PEMBANGUNAN BOTTOM-UP DAN LAYANAN PUBLIK PIRAMIDA TERBALIK DI PAPUA

JSR, No. 43, 16 Maret 2007

DARI serangkaian dialog dengan pejabat pemerintah dan tokoh masyarakat dari Papua yang kami lakukan di DPD-RI, baik kami yang ke Papua, atau mereka yang datang ke DPD-RI, kami mendapatkan masukan yang secara konseptual sangat bermakna dan sangat mendasar dari mereka. Patut saya kemukakan, bahwa kendatipun gambaran Papua secara keseluruhan masih membayangkan akan keter-belakangan di hampir semua hal, artinya apabila dibandingkan dengan daerah lainnya di Indonesia ini, namun kualitas intelektualitas dari tokoh-tokoh yang sedang bermain di pentas politik di Papua sekarang ini secara keseluruhan cukup menonjol dan bahkan dikagumi. Kemampuan berbahasa dan berekspresi dengan jargon-jargon yang abstrak biasa mengalir dari mulut mereka, dan yang semua itu biasa dilontarkan dengan gaya bahasa yang dinamis yang tak jarang juga diba-rengi dengan bahasa badan (body language) yang sering manarik dan bahkan mempesona.
Dua dari permasalahan yang saling terkait tetapi juga saling bertentangan yang sekarang menjadi buah mulut dan sekaligus sasaran perjuangan mereka adalah istilah atau sekali-gus konsep “pembangunan bottom-up” dan “pelayanan publik dengan piramida terbalik.” Kedua-dua konsep ini adalah cerminan dari keperdulian mereka akan perlunya mendahulu-kan kepentingan rakyat di lapisan bawah yang merupakan jumlah terbesar di Papua dan di Indonesia umumnya. Praktek yang berlaku di Indonesia selama ini, dan khususnya sejak masa Orde Baru ke mari ini, adalah bahwa porsi terbesar dari kue pembangunan itu dilahap oleh jumlah terkecil dari warga yang terdiri dari para konglomerat dan birokrat di tingkat atas sebagai hasil kolusi dari keduanya, sementara porsi terkecil dari kue pembangunan didapatkan oleh rakyat terbanyak yang kehidupannya secara menyeluruh belum banyak beranjak sejak masa kolonial dahulu.
Konsep “pembangunan bottom-up” (PBU) dalam kon-teks Papua adalah dengan mengutamakan pembangunan sara-na dan prasarana dari rakyat yang kebanyakan bermukim di daerah-daerah pegunungan yang secara ekologis dan geografis sukar dijangkau. Konsep PBU ini jika diterjemahkan secara harfiah tentu saja adalah bahwa daerah-daerah pemukiman yang sekarang terpencar-pencar ke daerah-daerah pedalaman yang merupakan noktah perkampungan kecil-kecil di lembah, di kaki, di lereng maupun di puncak-puncak bukit dan gunung yang sukar dijangkau itu perlu dibikinkan jalan-jalan yang kalau perlu bisa dilalui dengan kendaraan roda empat, di samping sarana dan prasarana lainnya di bidang komunikasi, pemerin-tahan, pendidikan, ekonomi, fasilitas publik lainnya, dsb. Sementara kita tahu bahwa Papua bukanlah sebuah pulau kecil di IBT, tetapi bahkan yang terbesar walau harus berbagi dengan Papua Nugini.
Dari semua itu tentu saja ada lokasi-lokasi di pedalaman yang memang harus dijangkau dan dikembangkan, yang walau-pun akan memakan biaya yang besar harus dilakukan. Apalagi karena di pedalaman itu ada kabupaten-kabupaten dengan ibu-kota-ibukotanya yang bagaimanapun harus dijangkau, bukan hanya dengan pesawat-pesawat kecil seperti sekarang ini dengan ongkos yang sangat mahal sekali, tetapi jika perlu dengan jalan darat. Tetapi itupun, dengan mengingat situasi ekologis dan geografisnya, adalah sesuatu yang relatif sangat berat dengan biaya yang sangat besar untuk merealisasikannya.
Sementara di lain pihak, ada gerakan demografis-kepen-dudukan yang sementara ini juga diam-diam merayap dan berkembang, yang menyusur sepanjang pantai dan bergerak ke daerah pedalaman yang permukaannya masih datar atau mulai melereng, tetapi tidak menanjak dan berliku-liku sampai ke pedalaman yang secara ekologis-geografis sulit ditempuh dan dijangkau.
Wajah pembangunan daerah pantai ini berkembang dengan relatif cepat karena dipicu oleh sejumlah faktor yang sifatnya saling mendukung dan saling berkaitan. Pertama, kendatipun sumberdaya alam yang terpendam di perut bumi ada di pedalaman dan di daerah pegunungan, tetapi semua itu harus dibawa ke pantai untuk diolah lebih lanjut dan dipasar-kan yang di mana perlu ke mancanegara. Ini saja sudah men-ciptakan saling ketergantungan antara pedalaman dan pantai itu.
Kedua, pola habitat pemukiman penduduk yang berori-entasi moderen selalu mengarah ke pantai yang berlahan datar dan landai, dan tidak ke pedalaman yang berekologi sukar. Sekarang saja kita sedang menyaksikan gerakan kependudukan satu arah yang semua menuju ke pantai dan dataran rendah lainnya. Secara bertahap tetapi pasti pemukiman-pemukiman baru dan bahkan kota-kota baru bertumbuh di dataran rendah di sepanjang pantai ini. Gerakan ke pantai dari arah pegunung-an ini disukai atau tak disukai sekarang tengah berjalan, yang ujungnya akan menciptakan pola baru dari kehidupan masa depan Papua.
Sementara masalahnya yang krusial adalah, ketika pola kebijaksanaan regim daerah yang berkuasa sekarang ini menyuarakan konsep pembangunan PBU yang orientasinya adalah ke daerah-daerah pedalaman yang sukar dijangkau, karena di sana lokus dari pusat-pusat pemukiman dan sosial-budaya dari penduduk asli Papua, pada waktu yang sama daerah-daerah pantai dan dataran rendah lainnya dimasuki atau bahkan diserbu oleh penduduk pendatang dari berbagai daerah di Indonesia ini. Sekarang saja, mayoritas penduduk pantai adalah para pendatang, baik dari IBT lainnya maupun dari IBB sekalipun, di samping warga keturunan Cina yang rata-rata menguasai jalur dan jentera perekonomian Papua seperti daerah-daerah lainnya di Indonesia ini.
Masalah krusial yang sekaligus bertolak-belakang adalah, berbenturannya antara tuntutan primordial dengan nuansa PBU berbasis pedalaman yang disuarakan oleh regim dan elit politik daerah sekarang ini dengan tuntutan dunia moderen yang berorientasi sebaliknya, yaitu menjurus ke kota-kota di dataran rendah di sepanjang pantai.
Untuk itu diperlukan pemikiran dengan perspektif ber-jangka panjang ke depan dalam meletakkan pilihan-pilihan yang bersifat dikotomis dan bahkan polaristis seperti yang ada sekarang ini. Mungkin saja, seperti yang dilakukan oleh suku-suku bangsa lainnya di Indonesia ini, mereka menoleh ke gunung-gunung untuk bernostalgia ke masa lalunya, dan me-reka merembes ke kota-kota di dataran rendah di sepanjang pantai karena tuntutan dunia moderen ada di sana. Orang Minang, tiap kali melihat gunung Merapi dan Singgalang, maupun Tandikat, Sago, Talang dan Talamau, di pedalaman, selalu menunjuk ke arah gunung-gunung itu, dengan bersenan-dung mengatakan: “Di mana titik pelita, di telong yang bertali; di mana asal nenek moyang kita, di puncak gunung Merapi.” Namun sekarang orang Minang tidak hanya bertebaran di ranah Minang, tetapi di seantero kota-kota di Indonesia ini, dan bahkan di dunia Melayu lainnya, dan di mancanegara di benua mana saja.
Orang Papua dan suku-suku bangsa lainnya di Indonesia ini tentu juga akan begitu, sehingga konsep “Indonesia tanah airku” tidak hanya dinyanyikan di waktu-waktu tertentu saja, tetapi benar-benar dipraktekkan dalam kenyataan kehidupan.
Konsep kedua: konsep layanan publik dengan piramida terbalik, caranya tidak lain adalah dengan bersama-sama kita secara struktural dan sistemik membalikkan piramida terbalik kembali kepada kedudukannya semula yang lebih wajar dan lebih manusiawi, yaitu dengan meletakkan kerucutnya ke atas dan dasarnya ke bawah. Artinya, makin ke bawah, makin besar porsi layanan publik itu diberikan kepada rakyat yang makin banyak ke bawah.
Di Papua sendiri sekarang ini, gejala korupsi, hedonisme, materialisme dan haus kekayaan dan kekuasaan di kalangan elit politik yang berkolusi dengan orang-orang serupa di pusat dan dengan para konglomerat sangat merajalela dan sangat berba-haya bagi kelangsungan masa depan Papua sendiri. Pelurusan arah kendali di Papua sekarang ini harus segera dilakukan agar Papua tidak terjerumus ke arah situasi khaotik yang sama seperti yang terjadi di IBB. ***

0 Responses to “PEMBANGUNAN BOTTOM-UP DAN LAYANAN PUBLIK PIRAMIDA TERBALIK DI PAPUA”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: