SINKRETISME versus SINTETISME Renungan 60 Tahun Kemerdekaan RI

Ciputat, 17 Agustus 2005

KEGALAUAN yang terjadi di berbagai bidang kehi-dupan di Republik Indonesia selama 60 tahun mer-deka ini sesungguhnya berakar pada kegalauan cara berpikir. Kita sejak awal telah dihadapkan kepada dua pilihan di mana yang satu bertentangan dengan yang lainnya, tetapi yang kita ambil dan kita terapkan dalam kehidupan kita, baik secara bernegara maupun berbangsa, adalah kedua-duanya, walau pada lataran yang berbeda. Pada lataran ideologis-formal kita memilih faham sintetisme, dalam arti, konsep-konsep yang ada dalam pemikiran itu sendiri berjalan secara logis-rasional, dan perpaduan yang terjadi adalah juga perpaduan dari berbagai macam unsur secara logis dan rasional. Sementara pada lataran emosional, spiritual dan kultural kita menerapkan cara berfikir yang sinkretik. Sinkretisme adalah cara berfikir yang membaurkan segala macam unsur yang ada di mana yang satu bisa berbeda dari yang lainnya, atau bahkan bertolak-belakang antara satu sama lain. Yang ditekankan adalah pada kedamaian dan keserasian atau harmoni antara unsur-unsur yang berbeda-beda itu dan menghindarkan konflik.
Karena itu pula sejak awal kita secara berbangsa dan bernegara telah hidup dengan jiwa terbelah (schizofrenia), terombang-ambing antara kedua kutub budaya sintetisme dan sinkretisme itu.
Indonesia merdeka sesungguhnya adalah sebuah impian di mana sebuah sintetisme, dan bukan sinkretisme, yang di-harapkan berlaku. Artinya, hubungan dan kerjasama antara sesama dalam konteks bernegara dan berbangsa didasarkan pada hubungan dan kerjasama yang setara dan sama di muka hukum, dengan pertimbangan-pertimbangan yang logis dan rasional. Konflik tidak diredam atau disapukan ke bawah tikar permasalahan seolah-olah konflik itu tidak ada. Konflik adalah sebuah kenyataan kehidupan karena latar-belakang budaya, bahasa, suku bangsa, agama, dsb, yang berbeda-beda, yang harus dihadapi dan diselesaikan dengan pertimbangan yang logis dan rasional dan atas dasar kesetaraan di muka hukum itu.
Dalam perjalanan Republik ini ternyata bahwa nilai-nilai budaya sintetik yang logis dan rasional itu ternyata tidak berakar dalam masyarakat kita. Banyak-banyak dari nilai-nilai budaya sintetisme itu adalah barang asing yang datang dari luar, baik yang dibawa sebelumnya oleh Islam maupun selama masa penjajahan Belanda dari Barat, dan sekarang oleh dunia moderen. Masyarakat tradisional kita ternyata rata-rata tidak memiliki budaya dan nilai budaya sintetik itu. Yang kita miliki, dan berurat-berakar dalam masyarakat kita, adalah budaya sinkretik.
Seperti kita lihat dalam masyarakat tradisional kita di mana-pun di Nusantara ini, terjadi pencampur-bauran dalam kombinasi yang grotesk atau galau itu dari bermacam-macam unsur budaya, sejak dari yang masih animistis, sampai ke pengaruh Hindu-Buddha, Islam, Kristen, dan budaya moderen sekarang ini, yang di Jawa dilambangkan dengan budaya “Kejawen” itu. Dalam Kejawen, misalnya, semua agama diang-gap sama: Sadaya agami sami kemawon – pada hal dalam kenyata-annya tidak. Walau dalam Sila Pertama dari Pancasila dikata-kan: “Ketuhanan Yang Maha Esa,” tetapi semua agama yang tidak berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa sekalipun, juga diakui dan diterima. Termasuk sila-sila yang lain-lainnya, tidak ada dasar atau rujukan paradigmatik-filosofis yang sama yang diakui secara konsensus bersama. Semua terserah kepada kita masing-masing untuk menterjemahkan dan memahami-nya. Makanya ketika ramai-ramai P-4 dahulu tidak ada satu interpretasi apapun dari Pancasila itu yang boleh dianggap otentik.
Perjalanan sejarah Republik selama 60 tahun ini, dari segi latar belakang ideologi kenegaraan, bagaimanapun, dapat dibagi dua: yaitu masa sebelum diambil alihnya kekuasaan secara mutlak oleh Sukarno di tahun 1959, yaitu dengan Dekrit Presiden tgl 5 Juli 1959, dan masa sesudahnya. Dengan Dekrit itu Sukarno membubarkan Konstituante, menyatakan kembali ke UUD 1945 secara murni dan konsekwen, dan mengangkat dirinya sebagai Presiden Seumur Hidup, Bapak Bangsa dan Pemimpin Besar Revolusi.
Masa dari dikumandangkannya ke seluruh dunia Prokla-masi Kemerdekaan oleh dwi-tunggal Sukarno-Hatta pada tgl 17 Agustus 1945 sampai ke Dekrit Presiden itu adalah sesungguhnya masa di mana yang berlaku adalah filosofi kenegaraan yang sintetik. Pada waktu itu yang ditekankan adalah kemerdekaan, kesamaan hak, kesetaraan di muka hukum, demokrasi, dan konflik sebagai sebuah realita kehi-dupan yang harus dihadapi dan diselesaikan. Oleh Sukarno semua itu dianggap sebagai sebuah eksperimen yang gagal, dan karenanya Sukarno mengajak untuk kembali kepada kepribadi-an bangsa, yang isinya ternyata tidak lain dari budaya sinkretik yang ciri-ciri pokoknya adalah feodalisme, paternalisme, dan etatisme. Orientasi budayanya adalah kepada keagungan masa lalu, bukan kepada budaya demokratik yang penuh tantangan ke masa depan.
Orde Lama diganti dengan Orde Baru di bawah Suharto selama masa yang panjang (1959-1996) di mana yang bertukar hanyalah label botolnya, sementara isinya adalah anggur, atau kecap, yang sama juga.
Masa-masa di bawah Reformasi sekarang ini sesungguh-nya adalah upaya untuk kembali lagi ke filosofi kenegaraan yang sintetik, di mana yang diinginkan adalah sama seperti yang dikumandangkan di awal kemerdekaan dahulu, yakni demokrasi, hak asasi, kesetaraan di muka hukum, manajemen konflik yang bersifat logis dan terbuka, dsb.
Kaki yang satu, memang, sudah menginjak ke ranah yang bersifat sintetik itu, tetapi kaki yang lain masih berpijak di ranah sinkretik, yaitu keengganan kita untuk melepaskan diri dari keterikatan primordial kita dengan nilai-nilai budaya lama yang sesungguhnya sudah tidak cocok lagi dengan budaya kontemporer sekarang. Kita menginginkan demokrasi dan keterbukaan serta kesetaraan di muka hukum, yang bersifat sintetik, bukan lagi feodalisme, paternalisme dan etatisme yang sinkretik itu. ***

0 Responses to “SINKRETISME versus SINTETISME Renungan 60 Tahun Kemerdekaan RI”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: