SEBAB TIMBULNYA PENYAKIT MASYARAKAT Tinjauan Sosiologi Agama

Disampaikan Senin, 25 Juli 2006

JSR, No. 08, 25 Juli 2006

PENYAKIT Masyarakat (Pekat), atau istilah ilmiahnya: Patologi Sosial (Social Pathology), umurnya sudah tua, dan setua manusia itu sendiri. Bermula dari bagaimana manusia pertama, Adam, dan Hawa, terpengaruh oleh bujukan setan untuk memakan buah khuldi di surga; pada hal Allah telah melarangnya: Jangan dekati pohon itu. Sebagai sanksinya, dilemparkanlah keduanya ke dunia. Pun begitu dengan kedua anaknya, Habil yang membunuh saudaranya Qabil. Dan di sepanjang sejarah manusia ini, tidak henti-hentinya ada perang dan perkelahian, yang kalau tidak di sini, di sana, dalam ukur-an yang berbeda-beda dan dengan penyebab yang berbeda-beda, atau sama. Perang yang melibatkan seluruh dunia ini pun sudah dua kali. Perang Dunia ketiga hanya tinggal menunggu saatnya. Semua faktor yang membuahkan konflik yang ber-dampak global semua menjurus ke sana. Perang Dunia ketiga, dstnya itu hanyalah sebuah keniscayaan belaka, yang ujungnya adalah kehancuran total dari semua-semua ini: Kiamat. Kia-mat, karenanya, adalah sebuah keniscayaan, yang tidak lain adalah sebuah konklusi logis dari kumulasi sebab-sebab kehan-curan itu.
Penyakit masyarakat (pekat) ini rentangannya bersifat horizontal dan vertikal, dan saling terkait dengan sekian banyak faktor-faktor pemicunya, dari orang per orang ke rumah tangga, ke masyarakat kecil cara berkampung, ke masyarakat besar cara berbangsa dan bernegara, dan berantar-negara ukuran global. Sifatnya, seperti tadi, trans-historikal, dari dahulu sampai sekarang, dan yang akan datang secara ad invinitum. Sifatnya juga cenderung melebar, bagaikan virus atau parasit yang menjalar ke sana ke mari, dan ada di setiap negara dan di sudut dunia manapun. Karenanya pekat selain menjalar sifatnya juga endemik. Dia ada di setiap masyarakat manapun, karena dia bersarang di setiap tubuh manusia.
Coba lihat saja wujud dari perangai atau prilaku menyim-pang yang menjurus ke arah pekat itu: (-) penyalah-gunaan hak dan wewenang (substance abuse), (-) kekerasan (violence), (-) perlakuan sewenang-wenang terhadap perempuan dan anak-anak (abuses of women and children), (-) kejahatan (crime and criminality), (-) terrorisme, (-) korupsi, kolusi, nepotisme (KKN), (-) diskriminasi, (-) isolasi, (-) stigmatisasi, (-) pelang-garan hak asasi manusia (HAM), dsb.
Luas sekali rentang dan ruang-lingkupnya, yang semua itu, bagaimanapun, bersumber dari daging yang segumpal itu: hati, atau qalb, yang ada pada setiap diri manusia. Kalau hati itu bersih, kata Rasulullah, maka bersihlah semuanya itu; dan kalau hatinya kotor, kotorlah semuanya itu. Bagaimanapun, ada hati individual, ada pula hati kolektif. Hati kolektif diben-tuk oleh kesepahaman dan solidaritas dalam menyikapi sesua-tu, sehingga yang berbuat perbuatan yang sama bukan hanya orang seorang, tetapi kelompok orang, yang berbentuk spiral, dari kelompok kecil ke kelompok besar, dan besar sekali.
Ini yang menyebabkan bahwa konflik itu tidak hanya antar pribadi, tetapi antar suku, antar kampung, antar daerah, antar negara dan antar negara-negara – di samping juga antar-agama, antar ideologi, antar budaya, antar generasi, dsb. Dari segi lamanya, bisa lamaaa sekali, bisa bebuyutan, bergenerasi, dan berabad-abad lamanya. Cukup memberi contoh dengan konflik penganut tiga agama samawi yang datang dari rumpun yang sama, yaitu Yahudi, Kristen dan Islam, yang sepertinya sejak dari sononya tidak akan ada akhirnya. Karena konflik yang dimotori oleh perbedaan pandangan terhadap ajaran agama masing-masing, maka berbagai macam aksi yang keluar dengan berbagai macam bentuk itu – kekerasan, kejahatan, terorisme, diskriminasi, isolasi, stigmatisasi, pelanggaran HAM, penjajahan, perang, dsb – terjadi. Antara sesama suku-bangsa, tetapi berlainan ideologi ataupun agama, seperti Korea Utara dan Korea Selatan, Cina dan Taiwan, India yang Hindu, Budha dan Muslim, dan juga, tak kurangnya, Indonesia yang Muslim, Kristen, Hindu, Budha, Kejawen, dsb., pun terjadi. Lalu perbedaan ideologi antara komunisme-sosialisme yang Soviet Rusia dengan kapitalisme-sekularisme-demokrasi yang Ame-rika dan Eropah telah mencabik-cabik dunia sampai runtuhnya Uni Soviet karena kekeroposan ideologinya itu yang jelas-jelas utopis dan tidak realistis. Misalnya, semua orang mendapatkan jatah haknya yang sama, walau ada yang pintar ada yang bodoh, ada yang kuat ada yang lemah, ada yang miskin ada yang kaya, ada yang rajin suka bekerja ada yang pemalas, dsb. Dengan ajaran historis-materialismenya mereka lalu menafikan adanya Tuhan (atheisme) dan apapun yang ada di alam ini tercipta dengan sendirinya, katanya.
Dengan runtuhnya ideologi komunisme-materialisme yang atheis di Rusia, hukum dialektika mengatakan, harus diciptakan lawan yang baru. Dan lawan itu sekarang adalah Islam. Sekarang sedang kita saksikan bagaimana kapitalisme-sekularisme-demokrasi yang dikomandoi oleh Amerika itu mencecar dunia Islam, memerangi dan mendudukinya dan memojokkannya dengan berbagai hujatan negatif: teroris, fundamentalis, ekstrem, dsb. Ummat Islam dipecah-belah, yang mau dijadikan boneka, dirangkul, dan yang melawan, diperangi, dengan segala cara.
*
Pekat, atau penyakit masyarakat, yang populer kita pahami sekarang, yaitu aksi penyimpangan terhadap nilai-nilai dan norma-norma sosial dan keagamaan yang dianut oleh masyarakat, juga diartikan secara berbeda oleh perbedaan pandangan dalam memahaminya, baik dalam satu komunitas yang anutan agama dan ideologinya sama, apalagi berbeda. Bahwa ada perbedaan persepsi dan konotasi antara kelompok Islam dan non-Islam — terutama Kristen Protestan dan Kato-lik –, itu jelas. Tapi tak kurangnya juga di antara kelompok Islam sendiri. Ummat Islam di Indonesia sekarang ini sedang terpecah-belah, baik dalam memahami ajaran agama yang bersumber kepada Al Qur`an dan Hadist, secara tekstual, maupun dalam pengimplemtasiannya ke dalam berbagai aspek kehidupan yang beragam: ekonomi, politik, hukum, sosial-budaya, dsb, secara kontekstual.
Dengan munculnya kelompok liberalis-inklusif (JIL) yang berpusat justeru di kampus-kampus UIN dan IAIN, yang sekarang telah menjalar ke hampir semua kampus di Indo-nesia, skisma pendapat antara mereka dengan kelompok yang lebih ortodoks-fundamentalis dan moderat makin melebar dan nyaris tak bisa lagi dipertemukan. Perbedaan itu bukan lagi hanya di ranah pemahaman akan ajaran, tetapi juga di ranah pengimplementasiannya.
Dari segi pemahaman, seperti yang terjadi di IAIN Sunan Ampel, Surabaya, dan IAIN Imam Bonjol, Padang, secara demonstratif diperlihatkan, mashaf, ataupun lembaran kertas yang ditulis dengan ayat-ayat Al Qur`an, lalu dirobek dan dipijak-pijak, untuk membuktikan bahwa Al Qur`an itu bukan sesuatu yang sakral, tetapi sesuatu yang diciptakan oleh tangan manusia yang bisa dirobek, dibakar ataupun diinjak-injak. Contoh lain, seorang ibu berjilbab terlibat dalam talk show di TV dengan Gubernur Sumbar, GF, yang ibu itu menentang jilbab diperdakan di Sumbar bagi anak-anak sekolah dan pegawai negeri wanita, selain mencecar RUU Pornografi dan Pornoaksi yang sedang dibahas di DPR RI sebagai melanggar HAM dan melanggar Pancasila.
Jadi yang menghujat pelaksanaan syariah Islam terhadap orang-orang Islam sendiri adalah juga orang-orang Islam. Akan wajar dan bisa dimengerti jika yang tidak setuju itu ada-lah kelompok yang memang bukan-muslim, walau kalaupun diterapkan tidak akan mengenai mereka. Argumentasinya ada-lah, dengan diperdakannya, atau dilaksanakannya ajaran syariat Islam bagi orang Islam, NKRI ini sudah tidak berdiri netral di atas semua agama lagi, walau fakta juga menunjukkan bahwa ada sekian banyak aspek-aspek dari syariat Islam yang dilak-sanakan secara bernegara sejak dari awal usia NKRI itu sendi-ri. Lihatlah, adanya sekolah-sekolah Islam dari TK sampai universitas (termasuk IAIN dan UIN) yang dikelola di bawah penilikan, bahkan pengaturan dan biaya negara, oleh Depar-temen Agama, yang tersebar di seluruh provinsi di Indonesia ini. Adanya pengelolaan haji setiap tahun, oleh pemerintah, di samping pengaturan peradilan agama, pengaturan nikah, talaq, ruju’ (NTR), zakat, infaq dan sadaqah (ZIS), dsb. Dan sekarang juga bank-bank syariat nir-bunga dari bank-bank pemerintah, di samping bank swasta walau milik non-muslim atau non-pri sekalipun. Tak ada yang memaksa atau menyuruh kecuali pertimbangan bisnis belaka, karena bahagian besar dari nasabah adalah ummat Islam. Bank Islam atau bank dengan prinsip syirkah bagi hasil juga sekarang berkembang di dunia non-Islam sekalipun, terutama di Eropah dan Amerika.
Hard-core dari pekat itu sendiri sesungguhnya banyak yang sudah diatur dalam KUHP yang sifatnya berlaku umum tanpa memandang anutan agama. Termasuklah pengambilan hak orang lain, kejahatan dalam bentuk apapun, perjudian, narko-ba, perlakuan sewenang-wenang terhadap wanita dan anak-anak, korupsi, dsb. itu. RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi lebih ditujukan kepada segi-segi pekat yang merusak akhlaq dan merendahkan martabat manusia khususnya wanita. Yang dilarang itu adalah yang merusak, termasuk perjudian, pela-curan, lalu-lintas perdagangan wanita dan anak-anak, drugs trafficking, narkoba, berbusana tak senonoh (dengan memper-lihatkan pusar dan bagian perut lainnya oleh wanita, dsb).
Bagaimanapun, terkait dengan soal busana serta porno-grafi dan pornoaksi ini, kita harus membedakan antara yang kultural dan yang komersial. Budaya koteka di Papua, kamben di Jawa atau Bali, karena itu sifatnya kultural, mestinya dito-leransi, sementara yang dilarang adalah yang mengkomersial-kan hal-hal yang bersifat pornografi dan pornoaksi itu. Indonesia sekarang ini disinyalir sebagai negara kedua sesudah negara-negara Skandinavia tentang maraknya pelacuran, hu-bungan seks bebas di luar pernikahan, perdagangan wanita pelacur ke mancanegara, dan perdagangan anak-anak. Indo-nesia terhitung negara nomor empat tertinggi dalam hal drugs trafficking, berupa shabu-shabu, ganja, marijuana, narkoba, dsb. Indonesia juga dikenal sebagai produsen CD-CD porno bajakan yang merusak jiwa anak-anak muda dan orang dewasa sekalipun. Homosexualisme dan lesbianisme yang nyaris tak dikenal di Indonesia sebelum-sebelumnya sekarang dikenal luas. Mereka pun di samping para pelacur juga menjajakan diri di keremangan malam di taman-taman dan di night-club-night-club, café-café, di kota-kota besar. Call girls di tingkat elit di hotel-hotel berbintang, di night club, café, dsb itu juga marak yang tak kurangnya membikin sibuk taksi-taksi malam melakukan layanan jemput-antar.
Di balik semua itu adalah bisnis miliaran dollar yang dikaut oleh para pengusaha manca negara dan dalam negeri di bidang itu. Jaringan pelacuran, call girls, drugs trafficking, narko-ba, minuman keras, punya jaringan yang luas dan bergerak seperti mafia. Ini yang mau dihapus oleh UU Pornografi dan Pornoaksi itu. Dan anehnya, sebagian besar penentangnya adalah orang Islam sendiri, bahkan termasuk pemimpin Islam kaliber kakap.
Semua ini nyaris tak dikenal sampai masuknya kita ke era Orde Lama, kemudian Orde Baru dan Orde Reformasi sekarang ini. Mungkin waktu itu kita masih berfikir idealis, dan kita berpegang teguh pada norma-norma sosial dan agama yang berlaku. Tetapi setelah Orde-ordean itu sampai saat ini orang mulai berfikir materi-alistik, berfikir duit, dan berfikir bisnis, sehingga dibisniskanlah hal-hal yang tadinya bersifat tabu dan sangat menyalahi norma susila dan agama itu untuk kepentingan duit dan kekayaan diri. Maka berkolusilah dalam hal ini antara uknum-uknum pengusaha dan penguasa secara mutualis simbiotis. Pengusaha yang menjalankannya dan penguasa yang melindunginya. Dan mereka pula sekarang yang berdiri di balik upaya penggagalan RUU Pornografi dan Pornoaksi itu.
*
Dengan itu terungkaplah penyebab timbulnya penjakit masyarakat (pekat) itu. Satu karena pekat adalah bagian dari naluri manusia yang telah ada sejak semula jadi. Dia ada pada setiap diri manusia dan bersarang di kalbu kita. Allah memang memberi kepada setiap diri manusia dua senjata, senjata baik dan senjata buruk. Pekat yang bersarang pada setiap diri manusia itu adalah senjata buruknya. Sifatnya merayu dan menjerumuskan. Bayangkan, kalau tidak adalah senjata baik (husnul qulub) yang mengimbangi-nya, maka manusia akan bertukar rona dan sifat seperti binatang, bahkan lebih jahat dari binatang.
Dua, Allah menciptakan manusia dari laki-laki dan wani-ta, seperti Adam dan Hawa itu. Adam yang kekar dan kasar (maskulin), Hawa yang halus, lembut dan merayu (feminin). Rusaknya dunia ini karena si Adam tidak pandai mengontrol diri dan si Hawa yang rayuannya juga devillish. Adam dan Hawa dua-dua terjerumus karena tidak menjaga keseimbangan itu. Pada hal keseimbangan itulah yang inti dari akhlaq agama.
Tiga, dunia moderen dan dunia kuno sekalipun telah meng-komersialisasikan kelemahan-kelemahan yang ada pada diri dan naluri manusia itu. Maka muncullah bisnis multi-miliar rumah-rumah bordil pelacuran yang lengkap dengan mucikari, satpam dan algojonya yang ruang lingkupnya mancanegara. Muncullah drugs trafficking yang ruang lingkupnya juga manca-negara dengan jaringan internasional ala mafia yang rapi, yang juga berkolusi dengan alat negara di bidang keamanan, pabean, penerbangan, dsb.
Empat, semua itu juga karena kepemimpinan negara yang lemah, sehingga hukum tak jalan, kekuasaan dan wewenang disalah-gunakan, akhlaq yang tahan uji tak punya, korupsi merajalela, dan tak meletakkan diri sebagai contoh tauladan. Akibatnya: kehancuran. Betapa banyak kuburan dari negara-negara besar yang ambruk karena ulah pekat itu yang makam-nya terhampar berserakan di pelataran sejarah. ***

Catatan:
Makalah ini tidak jadi dibacakan, karena urung berangkat ke Sungai Penuh.

0 Responses to “SEBAB TIMBULNYA PENYAKIT MASYARAKAT Tinjauan Sosiologi Agama”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: