DENGAN BUKU MENYELAMATKAN PENDIDIKAN DI SUMATERA BARAT

JSR, No. 07, 20 Maret 2006

SUMATERA BARAT pernah dikenal sebagai daerah yang maju dalam bidang pendidikan, sehingga melebihi dan bahkan mengungguli kebanyakan daerah-daerah di Indo-nesia ini. Banyak anak-anak dari luar Sumatera Barat dahulu pergi belajar ke ranah Minang ini.
Tetapi sekarang keadaannya telah terbalik. Sejak masa Orde Baru ke mari ini kualitas pendidikan di Sumatera Barat menurun terus, sehingga sekarang Sumbar dikategorikan ke dalam kelompok daerah yang terbelakang dalam bidang pendi-dikan.
Ini adalah fakta! Dan fakta yang berbicara sendiri.
Bagaimanapun, fakta ini harus kita hadapi sebagai tan-tangan ke masa depan. Kita tentu saja tidak mau keadaan ini berlanjut terus. Kita ingin agar pendidikan di Sumatera Barat kembali maju dan berjaya sehingga generasi muda Minang dapat dengan lebih siap menghadapi tantangan ke masa depan itu. Dan ini harus menjadi tekad kita semua, dan tekad kita bersama secara ber-Sumatera Barat sebagai sesama orang Minang. Sebab, sebagai akibatnya, yang terpuruk bukan hanya di bidang pendidikan saja, tetapi juga di hampir semua bidang kehidupan. Dengan SDM yang berkualitas rendah, maka rendah pulalah kualitas kehidupan lain-lainnya.

Faktor penyebab

Ada banyak faktor yang saling terkait yang menjadi penyebab terpuruknya kualitas pendidikan di Sumatera Barat itu. Salah satunya yang utama sekali ialah karena anak-anak kita umumnya tidak membaca dan bahkan tidak suka membaca.
Mereka tidak suka membaca karena Budaya Baca tidak menjadi bahagian dari kegiatan kehidupan intelektual mereka sebagaimana halnya juga dengan kehidupan intelektual masya-rakat Minang sendiri umumnya.
Mereka tidak membaca karena buku yang akan dibaca itu betul yang tidak ada atau tak tersedia, baik di sekolah maupun di rumah, dan di tengah-tengah masyarakat sendiri. Buku-buku yang dijual di toko-toko buku harganya “selangit” sehingga ti-dak terjangkau oleh kebanyakan penduduk, terutama di ka-langan sosial-ekonomi menengah ke bawah. Karenanya buda-ya kita umumnya masih budaya bicara, belum budaya baca.
Kecuali anak-anak dari keluarga berada yang orang tua mereka mampu membelikan mereka buku, rata-rata anak-anak di Sumatera Barat tidak memiliki buku. Mereka tidak memiliki buku karena orang tua mereka tidak membelikan mereka buku. Orang tua mereka tidak membelikan mereka buku karena berbagai sebab. Salah satu dari penyebabnya tentu saja adalah karena fraktor ekonomi. Tetapi, sejelek-jelek tingkat ekonomi rakyat Sumatera Barat yang sebagian besar memang masih bersandar pada bidang pertanian tradisional dan kene-layanan, yang rokok sebungkus sehari bagi si bapak adalah sebuah kemestian, sementara si ibu selalu saja ada duit untuk pembeli lipstik atau lainnya agar bisa bergaya ke pesta-pesta kenduri, dsb.
Ini artinya bahwa perhatian terhadap pendidikan anak bisa dikalahkan oleh kebiasaan merokok, gincu bibir, dsb itu. Pada hal, dengan puasa merokok agak sebulan saja sudah bisa terbelikan buku untuk anak-anak. Ini artinya bahwa pendi-dikan di rata-rata keluarga di Sumbar memang masih ditem-patkan di prioritas bawah. Banyak yang mengira bahwa urusan sekolah dan pendidikan anak adalah urusan guru, sekolah dan pemerintah. Kewajiban orang tua hanyalah sebatas memberi anak makan, pakaian dan kebutuhan pokok lainnya.

Apa yang harus kita lakukan?

Kita perlu tanggulangi ini secara bersama-sama, di sam-ping ditanggulangi secara sendiri-sendiri dalam keluarga ma-sing-masing, jika kita memang tidak ingin dipermalukan oleh orang-orang dari suku-bangsa lainnya di Indonesia ini. Dan kitapun harus malu kepada diri kita sendiri, mengapa Minang menjadi terpuruk seperti ini, khususnya di bidang pendidikan ini.
Untuk itu kita harus mulai dengan tekad bulat kita bersama. Bahkan untuk menuju tujuan dan sasaran bersama kita, di mana perlu, tak kayu jenjang dikeping, tak emas bungkal diasah.
Untuk itu, target kita adalah: Setiap anak, dari SD, SMP sampai SMA, dan dari Ibtidaiyah, Tsanawiyah sampai ‘Aliyah, di samping sekolah kejuruan menengah lainnya, harus punya buku. Yakni buku teks yang dipakai dalam setiap mata pelajaran di sekolah di setiap tingkat pendidikan dasar dan menengah itu.
Pendataan, bagaimanapun, harus kita lakukan. Kita harus tahu berapa jumlah murid dan pelajar di semua tingkat itu di setiap daerah kota dan kabupaten dan di Sumatera Barat secara keseluruhan. Kemudian untuk hal yang sama berapa jumlah buku dan jumlah harga masing-masing dan jumlah total harga buku secara keseluruhannya, baik di tingkat sekolah, di tingkat kota dan kabupaten dan di tingkat Sumatera Barat secara keseluruhannya. Dari sana kita akan mendapatkan berapa total anak, total kebutuhan buku dan total biaya yang harus kita adakan dan tanggulangi secara bersama-sama itu.
Dari data-data yang tersedia ditemukan bahwa jumlah murid dan siswa dari SD, SMP, SMA, dari Ibtidaiyah, Tsana-wiyah dan ‘Aliyah dan dari sekolah-sekolah kejuruan mene-ngah, Negeri dan Swasta, di Kabupaten-Kota di Sumbar, serta jumlah buku dan harga buku untuk setiap tingkat adalah sbb:

Data I:
Jumlah Sekolah dan Siswa (negeri dan swasta)
Prov. Sumatera Barat (2003/2004)

Tingkat Negeri Swasta Jumlah
Seko-
lah Siswa Seko-lah Siswa Seko-lah Siswa
SD 3.902 613.476 107 21.046 4.009 634.522
SMP 392 172.841 89 12.235 481 185.076
SMA 130 80.506 73 20.367 203 100.873
SMK 41 27.029 99 26.752 140 239
Jumlah 4.465 893.852 368 80.400 4.833 920.710

Data II:
Jumlah buku dan harga buku untuk setiap tingkat sekolah,
Provinsi Sumbar, 2003/2004

Tingkat Negeri Swasta Jumlah
Buku Harga Buku Harga Buku Harga
SD
SMP
SMA
SMK

Dari data-data tersebut kita dapat mengetahui berapa total kebutuhan akan buku-buku teks sekolah diperlukan da-lam satu tahun pelajaran pada setiap tingkat dan berapa jumlah dana yang diperlukan bagi pengadaan buku tersebut.
Karena sekarang buku-buku sekolah tidak perlu lagi ber-ganti setiap tahun seperti selama ini, tetapi bisa untuk lima tahun berturut-turut, maka anggaran kebutuhan akan buku ini juga berlaku untuk masa lima tahun.

Dari mana sumber dana?

Sumber dana datang dari tiga komponen pokok: (1) dari orang tua masing-masing, (2) dari masyarakat, yang di kam-pung dan yang di rantau, dan (3) dari pemerintah.
Pada dasarnya tanggung jawab utama tetap terletak pada orang tua masing-masing. Namun yang orang tua itu adalah bagai kayu di rimba: bertinggi berendah. Dalam bentuk pira-mida sosial-ekonominya: Sedikit yang di atas, cukup banyak yang di tengah, tetapi sangat banyak yang di bawah.
Dengan prinsip: berat sama dipikul, ringan sama dijinjing, seperti yang selama ini telah menjadi filosofi dari kehidupan orang Minang juga, maka “subsidi silang” bisa dan harus kita ciptakan; dalam arti: yang kaya membantu yang miskin, yang kuat membantu yang lemah. Ini kita terapkan baik pada level orang tua maupun pada level masyarakat.
Kendati pada setiap orang tua murid/siswa dituntut agar mereka mengupayakan dengan sekuat tenaga membelikan bu-ku untuk anak-anak mereka, dalam gambaran piramida sosial-ekonomi tadi cukup banyak dari kalangan menengah ke bawah yang memang tidak mampu membelikan seluruh buku pela-jaran untuk anak-anak mereka, apalagi yang anaknya lebih dari satu yang bersekolah. Untuk itulah kelompok masyarakat yang berada dan tergolong menengah ke atas dituntut pula untuk turun tangan, dengan mengeluarkan zakat, infaq, sadaqah, dsb, dalam menang-gulangi masalah pendidikan, khususnya dalam pengadaan buku sekolah ini yang kita tanggulangi secara bersama-sama.
Berapa kekurangan dari tanggungan orang tua anak masing-masing, itulah yang menjadi tanggungjawab masyara-kat, baik di kampung maupun di rantau. Kampanye pengadaan buku dan sumbangan dana untuk buku perlu dilakukan secara luas, terus menerus, sampai jumlah buku dan dana untuk buku seluruhnya tercapai. Semua ini harus merupakan “gerakan massal” yang didukung oleh semua orang, di kampung dan di rantau.
Jika masih kurang juga, maka adalah tugas pemerintah untuk menutupi dan mencukupkannya. Untuk ini perlu anggaran tersebut dimasukkan dalam APBD, baik di tingkat Kabupaten/Kota maupun Provinsi. Dan untuk itu DPRD di Kabupaten/Kota dan Provinsi perlu mengeluarkan Peraturan Daerah untuk melegalisasikan dan memberi kekuatan hukum bagi gerakan pengumpulan dana untuk buku ini.

Bagaimana mengelolakannya?

Karena gerakan pengumpulan dana untuk pengadaan bu-ku bagi anak-anak sekolah ini adalah gerakan bersama secara ber-Sumatera Barat, maka seyogyanyalah jika pihak eksekutif (pemerintah) dan legislatif (DPRD) serta masyarakat secara keseluruhan ikut terlibat secara aktif.

Diusulkan:

– Gubernur serta Ketua DPRD adalah Pelindung di Provinsi; Bupati/ Walikota serta Ketua DPRD, Pelindung di Daerah.

– Wakil Gubernur di Provinsi, Wakil Bupati/Walikota di Daerah, adalah Penanggung Jawab Program Pengadaan Buku ini. Dinas Diknas dan Depag adalah Pengawas dan Fasilitator.

– Dewan Pendidikan di Provinsi dan Kabupaten/Kota adalah Pengarah dalam Tim-Tim Pelaksana yang dibentuk di Provinsi dan Kabupaten/Kota.

– Organisasi-organisasi massa di Sumbar dan di rantau ikut terlibat dan ikut berperan dalam Tim-Tim Pelaksana yang dibentuk: di daerah dan di rantau.

– Anggota-anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD RI) dan DPR RI menjadi Tim Koordinator di tingkat nasional bagi Program Pengadaan Buku ini.

Langkah selanjutnya

Untuk mendapatkan legitimasi serta dukungan dari pemerintah dan DPRD, seyogyanya Gubernur/Bupati/Wali-kota serta DPRD di masing-masingnya menuangkannya dalam bentuk “Program Daerah.”
Tim Pelaksana dibentuk di Provinsi dan di Daerah-dae-rah yang Penanggungjawabnya langsung berada di tangan Wa-kil Gubernur/Wakil Bupati/Wakil Walikota.
Tim Koordinator di tingkat nasional mengusahakan sum-bersumber dana dan kerjasama-kerjasama dengan berbagai pihak, nasional maupun internasional. ***

0 Responses to “DENGAN BUKU MENYELAMATKAN PENDIDIKAN DI SUMATERA BARAT”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: