SYAHRUL YUSUF ANAK ZAMANNYA

JSR, No. 12, 25 Oktober 2006
(Dimuat sebagai Sambutan
Dalam buku Syahrul Tarun Yusuf.
Alam Takambang Manjadi Guru.
Menguak Memori Kehidupan Pencipta
Lagu Minang. Jakarta, 2008 (pp. v-ix)

SYAHRUL, dengan panggilan akrabnya Tarun, lahir di zamannya. Sekarang umurnya sudah berkepala enam: 64 tahun. Masuk generasi tua, sudah. Lahir di Balingka, Bukittinggi, tahun 1942, ketika negeri ini diserbu oleh Jepang dan Belanda yang telah menjajah Indonesia selama tiga setengah abad dipaksa bertekuk lutut dan kalah perang. Situasi berganti. Dari zaman “normal” ke zaman perang: Perang Du-nia Kedua. Bukan hanya Tarun, tetapi seluruh rakyat Indone-sia ikut merasakan betapa pahit dan getirnya hidup di zaman perang, di bawah Jepang. Sekarang ini tak terbayangkan, betapa banyak rakyat waktu itu mati kelaparan. Dan kalaupun hidup, hidup compang-camping, dengan makan sekali sehari, kalau dapat. Banyak yang sembab-sembab, perut buncit, badan kurus kering, dibalut oleh kain kulit kayu tarok. Dan ini menjadi pemandangan biasa di kota-kota, karena orang desa yang jauh-jauh yang menderita lari ke kota meminta-minta atau mencari sisa-sisa makanan di tong-tong sampah. Tidur di kolong-kolong dan di los-los di pasar-pasar di mana saja. Mana yang bertahan, hidup dengan apa yang ada. Nasi dicampur dengan jagung atau ubi kayu. Dan pakaian yang lekat pun penuh dengan tuma walau sudah dicuci sekalipun. Tak ada orang yang tidak bertuma. Itu pemandangan biasa dan pengalaman setiap orang yang sudah lahir ke dunia waktu itu.
Walau tak lama, hanya tiga setengah tahun, tetapi hidup prihatin berlanjut terus dengan masuknya zaman pergolakan kemerdekaan, sampai ke ujung 40-an dan masuk ke era 50-an. Situasi mulai reda ketika kemerdekaan sudah di tangan, penga-kuan kedaulatan dari dunia internasional, dan pemimpin bangsa di bawah Sukarno-Hatta mulai membenahi kembali keadaan negeri yang tadinya morat-marit, karena perang yang berkelanjutan.
Hidup prihatin tetapi dengan semangat juang yang bergelora. Setiap anak waktu itu punya cita-cita. Ingin seperti pemimpin mereka itu. Siapapun orangnya, mereka diidolakan. Dan mereka jadi panutan. Bukan hanya Sukarno-Hatta, tetapi semua jajaran pemimpin di bawahnya, adalah idola. Dan panjang rentetan nama waktu itu yang mereka idolakan. Soalnya juga karena para pemimpin waktu itu ada di tengah-tengah mereka, dan akrab dengan mereka. Mereka para pemimpin bangsa waktu itu rata-rata, dan bahkan semua, hidup sederhana, selalu memikirkan rakyat, dan tidak, atau belum, mengenal korupsi, penyalah-gunaan wewenang dan kekuasaan untuk kepentingan pribadi, seperti yang berlaku di mana-mana sekarang ini.
Tarun melalui masa kanak-kanaknya di zaman susah seperti ini. Tetapi karenanya dia, seperti anak-anak muda lainnya, cepat matang. Diapun harus berjuang melawan semua ini. Dan mengatasi banyak persoalan, sendiri. Tarun yang menghabiskan masa kanak-kanak dan masa muda remajanya di kota Bukittinggi, memilih hidup sebagai preman. Malah “pareman tuak.” Sebuah istilah manakala anak-anak remaja bergaul sesama sendiri, bikin geng sendiri, bernyanyi bergitar-gitar menghabiskan hari, dan sempat tersentuh minuman keras. Dan entah apa lagi.
Di Minang dikenal ada dikotomi antara lepau dan surau. Keduanya melambangkan dua dunia yang berbeda. Lepau melambangkan kutub kehidupan yang berorientasi dunia, sedang surau, akhirat. Lepau dan surau adalah sebuah kontinum, di mana semua orang punya akses kepada kedua-duanya. Namun, ada memang anak muda yang lekat di lepau, menghabiskan harinya dengan main, ngobrol ke sana ke mari, begadang, judi kecil-kecil, dan, bikin repot orang kampung juga. Namun mereka adalah yang memelihara keamanan kampung dan jadi parit pagar dalam nagari. Di seberang sana ada surau tempat anak-anak muda yang sama ikut shalat, mendengarkan pengajian, dan tidur di malam hari. Tarun, jika memang sempat menyentuh minuman dan judi, seperti diceri-takan dalam buku ini, tergolong ke dalam yang berorientasi lepau. Dia masuk ke dalam kategori pareman tuak. Apalagi pengalaman jadi pareman di kota kecil Bukittinggi berlanjut pula ke kota besar Jakarta, di Pasar Baru, Senen, Tanah Abang, ketika umurnya meningkat terus, tetapi masih dalam kategori anak muda. Sebuah kehidupan keras sebagai pareman yang penuh petualangan dan ketidak pastian.
Namun, betapa banyak orang Minang, yang di waktu mudanya jadi pareman tuak, meningkat dewasa, sadar, dan beralih jadi orang siak. Bacalah riwayat ulama-ulama di Minangkabau, yang di waktu mudanya hidup seperti si Tarun itu. Tarun pun juga, kemudian, menemukan jati dirinya. Semua itu adalah akibat pergumulan dengan kehidupan yang tidak gampang. Nasib anak muda memang itu, atau hanyut, hilang tak terpintasi, atau terbilang. Satu dari yang hanyut, hilang tapi terpintasi, lalu terbilang, adalah Tarun.
Tarun tidak memilih surau, tetapi tetap lepau. Bedanya, di surau serba tak boleh, di lepau, serba boleh. Keseluruhan sajak, lirik dan bait-bait yang dia rangkum untuk lagu-lagunya tidak ada yang bersentuhan dengan surau, dan tidak berbau surau, alias agama. Semuanya larut dengan dunia lepau. Dunia berdendang-dendang, menangisi nasib, berhiba-hiba, dan sela-lu dengan kasih tak sampai, bagai si pungguk merindukan bulan. Tetapi yang menarik, tidak vulgar, malah penuh dengan kata kias, tajam tapi halus. Tidak seperti sekarang, kalau perlu tancap habis.
Beda si Tarun dengan tukang salung dan tukang rebab di mana-mana di Minangkabau, hanyalah beda steil dan nuansa masa. Tarun melakukan improvisasi dari semua itu yang pada dasarnya masih sangat tradisional dan kental Minangnya. Seni basijobang di daerah Payakumbuh, rebab di pesisir, dan saluang di pedalaman, terikat dengan kaedah-kaedah lama dalam berpantun, dan berirama, walau di sana-sini untuk pelemakkan hantaran cerita juga sengaja sekali-sekali meng-gelicik dari bait-bait yang sudah baku. Itupun juga improvisasi yang dilakukan di saat-saat yang tepat.
Kelebihan Tarun adalah karena dia muncul setelah terja-dinya konvergensi budaya yang masuk dari berbagai arah, nasional maupun internasional, dan melalui berbagai media: piringan hitam, radio, yang kemudian kaset, lalu cd, vcd, tivi, dsb, sebagai sekarang ini. Sudah barang tentu Tarun memanfaatkan semua ini yang tidak mungkin dilakukan, karena tidak ada akses, oleh seniman-seniman dunia lepau atau dunia preman sebelumnya.
Tarun muncul di saat transformasi budaya sedang terjadi di mana Sumatera Barat atau Minangkabau telah menjadi bahagian dari Indonesia yang lebih luas, malah bahagian dari budaya global yang masuk dari segala arah dan melalui berbagai media.
Di surau sendiri, di kutub yang satu lagi, juga tumbuh dunia seni yang berseberangan dengan dunia lepau. Apalagi di masa Tarun ini di Sumatera Barat berkembang sekolah-seko-lah agama yang juga memperkenalkan budaya Arab padang-pasir, dengan berkasidah-kasidah, barzanji, gambus, lengkap juga dengan tarian-tarian dengan baju-baju gamisnya. Rasanya, waktu itu, sekolah agama tidak dianggap moderen jika tidak memasukkan unsur kesenian ke dalam kurikulumnya.
Bayangkan, jarak antara INS Kayu Tanam dengan sekolah Kak Amah, Mak Adam dan Thawalib di Padang Panjang, hanyalah sejengkal berlebih, tetapi masing-masing memperlihatkan dua kutub budaya yang berbeda. Tarun jelas masuk ke dalam kelompok budaya Kayu Tanam, apalagi dia sendiri pernah bersekolah di sana. Namun, Kayu Tanam memupuk budaya seni yang mulai mengarah ke Barat, dengan instrumen-instrumen musik yang juga Barat. Dan Tarun mengambil manfaat dari orientasi Barat itu. Nyatanya, dia tidak lagi menggelar tikarnya di tepi-tepi pasar dan di lepau-lepau, di palanta, tetapi di gedung budaya dengan alat-alat bunyi yang seluruhnya Barat dan moderen. Dia beraksi dan berjoged. Artinya yang menyanyikan lagu-lagu yang dicipta-kannya, dengan kerumunan massal di gedung-gedung kesenian dan di lapangan terbuka.
Tarun memang hidup di zamannya. Zaman itu yang menciptakan dia, karenanya dia dibentuk oleh zamannya itu. Hidup berpahit-pahit dan berpayah-payah tidak hanya dirasa-kan dan dialami oleh yang tua-tua, tetapi juga oleh anak-anak dan yang muda-muda. Mereka diterpa dan sekaligus ditempa oleh susahnya hidup itu. Pengalaman yang sama tidak lagi didapatkan oleh anak-anak dan anak muda sekarang ini, walau orang tuanya rata-rata adalah hasil dari terpaan dan tempaan masa itu. Malah ada kecenderungan sebaliknya. Karena orang tua tidak sampai hati melihat anaknya seperti yang mereka alami dulu itu anak-anak mereka dimanjakan. Mereka tidak dibiarkan untuk mencari jalan sendiri. Mereka dikeloni, dimanjakan dan tahu jadi. Karenanya mereka menjadi generasi lembek, tidak kreatif dan tidak innovatif. Masuk sekolah untuk kemudian cari kerja dan makan gaji. Tak ada lagi yang namanya ciptakan lapangan kerja sendiri, selesaikan urusan sendiri, dan mandiri. Di manapun mereka bekerja mereka hanya bahagian dari mor dan sekerup dari jentera yang dikuasai oleh raksasa-raksasa, baik di swasta maupun di pemerintahan.
Tarun sebagai anak dari zamannya menelusuri jalur kehidupannya sendiri, tertatih, dan terhempas ke sana ke mari, untuk akhirnya punya pegangan hidup yang dia pilih sendiri, yaitu dunia seni sebagai penggubah lagu dan lirik lagu-lagu, yang jutaan orang menikmatinya dan dinyanyikan oleh penyanyi-penyanyi tenar: Elly Kasim, Tiar Ramon, Lim Campay, Lili Syarif, Nurseha, Nuskan Syarif, dan jutaan mulut lain-lainnya. Rekamannya diperebutkan, dalam dan luar negeri. Lagu-lagu ciptaannya tenar karena itu, walau siapa dia yang sesungguhnya baru buku Kenang-kenangan ini yang secara gamblang mengungkapkannya.
Untuk itu Tarun punya tempat sendiri dalam khazanah kebudayaan, khususnya kebudayaan Minang dalam dunia lagu dan musik umumnya. Melalui itu Minang jadi terkenal, di samping alam pikiran dengan filosofi hidup yang dalam, karena berguru kepada alam, seperti yang dilakukan oleh si Tarun itu.
Minangpun merasa beruntung dengan kehadiran Tarun di pentas budaya itu. ***

0 Responses to “SYAHRUL YUSUF ANAK ZAMANNYA”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: