GEMPA 2007 DI SUMBAR

JSR, No. 42, 13 Maret 2007

SEJARAH mencatat bahwa di tahun Masehi 2007 terjadi gempa besar di Sumatera Barat. Dari rentetan peristiwa gempa bumi yang diketahui selama ini, gempa 2007 ini adalah yang terbesar, terluas daerah cakupannya, dan terberat kerusakan yang diakibatkannya, walau jalur utamanya tetap melalui patahan Sumatera yang sama yang dikenal secara geologis selama ini.
Namun, apakah kita banyak belajar dari sejarah itu? Jujur, rasanya tidak! Karena kita selalu melakukan kesalahan yang sama setiap kali. Dan kita adalah bangsa yang cepat pelupa akan pengalaman masa lalunya. Kita, terutama etnik Minang, tidak memiliki budaya yang melihat ke belakang dan belajar dari pengalaman masa lalu itu.
Nyatanya, di jalur gempa yang sama orang masih suka membangun bangunan-bangunan, terutama perumahan, yang tidak kedap gempa. Karena merasa bangunan kayu seperti yang dilakukan oleh nenek-moyang selama ini sudah tidak laku dan tidak “gaya” lagi, maka orang kampungpun meniru bangunan-bangunan seperti di kota. Iya kalau persyaratan konstruksinya sama dengan di kota, yang tidak hanya susunan batu bata dan kerangka beton seperlunya, tetapi beton bertulang dan dengan perhitungan teknik sivil-arsitektural yang tepat. Buktinya, rumah-rumah gaya kota tetapi memperhatikan syarat-syarat arsitektur moderen, apalagi dengan memasukkan perhitungan kedap gempanya, umumnya selamat, dan kalau-pun ada kerusakan, hanya ringan dan periferal.
Rumah-rumah yang kebanyakan kena, dan rusak berat, selain dari rumah-rumah tua yang dibikin secara sederhana, adalah rumah-rumah baru ala di kota tetapi terimbas penyakit korupsi oleh para tukang dan pemborongnya. Adukan semen dan pasir yang mestinya 1:3 dibikin 1:6 ataupun 1:8, sementara di atas kertas dan dari dana yang diajukan tetap 1:3. Bahan-bahan lain yang dipakai juga demikian. Dikatakan kelas satu tetapi yang dilekatkan yang kelas dua atau tiga. Belum pula kualitas kerjanya yang kebanyakan jauh di bawah standar. Penyakit korupsi dan kolusi ini telah menjalar jauh sampai ke pelosok-pelosok, sehingga yang paling susah mencari di kam-pung-kampung sekarang adalah tukang-tukang dan pembo-rong-pemborong yang jujur dan amanah serta malu berbuat salah. Tidak jarang, oleh karena itu, orang di Sumbar menda-tangkan tenaga-tenaga tukang dari Jawa, karena mereka lebih dapat dipercaya, di samping lebih rajin.
Pada hal, di Minang pun, di masa lalu, katakanlah se- belum perang Dunia Kedua, atau masih di zaman penjajahan dahulu, para tukang di kampung-kampung umumnya memiliki etos kerja yang tinggi, dan amanah, serta jujur dan dihormati. Mereka merasa membikin rumah itu adalah untuk anak-kemenakan sendiri yang akan dipakai berlama-lama. Buktinya, lihatlah rumah-rumah lama, khususnya rumah gadang, yang dibikin dari kayu, dan besar-besar, sangat mengagumkan, baik arsitekturnya maupun kokohnya. Dan rata-rata tahan gempa.
Pada hal gempa sebelumnya baru 2002, atau 4 tahun yang lalu. Tetapi di daerah yang sama orang tetap saja membangun dengan gaya kota tetapi tanpa memasukkan perhitungan kedap gempanya itu. Banyak dari rumah-rumah yang terkena gempa di 2002 yl, sekarang kena lagi dan dengan kerusakan yang lebih parah.
Gempa 2007 ini, dari segi penanganannya oleh pihak pemerintah terutama, juga seperti tidak belajar banyak dari pengalaman 2002 yl. Budaya birokrasi yang lamban, cenderung menunggu komando dari atas, tidak berani mengambil inisiatif sendiri, kurang koordinasi, tidak sergap dalam menyiapkan peta situasi, akibatnya sering kedahuluan dari gerak cepat yang dilakukan oleh LSM-LSM dan lembaga-lembaga donor luar negeri ataupun dari negara-negara mancanegara yang cepat tanggap dan perduli dengan musibah-musibah yang terjadi di manapun. Mereka umumnya cepat tiba dan memperlihatkan keperdualiannya dengan segera mengalirnya bantuan-bantuan yang diperlukan.
Untung suasana kedodoran dari pejabat sivil ini cepat dipintasi oleh pihak militer dan polisi yang cepat tanggap dan cepat turun tangan, sehingga banyak hal segera teratasi dengan turun tangannya mereka. Begitu juga dari PMI, Dep Sosial, Dep Kesehatan, dsb. Bantuan-bantuan dari mereka cepat datang. Begitu juga uluran tangan dari rantau. Orang Minang di rantau sangat sensitif dan perduli dengan kampungnya; sehingga bantuan dari rantau segera berdatangan. Perantau Minang yang memperlihatkan keperduliannya terhadap kam-pung halamannya bukan hanya yang dari berbagai daerah di Indonesia saja, tetapi juga dari mana-mana di dunia ini, karena rantau mereka sekarang sudah rantau dunia. Melalui komuni-kasi internet, peristiwa yang terjadi pada menit yang sama bisa langsung dikomunikasikan ke seluruh penjuru dunia.
Ke depan, bagaimanapun, karena Sumatera Barat adalah daerah gempa (gempa tektonik dari laut dan dari darat), mau-pun vulkanik (karena Sumbar punya jajaran gunung berapi), perlu ada kearifan-kearifan dan kesiap-siagaan yang dibangun dari sekarang, dengan belajar kepada pengalaman masa lalu itu.
Banyak hal kita bisa belajar dari Jepang dan dari negara-negara yang juga daerah gempa. Contoh bagus yang diperlihat-kan oleh Wali Kota Padang dengan kemungkinan tsunami yang tiap saat bisa datang, patut ditiru dan diperkuat. Sebuah grand design dengan perencanaan yang matang ke depan perlu disiapkan dari sekarang, sehingga setiap unsur pemerintahan dan masyarakat di Sumatera Barat tahu tempat tegak masing-masing, dan perlu ada latihan-latihan yang dilakukan untuk setiap unsur itu dan untuk seluruh masyarakat secara frontal. Kepada pelajar-pelajar perlu diberikan pengetahuan praktis mengenai gejala alam yang namanya gempa itu sehingga mere-ka dari awal sudah siap menghadapinya kapanpun terjadinya.
Bagaimanapun, Allah mentakdirkan, Sumatera Barat ada-lah daerah gempa. Kita tidak perlu pindah dan menjauhinya, tetapi perlu kearifan dan kesiap-siagaan dalam menyesuaikan diri dengan kondisi alam tersebut. Kita hidup bersama alam yang juga punya naluri dan tingkah-polah ritmanya sendiri yang kekuatannya melebihi kekuatan akal dan budi-daya manusia kita ini. Di balik itu ada Sang Pencipta yang Maha Mengatur semuanya itu. ***

0 Responses to “GEMPA 2007 DI SUMBAR”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: