KATA SAMBUTAN Untuk Buku Monografi Nagari Kamang Oleh Marwan Kari Mangkuto

Ciputat, 16 Juli 2005

YANG membedakan masyarakat tradisional dengan masyarakat moderen ialah bahwa dalam masyarakat moderen apa-apa itu dituliskan, sementara pada ma-syarakat tradisional apa-apa itu hanya diucapkan dan diingat saja. Dalam masyarakat tradisional, melalui tradisi oral itulah khazanah kebudayaan dan informasi apapun diwariskan secara turun temurun. Karenanya untuk wujud dari cerita yang sama biasa terjadi distorsi dengan versi dan interpretasi yang berbeda-beda, tergantung kepada siapa yang menceritakan dan kapan atau dalam suasana apa diceritakan peristiwa itu. Makin jauh jaraknya ke belakang maka makin kabur dan makin bervariasi cerita itu sampai ke generasi berikutnya. Biasanya antara fakta dan dongengan makin lama makin bercampur un-tuk kemudian susah dibedakan. Banyak fakta yang didongeng-kan, sebagaimana banyak dongeng yang diperlakukan atau dianggap sebagai fakta.
Dari antara masyarakat tradisional sendiri memang ada yang mengenal huruf, dan ada yang tidak. Yang mengenal huruf hanya satu-dua, sementara yang tidak jauh lebih banyak. Masyarakat yang mengenal budaya huruf sekalipun pema-kaiannya biasanya hanya terbatas kepada sekelompok penulis di lingkungan istana (kaum literati) untuk memelihara silsilah dan kebesaran dari kerajaan dan menuliskan hal-hal yang berkaitan dengan kepercayaan, agama dan segi-segi budaya lainnya. Yang rakyat biasa umumnya tidak tersentuh oleh budaya tulis-baca itu.
Dengan masuknya Islam ke Indonesia, masyarakat-masyarakat yang tidak mempunyai hurufpun dapat menuliskan tambo, kaba, cerita, silsilah, dsb, dalam tulisan Arab-Melayu. Tapi itupun, yang mengenalnya hanyalah kalangan terbatas. Di zaman Belanda, melalui ethische politiek di awal abad ke 20, pendidikan moderen mulai diperkenalkan kepada rakyat pribumi. Namun sampai hengkangnya mereka dengan masuk-nya Jepang di tahun 1942, di awal Perang Dunia ke Dua, jumlah rakyat Indonesia yang tahu tulis-baca tidak lebih dari 6 %, sementara selebihnya (94 %) masih buta huruf.
Dalam masyarakat moderen semua-semua dilakukan secara tertulis, dan budaya tulis-baca itu dianut oleh hampir semua lapisan masyarakat, dari atas sampai ke bawah, sampai ke akar rumput sekalipun. Orang atau masyarakat manapun belum akan dikatakan moderen manakala budaya tulis-baca belum menjadi bahagian yang esensial dan menentukan dari kehidupan warga dan masyarakatnya.
Dari tolok-ukur yang kita pergunakan itu, kita sudah bisa menerka kemana dan di mana letak dari masyarakat kita di Sumatera Barat dan Indonesia umumnya. Kitapun juga sudah bisa mengukur, untuk nagari seperti Kamang yang diangkat-kan di sini di mana letaknya jika budaya tulis-baca itu dipakai sebagai tolok ukur dan sekaligus sebagai pemisah antara yang tradisional dan yang moderen itu.
Secara keseluruhan kita bisa mengungkapkan bahwa Sumatera Barat, Minangkabau dan Indonesia umumnya baru mulai menapak ke era dan budaya moderen, dengan satu kaki sudah berada di dalamnya sementara kaki yang lain masih tertinggal di alam lama.

*
Monografi Nagari Kamang seperti yang ditulis oleh Sdr Marwan Kari Mangkuto ini adalah sebuah upaya untuk masuk ke dalam masyarakat moderen itu. Dengan monografi ini maka masyarakat Kamang, di manapun anggota dan warganya berada, baik di kampung maupun di rantau, serta tak kurangnya orang luar sekalipun, dapat mengetahui di mana, apa dan bagaimana dengan Kamang itu, yang sekarang tidak lagi hanya diceritakan dari mulut ke mulut, tetapi sekaligus secara tertulis.
Selama ini, dengan menyebut nama “Kamang” saja, orang akan segera terasosiasikan dengan peristiwa-peristiwa bersejarah yang menjadikan Kamang itu Kamang. Kamang memang menempati tempat tersendiri dalam sejarah Minang-kabau, dan bahkan Indonesia sekarang ini, sekurangnya sejak zaman Paderi di sepanjang abad ke 19, dengan tokoh-tokoh pahlawannya, seperti Tuanku Nan Renceh, yang berasal dari Kamang, dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di Kamang. Kamang juga dikenal dengan “Perang Kamang”nya, di awal abad ke 20 (1908), karena rakyat di Kamang menolak membayar belasting dan rodi kepada pemerintah. Kamang juga dengan semangat perjuangan kemerdekaan yasng menonjol di awal masa kemerdekaan di tahun 1945-1950. Kamang dikenal sebagai salah satu basis dari PDRI, untuk kemudian disusul lagi dengan peranan Kamang sebagai salah satu basis penting dari PRRI.
Peranan sejarah dari Kamang dalam konteks Indonesia dan Sumatera Barat atau Minangkabau memang diungkapkan di sini di samping menceritakan bagaimana asal-usul serta sejarah perkembangan dari Nagari ini, termasuk bagaimana struktur dan sistem sosialnya, adat-istiadatnya, serta lembaga-lembaga yang terkait dengan itu, sampai kita diantarkan ke masa sekarang ini dengan perubahan-perubahan yang telah terjadi sementara itu. Akan juga menarik jika tingkat perkem-bangan dalam berbagai bidang kehidupan, seperti politik, ekonomi, sosial-budaya, pendidikan, agama, dsb, diungkapkan. Pun juga, ada bagusnya jika kendala dan permasalahan-permasalahan yang dihadapi diungkap, baik yang di kampung maupun yang di rantau, sehingga bisa pula berfikir keras bagaimana membawa Kamang dalam abad ke 21 ini ke tingkat kemajuan dan kemakmuran yang diinginkan.
Bagaimanapun, monografi Nagari Kamang yang disiap-kan oleh Sdr Marwan ini, adalah sebuah rintisan yang semua kita patut menghargai dan menyambut gembira. Perbaikan-perbaikan dan penyempurnaan dari segi isi, bahasa, dsb, bisa dilakukan pada edisi-edisi berikutnya.
Saya mengucapkan tahniah akan kerja besar Sdr Marwan Kari Mangkuto ini. ***

0 Responses to “KATA SAMBUTAN Untuk Buku Monografi Nagari Kamang Oleh Marwan Kari Mangkuto”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: