SDA, SDM DAN SDB SUMBAR PENGANTAR LAPORAN DAERAH SUMBAR

Di hadapan Sidang Paripurna DPD-RI
Senin, 8 Januari 2007
Dibacakan oleh Mochtar Naim
Anggota B-12 Utusan Sumbar

JSR No. 36, 8 Januari 2007

Assalamu’alaikum w.w.,

Sdr Ketua, para Wakil Ketua,
dan Sdr-sdr para Anggota yang saya hormati,

LAPORAN Sumbar di depan Sidang Paripurna kali ini mengemukakan format yang agak lain.
Bodi dari laporan dikemukakan secara tertulis
menurut jalur PAH-PAH yang telah ada,
dan tidak akan dibacakan.
Yang akan dibacakan dalam jangka waktu lk 10-15 menit
adalah Pengantarnya
yang memberikan gambaran secara menyeluruh,
dan sekaligus memberikan evaluasi
tentang perjalanan pemerintah daerah serta masyarakatnya
secara menyeluruh dari segi tinjauan kacamata sosiologi
dari DPD-RI.
Fokus perhatian adalah kepada tiga SD: SDA, SDM dan SDB.

Sdr Ketua, izinkan saya membacakannya.

Sumatera Barat dari segi geografis dan SDAnya
tergolong ke dalam daerah provinsi yang tidak menguntungkan.
Terletak di luar jalur perdagangan dunia,
menghadap ke Lautan Hindia,
yang sampai saat ini masih belum memainkan peranan potensialnya.
Tetapi, insya Allah, sebentar lagi,
dengan akan bangkitnya raksasa anak benua India kembali
dan juga negara-negara Arab,
di forum dunia perdagangan dan industri global,
pantai barat Sumatera akan mengambil peranan berarti, sekurangnya mengimbangi provinsi-provinsi di Sumatera
yang menghadap ke Selat Melaka.
Apalagi kalau nanti Kanal Kra di tanah genting Thailand
sudah dibuka sehingga kapal-kapal besar tak memerlukan lagi melalui Selat Melaka dan Singapura
tetapi langsung memutus ke Laut Cina Selatan.
Jalur laut Asia-Barat ke Australia tidak perlu lagi
melalui Selat Melaka
tetapi menyusur pantai barat Sumatera
ke pantai selatan Jawa, terus ke Australia, dan vice versa.

Yang sekarang terlihat adalah bahwa kecuali kapal antar-pulau
yang memerlukan singgah di Teluk Bayur,
kapal-kapal samudera baru akan singgah
kalau ada yang akan dibawanya
atau diantarkannya dalam jumlah yang cukup besar.
Untung saja bahwa di samping semen Indarung dan kayu
serta hasil perkebunan sawit dan karet
baik dari daerah pedalaman provinsi sendiri
maupun daerah tetangga,
biasa kapal-kapal antrean menunggu gilirannya
memuat atau memunggah barang-barang di Teluk Bayur.
Tetapi itu, karena pelabuhannya yang kecil
dengan teknologi bongkar-muat yang sudah ketinggalan
serta gudang-gudang yang terbatas.

Sebagai provinsi yang terletak di bagian tengah
pulau Sumatera,
kebetulan sistem transportasi daratnya termasuk yang terbaik
di Nusantara ini.
Bukan saja kualitas jalannya termasuk terbaik
dibanding dengan daerah-daerah lainnya,
sistem jaringan lalulintas antar kota di Sumbar
secara relatif juga cukup strategis.
Walau topografinya berbukit dan bergunung-gunung,
serta berlembah dan berdanau,
yang membikin daerah ini asri dan menawan,
tapi juga jaringan distribusi kota-kota
terutama di lingkaran tengah
membikin jarak satu sama lain tidak terlalu berjauhan
sehingga semua relatif bisa ditempuh dalam satu hari.
Dalam teknik perawatan jalan-jalan,
kebetulan ahli jalan di PU Binamarga Sumbar
menemukan rekayasa teknologi
yang membikin jalan-jalan lebih awet
di samping perawatannya lebih murah.
Masalah topografi dan geografi pertama yang dihadapi Sumbar adalah adanya kesenjangan dikotomis
antara daerah pedalaman yang relatif maju
dengan daerah sepanjang pesisir pantai
dan kepulauan Mentawai yang relatif terbelakang,
kecuali di bagian lingkaran tengah yang maju sampai ke pantai. Panjang pantai termasuk kepulauan Mentawai
yang praktis semua belum tergarap
tidak kurang dari 2000 km panjangnya.

Orientasi ke depan Sumbar mau tak mau ke pantai
dan ke laut ini.
Pekikan pembangunan Sumbar ke masa depan tidak lain dari: Hamburi laut, jump out to the sea, young men!
Sekarang yang menguasai laut
di sepanjang pantai barat Sumatra,
seperti juga dengan di perairan Nusantara lainnya,
adalah armada-armada perikanan canggih
dari negara-negara naga Nan Yang,
sementara nelayan pribumi masih saja bergelut dengan pukat
yang dihela dari pantai, sambil berdendang,
dan dengan perahu-perahu kecil
yang dikayuh dengan pendayung tangan
atau motor tempel kecil,
ataupun besarnya, bagan-bagan.

Kesenjangan dikotomis kedua dari segi SDA
maupun topografi dan geografinya
adalah antara daerah pedalaman lingkaran tengah
dengan daerah pedalaman lingkaran luar.
Lingkaran tengah yang poros-sumbunya adalah
Padang-Pariaman-Padang Panjang-Bukittinggi-Payakumbuh dan Batusangkar
sudah padat penduduk
dan setiap jengkal tanah yang bisa ditanami, sudah ditanami
— kecuali daerah perbukitan dan pegunungan yang konturnya berkorugasi dan berlapis-lapis,
sehingga tak bisa dijamah, apalagi ditanami.
Tapi karenanya telah menjadi reservoir rimba hujan
yang sangat berguna bagi kesuburan
dan kelestarian lingkungan.
Di daerah lingkaran tengah ini pendaman SDAnya
walau cukup beragam tetapi sejauh yang sudah diketahui
tak satupun yang laik eksploitasi
karena magnituda volume depositnya yang terbatas.
Ada emas, ada perak, ada uranium, ada platinum,
ada segala ada, tapi itulah, tak laik gali.
Apalagi karena sawah-sawah yang luas terbentang
dan kadang berjenjang-jenjang di dataran-dataran tinggi, menyebabkan potensi SDAnya praktis sudah termanfaatkan.

Tinggal daerah lingkaran luar dan periferal
yang berbatasan dengan provinsi-provinsi tetangga,
yang SDAnya sesungguhnya kaya,
tapi, dan tetapi, sudah kita “gadaikan”
atas nama pembangunan kepada para kapitalis konglomerat
dan investor dalam dan luar negeri,
dan yang sekarang telah disunglap
menjadi daerah-daerah perkebunan sawit yang luas sekali.

“Kepintaran” – tanda petik — dari para pejabat
di masa Orde Baru,
karena semangat pembangunannya yang demikian terbudur menggebu-gebu,
dibujuklah rakyat atas nama pembangunan itu
untuk menyerahkan tanah ulayat mereka
dengan ganti-rugi berupa siliah-jariah sekadarnya,
dan tanah itupun dikonversikan menjadi tanah negara
untuk kemudian diserahkan kepada para inverstor tersebut
berupa HGU untuk 30 tahun
dan yang dapat diperpanjang
sampai sekian kali 30 tahun berikutnya.
Anak-cucu kita nanti pasti tidak akan tahu lagi
bahwa tanah perkebunan itu sesungguhnya
adalah tanah ulayat pusaka nenek-moyang mereka,
tetapi mereka tidak dapat meraih kembali
karena sudah menjadi tanah negara
yang tidak bisa dialihkan kembali menjadi tanah ulayat.
Begitu “cerdik” nya pemerintah dan negara ini
terhadap rakyatnya sendiri!

Apa yang dikuatirkan oleh Karl Marx dalam Das Kapitalnya
dengan proses pemiskinan (verelendungsprocess) kaum proletar
yang adalah pemilik yang sah dari tanah dan air itu sendiri,
pun terjadi.
Sekarang ini rakyat setempat menjadi buruh-buruh perkebunan
di atas bekas tanahnya sendiri,
yang hujan kehujanan dan panas kepanasan
dalam kebun-kebun yang bukan punyanya itu
– walaupun tanahnya tadinya adalah tanah mereka.
Gambaran melankolis-merenyuhkan bisa dilihat setiap hari,
pagi mereka dijemput dan petang diantar dengan truk-truk terbuka yang berjejal laki-laki-padusi (wanita) di atasnya, dihoyak ke kiri dan ke kanan oleh jalan-jalan tanah
yang tidak rata dan berlobang-lobang,
untuk mendapatkan sesuap pagi dan sesuap petang,
dan penahan tangis anak-anak di rumah.
Tingkat kemiskinan di antara mereka ini sangat tinggi.
Dan itu terjadi di tengah-tengah melimpah ruahnya kekayaan
dari para pengusaha perkebunan (“petani berdasi”) itu
yang tinggal di kota-kota besar,
yang rata-rata tak satupun yang dikenal oleh rakyat sendiri.

Dari yang mendapatkan petak-petak plasmapun
seluas 2 ha per KKnya,
peranan mereka hanyalah sampai menurunkan buah
yang hasilnya dijual kepada perusahaan
yang harganya ditentukan secara sepihak oleh perusahaan.
Dari sana sampai ke pabrik pengolahan
sampai ke pasar dalam dan luar negeri,
seluruhnya adalah keuntungan berlipat
yang didapatkan oleh perusahaan,
dan yang semua berjalan di muka mata pemerintah,
dan yang modalnya sesungguhnya adalah modal dengkul,
tak lain dari modal kredit bank.

Demikianlah ‘pintarnya’ negara ini membangun,
sehingga yang beruntung hanyalah para kapitalis
dalam dan luar negeri,
sementara pemerintah menerimakan berbagai macam pajak
dan pungutan yang semua diangkut ke pusat,
dengan remah-remahnya tinggal di daerah.
Paling kurang sepertiganya, kalau tidak akan lebih,
singgah pula ke pundi-pundi para pejabat yang korup,
dari atas sampai ke bawah.

“Exploitation de l’on par l’on,” seperti yang diimak
dan diechokan oleh Presiden Sukarno
juga berlaku di daerah-daerah lingkaran luar di Sumbar
sebagaimana hal yang sama yang juga berlaku di mana-mana
di serata Indonesia ini.
Dan semua, dengan buluh perindu,
“atas nama pembangunan.”
Daerah yang kaya dengan perkebunan besar kelapa sawit
dan dengan gelondongan kayu liar di lingkaran luar ini
tingkat kemiskinan penduduknya
adalah yang tertinggi di Sumbar,
dan di serata Indonesia lainnya.

SDM Sumbar!
Orang suka melihat Sumbar dari sosok-sosok terkenal
yang sudah berlalu.
Seolah-olah rakyat Sumbar yang jumlah keseluruhannya
sampai 10 juta di kampung dan di rantau,
seperti sosoknya Hatta, Syahrir, Agus Salim, Tan Malaka, Assaat, Natsir, Hamka, dsb itu semua.
Lupa kalau mereka itu hanyalah orang-orang exceptional, kekecualian, yang kebetulan memang ikut menoreh
sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia
bersama dengan tokoh-tokoh dari Jawa
dan daerah-daerah lainnya.
Yang bersua adalah gambaran yang diperlihatkan
oleh angka-angka statistik kemarin,
semua masuk kelompok nomor satu;
namun bukan lagi nomor satu dari atas, tapi dari bawah.
SDM Sumbar termasuk yang terkena jerat
oleh sistem pendidikan yang dikelola secara nasional
dan seragam oleh pusat,
oleh tangan-tangan jahil birokrat yang sok pintar,
yang karena bagus dilihatnya di luar,
dicobakannya pula ke dalam,
sehingga anak-anak sekolah hanyalah kelinci-kelinci percobaan tanpa menumbuhkan kekuatan dari dalam
dari anak didik itu sendiri.
Semua dibangun kecuali watak dan kepribadian
serta critical thinking dari anak didik itu.
Anak-anak Sumbar yang sudah maupun yang sedang bersekolah
adalah robot-robot dari korban uji-coba
dari orang-orang pintar di pusat itu
– di samping tentunya faktor-faktor buruk dan borok
dari sistem birokrasi pendidikan
yang menyebabkan kualitas guru menjadi terpuruk
sampai sedemikian jauh dan demikian memalukan
dibandingkan dengan negara-negara tetangga saja.
Pada hal, pada waktu yang sama,
sekolah-sekolah swasta-agama
yang berani melakukan cara sendiri,
dan menyimpang dari jalur,
yaitu dengan meneruskan dan menghidupkan kembali
cara-cara lama yang dahulu dinikmati
oleh tokoh-tokoh besar dari Minang itu,
rata-rata berhasil,
dan bahkan mengungguli sekolah-sekolah pemerintah sendiri, umum maupun agama.
Tekanannya tidak lain adalah pada pembentukan watak
dan jati-diri itu,
pada cara berfikir yang kritis dan analitis
serta mampu menyelesaikan masalah sendiri,
dan pada penguasaan bahasa,
sekurangnya Inggeris dan Arab secara aktif,
di samping Indonesia tentunya.
Keunggulan sekolah Belanda, maupun sekolah agama, dahulu, adalah pada jalur-jalur ini,
yang menghasilkan anak-didik yang mandiri, suka membaca,
karena menguasai bahasa,
yang kemudian banyak yang jadi orang-orang besar
tanah air itu.

Bicara tentang SDM tidak mungkin tanpa mengaitkannya
dengan SDB: Sumber Daya Budaya
– faktor sumber daya ketiga yang orang selalu lupakan,
pada hal justeru yang paling menentukan dalam pembentukan SDM dan pelestarian SDA sendiri.

Dahulu orang Minang maka jadi orang Minang
– berarti manusia-manusia unggul –
adalah karena didukung oleh nilai-nilai budaya lokal
yang berjalin-berkelindan
dan bersepadu dengan nilai-nilai budaya Islam
serta nilai-nilai budaya moderen
yang diserap melalui buku-buku dan sekolah ataupun surau.

Ketika orang pada bertanya-tanya,
kenapa SBY sampai lima kali datang ke Sumbar,
dan berlama-lama, sementara banyak daerah
hanya sekali atau dua saja;
jawabnya justeru terletak di sini, di SDB ini,
yang tidak ada duanya di Indonesia ini
– bukan karena dia, SBY,
dihadiahi gelar Yang Dipatuan entah berentah,
dan dengan gelar Dr Honoris Causa dalam bidang pertanian,
bukan pemerintahan, itu.
Sumbar kebetulan memiliki SDB yang filosofi dasarnya
adalah sangat cocok untuk dunia moderen
yang penuh tantangan sekarang ini,
tantangan global dan tantangan dari dalam sendiri.
Kuncinya adalah pada keterpaduan nilai budaya
yang saling menunjang satu sama lainnya:
antara nilai budaya lokal: Minangkabau,
dengan egalitarian and democratic values nya,
dengan nilai budaya Islam yang universal,
exoteric and applicable to all strata values,
dan dengan nilai budaya moderen yang logical, critical,
pragmatic and future outlook values itu.

Pola budaya M ini adalah alternatif masa depan
menggantikan pola budaya J yang berlaku sampai sekarang ini.
M dan J adalah ying dan yangnya budaya Nusantara ini.

Sdr Ketua,
Saya bisa berpanjang-panjang menjelaskan semua ini.
Tetapi sebagai Pengantar Laporan dari kami dari Sumbar
saya cukupkan sekian.
Namun, sebelum saya benar-benar berhenti
dan duduk ke tempat saya kembali,
ada satu hal yang perlu dan tidak mungkin
tidak saya sampaikan.
Yaitu kearifan budaya sebagai akibat dari tantangan
kelangkaan SDA
dan keterpurukan SDM di Sumbar
seperti yang saya ceritakan itu.

Allah mentakdirkan, muncullah seorang anak muda
yang pandai membaca tanda-tanda zaman,
fasih dalam berbicara dan bijak pula mempergunakan
jargon-jargon cara teknorat sekarang berekspresi,
lengkap dengan angka-angka statistik dengan bahasa “swot”
dan dengan memanfaatkan in-focus segala.
Orang-orang luar di tingkat nasional pun kagum,
dan mengalirlah berbagai macam pujian
dan berbagai tanda jasa dan penghargaan.
Anak muda itu adalah Gubernur kami, dan gubernur kita,
yang sekarang: Gamawan Fauzi.
Oh, ya, diapun pandai berdendang-bersenandung
dan sudah beredar kaset dan cd nya.

Dan inipun membias kepada rata-rata Bupati dan Walikota
di seluruh Sumbar.
Artinya, dalam situasi yang serba senteng dan rumit
seperti yang dialami oleh Sumbar
baik di bidang SDA maupun SDM tersebut,
para pejabat di Sumbar sekarang sudah pandai menari
di atas tikar yang sehelai,
dan banyak ide-ide jitu yang telah mereka keluarkan
dan laksanakan,
justeru karena dihadapkan kepada situasi yang serba senteng,
rumit dan terbatas itu.
Otonomi daerah baru punya arti
sebagai sebuah seni memerintah kalau SDAnya terbatas,
tetapi SDM dan SDBnya kaya dan berpotensi.

Dan itu adalah karena kemampuan merangkai-rangkai
dan mengawinkan ide yang baik-baik dari mana-mana,
sehingga walau daerahnya miskin SDA,
dan kedodoran SDMnya, tapi kaya dengan potensi SDB tadi.
Dan kearifan budaya itu yang mereka mainkan,
dan manfaatkan,
sehingga kelihatannya Sumbar punya masa depan yang cerah
jika saja dipimpin oleh para pemimpin
yang memiliki sifat-sifat kepemimpinan
yang tidak memikirkan diri sendiri
tetapi memikirkan rakyat yang diembannya.
Dalam konteks SDB itu terkaitlah sifat-sifat kepemimpinan
yang egaliter, demokratik, jujur dan bijaksana,
yang sebenarnya tidak hanya diperlukan di Sumbar
tetapi bahkan di seluruh Nusantara ini.

And you know what?
Karena Sumbar sudah juga memulai
melakukan langkah-langkah ke arah pemberantasan korupsi,
yang semua justeru dimulai oleh orang pertama,
yaitu Gubernur sendiri,
maka ajakan kita agar Sumbar bersedia untuk dijadikan
salah satu daerah pilot project
dalam rangka pemberantasan korupsi di daerah,
dalam rangka kerjasama dengan Australia
dan dengan KPK Pusat,
Sumbar menerima ajakan DPD RI dengan positif.

Gubernur GF sekarang ke mana-mana
hanya dengan Kijang Innova,
bukan dengan mobil dinas resmi.
Pengetatan ikat pinggang di birokrasi dilakukan,
dan siapapun di jalur birokrasi yang menyeleweng ditindak.
Konsep pelayanan di bawah satu atap juga dilakukan.

Yang pokok: prinsip “ibdak bi nafsik”
– mulailah dari diri kamu sendiri –
kelihatannya diterapkan oleh orang pertama di daerah itu.
Dia atau mereka tidak hanya pejabat,
tetapi sekaligus “pemimpin,” dan pemimpin dari rakyatnya.

Sekian,
Wassalamu’alaikum w.w.

0 Responses to “SDA, SDM DAN SDB SUMBAR PENGANTAR LAPORAN DAERAH SUMBAR”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: