EKONOMI BERBASIS NAGARI Bank Nagari Ada Di Setiap Nagari

Dimuat di Singgalang, Padang, Nov 2005

DENGAN kita kembali ke Nagari sekarang ini, mesti-nya yang dinagarikan itu bukan hanya unit kesatuan administratif dan pemerintahannya semata, tetapi juga mencakup semua-semua. Ya adatnya, sosial-budayanya, ekonominya, keamanannya, dsb. Yang menjadikan nagari itu nagari adalah karena sifat otonomi dan kemandirian yang melekat padanya itu. Demikian nagari dalam sejarahnya se-hingga para pemerhati di bidang antropologi suka menamakan Nagari itu sebagai petits republiques, artinya republik-republik kecil, yang praktis berdiri sendiri-sendiri dan mandiri, walau secara adat dan sosial-budaya saling terkait antara satu sama lain dalam kesatuan luhak dan nagari (Minangkabau), yang sifatnya dan semangatnya adalah demokratis dan egaliter. Dalam konteks NKRI sekarang ini tentu saja Nagari adalah unit kesatuan administratif dan pemerintahan terendah di Sumatera Barat tetapi yang memiliki otonomi luas tersendiri.
Ini yang membedakannya dengan Desa seperti di Jawa yang sistemnya juga pernah diterapkan di serata Indonesia selama masa Orde Baru yang lalu, termasuk di Sumbar sendiri. Desa adalah unit kesatuan administratif pemerintahan teren-dah yang tugasnya terutama adalah melaksanakan semua perintah yang datang dari atas, secara hirarkis-vertikal dan sentralistis. Walau ada yang namanya rembug desa ataupun gotong royong desa, tapi sifatnya lebih banyak teknis-imple-mentatif dan operasional, sementara setiap kebijakan ditentu-kan secara seragam dan sepihak dari atas.
Dengan kita kembali ke Nagari sekarang ini, sendirinya fungsi-fungsi yang juga melekat ke nagari itu sudah harus kita benahi pula, khususnya di bidang ekonomi, sosial-budaya dan keamanan. Di bidang ekonomi, terutama, nagari itu pada hakikatnya adalah sebuah unit kesatuan usaha ekonomi yang memiliki asset sendiri dan badan-badan usaha sendiri secara mandiri. Ini artinya, jika di tingkat nasional ada yang namanya BUMN (Badan Usaha Milik Negara), di nagari pun seyogyanya ada yang namanya juga BUMN (Badan Usaha Milik Nagari), walau untuk membedakannya, kita menuliskannya dengan “n” kecil untuk Nagari (BUMn), dan “N” besar untuk Negara (BUMN). Atau namakanlah dengan nama lain agar tidak membingungkan pula. Tetapi hakekatnya adalah itu, yaitu, seperti dengan Negara, nagari pun merupakan badan hukum yang mampu dan berwenang melakukan usaha-usaha di bidang ekonomi untuk tujuan-tujuan produktif dan menguntungkan. Dengan itu nagari, seperti tradisinya di masa lalu, bisa dan mampu membiayai diri sendiri tanpa harus selalu menggan-tungkan diri kepada pembiayaan ataupun subsidi dari peme-rintahan atasan. Dengan demikian, pemerintah yang di atas pun merasa diringankan pula, karena banyak hal bisa diserah-kan dan diandalkan kepada pemerintahan nagari, yang secara nasional merupakan pemerintahan terendah yang langsung diurus oleh rakyat sendiri.
Dengan Nagari mempunyai asset dan usaha-usaha sendi-ri, entah itu hutan ulayat nagari, perkebunan nagari, tanah ladang atau persawahan nagari, usaha perikanan nagari, tam-bak nagari, gua sarang burung nagari, sampaipun ke yang bersifat industri dan perdagangan maupun jasa sekalipun yang dimiliki oleh nagari, Nagari akan bisa lebih hidup, lebih bergairah, dan lebih dinamis dalam upaya-upaya meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran bagi rakyat di nagari. Makin banyak usaha nagari dan anak nagari maka makin makmur dan sejahteralah nagari dan anak nagari itu.
Dengan prinsip hidup bernagari: Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah yang telah kita kukuhkan kembali, maka usaha-usaha ekonomi apapun yang dikembangkan di nagari sekaligus haruslah juga berpedoman kepada prinsip hidup dengan motto itu, sehingga sistem dan struktur ekonomi yang dikembangkan di nagari adalah juga yang sesuai dan serasi dengan itu. Sistem ekonomi yang sesuai dengan adat dan syarak itu tiada lain adalah sistem ekonomi syirkah (serikat) yang telah juga diterapkan secara luas dalam masyarakat sendiri, khususnya seperti yang dipraktekkan dalam manaje-men rumah makan Minang. Dalam sistem manajemen rumah makan Minang, tidak ada hubungan majikan dan buruh, dan tidak ada sistem upah ataupun gaji. Yang ada adalah hubungan kemitraan secara setara dan sistem bagi-hasil secara propor-sional dan adil dalam konsep bagi-keuntungan (profit sharing) dan syirkah (serikat) itu.
Dengan nagari merupakan badan hukum yang mampu bergerak atau menggerakkan usaha-usaha di bidang ekonomi sendiri, sendirinya nagari memerlukan perangkat-perangkat penunjang yang memungkinkan usaha-usaha ekonomi, perda-gangan dan jasa ini bergerak secara lincah dan efektif serta efisien. Satu dari antaranya adalah jasa bank, sebuah kenis-cayaan yang tidak mungkin tidak harus ada dan tersedia seka-rang dalam menghadapi ekonomi-pasar dan global sekarang ini.
Nah, kebetulan, pemerintah daerah sudah memiliki Bank Nagari sebagai jelmaan dari BPD sebelumnya. Bank Nagari selain pusatnya di Padang, di ibukota provinsi, juga punya cabang-cabang di kota-kota di Sumatera Barat, bahkan di Jakarta, dan entah di mana lagi, tetapi tidak ada di nagari sendiri. Aneh, walaupun nyata! Ini tidak lain karena selama ini, Pemda Sumbar, sama seperti pemerintah pusat di Jakarta, lebih memikirkan diri dari memikirkan rakyatnya. Orientasi pemerintahan yang bersifat etatis dan sentripetal ini, dan bukan populis dan sentrifugal, telah menempatkan rakyat lebih sebagai obyek yang digarap daripada subyek yang menggarap sendiri. Pemerintah dan para pejabatnya, akibatnya, hidup serba mewah dan berlebihan, dengan fasilitas macam-macam, sementara rakyatnya dibiarkan hidup sengsara dan melarat.
Jika Pemda Sumbar di bawah pimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur yang baru sekarang ini memang ingin menempatkan rakyat tidak lagi sebagai obyek, tetapi sebagai subyek, dan tidak ingin melihat seperlima dari rakyat Sumatera Barat hidup di bawah garis kemiskinan dengan pendapatan per KK di bawah 175 ribu per bulan –yang berarti di bawah 50 ribu rupiah rata-rata per kepala per bulan, atau di bawah 2 ribu rupiah (20 sen US dollar) per hari–, salah satu jalan pintas yang harus ditempuh adalah: Berdayakan ekonomi nagari, dan ekonomi anak nagari. Jadikan nagari sebagai badan hukum yang mampu bergerak di bidang usaha ekonomi, apapun bentuk usaha dan kegiatannya yang cocok dan serasi dengan potensi SDA maupun SDMnya.
Selain itu, rentangkan jaringan Bank Nagari sampai ke nagari-nagari, sehingga, sebagaimana dahulu di setiap Kantor Kepala Nagari ada Lumbung Pitih Nagari, maka sekarang pun juga sedikitnya Kantor Kas Bank Nagari ada di setiap nagari di Sumbar ini. Kantor Kas Bank Nagari, atau Bank Nagari itu sendiri secara penuh, yang ada dalam kompleks Kantor Wali Nagari ini pulalah yang berfungsi sebagai pemegang kas pemerintahan nagari di samping melaksanakan fungsi bank dalam berbagai bentuk transaksi dan lalu-lintas keuangan lain-lainnya sebagaimana bank laiknya. Dengan demikian bukan saja lalu lintas keuangan dalam bentuk apapun sekarang telah melalui bank, rakyatpun mendapatkan kemudahan dengan fasilitas dan jasa bank yang diulurkan sampai ke nagari itu. Dengan kehadiran Bank Nagari ada di setiap nagari di Sumbar ini, maka kesadaran berbank akan cepat tumbuh dan bank pada gilirannya memberikan fasilitas dan kemudahan-kemu-dahan yang selama ini sukar didapatkan oleh rakyat di nagari. Antara bank dan rakyat dan nagari terjalin hubungan simbiotik yang saling memerlukan dan saling menguntungkan.
Di balik itu, pemupukan modal dari rakyat di nagari bahkan juga bisa dilakukan dengan keberadaan Bank Nagari di nagari, sehingga rakyat dan nagari sendiri bisa pula punya saham di Bank Nagari sendiri. Berpikir kemitraan tidak harus hanya dengan modal-modal swasta kuat semata; dengan rakyat dan nagaripun bisa. Yang harus ditanamkan adalah keperca-yaan (trust) kepada rakyat dan nagari sendiri.
Bank Nagari, sebagaimana bank lain-lainnya, tentu saja bisa meluaskan lagi jaringan BPR yang selama ini berada di bawah naungannya, di manapun yang dirasa strategis untuk dikembangkan. Namun, tidaklah tepat jika BPR yang ditem-patkan di setiap nagari, karena yang diperlukan oleh nagari bukanlah BPR yang sifatnya swasta itu tetapi Bank Nagari itu sendiri yang layanannya tidak hanya terbatas pada upaya perkreditan tetapi berspektrum luas.
Bank Nagari tentu saja, sebagai layaknya Bank, juga bisa melakukan kerjasama-kerjasama kemitraan dengan pihak manapun, di dalam maupun di luar negeri sekalipun, seperti yang kelihatannya sedang dirintis sekarang ini dengan bank Belanda. Namun yang harus diingat: jangan orang tua kehi-langan tongkat dua kali dengan kasus Bank Nasional yang sangat tragis dan memilukan itu. Harapkan hujan di langit, air di tempayan ditumpahkan. Dengan memberikan share berle-bihan kepada pihak luar maka kita bisa saja tidak lagi mengen-dalikan, tetapi dikendalikan. Hubungan kerjasama ekonomi dengan pihak luar yang diletakkan di atas prinsip ekonomi pasar, liberal, dan kapitalistik, bisa sangat kejam dan menyakit-kan, karena yang berlaku adalah hukum ekonomi pasar, liberal dan kapitalistik itu, di mana yang kuat akan memakan yang lemah (homo homini lupus).
Marilah dengan rezim pemerintahan baru di bawah pim-pinan gubernur dan wakil gubernur yang baru sekarang ini kita mulai memberikan perhatian yang penuh kepada kepentingan nagari dan anak nagari. Berhasil-tidaknya rezim pemerintahan yang baru di daerah ini tidak hanya akan ditentukan oleh sampai sejauh mana mereka dan kita semua dapat menurunkan tingkat kemiskinan yang menerpa daerah ini, tetapi juga, sampai sejauh mana perhatian telah diberikan kepada pemba-ngunan nagari dan menjadikan nagari sebagai basis per-ekonomian anak nagari. ***

0 Responses to “EKONOMI BERBASIS NAGARI Bank Nagari Ada Di Setiap Nagari”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: