SAMBUTAN PELUNCURAN BUKU OTOBIOGRAFI SEMPENA ULANG TAHUN KE 72 ASMA MOCHTAR NAIM

Di Gedung DPD-RI
Senayan, Jakarta,
27 Juni 2006

Bapak-bapak, Ibu-ibu dan Saudara-saudara
para undangan kami yang sangat kami muliakan,

Assalamu’alaikum w.w.,

KALAU Allah mentaqdirkan,
ada saja yang menjadi penyebab
dipertemukannya dua insan yang berlainan jenis
di zaman muda-mahasiswanya,
yang kemudian lalu memadu kasih sambil berjauhan,
dan dari sana terciptalah sebuah rumah tangga,
sambil berkelana, merantau, ke manca negara,
yang sampai hari ini, sudah 44 tahun lamanya,
insya Allah, masih saja berjalan dengan mesranya,
dengan empat anak yang sekarang semua sudah dewasa,
dan berumah tangga pula,
dan telah pula menghasilkan
selusin cucu-cucu,
yang semuanya cantik-cantik, ganteng-ganteng
dan manis-manis.
Bayangkan, dari modal dua sekarang telah berkembang menjadi dua puluh:
2 modal dasar, 4 anak, 4 menantu, 12 cucu. Semua 20.

Saudara-saudara,

Faktor penyebab itu, seperti yang juga diungkapkan
dalam otobiografi dari “the second half,”
belahan hidup dari saya ini, adalah:
sama-sama terkurung di hujan lebat, di suatu senja,
lebih dari setengah abad yang lalu.
Dan tempatnya, di sebuah rumah Allah,
Mesjid Syuhada` namanya, yang terkenal itu,
di kawasan Kota Baru, di kota pelajar, Yogyakarta.

Ini si gadis mahasiswi ini, kissah ceritanya,
sambil menunggu hujan teduh, habis kuliah di mesjid itu,
sama terkurung dengan dua orang pemuda mahasiswa,
yang satu memperkenalkan diri, saya, Aziz,
Abdul Aziz Pattisahusiwa, dari Ambon,
dan yang satu lagi memperkenalkan diri pula,
saya, Mochtar, Mochtar Naim, juga dari Ambon.

Coba tu, dari pertama kali berkenalan saja sudah berbohong. Awak orang Padang, dikatakan pula orang Ambon.
Pada hal ciri-ciri orang Ambon sama sekali tak ada padanya. Tapi mungkin si gadis yang selalu berbaju kurung
dan rambutnya yang ikal,
yang biasanya bagian depannya selalu terbuka,
atau sengaja dibukakan ini, tak cepat arif.
Pada hal si pemuda-mahasiswa yang orang Padang
yang mengaku-ngaku diri dari Ambon ini,
sudah lama tahu, kalau gadis ini dari Minang,
bukan saja karena baju kurungnya,
tapi karena kurenah dan lagu-lagak gadis Minang itu
tidak bisa dijual dan dibohongi,
apalagi cantik pula, pandai bergaul,
dan terus-terang jadi rebutan sudut mata para jejaka di kampus untuk melirik, melihat, bersapaan, berkenalan
dan bergaul dengannya.

Karena hari makin malam juga, hujan tak segera teduh,
kami berdua lalu menawarkan agar si gadis
yang memperkenalkan diri dengan nama Asma,
dan panggilan As,
— padahal saya sudah tahu juga jauh sebelumnya –
menitipkan spedanya di asrama kami: YASMA,
di selatan mesjid,
sementara si dia dicarikan beca untuk pulang
ke tempat tinggalnya, jauh di Suryoputran,
dekat kraton di bagian Selatan kota.

Besok paginya kamipun mengantarkan spedanya ke rumahnya melalui alun-alun dan kraton Sitihinggil di Selatan itu.
Dan kamipun merasakan sedapnya teh hangat
yang dihidangkan
serta pembicaraan singkat ke sana ke mari.

Dan dari sana bermulalah cerita panjang
yang masih saja bersambung dan berkelanjutan sampai hari ini, yang semua ini diceritakan dalam Otobiografi
yang diluncurkan hari ini,
tepat pada hari Ulang Tahun ke 72 dari si gadis,
yang sekarang telah jadi ibu dari empat anak
dan nenek dari selusin cucu-cucu itu.

Seperti juga yang diutarakan dalam Otobiografi itu,
perlulah saya tambahkan,
ada seorang wanita hamba Allah,
kebetulan sama sedaerah,
yang kebetulan hadir bersama kita,
dan di tengah-tengah kita, hari ini,
yang ditakdirkan berperan aktif sebagai penghubung
antara si cowok yang berpura-pura jadi orang Ambon tadi
dan si cewek yang menjadi kuntum melati
di tengah kampus UII di kota Yogya itu.

Wanita hamba Allah yang saya maksud itu
tidak lain dari Uni Aisyah Aminy SH,
yang semua kita tahu
sekarang adalah seorang tokoh wanita terkemuka
di Republik ini
dan yang terpilih secara berturut-turut
selama tidak kurang dari lima kali masa jabatan
di Parlemen Republik ini.

Uni Aisyah Aminy adalah kakak kelasnya Asma
di Fakultas Hukum UII,
dan beliau adalah angkatan pertama
yang lulus dari Fakultas Hukum UII.
Sayapun, disamping mengambil kuliah di PTAIN,
cikal-bakalnya IAIN dan UIN sekarang,
dan sebelumnya di Fakultas HESP Universitas Gajah Mada, juga mengambil kuliah-kuliah di Fakultas Ekonomi UII,
yang kuliahnya kebanyakan di ruang kuliah yang sama
di Mesjid Syuhada itu,
sementara tinggalnya di asrama YASMA
pas di selatan Mesjid Syuhada itu.
Anda bisa menebak betapa mata yang sepasang ini
dari sononya sudah juga suka mencuri pandang
ketika yang diintip melalui balik kain jendela kamar
di asrama itu
tidak mengetahui ataupun menyadari sama sekali
bahwa dia sedang diintip.

Melalui Uni Aisyah inilah saya memberanikan diri
menitipkan pesan untuk disampaikan kepada Asma
akan detak jantung yang makin keras di rongga dada ini. Apalagi karena tak lama sesudah itu
saya sudah harus berangkat ke Kanada
karena saya mendapatkan fellowship
untuk meneruskan studi di McGill University, Montreal, langsung ke program Master di bidang Islamic Studies.

Kita semua tahu, di masa itu, zaman berkencan-kencan, apalagi berpegangan tangan,
bermesraan di hadapan umum seperti sekarang ini
belum lagi dikenal.
Orang menyampaikan isi hatinya biasanya melalui surat,
atau seperti yang saya lakukan,
juga minta tolong kepada orang yang dikenal, yang lebih tua.

Bagaimana cerita selanjutnya
biarlah tidak saya yang menceritakan,
karena semua ada di buku otobiografi bekas kekasih saya itu, dan yang sekarangpun tetap kekasih jua,
insya Allah sampai nyawa bercerai dengan badan.
Pokoknya cinta bersemi dan mekar justeru setelah berjauhan, dan lima tahun lamanya
ketika Asma sudah selesai kuliah di UII
dan diapun dipaketkan ke New York untuk kawin lagi di sana, kendati di kampung kami sudah dikawinkan
oleh kedua belah keluarga
tapi tanpa kehadiran seorangpun dari kami.

Saudara-saudara sekalian yang saya hormati,

Ada sisi lain yang ingin saya ungkapkan
sebelum mengakhiri ulasan saya terhadap otobiografi
dari kekasih saya ini.
Yaitu sikapnya sebagai seorang wanita.
Karena saya yang sehari-hari hidup bergaul dengannya,
sehilir-semudik, serumah, bahkan sekamar,
selapik-seketiduran, sesakit sesenang,
dan hidup bagaikan Gipsy yang berkelana
atau merantau ke sana ke mari ke berbagai belahan dunia
dan ke berbagai daerah di Indonesia sendiri,
sampai hari ini,
ada kualitas kehidupan yang kayaknya banyak wanita
tidak memilikinya.
Yaitu rasa percaya kepada diri dan memelihara marwah,
harga diri, sehingga dalam bergaul, dan bermasyarakat,
pandai benar dia menempatkan diri,
yang saya sendiri, terus-terang, jauh kalah darinya.
Bahkan di rumah pun, bukan saja anak-anak,
yang suamipun patuh kepadanya.

Sebagian, dia sendiri menceritakan, melalui upbringing,
asuhan yang didapatkan dari orang tuanya,
baik ibu, apalagi ayahnya,
yang waktu itu jarang laki-laki yang jadi ayah,
yang care, dan perduli terhadap anak perempuannya.
Apalagi, ayahnya, bapaknya, orang terpandang,
dan jadi datuk atau penghulu pula di kampungnya.

Sebagian, dia dapatkan melalui sekolah agama berasrama
di kota kecil Padang Panjang,
7 km dari kampungnya, Batipuah.
Sekolah berasrama bagi anak-anak puteri waktu itu
memang sangat menekankan akan pendidikan kepribadian dengan akhlak yang mulia,
di samping ilmu berbagai macam.
Di sekolah puteri berasrama itu merekapun diajar main musik, menyanyi, main tonil, olah raga dan senam
serta menjahit dan memasak.

Sebagian lain, tentu saja, karena posisi,
peran dan status wanita di ranah Minang
yang memang istimewa.
Kalau adalah perjuangan gender yang harus dilakukan
di ranah Minang,
maka perjuangan itu bukan wanita si Bundo Kanduang
yang harus melakukan,
tetapi si pria lelaki Minang yang statusnya adalah inferior ketimbang wanitanya.
Tugas laki-laki Minang pada dasarnya adalah melindungi, menyelamatkan, dan bahkan menyenangkan
dan menyejahterakan,
sedemikian sehingga semua apa yang ada ini
diserahkan kepada wanita: ya rumah, ya sawah-ladang,
ya emas-perak, ya semua-semua.

Tetapi sebagai konsesinya:
di Minangkabau berlaku pepatah Inggeris:
Women reign but not rule.
Wanita memegang tali kendali,
tapi tidak langsung memerintah.
Yang memerintah tetap laki-laki.
Dan efeknya dalam kehidupan rumah tanggapun
terasa sekali.
Yang menjadi breadwinner, yang bekerja di sawah, di ladang,
di pasar-pasar, di tempat pekerjaan,
tetap adalah laki-laki,
tapi yang mengatur urusan rumah tangga dan anak-anak
adalah perempuan.
Dalam rumah tangga dan pengasuhan anak,
women reign.
Sehingga si suamipun di rumah isterinya tunduk kepada isteri, walau rumah itu dibuatkan oleh suami sendiri.

Sosok yang tengah jadi sorotan kita ini
bahkan memilih untuk tidak mau jadi pegawai
atau bekerja makan gaji di luar rumah,
apalagi ketika anak-anak masih kecil-kecil,
tetapi sepenuhnya mengabdikan diri
pada urusan rumah tangga, mengasuh anak
dan menyenangkan suami.
Baru setelah anak-anak sudah pada bersekolah semua,
sang ibu cum isteri ini menyibukkan diri
dengan urusan sosial kemasyarakatan tanpa memikirkan gaji ataupun balas jasa.
Sebelas tahun jadi Ketua Umum organisasi Wanita Islam wilayah Sumatera Barat
sempat membangun puluhan (sekarang kurang esa seratus) sekolah-sekolah di pelosok-pelosok Sumatera Barat
yang jauh dari jangkauan kehidupan kota,
di samping aktif pula sebagai pengacara
di lembaga LBHI Sumbar
dalam membantu masyarakat menengah ke bawah
yang memerlukan bantuan hukum.
Itupun tanpa mengharapkan balas jasa.

Tabeat budaya atau watak budaya yang menempatkan wanita di atas singgasana kemanusiaan,
menyebabkan wanita, khususnya Wanita Minang,
tidak canggung berhadapan dengan siapapun,
apalagi kalau dihiasi pula dengan kepribadian yang tangguh, kuat dan muruah yang tinggi itu.

Dan ini semua tercermin dari belahan diri saya
yang hari ini Ultahnya yang ke 72 diperingati
dan kita peringati secara bersama-sama,
apatah lagi dengan peluncuran buku otobiografi
yang suaminya sendiri ikut asyik membacanya,
dengan bahasanya yang mengalir
dan kadang dengan gaya bertutur yang menarik.

Saudara-saudara,

Saya harus mengakhiri di sini,
walau banyak sebenarnya yang hendak saya ceritakan pula.

Saya sendiri, sekarang tengah menyiapkan buku
“Kumpulan Karangan 1960-2006”
yang terdiri dari bisa sampai 10 jilid
masing-masing lebih dari 600 halaman,
sehingga jumlah halamannya semuanya
melebihi 6000 halaman. Insya Allah.

Kendalanya sekarang ini, seperti diduga,
kelihatannya pada pendanaannya,
karena menerbitkan buku setebal 10 jilid dan 6000 halaman itu memerlukan dana yang tak sedikit.
Tapi karena kita percaya, Allah Maha Kaya,
mudah-mudahan ada saja tangan di atas
yang segera ikut turun tangan menanganinya.
Tugas kita berupaya, Allah jua yang akan menyampaikan.

Proyek penulisan lainnya yang juga sedang saya siapkan
adalah jilid ke 6, 7 dan 8, dari 10 jilid yang saya rencanakan, yaitu Kompendium Al Quran
yang diklasifikasikan secara topikal
menurut pengklasifikasian ilmu pengetahuan
cara moderen sekarang ini.
Yang sudah selesai dan sudah diterbitkan
adalah mengenai Fisika dan Geografi,
Biologi dan Kedokteran,
Botani dan Zoologi,
Hukum dan Ekonomi.
Tiga lagi yang juga siap untuk diterbitkan
adalah mengenai Kisah-kisah dalam Al Quran,
Eskatologi, yaitu gambaran kehidupan sesudah mati,
gambaran akhirat, surga dan neraka,
dan kumpulan ayat-ayat do’a dalam Al Quran.
Yang belum sama sekali adalah justeru yang paling mendsar, yaitu mengenai theologi dan etika.

Kecuali itu, kebetulan, anak kami yang tertua,
Amelia Indrajaya Naim,
sedang menyiapkan pula buku ke dua dan ketiganya,
yang insya Allah segera akan terbit.
Buku pertamanya: “Bila Hati Nurani Bicara,” best seller, terbitan Mizan.
Mana yang belum sempat membaca silahkan membacanya, dan cepat-cepat mendapatkannya.
Dari komentar yang saya dengar dari ibu-ibu di DPD ini
yang sudah sempat membacanya, mereka bilang,
rugi kalau tidak membacanya.
Ada sentuhan kejiwaan dengan bahasa yang lembut dan subtil, yang orang Barat bilang: chicken soup for the soul.
Saya lihat, kebetulan dipajang di meja sana untuk dijual.
Buku ini telah mengalami dua kali cetakan ulang.

Buku Otobiografi Mommynya anak-anak ini
saya lihat juga dijual dengan mengharapkan sumbangan
di atas harga penjualan
untuk diserahkan seluruh hasil penjualan
untuk disumbangan kepada saudara-saudara kita
yang tertimpa musibah,
entah di Yogya dan Jawa Tengah,
entah di Sulawesi Selatan ataupun Gorontalo sekarang ini, ataupun sekolah-sekolah di desa-desa terpencil
yang didirikan oleh organisasi Wanita Islam di Sumatera Barat.

Wassalamu ‘alaikum w.w.

[Teks Pidato ini ternyata tak jadi dibacakan, tapi didokumenta-sikan]

0 Responses to “SAMBUTAN PELUNCURAN BUKU OTOBIOGRAFI SEMPENA ULANG TAHUN KE 72 ASMA MOCHTAR NAIM”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: