PENGENTASAN KORUPSI DARI MANA DIMULAI

Ceramah-Diskusi di Hadapan Mahasiswa dan Dosen
FISIP Unand,
22 Desember 2006

JSR, No. 20, 22 Des 2006

HARI-HARI kita bicara tentang korupsi. Pejabat ini dan itu ditangkapi, dan dimasukkan ke dalam penjara. Tapi sebentar lepas lagi. Korupsi jalan terus. Anjing menyalak kafilah lalu. Korupsi kayaknya sudah menjadi barang biasa dan membudaya. Di mana-mana ada korupsi, sehingga nyaris tak satupun dari lembaga pemerintahan yang tak dihinggapi oleh penyakit korupsi. Korupsi ada di lembaga eksekutif, di legislatif dan di yudikatif. Korupsi, tak kurangnya, juga ada di lembaga-lembaga yang tugasnya adalah membasmi atau menangani korupsi itu sendiri. Bagaikan virus, semua terserang, sehingga tak ada yang bisa mengatakan, kami immune. Kami tak kena. Kami bersih. Korupsi telah menjadi penyakit masyarakat, alias “pekat,” atau istilah ilmiahnya: “patologi sosial.”
Karenanya Indonesia di mata dunia dikenal sebagai negara yang tergolong terkorup di dunia. Mungkin nomor tiga atau nomor empat terkorup. Korupsi rupanya bukan saja telah membudaya tetapi telah merasuk ke dalam struktur dan sistem kelembagaan manapun, baik publik – terutama publik — maupun swasta. Korupsi masuk ke dalam sruktur dan sistem dan dilegitimasi-kan, sehingga praktek itu seolah-olah tidak korupsi. Pada hal korupsi. Coba lihat. Baik yang rutin maupun yang diproyek-kan. Ke dalamnya dimasukkan kegiatan-kegiatan yang sifatnya fiktif. Dia dianggarkan, tapi tidak dilaksanakan. Atau kalau dilaksanakan, dilaksanakan cuma seperempatnya, atau seper-limanya. Untuk itu dibikinkan SPJ atau apapun namanya untuk melegitimasikannya, sehingga dalam laporan kelihatannya ber-sih, semua dilaksanakan. Pada hal tidak bersih dan tidak dilak-sanakan atau hanya sebagian dilaksanakan.
Dalihnya selalu sama. Karena gaji pegawai negeri kecil. Jadi untuk itu perlu dicarikan lobangnya. Dan lobangnya adalah proyek-proyek itu. Dan semua diketahui, dan bahkan dilegitimasi dan ditanda-tangani oleh kepala. Kepala itu bisa dari yang terendah sampai ke yang tertinggi sekalipun di negara ini. Biasanya makin tinggi pangkatnya justru makin besar wang harga tanda-tangannya. Ada yang mengatakan, karena semua proyek tidak mungkin lewat tanpa tanda tangan kepala, untuk seorang gubernur saja, harga tanda tangan itu tidak kurang dari tiga puluhan juta per bulannya, atau kata-kanlah puluhan juta per bulannya. Sementara yang terbawah yang ikut-ikut mungkin hanya beberapa ratus ribu saja.
Untuk praktek seperti ini praktis tidak satupun dari instansi pemerintah di ketiga jalur eksekutif, legislatif dan yudikatif itu yang tidak melaksanakannya. Juga tidakpun departemen yang mengurusi urusan agama sekalipun: Depar-temen Agama, dengan segala jajarannya. Kita mengira bahwa instansi tersebut tidak mungkin melaksanakannya, karena ada kaitannya dengan agama, dan sanksinya berat, baik di dunia maupun di akhirat. Eh, nyatanya, instansi tersebut, ternyata termasuk yang terpayah, dan terberat. Apa-apa ditilap, dan semua ditilap. Sejak dari kain kafan sampai kepada pelaksanaan haji. Kasihan itu orang desa yang sudah payah-payah, dan bertahun, mengumpulkan uang untuk bisa naik haji, eh kiranya juga ditilap. Sampai-sampai menterinya sendiri dijebolkan ke penjara, karena terbukti melakukan praktek korupsi.
Kesimpulannya, Indonesia ini payah. Dan penyakitnya parah. Nomor tiga atau nomor empat di dunia. Kita perlu terapi. Tetapi kita perlu diagnosanya terlebih dahulu. Ibarat penyakit, sang dokter tidak mau memberi obat begitu saja tanpa diketahui apa penyakitnya dan apa penyebabnya. Setelah itu baru dilekatkan obatnya yang cocok untuk penyakitnya itu. Mudah-mudahan penyakitnya sembuh. Dan di dunia ini sudah banyak negara yang melakukan itu, dan ternyata sembuh.
Masih di 60-an kita mendengar di negara jiran kita, Singapura, Lee Kwan Yeu, melakukan program pengentasan korupsi, tanpa pandang bulu. Dan dimulainya dari dirinya sendiri. Bawahannya dinaikkan gajinya, sementara gaji dia dikuranginya. Dia lalu hidup sederhana. Hari-hari ke kantor hanya pakai kemeja lengan pendek. Mobilnya tidak baru yang tahunnya sudah ketinggalan. Rumahnya, kalau tidaklah dikata-kan bahwa itu rumah kediaman Lee Kwan Yeu, tak ada orang yang tahu. Tak ada penjaga. Sama dengan rumah yang lainnya.
Semua dimulai dari dirinya. Kalau Islam mengatakan: ibdak binafsik –mulai dari diri kamu sendiri – eh, ternyata Lee Kwan Yeu yang mengamalkannya, sementara semilyar muslim di dunia ini tidak. Dia ciptakan satu sistem yang tidak seorang-pun bisa terlepas dari sistem itu. Dimulai dari perangkat hukum yang tak seorangpun bisa terhindar atau terlepas dari jeratan hukum jika diketahui telah melakukan praktek korupsi, tidak terkecuali menterinya sendiri. Rambu-rambu hukum disi-apkan, sistem pengentasannya disiapkan, dan sistem kontrol maupun sanksinya disiapkan. Akibatnya, Singapura yang sebe-lumnya galau dan kacau terus dari regim sosialis yang sebe-lumnya, termasuk yang bobrok administrasi pemerintahannya, dibenahi oleh Lee, yang akhirnya, seperti kita lihat sendiri, Singapura menjadi negara terbersih dari korupsi di dunia. Jadi yang bersih bukan hanya jalannya, kotanya, tetapi sistem pemerintahannya. Dan untuk itu memang diperlukan tangan kuat, punya visi kuat, dan dilandasi dengan suri tauladan yang dimulai dari diri sendiri.
Contoh lain, Cina sekarang, bukan Cina di waktu Chiang Kai Shek dulu yang bobrok dan parah korupsinya. Oleh presiden sebagai orang nomor satunya, dia suruh bikinkan 99 koffin untuk orang mati, yang koffin nomor satunya dise-diakan untuk dirinya sendiri. Jadi kalau ditemukan dia yang melakukan korupsi, maka dialah yang pertama kali harus ditembak mati dan dimasukkan ke dalam koffin nomor satu itu.
Ini namanya efek jera. Karena semuanya dimulai dari dirinya, seperti Lee Kwan Yeu itu, tak ada orang yang berani melakukan korupsi. Yang berani, tembak, masukkan dalam koffin, kuburkan.
Di Amerika, hadiah apapun yang diterima oleh seorang Presiden dalam lawatannya ke manapun yang nilainya lebih dari 50 dollar menjadi milik negara. Yang kedapatan tidak melaporkan hadiah yang diterimanya yang harganya lebih dari 50 dollar, disita dan dijadikan milik negara. Bahkan dia dijatuhkan, seperti nasibnya Presiden Nixon, yang tersandung dengan audit kekayaannya.
Cerita-cerita keberhasilan mengentaskan korupsi ini tentu banyak lagi. Apalagi di zaman para khalifah dalam sejarah Islam, yang pendekatannya terpadu, tapi yang semua itu memang dimulai dari suri tauladan yang dimulai dari diri sendiri. ***

0 Responses to “PENGENTASAN KORUPSI DARI MANA DIMULAI”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: