BERAPA LAYAKNYA JUMLAH PROVINSI DI INDONESIA?

JSR, No. 45, 17 April 2007

SEJAK maraknya tuntutan untuk melakukan pemekaran wilayah di banyak daerah di Indonesia selama masa Reformasi dan Otonomi Daerah ini, wajar kalau sejak itu muncul pula pertanyaan, berapa selayaknya jumlah provinsi di Indonesia, dan berapa pula selayaknya jumlah kabupaten maupun kota di masing-masing provinsi itu.
Jawab dari pertanyaan itu mau tak mau menggelitik dan bahkan menjadi obsesi bagi para anggota DPD-RI, khususnya yang menangani masalah pemekaran dan penggabungan wilayah dalam konteks otonomi daerah sekarang ini. Sebuah tim atas undangan UNDP bahkan dikirim ke sejumlah negara-negara Balkan September 2006 yl untuk melihat sampai seberapa jauh dampak dari pemekaran wilayah sebagai akibat dari buyarnya federasi Soviet Uni pasca regim Gorbachev.
Ditemukan memang banyak kesamaan di samping perbe-daan-perbedaan yang juga banyak antara motiv-motiv peme-karan di kedua wilayah negara yang sama-sama bercirikan pluralisme dalam berbagai segi kehidupan: geo-etno-religio- sosio-kultural, dsb.
Konsep-konsep alternatif bagi arah pemekaran wilayah provinsi ke masa depan juga mulai bermunculan. Apalagi semua ini dipicu bukan hanya karena tuntutan dari bagian wilayah masing-masing itu, tetapi juga dengan melihat perban-dingan dengan negara-negara tetangga di Asia Tenggara, seperti Filipina dan Thailand. Di kedua negara tetangga itu, yang luas maupun jumlah penduduknya jauh lebih kecil dari Indonesia, jumlah provinsi di masing-masing negara itu lebih dua kali lebih banyak dari provinsi di Indonesia.
Yang penting dalam menjawab pertanyaan tadi, bukan saja berapa wajarnya jumlah provinsi di Indonesia ini ke masa depan, yakni dalam menjawab tuntutan kebutuhan riel dalam pembagian kewilayahan itu, tetapi juga kriteria-kriteria dan paradigma apa yang dipakai.
Yang jelas, bagaimanapun, berangkat dari keadaan dan kenyataan sekarang, jumlah provinsi terutama di luar Jawa ke masa depan memang perlu dimekarkan. Pertama, tentu saja, dengan melihat luas wilayahnya. Kedua dengan melihat tuntutan pembangunan ke masa depan di mana wilayah-wilayah itu memerlukan outlet keluar yang lebih efektif, efisien dan produktif. Ketiga dengan pemekaran menumbuhkan kagairahan baru dari daerah-daerah yang selama ini jauh dari jangkauan, sekarang bisa berbuat dan bertindak dengan lebih lincah dan bergairah karena memiliki wewenang dan otoritas sendiri. Yang muncul juga adalah rasa percaya diri dan jati diri.
Berangkat dari pembagian wilayah yang ada sekarang, yang secara keseluruhan masih warisan dari pembagian wilayah di zaman kolonial dahulu, paradigma ataupun parameter yang dipakai sendirinya sudah harus ditingkatkan. Dahulu pemba-gian provinsi terutama hanyalah melalui jalur pembagian etnis dan sosio-kultural. Pemerintah Belanda merasa lebih nyaman untuk menghadapi kelompok-kelompok etnik secara satu per satu di wilayahnya masing-masing daripada yang digabung-gabung. Apalagi bahagian dari taktik dan strategi pelestarian penjajahan tidak lain dari “pisahkan dan kuasai” (divide et impera).
Sebagai pancingan, kita bisa mulai dengan melihatnya dari Timur, lalu ke Barat. Pulau Papua sebagai sebuah kesatuan geografis sejak semula sudah terbagi dua: Papua Nugini dan Papua RI. Wajar kalau di antara kedua bagian ini ada hubung-an-hubungan mutual secara sosio-kultural dan bahkan ekono-mi dan perdagangan ditingkatkan ke masa depan. Perbatasan ke masa depan bisa diartikan sebagai “pintu gerbang” untuk melakukan kerjasama dan pertukaran yang saling bermanfaat daripada diartikan secara militer dalam artian penjagaan batas wilayah.
Papua RI sendiri, yang namanya sudah tiap kali berubah sejak zaman awal kemerdekaan dahulu, sekarang ini sudah terbagi dua: Papua Barat dan Papua. Secara nomenklatur-klasifikatoris lucu pemberian nama ini. Mestinya ‘kan Papua Barat dan Papua Timur, karena memang demikian halnya secara geografis. Tetapi Papua Timur disebut Papua (saja). Ada kerancuan penamaan di sana. Sebab Papua Barat pun adalah juga Papua.
Untuk Papua RI ke depan sewajarnya dimekarkan lagi menjadi tiga wilayah Provinsi: Papua Timur, Papua Barat dan Papua Selatan. Kontur geografisnya juga memperlihatkan dan mengharuskan demikian.
Untuk Maluku juga wajar sekali kalau juga dimekarkan menjadi tiga Provinsi: Maluku Utara, Maluku Tengah dan Maluku Selatan. Provinsi Maluku yang sekarang dengan ibu-kota Ambon, wajar kalau dimekarkan menjadi Provinsi Maluku Tengah dengan ibukota Ambon, dan Maluku Selatan dengan ibukota Tual. Dengan perubahan paradigmatik pemba-ngunan ke masa depan, khususnya di wilayah Timur, yaitu pergeseran dari ekonomi agraris dengan mengikuti pola Indo-nesia bagian Barat ke ekonomi maritim-kelautan yang menjadi ciri utama dari Indonesia bagian Timur, maka wajar jika di-munculkan kesatuan perairan Maluku Selatan dengan potensi kelautannya yang luar biasa besarnya.
Sulawesi dengan penambahan Sulawesi Barat sekarang dan Sulawesi Timur yang sedang dipersiapkan, semuanya men-jadi tujuh Provinsi: Provinsi Sulut, Provinsi Gorontalo, Pro-vinsi Sulawesi Tengah, Provinsi Sulawesi Timur, Provinsi Sulawesi Barat, Provinsi Sulawesi Selatan dan Provinsi Sulawesi Tenggara.
Bali, NTB dan NTT di wilayah Nusa Tenggara (dahulu istilahnya Sunda Kecil) kiranya bisa dipertahankan tanpa pe-mekaran lagi. Sementara Jawa pun juga demikian.
Jawa yang sekarang sudah dimekarkan menjadi enam Provinsi: Banten, DKI, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogya-karta dan Jawa Timur, kiranya juga bisa dipertahankan. Pemi-kiran untuk memekarkan Madura menjadi provinsi tersendiri, kelihatannya dari segi geo-sosio-kultural dan pun ekonomi sukar diwujudkan, karena katerkaitan dan sekaligus kesatuan-nya dengan Jawa Timur sukar dielakkan. Lebih dari separoh etnik Madura tanah-airnya juga di Jawa Timur, terutama di jajaran pesisir dari Gresik, Surabaya sampai Pasuruan dan Banyuwangi.
Pun juga pemikiran Cirebon mau melepaskan diri dari Jawa Barat yang sekarang sudah mewacana kelihatannya belum cukup fisibel maupun viabel, karena ketergantungan dan keterikatannya yang kuat sekali dengan Jawa Barat.
Kalimantan yang begitu besar dan luas, wajar kalau ada pemikiran untuk membagi dua wilayah provinsi Kalimantan Timur menjadi dua: bahagian Samarinda ke Utara dan Sama-rinda ke Selatan, dengan nama dan pembagian wilayah yang barangkali masih harus dicari dan dimantapkan. Pun juga Kalimantan Barat yang juga bisa dibagi menjadi Pontianak ke Utara dan Pontianak ke Selatan, juga dengan nama dan pembagian wilayah yang juga masih harus digagaskan.
Sumatera dengan gugusan kepulauannya kelihatannya ke depan juga perlu dimekarkan lagi dengan orientasi outlet dan pengembangan ekonomi, industri dan perdagangan yang lebih menjawab tantangan masa depan. Sekarang ini orientasi outlet yang sudah efektif baru yang mengarah ke Selat Melaka, se-mentara yang mengarah ke Lautan Hindia di bagian Barat masih potensial dan belum berfungsi secara efektif.
Ada tiga pronvinsi yang kelihatannya perlu dimekarkan, selain dari gugusan pulau-pulau di pantai Barat yang juga perlu dipikirkan untuk disatukan menjadi satu provinsi tersendiri. Ketiga provinsi dimaksud ialah Provinsi Sumut, Jambi dan Sumsel.
Provinsi Sumatera Utara orientasinya selama ini terfokus ke Timur, ke Medan dan Selat Melaka, sehingga Tapanuli menjadi daerah hinterland yang posisi dan peranannya menjadi marginal. Begitu juga dengan Jambi yang orientasinya ke kota Jambi dan Selat Melaka, sehingga daerah Kerinci dan Bungo-Tebo menjadi daerah landlocked tanpa outlet ke pantai Barat. Sama halnya dengan Sumsel yang orientasinya ke Palembang dan Selat Melaka dengan daerah Musi-Rawas dan daerah bagian Barat lainnya menjadi daerah landlocked tanpa outlet ke pantai Barat. Pada hal daerah kabupaten/kota di bagian Barat ini, baik di Provinsi Jambi maupun Sumsel punya SDA yang sangat potensial dan kaya, baik dari yang telah maupun yang akan dikembangkan.
Untuk Sumatera khususnya ada faktor gugusan pegu-nungan Bukit Barisan yang secara geografis-topografis dan ekologis membelah pulau Sumatera ini menjadi belahan Timur dan Barat; Timur yang dataran rendah dan Barat yang dataran Tinggi dengan dataran rendah yang sempit dan memanjang di sepanjang pulau.
Dengan berorientasi pada outlet komoditi dan penye-baran pusat-pusat pertumbuhan yang lebih merata, di samping Tapanuli yang wajar sekali kalau jadi provinsi tersendiri, Jambi dan Sumsel perlu membagi diri antara yang berorientasi ke Timur ke Selat Melaka dan berorientasi ke Barat ke Lautan Hindia.
Agar daerah Kerinci dan Bungo-Tebo di Jambi dan daerah Musi Rawas dll di Sumsel terlepas dari keterbelitannya sebagai daerah landlocked dan bisa berorientasi outlet ke pantai Barat, perlu dilakukan regrouping dan rearrangement pembagian wilayah dengan provinsi tetangga. Untuk Kerinci dan Bungo Tebo, agar memiliki outlet ke pantai Barat, ada bagian selatan dari Kabupaten Pesisir Selatan dari Sumatera Barat yang ber-gabung ke Provinsi Kerinci Bungo-Tebo yang baru, dengan poros Bungo-Sungai Penuh-Air Haji.
Untuk Musi-Rawas dan bagian barat lainnya dari Sumsel, agar mendapatkan outlet ke pantai Barat, provinsi Bengkulu perlu pula berlapang dada memberikan kabupaten bagian utara Muko-Muko ke provinsi yang baru itu. Bagaimana persisnya pembagian ini dilakukan dengan memperhatikan berbagai-bagai faktor itu tentu saja harus diawali dengan survei-survei geo-fisikal dan kultural yang cermat, dengan mengedepankan kepentingan nasional di atas dari kepentingan daerah masing-masing. Ini karena pembagian wilayah provinsi ke masa depan tidak hanya terpaku kepada garis etnik dan sosio-kultural semata tetapi juga kepada pertimbangan kepentingan nasional yang lebih luas itu.
Dengan demikian, seiring dengan dibukanya Kanal Kra di bagian Selatan Thailand nanti, jalur perairan samudra pantai Barat pulau Sumatera dari Eropah, Timur Tengah, India, ke Australia sudah punya alternatif baru, yaitu melalui jalur Pantai Barat Sumatera itu. Jalur pantai Timur Sumatra diharapkan akan tetap ramai karena untuk menuju ke Indonesia bagian Timur dan juga alternatif lain ke Australia tetap melalui jalur Selat Melaka itu.
Tinggal melihat fisibiliti dan viabiliti dari gugusan kepu-lauan di pantai Barat Sumatera dari Simelu ke Nias, Mentawai dan Enggano di Selatan menjadi satu provinsi tersendiri ketika pantai Barat sudah mulai ramai dan hubungan perdagangan ke Afrika dan Eropah juga meningkat. Gugusan Riau Kepulauan dan Bangka Belitung kelihatannya tinggal pemantapan.
Dari rangkuman berikut kita bisa melihat kira-kira arah dari pemekaran wilayah Provinsi yang bisa kita kembangkan dalam jangka 10-20 tahun ke depan:

Gugus Provinsi Sekarang Provinsi Tambahan
Papua
(dari 2 jadi 3) Papua
Papua Barat +Papua Selatan
Maluku
(dari 2 jadi 3) Maluku
Maluku Utara +Maluku Tengah
+Maluku Selatan
Sulawesi
(dari 6 jadi 7) Sulawesi Utara
Gorontalo
Sulawesi Tengah
Sulawesi Barat
Sulawesi Selatan
Sulawesi Tenggara +Sulawesi Timur
Nusa Tenggara
(tetap 3) NTT
NTB
Bali
Jawa
(tetap 6) Banten
DKI
Jawa Barat
DI Yogyakarta
Jawa Tengah
Jawa Timur
Kalimantan
(dari 4 jadi 6) Kalimantan Timur
Kalimantan Selatan
Kalimantan Tengah
Kalimantan Barat +Menjadi 2
provinsi

+Menjadi 2 Pro-
vinsi
Sumatera
(dari 10 jadi 14) Aceh
Sumut
Riau
Riau Kepulauan
Sumbar ]
Jambi ]
Sumsel

Babel
Bengkulu

Lampung
+Provinsi Tapanuli

+Prov PSK (Pesisir
Selatan-Kerinci)*
+Prov Sumsel
Bagian Barat

+Prov Kepulauan
Barat Sumatera

Dari 33 jadi 42 Sekarang 33 Tambah 9

* Bagian Selatan dari Kabupaten Pesisir Selatan (Sumbar) bergabung dengan Kabupaten Kerinci (Jambi) menjadi Provinsi PSK, yang dengan itu bagian barat Provinsi Jambi memiliki oulet ekspor ke pantai barat.

Dari arahan tersebut kita punya pedoman bagaimana me-mekarkan wilayah provinsi dari 33 yang ada sekarang menjadi 42 dalam jangka waktu 10-20 tahun ke depan. Bahwa ada pertimbangan ataupun wacana lain-lainnya tentu saja sangat terbuka untuk didialogkan. ***

0 Responses to “BERAPA LAYAKNYA JUMLAH PROVINSI DI INDONESIA?”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: