Kata Sambutan untuk Buku: KOTO GADANG MASA KOLONIAL oleh Azizah Etek, Mursyid A.M., Arfan B.R.

14 Jan 2007

ASYIK sekali membaca buku Koto Gadang Masa Kolonial yang draftnya disampaikan kepada saya untuk saya berikan sepatah kata sambutannya. Buku yang sebe-narnya berupa untaian topik-topik penting dari peristiwa sejarah masa lalu dari Nagari Koto Gadang disusun oleh suami-isteri Mursyid A.M. dan Azizah Etek Mursyid serta Arfan B.R. Menjadi lebih menarik karena mereka sendiri bukan orang Koto Gadang, tetapi orang Kurai, penduduk autokton dari kota Bukittinggi. Ibu Azizah, seorang sosiolog, adalah dosen Sosiologi di Institut Ilmu Pemerintahan, Jakarta. Pak Mursyid adalah mantan Asisten Menteri Pangan RI, sementara Sdr Arfan (30) adalah putera Koto Gadang yang mempunyai hobi mengumpulkan dokumen lama. Sebelumnya, Ibu dan Bapak Mursyid, bersama sejumlah kawan lainnya, juga telah menyusun buku lain sebelumnya, yaitu: Dinamika Peme-rintahan Lokal Kota Bukittinggi (LPM IIP, Jakarta, 2004).
Seperti diceritakan dalam buku ini, Nagari Koto Gadang terletak di sebelah barat kota Bukittinggi, di seberang ngarai Sianok yang indah itu. Dari panorama Atas Ngarai di sisi kota Bukittinggi, kita akan melihat di seberangnya ada jalan setapak berjenjang-jenjang menuju ke Koto Gadang. Karena jarak kedua tebing ngarai yang cukup lebar kita akan melihat sosok-sosok orang yang sudah kecil kelihatannya turun naik jalan setapak ini. Dahulu, yakni ketika jalan mobil belum selancar seperti sekarang, orang-orang Koto Gadang turun naik tangga jalan setapak itu untuk ke Bukittinggi.
Sementara dari panorama itu arah ke kanan di bawahnya kita juga melihat ada jalan kendaraan umum di sebelah kanan melintasi ngarai ke Nagari Sianok sebelum menuju ke Koto Gadang. Sekarang, karena orang sudah lebih suka pakai mobil dan kendaraan umum lainnya, orang bisa memilih dengan mobil melalui ngarai Sianok ke Koto Gadang, atau melalui Padang Lua, jalan ke Maninjau, ke Guguak, Koto Tuo, lalu ke Koto Gadang. Kedua-dua jalur ini menyenangkan untuk ditempuh dengan panorama alam yang menawan di sekeliling. Apalagi ada dua gunung Merapi-Singgalang yang anggun yang menjaga hamparan dataran tinggi Agam Tuo di ketinggian mendekati 1000 m di mana kota Bukittinggi terletak di tengah-tengahnya.
Bagaimanapun, orang boleh tidak tahu bagaimana cara menempuh Nagari Koto Gadang dari arah Bukittinggi, tetapi orang tidak mungkin, dan “tidak boleh,” tidak tahu tentang Nagari Koto Gadang itu sendiri. Koto Gadang adalah sebuah fenomena sosio-kultural dalam rangka pembaharuan yang hanya satu-satunya bukan hanya di Sumatera Barat tetapi bahkan di seluruh Indonesia ini yang terjadi justeru di tingkat desa di abad ke 19 dan 20 di zaman kolonial.
Setibanya di Nagari Koto Gadang kita akan melihat setting rumah-rumah yang memperlihatkan kekhasannya, yang rada berlain dari kampung lain-lainnya, dengan sebuah rumah adat yang jadi kantor pemerintahan Nagari, berhadapan dengan sebuah mesjid yang indah di hadapannya. Rumah-rumah di sini yang masih meninggalkan sisa-sisa aroma masa kolonial dahulu, dengan gaya arsitektur yang kebanyakan masih meninggalkan sisa-sisa pengaruh awal abad ke 20, juga bersusun-berjejer seperti di kota dengan jalan-jalan yang ma-sing-masing diberi nama dengan nama orang-orang besar tanah air yang kebetulan berasal dari Koto Gadang.
Koto Gadang, seperti diceritakan dalam buku ini, adalah sebuah Nagari yang sampai ke ujung-ujung masa kolonial dan bersambut ke alam kemerdekaan ini sangat kuat memperta-hankan adatnya, tetapi pada waktu yang sama adalah yang pertama pula yang membukakan diri untuk menerima penga-ruh dari luar, yaitu pengaruh moderen, khususnya pengaruh Barat melalui sekolah berbahasa Belanda dan perubahan alam pikiran.
Dalam buku ini kita akan dibawa bertamasya ke masa lalu, ke masa kolonial abad ke 19 dan 20, bagaimana peru-bahan-perubahan telah terjadi. Pertama kita akan melihat bagaimana perubahan-perubahan itu telah dipicu dan dipelo-pori oleh sejumlah tokoh pembaharu yang menghabiskan waktunya bukan hanya di rantau untuk menjadi guru, amtenar, dokter, insinyur, pandai mas, dsb, tetapi, seperti yang diper-lihatkan oleh tokoh sentralnya: Yahya Dt Kayo, melakukan perubahan itu dengan tinggal di kampung dan menggerakkan perubahan itu dari dalam.
Melalui sekolah yang dibangun di kampung sendiri, mere-ka memperkenalkan sekolah HIS yang memakai bahasa Belan-da yang ide pendiriannya telah dimulai sejak dari awal abad ke 20 (1906) oleh sebuah studiefonds dengan nama Studiefonds Kota Gedang (SKG). Dan tamatannya melanjutkan ke Mulo, AMS, HBS, dsb, di kota-kota di Sumatera dan Jawa, dan sekolah tinggi kedokteran, hukum, teknik, dsb di Jawa bahkan ke Negeri Belanda.
Sekolah dan penguasaan bahasa, khususnya Bahasa Be-landa inilah dua faktor utama yang merubah cara hidup dan cara berpikir orang Koto Gadang. Sementara, pada waktu yang sama, dan selama tahun-tahun yang panjang di abad ke 19 dan 20 itu, kampung-kampung lain, tidak hanya di Sumatera Barat, tetapi di seluruh Indonesia, kebanyakan orang-orang masih tidur nyenyak dan tidak meresponi panggilan ke arah perubah-an, kecuali melakukan penentangan terhadap penjajahan dan membangun sekolah-sekolah yang berorientasi agama berupa madrasah sebagai kekuatan antipodalnya. Baru kemudian nagari-nagari di Sumatera Barat seperti daerah-daerah lainnya membuka sekolah-sekolah desa yang berbahasa Melayu dan bahasa daerah lainnya. Dan baru kemudian mereka mengirim-kan anak-anaknya ke sekolah-sekolah yang dibuka oleh peme-rintah di kota-kota.
Letak kekhasan Koto Gadang adalah, di mana orang-orang dari kampung-kampung dan nagari-nagari lainnya di Sumatera Barat menentang penjajahan dengan cara menjauhi dan menentangnya, lalu mencari kekuatan pada sekolah-seko-lah agama, orang Koto Gadang me”nentang”nya justeru de-ngan menguasai senjata yang sama yang dipakai oleh penjajah, yaitu sekolah dan bahasa Belanda, dan bekerjasama dengan Belanda.
Namun kata bekerjasama ini bukanlah dalam arti berko-laborasi dalam artian politik, dengan tujuan untuk memper-panjang kolonialisme, tetapi memperpendeknya dengan mem-pergunakan senjata yang sama melalui jalur pendidikan dan perubahan cara berpikir itu. Dengan sekolah dan bahasa, yang berarti kunci pembuka khazanah pengetahuan moderen, dan sekaligus dunia moderen, memanfaatkannya untuk menge-nyahkan penjajahan di bumi Indonesia ini. Ini terbukti, tidak terlihat tanda-tanda sedikitpun bahwa orang Koto Gadang dalam perjuangan merebut kemerdekaan berpihak kepada Be-landa, tetapi bahkan menonjol sekali sebagai pelopor kemerde-kaan. Rentetan nama-nama orang besar tanah air yang berasal dari Koto Gadang, seperti Agus Salim, Syahrir, Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabaui, Abdul Muis, Yahya Dt Kayo, Ro-hana Kudus, Prof Dr M Sjaaf, Dr Zainal, dan Prof Dr Emil Salim sekarang ini, di samping rentetan panjang dari nama-nama terkenal lainnya, membuktikan semua ini. Sebagai ditera-kan dalam buku ini, di tahun 1924 saja sudah ada 500 nama orang-orang berpangkat dan berkedudukan penting dari Koto Gadang di berbagai kota di Indonesia ini, dari 3000-an penduduk seluruhnya. Apalagi sekarang ini di mana tidak ada rumah tanpa sarjana, walau kebanyakan dari mereka tinggal di rantau.
Kita juga terhenyak membaca pada sisi yang lain bagai-mana peristiwa pembuangan secara adat bisa dan sampai terjadi dengan figur wanita Daina yang bekerja sebagai asisten pos di Medan yang kawin dengan kawan sekantornya, Pomo, dari Jawa. Istilah “Buang Tingkarang” yang rata-rata orang Minang sendiri tidak tahu apa artinya itu, ternyata dijatuhkan terhadap Daina. Dia dibuang sepanjang adat, dan tidak lagi diterima sebagai anak-kemenakan, “hanyalah” karena dia kawin tidak dengan sesama orang Koto Gadang, tetapi dengan orang Jawa, walau, notabene, sama-sama muslimnya.
Pada lembaran sejarah dan episode masa yang sama, kita juga diceritakan bagaimana pergerakan emansipasi wanita se-sungguhnya dimulai dari Koto Gadang yang bahkan sebelum munculnya Raden Ajeng Kartini di Jawa. Kepeloporan Rohana Kudus yang mendirikan organisasi wanita “Kerajinan Amai Setia” sewajarnyalah dicatat dengan tinta mas dan masuk dalam khazanah sejarah pergerakan empansipasi perempuan di Indonesia.
Tidak ada kata yang patut kita ucapkan kepada para penulis dan penyusun buku ini kecuali tahniah, penghargaan, atas nama kita semua. Mari kita semua membacanya. ***

0 Responses to “Kata Sambutan untuk Buku: KOTO GADANG MASA KOLONIAL oleh Azizah Etek, Mursyid A.M., Arfan B.R.”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: