PAGARI NAGARI DARI KRISTENISASI

Air Tawar, Padang, 19 April 2004

DENGAN otonomi yang dimiliki oleh daerah-daerah sekarang ini, kita di Sumatera Barat dan di ranah Minang ini telah memutuskan untuk kembali ke Nagari dan kembali kepada kepribadian kita semula yang kita tuangkan dalam rumusan ABS-SBK: Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Ini artinya nagari-nagari di Sumatera Barat dibina di atas dasar adat yang bersendi syarak itu dan syarak bersendi Kitabullah. Syarak di sini artinya Islam, dan Kitabullah artinya Al Qur`anul Karim.
Oleh karena itu upaya pemurtadan yang dilakukan oleh pihak gereja Katolik dan Protestan melalui segala bentuk dan cara dengan menyelusup masuk ke Nagari-nagari di Sumatera Barat ini tidak ada tempat baginya, dan karenanya harus ditolak secara sistematik, tuntas dan tegas.
Kita di Sumatera Barat ini tidak anti Kristen, tetapi sangat anti kepada Kristenisasi. Seperti kita lihat, sudah sejak zaman Belanda dahulu, di kota-kota di Sumatera Barat ada gereja. Orang-orang Kristen dari berbagai bangsa dan kelompok etnik tidak pernah diusik dan dihalang-halangi dalam melaksanakan ritus upacara dan ajaran keagamaannya. Mereka bahkan juga mendirikan sekolah-sekolah, rumah sakit, dsb. Banyak dari guru-guru dan murid-murid dari sekolah-sekolah Kristen itu adalah guru-guru dan anak-anak orang Islam. Begitu juga yang berobat ke rumah sakit-rumah sakit Kristen, sebagian besar pasiennya adalah orang Islam, dan jururawat serta dokter-dokternya sebagian banyak juga orang Islam.
Semua ini dibiarkan selagi tidak ada upaya pengkristenan terhadap orang-orang Islam dan anak-anak Islam oleh pihak gereja Katolik dan Protestan itu. Namun, belakangan, sejak 20-an tahun kemari ini, pihak gereja gencar sekali melakukan upaya pemurtadan dari orang-orang Islam melalui segala cara, yang semua itu telah kita ikuti melalui pemberitaan di surat-surat kabar, dan sebagian kita saksikan dan bahkan alami sendiri.
Kita lihat sendiri, di Pasaman, misalnya, dari tidak ada satu gerejapun sebelumnya, sekarang telah puluhan banyaknya. Mereka menyelusupkan orang-orangnya ke dalam program transmigrasi, yang masuk dengan KTP Islam tetapi lalu menjadi bahagian dari skenario upaya pemurtadan dari orang-orang Islam di daerah transmigrasi itu.
Upaya yang sama juga dilakukan di Sitiung, di Sungai Rumbai, Sawah Lunto/Sijunjung, dan di Lunang Silaut, Pesisir Selatan, di mana ada proyek-proyek transmigrasi itu. Upaya dari yang tadinya terbatas kepada warga transmigrasi dari Jawa itu sekarang bahkan meluas ke tengah-tengah penduduk asli Minangkabau sendiri, di desa maupun di kota. Dan dengan berbagai bentuk, berbagai cara. Malah, belakangan, dengan cara sihir sekalipun yang menyebabkan banyak dari anak-anak dan pemuda-mahasiswa kita yang kesurupan jin kristen. Banyak pula yang diperkosa, dilarikan, dikawini secara akal-akalan, dan diajak minum-minum dan mabuk-mabukan. Semua ini meresahkan dan mengganggu kepada keamanan dan kedamaian sesama umat beragama.
Pemerintah dengan DPRDnya dari tingkat Provinsi, Kabupaten/Kota sampai ke Nagari-nagari sekalipun, sudah waktunya memperlihatkan sikap tegas dan keperduliannya terhadap upaya pemurtadan ummat Islam dengan segala cara yang dilakukan oleh gereja-gereja Katolik dan Protestan ini. Dengan kita berpegang kepada prinsip ajaran: Adat Bersendi Syarak dan Syarak Kitabullah ini sesungguhnya tidak ada pilihan lain kecuali kita harus konsisten dan konsekuen pada prinsip ajaran itu. Dan ini artinya upaya pemurtadan dengan segala cara itu harus diberantas dan dilarang dengan tegas dan dengan sanksi hukum dan sosial yang berat. Sekali mereka dibiarkan maka inilah jadinya.
Dengan demikian, pelarangan terhadap upaya kristenisasi ini oleh pemerintah dan DPRD dari atas sampai ke bawah harus jelas dan tegas. Ini artinya, melalui DPRD di Provinsi, Kabupaten/Kota dan BPRN di Nagari-nagari harus dikeluarkan Perda yang tegas-tegas melarang upaya kristenisasi itu lengkap dengan sanksi hukumnya.
Khusus di Nagari, setiap Nagari harus mengeluarkan Peraturan Nagari yang melarang masuknya upaya kristenisasi ke nagari bersangkutan. Nagari juga harus mengatur dan membentuk Paga Nagari yang menjaga keamanan Nagari yang tenaga-tenaganya adalah para pemuda dari nagari bersangkutan, seperti yang dahulu berlaku di semua nagari. Paga Nagari inilah yang menjaga keamanan dan memagar serta membentengi Nagarinya dari invasi kristenisasi ke Nagarinya. Mereka tidak hanya bersifat preventif dan represif tetapi juga proaktif. Dengan keberadaan Paga Nagari, tugas kepolisian di Kecamatan sendirinya akan sangat diringankan, yang sekaligus juga meringankan tugas dan beban dari pengadilan dan kejaksaan. Polisi, kejaksaan dan pengadilan hanya menangani kasus-kasus yang tak terselesaikan di Nagari oleh Paga Nagari dan pemerintah Nagari.
Dengan gencarnya upaya pemurtadan dan kristenisasi di Sumatera Barat ini sudah waktunya Gubernur, Bupati, Wali Kota dan Wali-wali Nagari di seluruh Sumatera Barat serempak melarang kegiatan kristenisasi di ranah Minang ini dan menyatakan Sumatera Barat tertutup bagi upaya pemurtadan atau kristenisasi oleh pihak gereja Katolik dan Protestan dan unsur-unsur nasrani lainnya.
Hanya dengan cara itu kerukunan hidup beragama di Sumatera Barat dan di ranah Minang ini bisa dipelihara, yaitu dengan cara saling menghormati akan keyakinan dan ajaran agama masing-masing.
Sekali lagi: Orang Minang tidak anti Kristen tetapi anti pada Kristenisasi dan upaya pemurtadan yang dilakukan oleh pihak gereja Katolik dan Protestan di ranah Minang ini. ***

0 Responses to “PAGARI NAGARI DARI KRISTENISASI”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: