GAYUNG BERSAMBUT…

Balasan terhadap Tulisan Kol. M Noer
di Singgalang, Sabtu, 28 Okt 2005
dengan judul “Mochtar Asbun”

Kepada yth Sdr Kolonel M Noer,

TULISAN Sdr di halaman depan Singgalang, Sabtu tgl 28 Okt 2005 kemarin, yang berjudul “Mochtar Asbun” sudah saya baca. Dari judul itu saja, apalagi juga membaca isinya, saya lihat Sdr tergolong ke dalam kelompok orang yang tidak bisa memisahkan antara “apa” yang disam-paikan dengan “siapa” yang menyampaikan. Mestinya dalam fatsoen atau etika tulis-menulis di surat kabar, dan di manapun, Sdr tidak menyinggung orangnya, tetapi menanggapi apa yang disampaikannya. Dengan demikian hubungan antara sesama tidak rusak; apalagi kitapun termasuk yang cukup kenal-mengenal satu sama lain. Kata “asbun” yang ditujukan lang-sung kepada seseorang secara terbuka dengan bersebut nama pula jelas bersifat menyerang, insinuatif, personal dan me-nyinggung serta merugikan nama baik orang yang bersang-kutan; apa lagi jika terbukti bahwa orang tersebut tidaklah asbun seperti yang dikatakan itu.
Istilah “asbun” – asal bunyi – rasanya bukanlah bagian dari watak saya. Praktis semua orang surat kabar di Sumbar ini, apapun medianya, kenal dan mengenal saya, dan sayapun banyak mengenal mereka. Saya memang termasuk yang suka menulis di surat kabar, dan di manapun, seperti Sdr sekarang ini. Sayapun juga termasuk yang suka diwawancarai oleh media pers, tetapi minta diwawancarai, apalagi pakai envelop segala, sekali tidak. Sejak saya pulang dari Amerika 37 tahun yl (1968), saya memilih untuk pulang kampung, dan tinggal di Padang, walau ruang lingkup kegiatan saya mencakup nasional maupun internasional. Semua orang surat kabar akan bisa bercerita dan menjelaskan kepada Sdr, bahwa saya bukanlah orang yang seperti Sdr sangkakan itu.
Saya banyak menulis dan mengemukakan pendapat dan pemikiran saya di manapun, di Sumbar, di Indonesia lainnya, dan di luar negeri sekalipun, dalam berbagai forum, terutama di lingkungan perguruan tinggi, dalam seminar-seminar, dan di surat-surat kabar, dan majalah-majalah. Dan itulah karya amal-saleh saya dalam memberikan kontribusi pemikiran-pemikiran, yang jauh dari asbun. Ketika di sepanjang masa Orde Baru orang-orang pada ketakutan untuk mengemukakan pendapat yang berbeda dari pendapat resmi dari rezim yang berkuasa, saya tetap saja bersuara dan mengatakan bahwa yang putih itu putih dan yang hitam itu hitam, dengan argumentasi yang saya anggap logis, rasional, dan jujur. Karena berangkat dari per-guruan tinggi, saya membiasakan diri untuk berfikir akademik, obyektif, logis, rasional, jernih, lugas, dan tidak menyinggung orang, kecuali berupaya menganalisa dan memecahkan mas-alah yang dihadapi.
Nah, Sdr M Noer, saya tidak mau mengorbankan persahabatan kita yang begitu berharga dan mulia itu dengan kita lalu berargumentasi secara personal, dan menyinggung pribadi; karena itu hanya akan merugikan kita. Mari, jika kita akan berdialog ataupun berpolemik sesudah ini, kita berdialog dan berpolemik secara galant, beradab, saling harga menghargai dan saling menghormati, betapapun berbedanya pendapat di antara kita. Dalam berpolemik dan berargumentasi kita boleh berbeda pendapat, namun lawan bicara tetap dihargai, dan pendapatnya dihargai.
Sekarang masalahnya. Ketika saya berkunjung ke DPRD Sumbar beberapa waktu yl, saya diwawancarai oleh sejumlah wartawan dan bahkan TVRI atas permintaan mereka. Antara lain yang ditanyakan adalah mengenai sikap dan reaksi saya mengenai gagasan Gubernur untuk membangun sebuah Mesjid Agung bertaraf internasional di atas tanah seluas 10 hektar, dengan kapasitas jemaah 100 ribu di kota Padang ini. Kebetulan saya sebelumnya sudah sempat membaca tulisan dari Sdr Drs M Sayuti Dt R Penghulu, MPd, di Singgalang, Jumat 14 Okt, di halaman depan, di mana dikatakan bahwa pokok gagasan itu berasal dari Gubernur dan Wakil Gubernur.
Saya mengatakan dalam wawancara itu bahwa ide men-dirikan mesjid agung bertaraf internasional di atas tanah 10 hektar dan memuat 100 ribu jemaah di kota Padang itu pada prinsipnya bagus – dan siapa pula yang tak ingin –; namun saya juga katakan bahwa taimingnya tidak tepat jika gagasan itu akan direalisasikan sekarang, atau mulai dari sekarang. Karena, tidak kurang dari Gubernur sendiri kepada kami yang datang berkunjung kepada beliau mengatakan bahwa Sumbar seka-rang menghadapi kenyataan pahit, bahwa akibat krisis dan kemelut ekonomi yang timpa-menimpa sejak tahun-tahun kemari ini, tingkat kemiskinan di Sumbar mencapai 21 %, yang berarti bahwa seperlima, atau satu dari lima KK di Sumbar berada di bawah garis kemiskinan, dengan pendapatan per bulan di bawah Rp 175 ribu per KK. Jika dalam satu KK ada empat anggota saja, maka pendapatan per kepala hanyalah Rp 45 ribu saja per bulan.
Nah, menimbang, mana yang harus kita dahulukan, menanggulangi kemiskinan yang cukup gawat itu di Sumbar ini terlebih dahulu, atau membangun mesjid agung yang bercorak mercu suar itu. Sementara, semua kita juga tahu bahwa di kota Padang ini, seperti juga di Sumbar lainnya, ada sekian banyak mesjid, besar-kecil, di semua pelosok kota dan nagari di Sumbar, yang di hari-hari biasa, kecuali Jumat dan selama puasa, banyak yang sepi pengunjung. Selain itu, bukankah kita sekarang baru saja membongkar dan membangun kembali mesjid agung Nurul Iman dalam ukuran yang lebih besar yang berupa mesjid negara yang dikelolakan oleh pemerintah dan unsur pejabat, di mana Islamic Center dll juga ada di dalam-nya? Pastilah untuk menyelesaikannya sampai selesai akan memerlukan sekian M ataupun T pula dana yang harus diam-bilkan dari kantong rakyat dan pemerintah.
Saya pikir, kalau saja kita berupaya untuk melepaskan sesak, dengan menuntaskan kemiskinan yang sifatnya riel dan mendesak ini terlebih dahulu, baru kita mulai membangun mesjid agung bertaraf internasional, atau apapun, mungkin dari segi usul fikih agama atau pembangunan sekalipun, “menda-hulukan yang harus didahulukan,” akan lebih kena dan lebih tepat. Melalui renstra-renstra (rencana strategis) yang akan di-lancarkan oleh Gubernur dan Pemda Prov Sumbar sekarang ini, kita akan segera bisa mengetahui, kapan dan sampai berapa lama angka 21 % kemiskinan ini bisa kita turunkan menjadi separuhnya, ataupun tuntas sama sekali, sehingga kurve eko-nomi dan kesejahteraan rakyat terlihat dengan nyata menaik. Dari sana kita akan bisa melihat, kapan mesjid agung yang oleh Sdr M Sayuti Dt R Penghulu dikatakan “Sumbar mendam-bakan” itu akan bisa kita mulai.
Bagaimanapun, perlu juga saya tambahkan, bahwa dari tanggapan yang diberikan oleh Kabid Ekonomi Kantor Gu-bernur kepada saya, gagasan mendirikan Mesjid Agung ini tidaklah datang dari Gubernur, tetapi disorongkan oleh orang lain yang bertanya atau mendesakkan kepada beliau.
Sdr M Noer dan Sdr M Sayuti Dt R Penghulu, yth, teri-malah salam maaf dari saya jika terlintung ke naik, tersinggung ke turun, sambil menyampaikan “Selamat Idul Fithri 1426 H.” Mari ke depan kita bertukar-pikiran bagi kepentingan daerah dan bangsa ini secara hangat dan terbuka dengan kita saling menjaga martabat dan muruah kita, karena itulah sesungguh-nya yang paling berharga dari diri kita. ***

Air Tawar Barat, 29 Okt 2005

0 Responses to “GAYUNG BERSAMBUT…”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: