ADAT DAN BUDAYA MINANGKABAU DI PERSIMPANGAN JALAN

Simposium Adat Minangkabau
di DPRD Sumbar,
21 Agustus 2006

JSR, No. 09, 21 Agustus 2006

LETAK geografis dari Kepulauan Nusantara ini tidak hanya terbentang di sepanjang garis ekuator, yang oleh Multatuli diamsalkan sebagai “untaian zamrud di Kha-tul Istiwa,” tetapi juga berada di persimpangan jalan (cross roads) dari lalu-lintas perdagangan dan budaya dunia. Dia diapit oleh dua lautan besar (India dan Pasifik) dan oleh dua benua (Asia dan Australia).
Sendirinya dia rentan terhadap berbagai macam penga-ruh. Dan karena yang datang biasanya lebih kuat dari yang menanti, maka budaya Nusantara inipun lebih banyak meneri-ma daripada memberi.
Demikianlah kita menyaksikan betapa lapisan-lapisan bu-daya itu secara kronologis telah terjadi dan membentuk budaya Nusantara ini sesuai dengan irama zamannya. Secara berturut-turut kita telah melintasi berbagai pengaruh budaya dunia: Hindu-Buddha dari India, Islam dari Timur Tengah, Kristen dari Eropah, budaya Cina dan Jepang dari Utara, dan budaya global dari mana-mana yang sedang kita hirup sekarang ini. Semua itu memberi dampak pengaruh terhadap budaya-buda-ya lokal, dan nasional, di Indonesia ini.
Budaya-budaya yang datang dari luar itu sebenarnya tidak hanya sekadar memberi pengaruh, tetapi bahkan juga ikut membentuk budaya-budaya lokal dan nasional itu. Sebaliknya, karena Indonesia sejak dari dahulu lebih banyak berupa obyek daripada subyek, maka relatif sedikit sekali kontribusi budaya yang diberikan oleh Indonesia kepada budaya dunia itu.
Dalam ukuran mikronya, demikianlah juga budaya Mi-nangkabau dan budaya-budaya lokal lainnya berada di tengah-tengah budaya dunia itu. Dia lebih banyak menerima daripada memberi dan lebih banyak jadi obyek daripada jadi subyek. Modal dasar dari budaya-budaya lokal di Indonesia ini se sungguhnya tidak lebih dari budaya primordial yang rata-rata animis sifatnya. Dengan persentuhannya dengan budaya-buda-ya luar itu maka menjadilah dia seperti yang kita lihat sekarang ini.
Hanya saja, dari cirinya, budaya lokal di Indonesia ini memiliki dua sifat yang berbeda, yakni yang satu lebih bersifat sentripetal, sementara yang lain sentrifugal. Kebetulan kedua ciri budaya ini diwakili secara par excellence oleh budaya Jawa yang sentripetal dan budaya Minang yang sentrifugal. Budaya-budaya lokal yang lebih banyak mendapatkan pengaruh dari Hinduisme-Buddhisme, dan relatif kental unsur primordial-animisnya, seperti Jawa itu, ciri sentripetalnya lebih menonjol, sementara budaya-budaya lokal yang lebih banyak mendapat-kan pengaruh dari Islam, dan sedikit Hindu-Buddhanya, seper-ti Minangkabau dan dunia Melayu umumnya, ciri sentrifugal-nya lebih menonjol.
Kedua ciri budaya sentripetal maupun sentrifugal ini per-bedaannya lebih banyak ditentukan oleh sikap penerimaannya terhadap budaya-budaya luar itu. Yang sentripetal lebih bersi-fat sinkretik, sementara yang sentrifugal lebih bersifat sintetik. Artinya, budaya sentripetal menerima pengaruh-pengaruh dari luar itu dengan memuntalnya dan menjadikannya menjadi bagian dari budaya primordial mereka tanpa ada usaha untuk mensintesiskannya. Sifatnya akomodatif tanpa merasa perlu untuk menyatukannya menjadi satu kesatuan sintesis yang baru yang terpadu. Gambarannya adalah sama dengan konsep Pan-casila dengan motto: Bhinneka Tunggal Ika yang diindonesia-kan sekarang ini. Penekanannya adalah pada keserasian dari keberbagaian dalam pengertian yang sinkretik itu.
Budaya sentrifugal seperti yang dianut oleh budaya Minangkabau dan Melayu itu, sebaliknya, lebih bersifat memi-lah-milah untuk kemudian mana yang serasi disintesiskan, mana yang tidak dikesampingkan atau dibuang. Istilahnya, yang baik dipakai, yang buruk dibuang. Artinya, mana yang baik, yang sesuai dengan nilai dasarnya, dipakai, yang buruk (yang tidak sesuai) dibuang. Sementara, nilai-nilai dasar itu universal sifatnya. Katakanlah, nilai-nilai kebenaran (nan bana nan badiri sandirinyo), keadilan, kebersamaan, kesetaraan (egali-ter), demokratis, dsb.
Melalui prinsip dasar yang bersifat sintetik dan sentrifugal inilah budaya Minangkabau dan Melayu umumnya terbentuk. Sebagaimana budaya sinkretik Jawa melihat kepada Pancasila (yang juga berarti multi-prinsip dan multi-kultural) sebagai sokogurunya, maka demikian pula budaya sintetik Minang-kabau dan Melayu umumnya melihat kepada Islam yang adalah agama tauhid sebagai sokogurunya. Dalam budaya Jawa tidak ada masalah manakala dalam satu keluarga yang sama anutan agama bisa berbagai, sementara dalam budaya Minang dan Melayu, keluar dari Islam, sebagai konsekuensi logis dari sikap budaya yang sintetik itu, berarti berhenti jadi orang Minang dan Melayu. Sebaliknya, siapapun yang masuk Islam berarti ju-ga menjadi, atau diterima sebagai, orang Minang atau Melayu.
Di Minangkabau dan di dunia Melayu umumnya, budaya Minang dan Melayu (kedua-duanya disimbolkan sebagai buda-ya M) dari asal-usulnya yang primordial kebetulan lebih berupa budaya moral-etikal-filosofikal daripada budaya yang sama tapi yang bercampur-baur dengan unsur-unsur budaya spiritual-religio-magis dalam konotasi agama dan kepercayaan seperti di Jawa (budaya kejawen atau budaya J). Persenyawaan (sintesis) dengan budaya-budaya luar bisa terjadi dalam konteks budaya M manakala prinsip dan ideologinya sama dan saling isi mengisi.
Karena itu, apa yang kita lihat sekarang sebagai sebuah sintesis segi tiga budaya: Minang (M), Islam (I) dan Barat (B) — Barat dalam artian cara berfikir yang logis dan rasional — bisa terjadi. Orang Minang dan Melayu dalam artian filosofisnya adalah perpaduan antara ketiga unsur budaya yang telah bersintesis itu. Karenanya orang tidak melihat perbenturan yang berarti antara ketiga unsur budaya itu dalam artian cara berfikir yang logis dan rasional itu. Islam datang untuk mem-berikan dasar kepercayaan, dan memberikan keseimbangan antara agama dan ilmu, antara ‘aql (akal, rasio) dan naql (wahyu, agama), antara ‘ubudiyah dan mu’amalah; sedang Barat melalui jalur sekolah dan buku-buku dan sumber informasi lainnya berperan dalam mengaktualisasikan budaya berfikir yang logis dan rasional itu. Puncak-puncak dari sintesis trilogi budaya ini tercermin dari cara dan corak berfikir dari tokoh-tokoh nasional yang pernah dihasilkan oleh bumi Minang itu, baik yang mengambil jalur umum maupun agama.
*
Sekarang, bumi M sedang terpuruk dalam proses perja-lanan sejarahnya. Berawal dari kegagalan perjuangan untuk mendapatkan otonomi yang luas kepada daerah-daerah (PRRI) di akhir 1950-an, dan lalu bertekuk lutut kepada kekuasaan pusat yang otoriter, otokratik dan sentripetal itu, budaya M yang dasarnya adalah egaliter-demokratis itu nyaris tak bangkit lagi sesudah itu. Sadar bahwa budaya M secara kebudayaan adalah alternatif lain yang sesungguhnya lebih aspiratif terha-dap tuntutan kemajuan di alam kemerdekaan dan di dunia moderen ini, budaya M seakan-akan mati angin, atau bahkan mati suri. Yang jalan lalu adalah budaya paternalistik, feodalis-tik, sentripetal, sentralistik yang bersumber dari budaya Jawa, yang mengatur keseluruhan sistem kekuasaan di Indonesia ini secara terpusat itu.
Tetapi Indonesia pun mengalami nasib yang sama: mati angin atau bahkan mati suri dalam artian kebudayaan. Kenapa? Karena sistem yang dijalankan tidak sejalan dengan tuntutan dunia moderen yang menginginkan adanya keterbukaan, prin-sip demokrasi, rule of law, kesamaan di muka hukum, keku-asaan yang terbagi secara struktural-fungsional (trias politica), adanya mekanisme birokrasi berupa checks and balances, good governance dengan etika kenegaraan yang bersifat integral, dsb. Bumi M terpuruk karena lari dari prinsip budayanya, semen-tara bumi Indonesia juga terpuruk karena kembali kepada budaya primordialnya atau lari dari aspirasi kemerdekaannya.
Kebangkitan bumi M (Minang dan Melayu), oleh karena itu, adalah juga kebangkitan bumi Indonesia, yang caranya untuk keduanya tidak lain adalah:
Satu, memenuhi semua tuntutan dunia moderen itu, dan meninggalkan semua sistem budaya primordial yang berorien-tasi despotik, paternalistik, feodalistik, otokratik, sentripetal dan sentralistik itu.
Dua, menciptakan sistem kepemimpinan yang sifatnya mem-beri contoh dan suri-tauladan yang harus dimulai dari diri sendiri.
Tiga, menciptakan sistem pengaturan secara bernegara dan berpemerintahan dengan prinsip good governance. Untuk itu diperlukan etika bernegara dan berpemerintahan yang lembut tapi tegas (gentle but firm). Dan untuk itu perlu peraturan dan ketentuan dengan sistem kontrol dan sanksi yang tegas dan jelas, tanpa pandang bulu.
Empat, menciptakan budaya sosial yang religius yang menempatkan manusia sebagai hamba Allah yang hubungan antara sesama didasarkan atas dasar kasih sayang. Untuk itu aturan-aturan yang datang dari langit perlu jadi patokan dan pedoman hidup utama sebagai berbangsa dan bernegara.
Khusus untuk budaya Minang, langkah-langkah yang perlu dilakukan, a.l. adalah:
Satu: melakukan pembetulan (rektifikasi) terhadap prin-sip-prinsip adat yang tidak atau belum serasi dengan ajaran syariat Islam. Misalnya melenyapkan dikotomi antara budaya varian Bodi Caniago (BC) dan budaya varian Koto Piliang (KP), baik yang sifatnya mendasar maupun yang aplikatif. Dikotomi dimaksud misalnya, baik pada BC maupun KP, semua anggota kaum diperlakukan sebagai sama dan sederjat, seperti yang diajarkan oleh Islam, dengan prinsip: “inna akramakum ‘indallah atqākum” (sebaik-baik manusia adalah yang bertaqwa kepada Allah). Dalam rangka meluruskan yang bengkok ini, tidak ada lagi kebiasaan seperti dalam varian KP di mana yang diangkat jadi penghulu hanyalah yang bertali darah langsung, yang kalau perlu yang belum akil baligh pun sudah diangkat. Prinsip “karambia tumbuah di matonya” dalam hal suksesi ini perlu diganti dengan prinsip “siapa yang paling patut” dalam berbagai kriteria yang diperlukan untuk menjadi pemimpin kaum.
Varian BC dan KP ini di mana perlu dilebur menjadi satu, sehingga yang membedakannya bukanlah prinsip-prinsip dasar tetapi sekadar variasi ritual-seremonialistik karena perbe-daan tempat dan latar-belakang daerah.
Dua, dalam masyarakat hukum adat Minang – artinya orang Minang yang berbudaya Minang – tidak melihat adat dan agama sebagai dua hal yang bertentangan, karena dalam Islam sendiri ada pengakuan terhadap kedudukan adat yang bahkan dikatakan sebagai “muhakkamah,” artinya mengikat, selama adat itu serasi dengan syarak. Oleh karena itulah konsep ABS-SBK yang telah disepakati bersama itu perlu ditegakkan. Bukan hanya sebagai jargon kosong tetapi perlu dijabarkan dalam paradigma-paradigma yang terukur dalam berbagai bidang kehidupan sosial dan dikuatkan secara hukum sehingga mempunyai kekuatan hukum.
Tiga, dalam rangka menegakkan syariat Islam di bumi Minang itu tidak perlu ada kebimbangan, karena, seperti yang dijelaskan oleh ahli hukum tatanegara kita, yang adalah juga Menteri Sekretaris Negara, di Unand baru-baru ini, Islam jelas-jelas adalah salah satu dari sumber hukum di negara RI ini. Apalagi syariat Islam yang dituangkan dalam bentuk Perda itu hanya berlaku untuk yang beragama Islam.
Empat, KAN yang ada di setiap nagari perlu dijadikan basis untuk pembentukan Dewan Adat di tingkat Kabupaten dan Provinsi, sehingga masalah-masalah adat juga diangkatkan ke atas pada tingkat kabupaten dan provinsi untuk hal-hal dan masalah-masalah yang memang beruang lingkup kabupaten atau provinsi itu.
Lima, adalah praktis, jika antara Adat dan Syarak tidak dipisah dalam dua dewan yang berbeda, tetapi dalam satu dewan yang sama; walau kamarnya secara fungsional berbeda, karena dalam praktek tidak mungkin masalah adat dibicarakan secara terpisah dengan syarak, dan sebaliknya.
Enam, pembelajaran adat dan syarak kepada anak-anak sekolah tidak dibatasi hanya kepada sisi kognitif ilmunya semata, seperti selama ini, tetapi terutama justeru dalam rangka pengamalannya di tengah-tengah masyarakat. Jadi ilmu yang diamalkan. ***

0 Responses to “ADAT DAN BUDAYA MINANGKABAU DI PERSIMPANGAN JALAN”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: