KUSUT-KUSUT BULU AYAM PARUH MENYELESAIKAN Kearifan ‘Rang Tanah Datar dalam Menyelesaikan Kasus Perluasan Kota Padang Panjang

JSR, No. 05, 17 Feb 2006

SEJALAN dengan tugas Tim Fact-Finding PAH I DPD-RI yang ke Bukittinggi dan Lubuk Basung, Tim yang sama juga melakukan kunjungan kerja ke kantor Wali-kota Padang Panjang dan Bupati Tanah Datar di Batusangkar. Waktunya: 5-8 Des 2005.
Ada lima anggota PAH I DPD-RI yang ikut dalam Tim Fact-Finding itu: I Wayan Sudirta dari Bali, Roger Tobigo dari Sulawesi Tengah, Ishak Mandacan dari Irjabar, Subardi dari DIY, dan saya, Mochtar Naim dari Sumbar, yang kebetulan sekaligus sebagai Ketua Tim karena dianggap lebih mengetahui persoalan karena berasal dari daerah bersangkutan.
Baik di Padang Panjang maupun di Batusangkar kami diterima oleh Walikota dan Bupati dan pihak eksekutif lainnya di samping juga pihak legislatif beserta tokoh-tokoh masyara-kat. Di samping kami menjelaskan tentang maksud dan tujuan kedatangan kami, kamipun mendengarkan pokok-pokok per-soalan yang berkaitan dengan keinginan kota Padang Panjang untuk melakukan perluasan wilayah kota dan alasan-alasan yang dikemukakan. Kami lalu juga berdialog dan bertukar-pikiran tentang masalah yang dibicarakan.
Siapapun dapat memahami bahwa Padang Panjang adalah kota kecil, dengan luas wilayah yang terbatas dan dengan jumlah penduduknya pun terbatas. Karena pemerintah pusat menentukan standar minimal untuk diakui sebagai sebuah kota menurut ketentuan UU No. ……, maka jalan yang ditempuh tidak lain dari mengharapkan kepada Pemda Kabupaten Tanah Datar untuk memberikan sebagian dari nagari-nagari di sekitar Padang Panjang masuk kota Padang Panjang. Namun di nagari-nagari yang diharapkan masuk kota itu sebagian penduduknya ada yang menerima di samping ada pula yang menolaknya, masing-masing dengan alasan-alasan-nya. Kebetulan pihak Pemda Tanah Datar, baik eksekutif mau-pun legislatifnya, pada prinsipnya keberatan untuk menyerah-kan sebagian dari wilayahnya untuk diserahkan ke kota Padang Panjang itu. Kebetulan, memang, daerah-daerah yang diminta itu termasuk yang dianggap memiliki potensi SDA maupun SDM tinggi, yang dianggap oleh Pemda Tanah Datar sebagai aset utamanya.
Dari hasil musyawarah yang dilakukan secara terpisah di mana kami ikut menengahinya, kebetulan pihak Pemda Kota Padang Panjang, walau punya keinginan yang kuat agar wilayah kotanya diperluas, tetapi tidak bersifat memaksakan. Sebalik-nya malah punya rasa toleransi dan kearifan yang tinggi. Yang penting bagi Padang Panjang adalah agar rasa kesatuan dan persatuan antara Padang Panjang dan Tanah Datar tetap terpelihara baik, karena bagaimanapun, antara keduanya tidak akan mungkin dipisahkan. Kedua-duanya memiliki latar-belakang sosial-budaya dan adat yang sama. Padang Panjang sendiri adalah koto ‘rang Batipuah-Tanah Data, tempat mereka membawakan hasil bumi setiap hari pekan, berbelanja keperluan hari-hari, menyekolahkan anak-anak mereka, dan melakukan bermacam transaksi dan keperluan lainnya. Penda-patan kota sebagian besar adalah dari sana.
Yang diharapkan oleh pemda Padang Panjang adalah hubungan kerjasama yang saling bermanfaat dan saling menguntungkan dengan Tanah Datar tetap berjalan dan ditingkatkan terus. Demikian pula kelihatannya dari pihak Tanah Datar sendiri. Setelah kami turut memberikan pandang-an-pandangan bagaimana konsep kerjasama berjalan antara kota dan daerah sekitarnya tanpa harus melakukan perluasan kota, seperti halnya dengan model Yogya-Sleman dan Jakarta-Jabotabek, kedua pihak ternyata bisa menerimanya. Walikota Padang Panjang sendiri malah jauh sebelumnya telah mena-warkan konsep joint planning yang dipakai oleh kota-kota yang dicontohkan itu dengan kabupaten sekitarnya. Dan ini berarti bahwa baik pihak kota maupun pihak kabupaten dapat membangun secara bersama-sama ataupun sendiri-sendiri di tanah sebelah atas kesepakatan bersama. Sekarang saja, pemda kota Padang Panjang sedang membangun sebuah rumah sakit bertaraf internasional di bagian wilayah yang sudah masuk ke Tanah Datar. Apapun yang dibangun adalah dengan tujuan untuk kemanfaatan kedua belah pihak.
Alangkah indahnya konsep bermitraan itu, yang mudah-mudahan juga dicontoh oleh daerah-daerah lainnya di Suma-tera Barat. Dari Tanah Datar dan Padang Panjang kita mem-perlihatkan contoh kerjasama yang baik.
Kusut-kusut bulu ayam, paruh juga yang menyelesaikan. ***

0 Responses to “KUSUT-KUSUT BULU AYAM PARUH MENYELESAIKAN Kearifan ‘Rang Tanah Datar dalam Menyelesaikan Kasus Perluasan Kota Padang Panjang”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: