UPAYA PEMURTADAN DI BUMI MINANGKABAU Kata Sambutan Untuk Buku Strategi Menggiring Misionaris Ke Penjara Oleh Mat Chin Rajo Bagak

Padang, 8 Agustus 2005

BERBARENGAN dengan dikuasainya Indonesia ini oleh Belanda sejak dari awal abad ke 17 maka masuk pulalah agama Kristen — Protestan maupun Katolik–, yang dibawakan oleh zending dan missi-missi mereka dari Belanda dan Eropah lainnya. Ada daerah-daerah yang kemu-dian menjadi basis dari kekuatan mereka, seperti di Tapanuli Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Toraja, NTT, Maluku dan Papua. Mereka juga mengkonsentrasikan upaya pengkris-tenan terhadap suku-suku Dayak di Kalimantan, suku-suku Nias, Mentawai dan Enggano di kepulauan di bagian Barat Sumatera, dan suku-suku bersahaja lainnya di Papua dan Indonesia bagian Timur lainnya.
Sampai dengan dikalahkannya Belanda oleh Jepang di tahun 1942, jumlah orang Kristen di seluruh Indonesia, bagai-manapun, tidak lebih dari 5 %. Sekarang jumlah orang Kristen di Indonesia telah meningkat menjadi hampir 20 %. Mereka merencanakan, sampai pertengahan abad ke 21 ini akan meningkat menjadi separuh penduduk Indonesia. Bahagian banyak dari yang akan dikristenkan itu sendirinya adalah ummat Islam. Di sinilah letak krusial dari permasalahan pemurtadan itu, karena yang akan dikristenkan adalah dari antara orang Islam itu.
Di Sumatera Barat sendiri upaya pendirian gereja, kemu-dian rumah sakit dan sekolah-sekolah, telah dimulai sejak dikalahkannya Paderi di tahun 1830-an. Kecuali untuk orang-orang Belanda, gereja, sekolah dan rumah sakit ini juga diper-untukkan bagi para serdadu dan polisi dan anak-keluarganya yang didatangkan dari daerah-daerah Kristen di Menado, Ambon, dan Jawa yang Kristen. Juga keturunan Cina yang anak-anak mereka melalui sekolah-sekolah Kristen, banyak yang masuk Kristen. Bagi orang Cina, mereka selama ini melihat ke atas kepada Kristen dan orang Kristen, tetapi melihat ke bawah, sebaliknya, kepada Islam dan orang Islam.
Sampai dengan dikalahkannya Belanda oleh Jepang di tahun 1942, dan berlanjut sampai ke awal 1970-an di masa kemerdekaan ini, tidak terlihat ada upaya yang serius dan sistematik dari pihak gereja untuk mengkristenkan kelompok pribumi Minangkabau. Melalui proyek transmigrasi yang ditempatkan di daerah-daerah pinggiran di Pasaman Barat, Sitiung, dan Lunang Silaut di Pesisir Selatan, sejak awal 1970-an, mereka mulai menyebarkan sayapnya. Konsentrasi mereka, bagaimanapun, adalah penduduk transmigran dari Jawa. Bagai domba-domba yang digiring agar terpisah dari kelompok induknya, kelompok transmigran menjadi obyek garapan mereka. Walau masuk dengan KTP Islam dan diterima sebagai anak-kemenakan oleh para ninik-mamak di perkampungan transmigrasi itu, pihak gereja menyisipkan dari antara trans-migran itu orang-orang mereka. Orang-orang yang sebenarnya sudah Kristen itu pulalah, dengan bimbingan para pastor dan pendeta, yang memulai mendirikan tempat-tempat peribadatan mereka yang kemudian lalu berbentuk gereja. Biasanya di samping gereja merekapun mendirikan sekolah-sekolah dan poliklinik maupun panti pemuda. Merekapun berupaya mem-beli dan mendapatkan tanah-tanah yang tadinya diberikan oleh penduduk setempat berupa tanah ulayat kepada pemerintah untuk tujuan transmigrasi itu.
Di Pasaman Barat mereka berhasil mendirikan sejumlah banyak gereja, baik yang Katolik maupun Protestan, dari yang sebelumnya tidak ada satupun sama sekali. Namun di Sitiung, sejauh ini, mereka belum berhasil mendirikan gereja ataupun mengkristenkan penduduk transmigran, karena latar belakang yang berbeda dari penduduk transmigran itu. Yang di Sitiung kebetulan para transmigrannya kebanyakan berasal dari daerah Jawa Timur yang kuat Islamnya, sementara yang di Pasaman Barat banyak dari daerah Jawa Tengah yang kejawen dan longgar Islamnya. Begitu keluar dari Sitiung ke daerah Jambi, di pemukiman transmigrasi berikutnya kita akan menemukan gereja dan pengaruh gereja yang makin kuat. Suku-suku Anak Dalam dan Talang Mamak yang relatif masih hidup bersahaja di hutan-hutan di Riau, Jambi dan Sumatera Selatan sudah sejak lama menjadi incaran dari kegiatan kristenisasi.
Kristenisasi di Pasaman Barat juga diperkuat oleh masuk-nya migran baru dari suku Batak yang Kristen dari Tapanuli Utara, sementara yang sudah lama masuk sebelumnya adalah dari daerah perbatasan Mandahiling yang Muslim. Antara suku Minang dan Mandahiling di daerah perbatasan ini bahkan terjadi hubungan perkawinan dan perbauran adat dan budaya lainnya.
Penyelusupan ke tengah-tengah perkampungan Minang di kawasan transmigrasi ini biasanya dilakukan melalui layanan pendidikan dan kesehatan dan pergaulan muda-mudi. Banyak dari anak-anak Muslim di kawasan transmigrasi yang juga bersekolah di sekolah-sekolah Kristen dan orang kampungpun banyak yang memanfaatkan fasilitas poliklinik yang disediakan oleh mereka. Sejauh ini pengkristenan orang-orang Minang di daerah-daerah transmigrasi itu belum kelihatan banyak berha-sil, terutama karena konsekwensi adat dan sosial-budaya yang ditanggungkan oleh mereka yang murtad itu. Berbeda dengan di Tapanuli, di Minangkabau, dengan masuknya mereka ke agama Kristen, berarti putuslah hubungan mereka dengan keluarga dan dengan sesama. Tidak banyak masalah jika mere-ka pindah ke kota-kota di luar Sumatera Barat, tetapi adalah masalah besar jika mereka tetap tinggal di kampung ataupun di kota-kota di Sumatera Barat itu. Mereka dibuang dari keluarga dan masyarakat sepanjang adat.
Namun, merekapun melakukan segala macam upaya untuk melakukan pemurtadan terhadap suku Minang ini. Dengan mendirikan sekolah-sekolah dan rumah-rumah sakit ataupun poliklinik, seperti yang berlaku selama ini, upaya pemurtadan berjalan terus. Jika hasilnya belum sampai kepada pemurtadan secara formal, tetapi sedikitnya mereka berupaya untuk merubah cara pandang dari anak-anak Muslim yang mereka didik di sekolah-sekolah mereka itu. Mereka anak-anak Muslim ini umumnya menjadi kritis dan bahkan sinis terhadap agama nenek moyang mereka, Islam, dan sebaliknya, simpati terhadap yang berbau Kristen.
Kita sampai saat ini belum punya catatan, berapa orang dari anak-anak Minang yang bersekolah di sekolah-sekolah Kristen ini, khususnya di kota-kota di Sumatera Barat yang ada sekolah-sekolah Kristennya, yang sudah masuk Kristen. Tetapi karena keterkaitan antara adat dan syarak dalam jalinan “Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah” di bumi Minang-kabau ini, menyebabkan sukar bagi orang Minang untuk berpindah agama. Di rantau, khususnya di Jakarta dan di Bandung, konon, ada orang Minang yang sudah berpindah agama, dan bahkan ada yang jadi pendeta. Dari cerita burung kita mendengar bahkan sudah ada gereja Minang, entah di mana, di Jakarta itu. Perpindahan agama jadi Kristen oleh orang Minang di Jakarta dan kota-kota lainnya di rantau kebanyakan adalah melalui hubungan perkawinan, dari yang tadinya kawin secara Islam, tetapi kemudian dikristenkan setelah kawin dan punya anak. Tidak sedikit di antaranya juga mereka lakukan melalui hubungan seks muda-mudi di luar pernikahan, upaya pemerkosaan, minum-minum, mabuk-mabukan, dan budaya gaul lainnya.
Perkembangan sesudah 1980-an memperlihatkan gejala-gejala baru yang tak dikenal selama ini, dalam kegiatan pemur-tadan, di Sumatera Barat. Dari kasus Wawah yang menghe-bohkan itu kita mengetahui bahwa inceran utama mereka justeru adalah kelompok pelajar dan mahasiswa Muslim yang taat beragama, yang wanitanya pakai jilbab, dan bahkan, yang kemampuan akademiknya di atas rata-rata. Dengan cara-cara yang licik dan sangat tak bermoral mereka melakukan pe- nyudutan agar “domba-domba” itu tersingkir dari kelompok induknya.
Mereka juga melakukan praktek santet dan penyurupan terhadap pelajar dan mahasiswa Muslim yang taat beragama. Dalam situasi kesurupan yang sering jumlahnya sekali banyak di sebuah asrama atau pondokan pelajar dan mahasiswa muslim, yang keluar dari mulut mereka adalah ucapan aneh-aneh yang kadang tidak jelas dimengerti tetapi yang kata Yesus sering tersembur keluar.
Sebuah kasus kesurupan serupa kebetulan terjadi ketika pertemuan antara kelompok pemuka Islam dan Kristen sedang berlangsung di gedung DPRD Provinsi Sumbar yang juga disaksikan oleh pihak Kristen sendiri di samping yang Islam. Dengan sikap tenang seperti acuh tak acuh mereka menampik seluruh tuduhan yang dikemukakan oleh pihak Islam bahwa mereka melakukan cara-cara pemurtadan yang aneh-aneh itu.
Dengan meningkatnya kegiatan Kristenisasi dan upaya pemurtadan lainnya di ranah Minang di Sumatera Barat ini, sejumlah 20-an organisasi Islam sejak satu setengah tahun ke mari ini lalu membentuk sebuah organisasi bersama untuk melakukan kaunter terhadap kegiatan pemurtadan dari kelom-pok gereja ini, baik yang Katolik maupun Protestan. Organi-sasi bersama ini menyatakan dalam slogan organisasinya: “Ka-mi tidak anti Kristen, tetapi kami anti kristenisasi.” Organisasi bersama dengan nama FAKTA (Forum Kegiatan Anti Pemurtadan) ini sejak dari saat dibentuknya tgl …… diketuai oleh Sdr Mat Acin Rajo Bagak, pensiunan perwira Polisi, yang menyusun buku ini.
Apa dan bagaimana upaya pengkristenan di bumi Minangkabau ini dibeberkan secara gamblang oleh penulis dalam buku ini. Seyogyanya kita menyambut hangat dengan terbitnya buku ini. Bersama dengan brosur dan buku-buku yang diterbitkan oleh para anggota lainnya dari FAKTA, buku ini mempunyai arti penting dalam menjelaskan kepada masyarakat luas tentang kegiatan pemurtadan yang terjadi di ranah Minang ini.
Selamat membaca dan merenungkan arti serta dampak dari upaya pemurtadan di bumi Minangkabau ini. ***

0 Responses to “UPAYA PEMURTADAN DI BUMI MINANGKABAU Kata Sambutan Untuk Buku Strategi Menggiring Misionaris Ke Penjara Oleh Mat Chin Rajo Bagak”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: