TANGGAPAN TERHADAP RENCANA PEMBANGUNAN PBC (PADANG BAY CITY)

Selaku warga kota Padang
Dan anggota DPD-RI dari Sumbar

JSR, No. 50, 28 April 2007

Kepada yth
Bapak Drs H Fauzi Bahar, MSi
Walikota Padang.

Assalamu’alaikum w.w.,

TERIMA KASIH dengan saya diminta
untuk memberikan tanggapan saya
mengenai rencana pembangunan
Padang Bay City (PBC).
Saya sudah baca lembaran pointer dan sekaligus buka CD
tentang PBC Plan yang sudah dikirimkan itu,
di samping penjelasan yang Bapak berikan di rumah.

Berikut adalah tanggapan saya dengan sejumlah pertanyaan
dan permasalahan:

A. Aspek fisikal dari pantai yang akan direklamasikan:

(1) Tingkat kemiringan dari dasar pantai
yang akan direklamasikan dan dasar pantai berikutnya
sampai ke dasar laut.
Sejauh mana tingkat resiliensi dan ketahanan
dari tanah pasir pantai dan tanah timbunan
yang diambilkan dari lumpur muara sungai Batang Harau
yang akan menahan bangunan bertingkat tinggi
(high-rise buildings) di atasnya nanti.
Sampai di mana survei geologi dan geomorfologi pantai
telah dilakukan dan bagaimana hasilnya.
Mendukung atau tidak mendukung?

(2) Dampak ekologis terhadap PBC
dengan keberadaan muara sungai Batang Harau
yang tiap kali membawa lumpur dan sedimen ke muara
dan ke laut.

(3) Prilaku ombak yang dari waktu ke waktu bisa besar sejalan dengan perkisaran angin per musim.

(4) dan kaitannya dengan gejala abrasi
seperti yang berlaku selama ini,
dengan mengingat pantai Padang yang akan direklamasi tidaklah landai tetapi dengan tingkat kemiringan
yang cukup tinggi dan menurun ke dasar laut.

(5) Tertahannya arus angin laut ke kota
dan sebaliknya angin darat ke laut
karena adanya bangunan tinggi di sepanjang pantai.
Tingkat toleransinya sampai di mana?
(6) Potensi tsunami yang setiap waktu bisa terjadi
karena kota Padang hanyalah bahagian kecil
dari kawasan pantai barat Sumatera yang rentan tsunami (tsunami prone). Hasil survei?

B. Planologi Kota:

(1) Sederetan gedung-gedung tinggi (high-rise buildings)
di sepanjang bibir pantai berhadapan dengan
hamparan kota lainnya yang rata-rata tidak bertingkat
atau sedikit yang bertingkat 3-5;
sementara di bagian timur dan utara sampai ke perbukitan tersedia hamparan tanah yang potensial
untuk pengembangan dan perluasan kota
seperti sejak dahulu direncanakan.
Secara planologis PBC akan menciptakan
ketimpangan dikotomis antara kawasan kota lama
dengan PBC yang ultra moderen.

(2) Kendati jalan baipas ke Air Manis sebagai outlet
ke Teluk Bayur, dan jalan baipas sepanjang pantai, diciptakan, kawasan Muaro-PBC yang akan menjadi pusat belanja
dengan mal-mal, hotel, kondo dan apartemen, restoran
dan pusat rekreasi bertaraf internasional, dsb,
akan merupakan kawasan perangkap lalulintas
untuk bisa keluar kembali dan menyebar kembali
ke bagian kota lainnya di bagian tengah, timur dan utara. Solusi?

(3) Pembangunan PBC sendirinya akan juga mempengaruhi tata ruang dari kawasan sekitar
yang telah ada
yang sukar untuk ditata ulang. Solusi?

(4) Kontras-kontras planologis antara pemukiman penduduk yang relatif sederhana dengan kondo, apartemen, hotel, mal, restoran yang mewah dan bertaraf internasional.

(C) Dampak sosial budaya dan sosial-ekonomi:

(1) Investasi yang diharapkan dalam membangun PBC
kelihatannya tidak akan berbeda banyak
dengan yang telah berlaku di kota-kota besar lainnya
maupun Indonesia secara keseluruhan,
dan di hampir semua sektor,
yaitu dengan mengandalkan pada investor asing
(Singapura, Malaysia, Hong Kong, Cina, Jepang, Amerika) yang bekerjasama dengan konglomerat
WNI Cina dalam negeri.
Jika jalur ini yang juga diambil dalam membangun PBC,
maka dampak beruntunnya segera akan dirasakan.
Dan Padang hanya akan menjadi bagian dari rentetan panjang dari penguasaan kawasan ekonomi para kapitalis konglomerat yang dalam praktek telah menguasai
seluruh kekuatan ekonomi Indonesia.

(2) Keengganan dari pihak bank sampai saat ini
untuk langsung menjadi investor bagi pengembangan kota seperti PBC ini tidak meninggalkan alternatif lain
kecuali mengandalkan kepada para konglomerat
yang memang menunggu peluang menanamkan modalnya seperti di PBC ini,
walau sesungguhnya modal mereka adalah modal kredit bank, dalam maupun luar negeri.

(3) Sekarang saja, seperti terlihat,
dengan tiga mal yang telah dibangun
(Mal Matahari, Plaza Andalas
dan Central Pasar Raya Goan Hoat)
bisnis ritel telah beralih praktis seluruhnya
dari tangan pribumi Minang
ke tangan konglomerat WNI Cina,
sementara sektor distribusi, transportasi
dan manufaktur barang
telah mereka kuasai seluruhnya.

(4) Dengan telah dan sedang meluasnya
pembangunan prasarana ekonomi di kawasan Pondok
dan Muaro sekarang ini
maka PBC hanyalah akan merupakan ekstensi
atau perluasan dari yang telah ada sekarang
yang dikuasai WNI non-pri Cina.

Semua ini akan menjadi OK jika pemerintah kota Padang (eksekutif dan legislatifnya) memang berkeinginan
dan siap untuk menyerahkan penguasaan
ekonomi kota Padang
yang berarti juga Sumatera Barat
seutuhnya ke tangan kelompok konglomerat Cina
seperti dengan seluruh kota-kota dan daerah
yang ada di Indonesia ini,
yang nyaris hampir tanpa kecuali telah jatuh ke tangan mereka. Bersamaan dengan negara-negara tetangga Asean lainnya,
Indonesia dari segi ekonomi akan juga – bahkan telah –
menjadi bagian dari kawasan Emporium Nan Yang
yang momentumnya akan dicapai dalam satu dekade mendatang ketika Cina menjadi negara adikuasa baru menyaingi atau bahkan menggantikan kedudukan
adikuasa Amerika
dan Barat lainnya sekarang ini.

Sebagai alternatif lain, kita perlu berfikir ulang,
untuk tidak melanjutkan jalur yang telah kita tempuh
selama ini, yaitu menyerahkan dan mengandalkan
pada kekuatan ekonomi konglomerat Cina,
di samping kecenderungan selama ini di mana investor asing
lebih menyukai kerjasama dengan konglomerat Cina
daripada dengan pengusaha pribumi.

Kita, sebagai gantinya, menghimpun kekuatan ekonomi baru
yang merupakan kombinasi kerjasama antara pemerintah,
rakyat pribumi yang terasosiasi ke dalam kelompok bisnis
berbadan hukum atau koperasi, dan perbankan.
Kerjasama segitiga ini diharapkan akan menumbuhkan
kekuatan ekonomi baru, berbasiskan ekonomi kerakyatan,
dengan prinsip syirkah, joint venture, bagi hasil dan keuntungan. Tetapi perubahan sikap dengan paradigma baru
yang berorientasi ekonomi kerakyatan ini
benar-benar diperlukan dan diharapkan pada pemerintah
yang sampai saat ini masih berparo hati
untuk memajukan ekonomi kerakyatan ini.
Yang diharapkan adalah perubahan paradigmatik
yang pro rakyat pribumi
seperti yang dilakukan oleh Mahathir dan Badawi di Malaysia
sejak awal 1970an.

Waktunya adalah sekarang untuk melahirkan itu
jika Indonesia tidak mau terseret terlalu jauh
ke dalam jaringan ekonomi Emporium Nan Yang itu.

Dan kita mulai di dan dari Padang dan Sumatera Barat ini
di mana semangat wiraswasta rakyat pribumi cukup tinggi
dan masih bisa diandalkan.
Hanya saja selama ini kurang mendapat angin
karena sikap perbankan yang lebih memihak
kepada para konglomerat daripada kepada rakyat pribumi,
di samping sikap mendua hati dari para pejabat sendiri
yang juga mengambil peluang untuk keuntungan pribadi
dalam rangka memperkaya diri,
dengan filsafat “mumpung” dalam derap pembangunan itu.

Dengan kita mengandalkan kepada kekuatan ke dalam,
maka mega project PBC ini, kalau memang fisibel,
bisa kita tunda untuk sesudah paruh kedua abad ke 21 ini
sejalan dengan makin meningkatnya peran ekonomi kota Padang yang berada di jalur pantai barat Sumatera.
Dengan dibukanya Kra Canal di tanah genting selatan Thailand pada dekade mendatang,
diharapkan jalur pantai barat Sumatera
akan memainkan peranan penting
dengan makin menurunnya peran pantai timur dan Selat Melaka karena dibukanya jalur tembus ke Laut Cina Selatan
melalui Kanal Kra itu.

Yang sekarang ini kita harus kerja keras
untuk membangun kekuatan ekonomi pribumi Minang
ke dalam
untuk masa 25-50 tahun ke depan di Sumatera Barat ini.
Perluasan kota Padang secara perlahan bisa kita angsur
dan arahkan ke arah perbukitan di Timur,
ke arah Utara, dan Selatan, Teluk Bayur dan Bungus.
Terowongan Bukit Putus – yang untuk ukuran biasa
luar biasa panjangnya –
bisa dijadikan impian masa depan
yang jika teknologinya memungkinkan
kelihatannya adalah strategis untuk menumbuhkan
kekuatan ekonomi kelautan yang berpusat di Bungus itu.
Juga perencanaan pembangunan pusat pariwisata bahari
di Gunung Padang dan pantai Air Manis, menurut hemat saya, cukup strategis dan patut didukung.

Semua itu, kita membangun
dengan membangun kekuatan ekonomi kerakyatan dari dalam,
dengan di mana perlu meniru contoh baik dari Malaysia. ***

0 Responses to “TANGGAPAN TERHADAP RENCANA PEMBANGUNAN PBC (PADANG BAY CITY)”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: