ADAT, AGAMA DAN PLURALISME

Makalah ceramah di Latihan Kader II
HMI Cabang Padang
Senin, 27 November 2006

JSR, No. 16, 27 Nov 2006

ISTILAH “pluralisme” yang ramai jadi jargon pembicaraan di antara kaum intelektual muslim di Indonesia dan di dunia Islam umumnya dewasa ini, sebenarnya adalah sebuah penyusupan konseptual yang tadinya dipakai secara internal di lingkungan masyarakat Kristen di Eropah dan Amerika di abad-abad yang lalu. Mereka melihat gejala yang membahayakan dengan meruncingnya pertentangan di antara sekte-sekte dan denominasi gereja, baik antara Protestan dan Katolik di satu pihak maupun dan khususnya di antara sekte-sekte dalam agama Protestan yang jumlahnya sampai ratusan.
Dengan pluralisme lalu semua itu dianggap dan diperla-kukan sebagai sama, dan dengan itu diharapkan pertentangan akan menjadi mereda, dan berganti dengan saling harga menghargai dan hormat menghormati. Dengan ekspansi mereka ke dunia non-Kristen di Asia dan Afrika, dan khususnya ke dunia Islam, dalam bentuk penjajahan politik maupun ekonomi, sendirinya mereka memerlukan kekuatan yang didasarkan atas persatuan dan kesatuan dengan memini-malisasi pertentangan ke dalam di antara sesama mereka. Konsep pluralisme berarti pengakuan akan perbedaan dan keberbagaian yang di atas itu lalu menyusun kekuatan untuk menghadapi dunia luar yang harus ditaklukkan dan dikuasai.
Sekarang istilah yang sama juga ditularkan ke dunia Islam, termasuk tentunya Indonesia, yang nuansanya bukan hanya sekadar menyemaikan rasa setara di atas keberbagaian di antara sesama kelompok Islam, tetapi terutama juga di antara kelom-pok Islam dan kelompok-kelompok non-Islam dalam masya-rakat majemuk seperti Indonesia ini. Kelompok-kelompok non-Islam yang secara nominal merupakan kelompok minori-tas di tengah-tengah masyarakat mayoritas Muslim, mendapat-kan legitimasi dan tempat berpijak yang sama di semua faset kehidupan: politik, ekonomi, pendidikan, agama dan sosial-budaya.
Terhadap sesama kelompok Islam sendiri, pluralisme lalu diartikulasikan dengan melegitimasikan kelompok-kelompok marginal, seperti Ahmadiyah, Bahai, bermacam gerakan keba-tinan yang kepercayaannya banyak bertentangan dengan ketau-hidan Islam, dan tidak kurangnya gerakan liberal Islam dari kelompok intelektual muslim yang menyebarkan faham plura-lisme itu sendiri.
Di sisi lain, istilah pluralisme, atau lebih spesifik “multi-kulturalisme,” mendapatkan tanah berpijak yang kuat justeru setelah era kemerdekaan di Indonesia ini di mana pluralisme dijadikan asas dan sekaligus pilar bagi NKRI ini, yang secara khusus dilambangkan dalam filosofi kenegaraan Pancasila dan dengan motto: Bhinneka Tunggal Ika — berbagai-bagai dalam satu kesatuan. Kendati sila pertama adalah sebuah pengakuan terhadap Ketuhanan YME, namun tidaklah berarti bahwa hanya Islam saja yang diakui yang benar-benar berdasarkan kepada ajaran monotheisme yang murni, tetapi juga semua agama lain-lainnya yang walau mengakui prinsip ketuhanan YME tetapi mempunyai ada banyak tuhan-tuhan, atau bahkan dewa-dewa, pendamping, yang dalam theologi Islam dikate-gorikan sebagai syirik atau politheisme.
Dalam perkembangan selanjutnya bukan hanya agama-agama bertuhan saja yang diakui tetapi tidak kurangnya yang tidak mengenal atau bahkan mengingkari adanya Tuhan sekali-pun. Ketika Sukarno, arsitek Pancasila, sedang dalam puncak kekuasaannya, dia tidak menginginkan ada kuda “ber-kaki tiga,” yang maksudnya di samping pengakuan terhadap islamisme, nasionalisme dan sosialisme, perlu pula pengakuan terhadap “komunisme,” yang menjadi asas dari PKI.
Bayangkan, di atas dasar atau sila Ketuhanan YME juga ada pengakuan terhadap atheisme, yang tidak mengakui adanya Tuhan atau bahkan anti-Tuhan. Dalam perkembangan selan-jutnya, agama Kong Hu Chu atau Confusianisme dari etnik Cina bahkan juga mendapat pengakuan yang setara dengan agama berketuhanan YME. Pengakuan ini tidak kurangnya dipelopori oleh Gus Dur selagi jadi Presiden yang dia sendiri dianggap sebagai kiyainya para kiayai atau bahkan dianggap sebagai wali.
Dan inilah yang dinamakan dengan “sinkretisme” yang melangkah lebih jauh lagi dari semata pengakuan terhadap pluralisme itu. Dan sinkretisme justeru ditemukan dalam khazanah kebudayaan primordial Indonesia sendiri, khususnya yang tumbuh dan berkembang di Jawa yang kemudian mengkristal dalam ajaran “Kejawen.” Ajaran sinkretisme inilah yang kemudian disemaikan ke seluruh Indonesia di alam Indonesia merdeka ini melalui hegemoni politik dan kekua-saan. Dengan demikian antara faham pluralisme dari Barat bertemu dan saling isi-mengisi dengan faham sinkretisme yang datang dari lubuk budaya Indonesia sendiri, khususnya dari Jawa dengan ajaran kejawennya itu.
Dalam ajaran kejawen, bukan saja bahwa semua agama dianggap dan diperlakukan sebagai sama (sedaya agami sami kemawon), dan karenanya harus saling harga-menghargai akan keyakinan dan pendapat masing-masing dalam hidup saling berdampingan; orang juga bisa bertukar agama, kapanpun, sesuai dengan kehendak hati-nuraninya. Orang, bahkan, tidak harus hanya berpegang kepada satu agama tertentu saja, tetapi kepada beberapa agama sekaligus, yang arahnya bisa menjurus kepada pantheisme.
Seperti yang kita temukan prakteknya dalam masyarakat yang mengamalkan ajaran sinkretik-pluralistik dan sekaligus inklusivistik itu, orang bisa berbaur dalam satu masyarakat adat yang sama, dan bahkan dalam satu keluarga yang sama, di mana anutan agamanya bisa berbeda-beda dan bermacam-macam. Dalam sebuah keluarga, katakanlah yang berorientasi Kejawen, kakek-neneknya bisa ‘kaji’ (maksudnya haji), bapak-ibunya bisa abangan, atau Islam biasa, anak-menantu bisa ada yang muslim fundametalis, tetapi juga bisa ada yang Kristen, abangan, dsb. Tekanan dan kata kuncinya adalah pada “toleransi,” “serasi,” kebersamaan dan hidup saling rukun dan damai. Sifatnya selain pluralistik dan sinkretik adalah inklusi-vistik, dalam arti, tidak ada yang dikecualikan atau dipinggir-kan. Semua diperlakukan sebagai sama dengan yang lainnya.
Yang terkooptasi dengan ajaran pluralisme cum sinkre-tisme itu bukan hanya wilayah agama dan kebudayaan tetapi juga wilayah politik dan ekonomi yang termanifestasi dalam konsep nasionalisme dengan jargon NKRInya dan dalam struktur dan sistem ekonomi yang memungkinkan dimasuki dan kemudian dikuasainya ranah ekonomi negara ini oleh kelompok konglomerat etnik non-pri yang berkolusi dengan kelompok kapitalis global multi-nasional (MNC) dan direstui atau bahkan dilindungi oleh kelompok elit kekuasaan, sivil maupun militer. Ketiga kelompok: konglomerat non-pri, kapitalis MNC dan elit kekuasaan alias pejabat inilah yang selama masa-masa post demokrasi liberal sejak akhir 1950-an sampai saat ini yang menguasai dan mengendalikan politik dan ekonomi Indonesia ini.
*
Bagaimana yang lainnya? Secara keseluruhan, masyarakat yang berbilang suku-bangsa atau masyarakat multi-kultural Indonesia ini, bisa dibagi dua, yang istilah saya adalah: yang berpola J dan yang berpola M. Yang menganut faham sinkretik-pluralistik-inklusif ini, khususnya adalah (dari antara) suku Jawa dan Batak. Sementara yang menganut faham lawannya, yaitu sintetik-monotheistik-eksklusif adalah suku-suku Melayu, yang tersebar luas di seluruh Nusantara, yang wilayahnya termasuk Malaysia, Kalimantan Utara, Filipina Moro dan Pattani di Thailand Selatan. Suku Minang, yang adalah suku Melayu, bahkan dianggap sebagai sokogurunya dalam hal filosofi yang berpola M (Melayu, Minang) ini.
Berbeda dengan kelompok yang berfaham sinkretik-pluralistik-inklusif di atas, kelompok suku-suku Melayu yang berfaham sintetik-monotheistik-eksklusif itu hanya percaya kepada satu agama, dan satu agama tertentu, yaitu Islam. Dengan diterimanya Islam sebagai agama satu-satunya itu maka anutan kepercayaan lain-lain sebelumnya dibuang dan dijauhkan dari pengkontaminasiannya secara theologik terha-dap agama baru itu, yaitu Islam. Proses pembersihan dan pemurnian aqidah-keimanan karenanya harus dan terus-menerus dilakukan.
Orang Melayu, karenanya, adalah orang Islam. Dia, sebagai konsekuensinya, bukan lagi Melayu, atau berhenti jadi orang Melayu, kalau berpindah agama, karena alasan apapun. Sebaliknya, orang bukan-Melayu, katakanlah dari keturunan Cina, Keling, atau apapun, masuk Islam, akan diperlakukan sebagai orang Melayu, dan diterima dalam masyarakat Melayu sebagai orang Melayu, karena dia Islam. Kasus-kasus seperti ini banyak ditemukan di mana suku Melayu bergaul dengan suku-suku bukan-Melayu, seperti di Malaysia, Singapura dan Indonesia sendiri. Anak-anak perempuan sebagai anak perta-ma yang dilahirkan dari keluarga Cina, karena adatnya mengu-tamakan anak laki-laki sebagai anak pertama, suka diserahkan kepada keluarga Melayu untuk diambil sebagai anak pungut. Anak ini diasuh oleh keluarga Melayu, diperlakukan sebagai anak sendiri, dan jadi anak Melayu, dengan pakaian dan perangai Melayu, walau berdarah dan berparas Cina.
*
Islam, bagaimanapun, membedakan antara aqidah dan pergaulan sosial antar berbagai ummat dan berbagai anutan kepercayaan di muka bumi ini. Islam memberikan penggarisan yang sangat jelas mengenai ini, yang intinya adalah: sejauh yang ada kaitannya dengan aqidah, tidak ada kompromi. Prinsipnya jelas dan sederhana: Sami’nā wa atha’nā. Kami dengar dan kami patuhi. Dengan demikian, pilih satu dari dua: Iman atau Kufur. Titik. Pemurnian aqidah karenanya di atas dari semua-semua.
Monotheisme Islam tidak ada tawar-menawar. Kalau Anda memilih Islam, buang semua yang lain-lain itu. Mono-theisme Islam adalah eksklusif, tidak inklusif. Tidak boleh terkontaminasi oleh ajaran politheistik dan syirik apapun. Kehadiran Islam justeru adalah untuk memurnikan ajaran ketauhidan monotheistik dari tradisi Ibrahim itu. Funda-mentalnya digariskan dengan sangat jelas sekali dalam Surah 112: Al Ikhlāsh, dan keseluruhan isi Al Qur`an dan Al Hadist. “Katakanlah: “Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang-pun yang sama dan setara dengan Dia.” (112:1-4).
Namun secara sosial dan sosial-budaya, masalahnya lain lagi. Yang dikedepankan oleh Islam justeru adalah ajaran tasāmuh (toleransi) –saling kenal-mengenal, hormat-menghor-mati, kerja sama, tolong menolong, dengan siapapun sesama manusia, di muka bumi ini– tanpa mengorbankan aqidah dan kepercayaan yang dianut masing-masing. “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (Al Ĥujurāt 49:13).
Secara konseptual, karenanya, Islam itu hanya satu, yaitu yang simpul dan sumber ajarannya ada dalam Al Qur`an dan Al Hadist itu. Sementara pengejawantahan dan implementasi kulturalnya bisa berbagai, tergantung kepada latarbelakang budaya dari si penganutnya. Itu pula yang menyebabkan kenapa Islam di Aceh, di Minangkabau, di Jawa, di Bugis, di Arab, dsb, berbeda-beda penampilan sosio-kulturalnya walau Islam sebagai agama hanya satu. Yang membedakannya itu adalah manifestasi kebudayaannya, sementara inti hakikat aqidah dan kepercayaannya tidak berbeda.
Manifestasi budaya dari sesuatu agama sangat tergantung kepada bagaimana agama itu memasuki sesuatu masyarakat atau suku-bangsa tertentu, kapan dan dalam situasi apa, dan bagaimana suku bangsa itu menerima dan memahaminya. Orang lalu membedakan antara agama sebagai kepercayaan dan agama sebagai manifestasi budaya. “Islam,” sebagai dikatakan oleh seorang orientalis, HAR Gibb, “is not just a religion, it is a complete set of live.” Tergantung kepada aspek dan dimensinya, pada pelataran mana kita bicara dan melihatnya.
Seperti di tanah kelahirannya juga, di semenanjung Ara-bia, Islam muncul ke dunia di tengah-tengah masyarakat yang sudah berbudaya, dan dibentuk oleh tradisi budaya yang ren-tetannya sudah panjang ke belakang. Islam lalu memakaikan dua pendekatan yang berbeda, sejalan dengan naluri keaga-maannya itu, yaitu, di satu sisi, merubah sistem kepercayaan yang semula bisa bermacam-macam, sekarang harus seluruh-nya murni monotheistik, dan membuang semua yang tidak sejalan dengan itu. Sementara di sisi lain, Islam bertoleransi dengan adat kebiasaan dan nilai-nilai budaya yang diterima secara turun temurun tetapi yang tidak bertentangan dengan prinsip aqidah islamiyah. Islam bahkan menganggap adat itu sebagai “muĥakkamah,” dapat memutus dan menjatuhkan hukum, jika saja sejalan dan tak bertentangan dengan Islam.
Islam dalam banyak hal bahkan memperkaya adat dan budaya itu. Lihatlah dari apa yang dilakukan oleh Islam dalam ekspansinya ke negara-negara di Asia, Afrika dan Eropah, dan ke Amerika serta Australia sekarang ini. Sifatnya adalah memelihara yang baik-baik dari budaya masyarakat yang ditemuinya dan bahkan mengembangkan dan memperkayanya. Orang hanya diingatkan dengan pusat-pusat kebudayaan Islam di Spanyol, di Afrika Utara, di Baghdad, di Turki, di Iran, di India dan di Cina, di mana Islam tidak bersifat membabat, meruntuh yang telah ada, tetapi memelihara dan melanjut-kannya – sejauh tidak ada kait-mengait dengan masalah aqidah atau tidak bertentangan dengan aqidah. Prinsip Islam yang berkaitan dengan adat dan budaya ini adalah: menerima yang baik dari manapun datangnya, membuang yang buruk dari manapun pula datangnya. Dalam keuniversalannya Islam bahkan tidak mengenal ada Timur ada Barat (lā syarqiyah wa lā gharbiyah: An Nūr 35) karena kedua-dua itu adalah kepunyaan Allah. Islam lalu menyatakan diri sebagai raĥmatan lil ‘ālamīn rahmat bagi sekalian alam.
Persentuhan antara adat dan agama (Islam) seperti di Minangkabau telah mengalami proses panjang yang sampai hari ini kelihatannya belum selesai. Namun prinsip dasarnya telah didudukkan, yaitu seperti yang diungkapkan dalam jargon terkenal: ABS-SBK: Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Dari sana jelas bahwa hubungan antara adat dan agama tidaklah bersifat horizontal tetapi vertikal, dengan agama dan kitabullah sebagai rujukan, sementara adat menye-suaikan diri dengan agama atau syarak itu. Adat lalu dibagi dua: adat islamiyah dan adat jahiliyah. Adat islamiyah adalah yang sesuai dan sejalan dengan Islam, diterima, dan adat jahiliyah yang tidak sesuai dengan Islam, ditolak atau dibuang.
Bermacam anomali dalam praktek pelaksanaannya dalam perjalanan waktu sudah barang tentu terjadi. Namun setiap kali terjadi konflik antara adat dan agama maka secara konseptual yang dimenangkan adalah agama, karena agama diakui sebagai bertangan di atas; apalagi kalau itu berkaitan dengan prinsip-prinsip dasar yang juga menyentuh wilayah aqidah.
Dalam rangka usaha pemurnian aqidah Islam berhadapan dengan unsur-unsur budaya primordial dan adat jahiliyah pra Islam yang rata-rata berbau animistik dengan sedikit-banyak juga terkontaminasi oleh unsur-unsur Hindu-Buddha yang juga merembet masuk melalui pintu-pintu istana kerajaan di sepanjang hiliran-hiliran sungai di masa lalu, berbagai gerakan pemurnian telah terjadi. Bermula dari gerakan Paderi di awal abad ke 19 yang berupaya memurnikan kembali ajaran tauhid, dengan menghilangkan segala macam syirik, khurafat dan bid’ah, dan berlanjut sampai ke sepanjang abad ke 20, dan bahkan sampai saat ini.
Adat dan agama bisa berintegrasi dalam perpaduannya yang bersifat sintetik –bukan sinkretik– karena beberapa hal. Pertama karena pengakuan bahwa adat harus tunduk kepada agama, dengan prinsip ABS-SBK itu. Kedua karena adat Minang dan Melayu umumnya secara keseluruhan tidak mengandung unsur-unsur magis-spiritual tetapi semata ajaran etika yang sifatnya “berguru kepada alam,” yang artinya tidak lain adalah bahwa cara pandang adat adalah logis dan rasional, sebagaimana logis dan rasionalnya pengaturan dan hukum-hukum alam itu. Karenanya, baik adat maupun agama juga bisa berintegrasi dengan ajaran logika moderen seperti yang juga masuk ke Indonesia ini melalui jalur pendidikan yang tadinya datang dari Barat. Ketiga unsur budaya rasional inilah (adat, agama dan sains moderen) pada dasarnya yang mem-bentuk Minangkabau moderen atau Melayu moderen yang kita kenal saat ini.
Bagaimanapun kombinasi dari ketiga unsur budaya yang membentuk Minangkabau moderen itu pula yang sekarang berhadapan dengan unsur-unsur budaya sinkretik yang datang dari Jawa melalui jalur birokrasi dan politik dan jalur perja-lanan budaya nasional lain-lainnya, khususnya melalui pendi-dikan dan pembentukan budaya bangsa.
Dinamika budaya lokal Minang dan Melayu umumnya ke depan akan banyak ditentukan oleh pergumulan antar-budaya di atas yang pentasnya tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga di tingkat daerah sendiri. Sejauh ini yang terlihat adalah, tidaklah leluasa adat-adat setempat bisa memainkan perannya seperti sediakala karena daerah-daerah itu sendiri telah menjadi bahagian dari Indonesia yang lebih luas, yang politik, ekonomi, dan budayanya lebih dikendalikan dari atas secara nasional oleh kekuatan budaya yang sifatnya sinkretik dan pluralistik tadi. ***

0 Responses to “ADAT, AGAMA DAN PLURALISME”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: