MASYARAKAT ADAT TERPENCIL DI ASIA

Disampaikan pada Lokakarya
“Realisasi Perlindungan Masyarakat Hukum Adat,”
Kerjasama Mahkamah Konstitusi RI, Depsos RI,
KOMNAS HAM,
Setnas Masyarakat Hukum Adat, ILO, UNDP,
Di Aula Mahkamah Konstitusi
Jakarta, 10-11 Desember 2007

I

DENGAN berselancar di dunia maya, tanpa bukupun, kita diberi informasi yang cukup kaya mengenai masyarakat adat terpencil di manapun di dunia ini, yang sendirinya termasuk di Asia dan Indonesia ini. Ternyata 70 % dari masyarakat adat terpencil di dunia ini, dengan jumlah beberapa juta penduduk, ada di Asia. Keadaannya bisa sangat beragam dan mempunyai kekhasan antropologis sendiri-sendiri. Begitu juga dengan tingkat dan kualitas kehi-dupannya. Ada yang sudah tidak mungkin dimasukkan lagi ke dalam kategori “orang asli” (indigeneous people), karena mereka sudah berbaur, memasuki bidang-bidang kehidupan yang sudah tidak sama lagi dengan nenek-moyangnya, dan memiliki tingkat pendidikan yang lebih kurang sama dengan warga lainnya, walau kesadaran akan identitas etnisnya masih melekat dalam dirinya. Tetapi di ujung yang lain, kitapun masih menemukan penduduk asli yang masih belum banyak beranjak dari budaya dan cara hidup para leluhurnya, yang dengan sendirinya budaya dan semangat kesukuannya masih kuat melekat dan mereka tidak mungkin hidup di luar ikatan komu-nitasnya yang umumnya tertutup dan bersahaja.
Dari semua itu ada sejumlah kriteria yang di manapun mereka berada, mereka memiliki ciri-ciri yang sama, sehingga karena itu mereka dinamakan dengan nama “masyarakat (komunitas) adat terpencil,” atau istilah lain apapun yang biasa dialamatkan kepada mereka. Sebutlah istilah “penduduk asli,” “orang asli,” sebagai terjemahan dari “indigenous people,” pendu-duk autokton, aborigines, masyarakat suku terasing, masyarakat suku terbelakang, masyarakat perambah hutan, dan dahulu juga biasa dipakai oleh para antropolog dsb dengan istilah, masyarakat primitif. Khusus untuk Indonesia, muncul pula istilah “masyarakat hukum adat,” yang sifatnya lebih kompre-hensif dan inklusif yang juga memasukkan semua masyarakat tradisional yang masih berpegang kepada budaya adat, di mana juga termasuk masyarakat adat terpencil itu.
Karena corak kehidupan masyarakat adat terpencil yang masih sangat tergantung kepada alam tempat mereka menyan-darkan hidup, maka corak kehidupan ekonomi dan sosial-budayanya juga sangat erat melekat kepada alam. Selaras de-ngan alamnya, mereka memenuhi kebutuhan pokoknya de-ngan menyandar kepada alam itu. Di daerah padang pasir di Asia Barat atau di daerah tundra di Siberia mereka mengan-dalkan hidup kepada penggembalaan ternak yang berpindah-pindah dari satu lokasi padang rumput ke padang rumput berikutnya dengan juga mengikuti perubahan musim; musim panas ke utara, dan musim dingin ke selatan, yang jaraknya bisa sampai ratusan kilometer jauhnya. Mereka karenanya hi-dup nomad atau semi-nomad, dan karenanya juga kurang ter-sentuh oleh kehidupan biasa yang terbuka.
Di daerah-daerah yang berimba, seperti di Indonesia ini, seperti juga di Asia, dari India ke arah timur lainnya, ke Asia Tenggara, Cina, Korea, dan Filipina, mereka menjadi “orang rimba,” di dataran tinggi di pegunungan atau dataran rendah, dan hidup bergantung kepada hasil rimba. Mereka mengenal corak pertanian tebang-bakar dengan lahan berpindah-pindah, berburu dan menangkap ikan di sungai. Selain itu ada pula “orang laut” yang hidupnya memang di air dengan kehidupan subsistensi menangkap ikan. Mereka dari masyarakat adat terpencil ini hidup berkelompok secara eksklusif bersuku-suku dan norma kehidupan mereka diatur dengan hukum adat yang dijawat secara turun-temurun dari nenek moyang.
Karena ketergantungan yang kuat dan erat kepada alam, kepercayaan merekapun rata-rata animistik. Kendati banyak atau kebanyakan mereka sekarang telah dikristenkan oleh gerakan misionaris dari gereja-gereja Katolik dan Protestan, di Indonesia ini dan di Asia atau bahkan dunia lainnya, keter-kaitan mereka dengan kepercayaan serba-roh dan ritus-ritus yang berkaitan dengan itu terus mereka anut dan lakukan. Gerejapun kelihatannya cukup mentoleransinya. Tetapi melalui missi gereja yang menekankan kepada upaya pendidikan dan peningkatan kesehatan dan kesejahteraan, kecenderungan lain yang kita lihat, seperti yang juga berlaku di Indonesia ini, dalam dua-tiga atau beberapa generasi berikutnya mereka telah berubah menjadi kelompok penduduk yang maju dan masuk atau bahkan menguasai banyak bidang kehidupan, terutama yang berkaitan dengan kehidupan intelektual melalui pendi-dikan itu.
Ini tidak lain karena mereka telah beralih dari kehidupan yang tadinya bergantung semata kepada alam sekarang kepada ‘alam pikiran’ melalui pendidikan. Suku-suku yang tadinya terbelakang di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, NTT, dan Papua, seperti di Asia lainnya, dan di manapun di dunia ini, sekarang, melalui upaya pencerdasan itu, mereka telah keluar dari sarang peradabannya, dan masuk ke dalam dunia peradaban baru yang maju dan terbuka. Orang Kristen di Indonesia ini yang dulunya kebanyakan berasal dari “masya-rakat adat terpencil” itu yang jumlahnya sampai sekarang masih minoritas dalam naungan RI ini, tetapi dalam banyak hal mereka justeru yang berperan sebagai “mayoritas” bertangan di atas dan penentu, sebagai hasil dari proses pencerahan yang dilakukan oleh misi gereja melalui pendidikan dsb itu yang pusat kendali kegiatannya ada di Eropah dan Amerika.

II
Bagaimanapun, kembali kepada ciri-ciri umum yang ber-laku terhadap masyarakat adat terpencil yang belum sepenuh-nya tercerahkan itu, mereka memiliki sejumlah ciri yang boleh dikatakan sama untuk semuanya. Ciri-ciri kehidupan mereka itu adalah bahwa mereka hidup dalam kondisi:
– Tingkat kemiskinan yang tinggi
– Tingkat literasi yang rendah
– Tingkat malnutrisi yang tinggi
– Tingkat harapan hidup yang rendah
– Tingkat morbiditas (kematian) yang tinggi
– Tingkat HAM yang rendah.
Situasi dan kondisi mereka yang seperti itu bukan hanya karena mereka menyendiri atau mengisolasi diri ke rimba dan daerah lain yang jauh dari pergaulan terbuka, tetapi karena sejumlah faktor lainnya yang karena itu keadaan mereka bisa bukan makin membaik tetapi sebaliknya makin memburuk, atau satu waktu, bisa benar-benar terhapuskan dari peta bumi ini. Banyak dari suku-suku terpencil itu yang benar-benar lenyap dan terhapus dari peta bumi.
Faktor-faktor itu berkaitan erat dengan struktur politik, ekonomi dan sosial-budaya dalam negara di mana mereka berada. Kondisinya di Asia dan di manapun tergantung kepada ketiga faktor utama itu yang secara keseluruhan tidak berpihak kepada mereka.
Politik. Kendatipun secara konstitusional mereka diakui sebagai warga-negara, tetapi mereka diperlakukan sebagai warga kelas dua atau tiga yang lemah, yang dilecehkan, yang dimarginalkan, yang tidak dibawa serta, atau yang dipaksa. Sebagian karena faktor keterasingan karena jarak jangkau dan sebagian karena mereka memang diperlakukan berbeda.
Ekonomi. Karena mereka memilih untuk tinggal di daerah-daerah hutan dan yang buminya banyak menyimpan kekayaan sumber daya alam lainnya, seperti minyak, gas, mineral, batubara, dsb, maka merekapun menjadi kelompok tergusur dan terpinggirkan. Hak ulayat mereka jangankan diakui bahkan dicaplok begitu saja tanpa ganti rugi. Mereka bahkan dianggap sebagai ‘pencuri’ jika mereka menebang kayu di hutan ulayat mereka sendiri, tetapi yang oleh pemerintah yang berkuasa telah dikonsesikan kepada pihak perusahaan swasta atau milik perusahaan pemerintah sendiri. Ketika hutan dialahkan dan diubah menjadi daerah perkebunan, atau pertambangan, ruang gerak merekapun makin sempit dan terjepit. Globalisasi jaringan usaha justru makin meningkatkan marginalisasi, ketidak-berdayaan dengan masa depan yang ma-kin suram bagi mereka. Globalisasi juga menciptakan “kon-spirasi segi-tiga PMK”: Pemerintah yang diwakili oleh para pejabat penguasa negara, Multi-National Corporations yang juga pemilik modal dari bank-bank besar yang berpusat di dunia kapitalis Barat, dan Konglomerat, pengusaha besar yang di kawasan Asia Tenggara kebanyakan adalah non-pribumi Cina yang menggantikan kedudukan penjajah Eropah di masa lalu.
Sosial-budaya. Kehidupan yang makin terjepit dengan masa depan yang makin suram menggiring mereka untuk menjadi kelompok marginal yang makin kehilangan keseim-bangan, sehingga merekapun bisa ditemukan di kota-kota sebagai displaced persons dengan prilaku yang tidak normal, seperti menjadi pemabok, pencopet, geng-geng, pelacur, tanpa tempat tinggal yang jelas. Kebanyakan dari para gelandangan di kota-kota besar di Asia dan dunia umumnya datang dari kelompok marginal masyarakat terpencil atau “indigenous people” ini.

III
Sikap yang diperlihatkan oleh negara-negara di Asia da-lam memberikan perlindungan terhadap masyarakat adat ter-pencil ini kebanyakan masih mendua. Karena yang dibangun adalah negara yang demokratis dan moderen, mau tak mau ada pengakuan konstitusional-formal akan kesamaan hak dan perlakuan terhadap kelompok masyarakat terpinggir-kan ini. Namun dalam praktek tidak segera bersua, atau bahkan berbeda. Apa yang berlaku di Indonesia ini adalah sebuah contoh yang juga terjadi di banyak negara-negara Asia lainnya.
Yang tidak segera bersua adalah sikap batin dari kesa-daran yang mendalam, dari negara dan dari masyarakatnya, bahwa kelompok warga yang diklasifikasi atau dikualifikasikan ke dalam ‘masyarakat adat terpencil’ itu adalah ‘saudara sendiri,’ yang, bagaikan anggota tubuh yang satu, jika sakit yang satu, sakit yang lainnya, senang yang satu, senang yang lainnya. Sama seperti yang diajarkan oleh Islam ataupun agama lain-lainnya. Karenanya, dalam langkah-langkah rehabilitasi yang dilakukan, porsi dana dan perhatian yang lebih banyak harus diberikan kepada mereka dengan perbandingan terbalik, yakni, makin terbelakang makin banyak dana dan perhatian yang diberikan. Sementara praktik yang dilakukan sekarang, adalah sebaliknya: semua kekayaan ulayat mereka diambil, dengan sedikit, kalau ada, yang tersisa untuk mereka. Alangkah bagusnya, berangkat dari filosofi ‘hidup bersaudara’ itu kalau sekian persen dari hasil kekayaan yang dikuras dari alam mereka dikembalikan kepada mereka dalam jumlah yang relatif besar dalam rangka secepat mungkin setara dengan saudara-saudara mereka yang sudah duluan maju itu.
Sementara menunggu tumbuhnya sikap batin dengan kesadaran yang mendalam dalam konsep ‘persaudaraan’ yang hakiki yang sifatnya universal itu, “Indigenous and Tribal Peoples Convention, 1989” (No. 169) dari ILO, diratifikasi sehingga dapat menjadi tumpuan harapan dan perhatian kita untuk dipedomani dan dilaksanakan secara global, termasuk di Indonesia ini.***

0 Responses to “MASYARAKAT ADAT TERPENCIL DI ASIA”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: