang menarik, yang membedakan J dan M itu. Aglomerasi I, E dan S pada sukubangsa J lebih berorientasi sinkretik – berbaur tetapi tidak menyatu –, sementara aglomerasi dari ketiga komponen yang sama pada sukubangsa M lebih berorientasi sintetik, terpadu dan menyatu. Namun ini adalah pola dasarnya. Perkembangan selanjutnya sangat tergantung kepada bagaimana satu sama lain saling mempengaruhi dan saling mendominasi.
Ketika rumah bersama ini, yaitu Indonesia, lebih didominasi oleh keinginan kuat untuk menerapkan demokrasi, kebersamaan, dan kesetaraan (egaliterianisme), seperti yang terjadi di awal kemerdekaan yl, maka pola M yang sintetik dan sentrifugal yang berpengaruh. Tetapi ketika arus politik dan budaya berbalik arah, yakni di mana feodalisme dan etatisme kembali yang dominan, dengan demokrasi dsb hanya sebagai perisai, seperti di zaman Orde Lama dan Orde Baru yang juga berlanjut sampai ke masa Reformasi ini, maka pola J yang sinkretik dan sentripetal yang dominan dan menguasai seluruh kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia ini.
Apa yang kita lihat dengan kasus Luar Jawa, seperti di Sumatera Barat ini, maka yang terjadi adalah perlapisan budaya: budaya M yang relatif lemah ditindih oleh budaya J yang relatif lebih kuat dan dominan. Orang Minang sebagai yang dikalahkan atau merasa diri sebagai dikalahkan, lalu bermuka dua dengan tujuan penyelamatan diri yang karenanya memiliki sikap yang mendua atau bahkan skizofrenik.
Sebagai bahagian dari Indonesia mereka memainkan pola nasional yang berorientasi pola J, suka atau tidak suka. Tetapi ke dalam mereka masih mencak-mencak dengan pola budaya primordial yang tumbuh di bumi M ini, tetapi yang makin lama makin kehilangan vitalitas dan dinamikanya.
Peralihan struktur masyarakat M sendiri dari semata rural, agraris, tradisional ke urban, industrial dan moderen, telah menyebabkan banyak dari pola-pola dan norma-norma lama yang didasarkan kepada adat lama pusaka usang sudah mulai rapuh, keropos dan ditinggalkan, terutama oleh generasi berikutnya. Kecuali untuk hal-hal yang bersifat seremonial, banyak dari norma-norma dan nilai-nilai lama itu yang sudah tidak terpakai lagi. Banyak-banyak dari jargon dan paradigma yang diucapkan hanyalah klise verbalisme tetapi tidak diprak-tekkan. Ungkapan populer seperti ABS-SBK, Kembali ke Nagari dan ke Surau, dsb, lebih sebagai simbolisme igauan yang ingin kembali ke masa lalu tetapi tak berdaya untuk diterjemahkan ke dalam bahasa realisme masa sekarang.
Kira-kira dalam situasi itu masyarakat M di Sumbar ini sekarang berada. Yang terjadi adalah perbenturan budaya dan nilai-nilai budaya, kegalauan pola dan norma, disorientasi kehidupan, kehilangan jati diri, dsb.

III
Ini semua membekas kepada kehidupan generasi muda yang tidak punya arah dan pegangan hidup yang jelas. Rata-rata mereka bersekolah, dari TK ke PT. Banyak lulusan yang dihasilkan. Dari hanya sampai SMP-SMU saja sampai lulusan PT sekalipun, dari S1 sampaipun S2 dan S3. Sumbar sekarang memiliki ribuan sarjana, ratusan S2-S3 dan banyak yang jadi profesor. Tetapi adakah dampak yang berarti dari kehadiran banyak lulusan PT di Sumbar itu?
Kelihatannya rata-rata lulusannya, tujuan utamanya dalam bersekolah hanyalah untuk mencari kerja dan tidak untuk menciptakan kerja. Mereka yang bersekolah sampai S3 sekali-pun, tujuan utama mereka dalam bersekolah bukan untuk menciptakan lapangan kerja, tetapi mencari kerja. Karenanya aspirasi mereka atau jadi pegawai negeri atau bekerja sebagai karyawan di perusahaan-perusahaan swasta yang rata-rata dimiliki oleh pengusaha non-pri ataupun asing lainnya. Mayo-ritas terbesar dari lulusan ITB, IPB, UI, dan sekolah-sekolah unggulan lainnya bekerja di perusahaan swasta seperti itu. Swasta menerima bersih dan menampung mereka tanpa perlu ikut bersaham dalam investasi pendidikan itu. Karenanya ting-kat ketergantungan kepada pemberi kerja makin tinggi, yang juga berarti tingkat ketergantungan Indonesia kepada faktor luar sebagai penyedia kerja juga makin tinggi.
Ini yang membedakan mereka dengan generasi lalu yang rata-rata tidak atau kurang bersekolah tetapi mampu mencip-takan lapangan kerja sehingga mereka bisa ditemukan di banyak kota dan daerah di seluruh Indonesia dan di Malaysia atau di luar negeri lain sekalipun. Betapapun kecil dan seder-hananya usaha mereka, walau berhujan berpanas di K5, mereka adalah orang-orang yang mandiri, yang ulet, tahan banting, dengan menciptakan lapangan kerja sendiri. Di ujung yang lain kita akan melihat mereka yang sukses yang mengu-asai toko, rumah makan, perusahaan jasa dalam berbagai bentuk, di mana-mana.
Karena motif utama dalam bersekolah adalah untuk men-cari kerja, maka yang ditekankan lebih pada upaya men-dapatkan secarik kertas (ijazah) itu daripada upaya untuk menguasai ilmu yang dituntutnya itu. Suasana ini sangat domi-nan sehingga berbagai cara yang menyimpang dan tidak etis bisa dan biasa dilakukan dalam mendapatkannya. Budaya nyontek dan jalan pintas lainnya adalah barang biasa yang dilakukan oleh banyak siswa dan mahasiswa sehingga telah membudaya dan menjadi barang biasa.
Sementara itu berjamuranlah pula munculnya sekolah-sekolah sampai PT yang tujuan utamanya adalah menjual jasa pendidikan dengan motif komersial. Mereka anak-anak yang tidak punya prestasi akademik memadai tetapi ingin berse-kolah untuk tujuan mendapatkan secarik kertas itu sendirinya menjadi inceran dari sekolah-sekolah bermotifkan komersial itu. Orientasi komersial di bidang pendidikan inipun juga me-nyelusup masuk ke sekolah-sekolah negeri dan PT-PT negeri sekalipun karena dalih kemandirian yang harus ditegakkan di lingkungan sekolah-sekolah negeri dan PT-PT negeri itu. Ujian dengan jawaban disediakan oleh guru-guru adalah juga barang biasa karena yang dicari melalui transaksi pendidikan itu adalah yang secarik kertas itu.
Dari jurus lain, anak-anak muda ini juga dicekoki oleh gaya hidup ngetren yang ekshibisionistik dan hedonistik sifat-nya. Sehingga luntur dan melunturlah norma-norma baku kesusilaan yang dijunjung tinggi oleh generasi tua sebelumnya. Apalagi kalau mode pergaulan sudah makin terbuka dan makin merangsang hubungan bebas antar gender, praktek-praktek tabu dan pantangan lain-lainnya makin jadi biasa, sampaipun pada kecenderungan narkoba, minum, mabuk-mabuk, dari tak biasa menjadi biasa. Sumbar boleh ‘bangga’ karena tergolong kepada daerah yang relatif tinggi tingkat pemakaian narkotika dan pengidap HIV Aidsnya.
Semua ini jelas memberi dampak pada kurang fokusnya perhatian masyarakat pada peningkatan kualitas akademik walau jumlah sekolah banyak dan jumlah lulusan pun juga banyak. Dan di lingkungan sekolah dan perguruan tinggi sekalipun suasana akademik itu kurang segera tertangkap. Di jam-jam tidak ada kelas ataupun kuliah mereka lebih banyak ngobrol, ngerumpi dan gaul daripada berfikir untuk masuk ke ruang perpustakaan untuk membaca dan belajar dan membikin pe-er.
Hubungan fungsional siswa-guru, mahasiswa-dosen, ter-golong jarang dan bahkan langka, karena sistem yang dikem-bangkan masih saja satu arah: one way traffic. Sementara di luar negeri yang pendidikannya maju, kekuatan pendidikan justeru diperlihatkan dengan eratnya hubungan fungsional siswa-guru, mahasiswa-dosen itu, secara timbal-balik. Guru-guru dan dosen-dosen, sementara itu, di negeri ini, lebih formal dan kaku hubungannya dengan siswa dan mahasiswa. Guru-dosen lebih menempatkan posisi dirinya secara hirarkis-vertikal dan menjaga jarak dalam hubungan sosial maupun akademik dengan siswa-mahasiswanya.
Yang terkena dari semua ini adalah kualitas akademik dan karenanya juga kualitas intelektual, baik siswa-mahasiswa mau-pun guru-dosen itu sendiri. Yang tergambar jadinya adalah sekolah dan kampus yang gersang, kurang terlihat kegairahan akademik, dan semangat bersungguh-sungguh (jihad) dalam bidang akademik dan pendidikan itu sendiri.
Bagaimana menerobosnya? Inilah yang harus kita diskusi-kan bersama dalam forum FGD ini.
Sementara itu, dunia pendidikan di Indonesia ini hanya mengutamakan dan menonjolkan sisi kognitif I-nya, dan ku-rang, atau bahkan kurang sekali pada sisi E dan S-nya. Kalaupun E dan S dimasukkan, implementasinya lebih pada penampilan I-nya, dalam arti E dan S lebih dilihat sebagai obyek ilmu, bukan pada pengamalan yang menjadi pakaian hidup.
Karenanya juga, pendekatan integratif dan terpadu dari ketiga sisi I, E dan S itu, di Indonesia sekarang ini lebih dilihat sebagai obyek ilmu secara kognitif, bukan afektif dan psiko-motorik bagi pengamalannya. ***

0 Responses to “BUDAYA INTELEKTUAL DALAM KAMPUS DAN MASYARAKAT KITA”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: