HIKMAH MERANTAU

Ceramah “Merantau,” di hadapan Masyarakat Minang
dalam rangka Pengukuhan Pengurus Baru IKAPAS
(Ikatan Keluarga Pasaman)
di Kota Batam, Kepulauan Riau,
Minggu, 27 Maret 2005

Sdr-sdr sekalian yang saya hormati,
Assalamu’alaikum w.w.,

ORANG Melayu suka berpantun.
Orang Minangpun demikian,
karena orang Minang adalah juga orang Melayu.
Apa pantunnya?
Karatau madang di hulu,
Berbuah berbunga belum,
Merantau bujang dahulu,
Di rumah berguna belum.

Supaya dua pantun seiring:
Kalau jadi ‘nak ke pekan,
Iyu beli belanak beli,
Ikan panjang beli dahulu;
Kalau jadi ‘nak berjalan
Ibu cari dunsanak cari,
Induk semang cari dahulu.
Sdr-sdr sekalian yang saya hormati,

Rasanya kedua pantun ini hapal betul
bagi Sdr-sdr sekalian,
dan bagi kita semua yang suka merantau ini.

Sdr-sdr kebetulan sekarang memilih rantau Batam di Kepulauan Riau ini yang sekarang telah menjadi provinsi tersendiri; terpisah dari Riau Daratan.

Di antara Sdr-sdr, sebelum ke Batam ini,
barangkali sudah banyak pula yang merantau
ke tempat-tempat lain terlebih dahulu,
sebelum memilih menetap di Batam ini.
Dan siapa tahu,
ada pula yang sesudah di Batam ini masih mau pindah lagi
ke rantau yang lain-lainnya.

Demikianlah, orang Minang ini ditakdirkan oleh Allah
menjadi suku perantau.
Sebuah sukubangsa di Nusantara ini
yang tergolong suka merantau.
Prof Dr Bahder Djohan, bekas Presiden Universitas Indonesia dan Menteri P & K, di dekade-dekade awal kemerdekaan, pernah mengatakan dalam sebuah Seminar
tentang Sejarah dan Kebudayaan Minangkabau, di tahun 1970, di Batu Sangkar:
Orang Minang suka merantau karena memiliki ciri-ciri budaya yang dia namakan dengan “keresahan Mongol.”
Artinya, sejak dari sononya dahulu,
yaitu dari Hindia Belakang di daratan Asia,
orang Minang masih meneruskan pola berkelana
yang sekarang dinamakan dengan merantau itu.
Orang Minang lalu ditemukan di mana-mana di tanah air ini dan di Malaysia.
Di Malaysia sendiri malah mereka punya tanah air kedua: Negeri Sembilan,
yang adat dan bahasanya adalah Minang.

Saya baru kembali dari Australia.
Di sanapun sekarang ada koloni orang Minang;
khususnya di Sydney.
Di sana, selain dari organisasi Minang Saiyo
yang menggabung semua-semua, seperti di mana-mana,
juga ada organisasi per daerah masing-masing:
Ada organisasi orang Guguk dari Bukittinggi,
organisasi orang Padang Panjang
dan Batipuah Sapuluah Koto,
orang Pariaman, orang Pasaman,
orang Sulit Air yang punya organisasi sedunia:
SAS: Sulit Air Sepakat. Dsb.

Secara statistik, orang Minang lebih banyak yang di rantau daripada yang di kampung halaman sendiri, di Sumatera Barat. Penduduk Sumbar ada sekitar 5 juta
yang 90-an % di antaranya orang Minang.
Di rantau mungkin dua kali lipatnya, atau lebih.
Namun jumlah mereka secara keseluruhan di Indonesia hanyalah sekitar 3-4 % dari seluruh penduduk.
Dulu ketika demokrasi hidup di bumi Indonesia
di awal kemerdekaan,
peranan orang Minang di berbagai bidang kehidupan
cukup menonjol.
Tetapi sejak Orde Baru, peranan mereka menurun.
Orang Minang hanya bisa hidup di alam demokrasi,
karena itulah basis dan tumpuan kehidupan mereka
di kampung halaman mereka sendiri.

*
Orang Minang suka merantau
karena banyak faktor yang mendorongnya.

Pertama tentu saja karena faktor ekonomi.
Karena di rumah tidak lagi cukup yang akan dimakan,
sebagian merelakan diri untuk pergi merantau.
Yang pertama-tama yang akan melangkahkan kaki ke rantau adalah yang muda-muda, yang belum punya tanggung-jawab; yang di rumah “berguna belum” itu.

Di kampung, di Sumatera Barat, tanahnya segitu juga, sementara penduduk berkekembangan
dan jumlah mulut yang akan makan bertambah terus. Tanahnya jangankan bertambah, malah berkurang,
dan menciut terus.
Sekarang di Sumatera Barat, yang namanya tanah ulayat,
yang fungsinya adalah untuk tahanan (reservasi)
ke masa depan, praktis telah habis tandas.
Diserahkan oleh para ninik-mamak kepada pemerintah,
yang lalu berubah menjadi milik negara.
Oleh pemerintah, dalam bentuk HGU,
diserahkanlah pula kepada para pengusaha perkebunan besar. HGU ini bisa dipakai selama 30 tahun,
tetapi juga bisa diperpanjang sampai 90 tahun
– yang berarti 3 generasi.

Karena telah menjadi milik negara
jangan diharap bekas tanah ulayat itu
akan bisa kembali kepada rakyat dan nagari semula,
kecuali jika rakyat dan nagari itu gigih menuntut
untuk kembali menjadi tanah ulayat.
Melalui wakil rakyat di DPRD, atau bagaimana caranya,
rakyat bisa saja menuntut kembali haknya itu.
Jika perlu gugatan ini sampai ke Mahkamah Agung
dalam rangka mendapatkan keadilan bagi rakyat
yang telah dizalimi dan dikacadiaki oleh para penguasa
dan para niniak mamak pada waktu itu.
Melalui pemulihan kembali hak tanah ulayat itu,
rakyat misalnya bisa saja menuntut agar berlaku prinsip
profit ataupun production sharing –
berbagi keuntungan ataupun berbagi hasil.

Kecuali satu-dua yang dikelola oleh BUMN,
berupa PTPN-PTPN,
sebagian terbesar ternyata jatuh pada cukong-cukong WNI keturunan Cina,
yang kita tidak tahu persis siapa orangnya,
dan dari mana datangnya.
Mereka adalah siluman-siluman yang konon bercokol
nun di Jakarta, di Medan,
yang modalnya datang dari Singapura, Malaysia,
Hong Kong, Taiwan, dsb.

Melalui sistem kolusi, atau lengkapnya KKN kata orang, cukong-cukong itulah yang dibek-ap oleh para pejabat
dan penguasa kita, yang sivil maupun militer,
yang menguasai perkebunan-perkebunan itu,
yang tadinya adalah tanah ulayat kaum, nagari, dst, itu.
Dan cukong-cukong ini sekarang yang secara keseluruhan praktis menguasai seluruh jaringan ekonomi,
perdagangan dan industri di Indonesia ini,
dari hulu sampai ke hilir ke muaranya.
Persis sama seperti di Batam ini.
Habibie payah-payah membangun pulau ini
menjadi kota industri dan entrepot,
tetapi yang menguasai jaringan ekonomi di Batam,
di seluruh Indonesia,
dan di rantau Nan Yang Asia Tenggara ini,
praktis seluruhnya adalah mereka.

Yang kita-kita yang pribumi ini sekarang telah menjadi tamu, bukan lagi tuan, di rumah sendiri.
Di atas tanah yang dahulunya tanah ulayat itu,
sekarang rakyat telah menjadi buruh-buruh
di atas tanah bekas milik mereka itu.
Memilukan, melihat di Pasaman Barat,
dan di daerah-daerah perkebunan lainnya,
gambaran pagi dan sore,
dengan truk-truk dengan bak terbuka
mengangkut buruh-buruh perkebunan
berdesak-desakan sambil berdiri
dan bercampur laki-laki dan perempuan
yang umumnya muda-muda pula.
Mending kalau jalannya mulus beraspal,
tapi jalannya jalan tanah dan berlobang-lobang pula
melalui liku-liku tanah-tanah perkebunan itu.
Gejala kerusakan moral apa yang tidak akan terjadi
dengan suasana dan suasana kerja yang seperti itu.

Belum lagi dengan nasib para TKI dan TKW
yang sangat memprihatinkan di mana-mana;
termasuk di Batam ini, di Singapura, Malaysia,
di Timur Tengah, dsb.,
yang tinggal di barak-barak di daerah-daerah perkebunan itu, yang diperlakukan laiknya
sebagai komoditi barang dagangan belaka.
Belum pula yang sekian banyak yang jadi babu dan pembantu yang diperlakukan secara semena-mena oleh majikannya,
di samping tidak sedikit pula yang jatuh ke dunia hitam
dan abu-abu,
yang jadi pelacur, pelayan dan penjaja seks, dsb,
yang konon, tak terkecualinya
wanita-wanita dari Minang sendiri.

Itulah nasib rakyat kita sekarang ini.
Tidak sedikit dari mereka,
karena desakan ekonomi di kampung halaman sendiri,
yang membawakan diri hanyut ke rantau.
Saya kira, kita-kita yang khususnya dari Pasaman,
dari Kapur Sembilan, Sawahlunto-Sijunjung, Darmasraya, Solok Selatan, dan Pesisir Selatan,
yang sekarang ini banyak melompat ke rantau,
karena ketiadaan tanah yang tadinya luas sekali,
tetapi sekarang sudah habis tergadai ke orang lain,
ke cukong-cukong itu,
dan ke sejumlah pengusaha pribumi sendiri
yang di zaman Orde Baru menghidup-suburkan nepotisme
di samping kolusi dan korupsi,
yang disingkat dengan KKN itu.

Kita di rantau maupun di kampung halaman sendiri
di Sumatera Barat
tinggal mengemasi yang kecil-kecil di hilir-hilir,
yang meramaikan pasar-pasar tradisional,
yang berhujan-berpanas di daerah-daerah kaki lima;
sementara yang menguasai toko,
dan sekarang, supermarket, hyper-market, department store, mal-mal, real estat berupa kondominium,
apartemen-apartemen mewah, ruko-ruko, fabrik-fabrik, industri-industri, dan seluruh jajaran
dan jaringan distribusi barang, dsb, di seluruh Indonesia, adalah sanak jauh kita
yang dulunya datang merantau ke negeri ini
dari daratan Tiongkok itu.

Di kampung halaman sendiri, di Sumatera Barat,
karena ‘ternak’ berkekembangan juga,
sementara tanah tidak bertambah,
malah berkurang terus,
yang pertama kali yang akan menghambur ke rantau
tentu saja yang muda-muda, yang bertulang kuat,
karena dorongan pantun tadi:
Karatau madang di hulu, babuah babungo balun.
Marantau bujang dahulu, di rumah baguno balun.

Ekonomi rakyat di Sumatera Barat sampai saat ini
masih itu-itu juga.
Secara struktural masih berupa pertanian tradisional,
berlahan kecil,
dan tak lagi memadai untuk memberi makan
kepada semua anggota keluarga.
Makanya sebagian, terutama yang muda-muda,
yang merelakan diri meninggalkan rumah,
dan kampung halaman,
mencarikan perut yang tak berisi, punggung yang tak bertutup. Kalau nanti berlebih yang akan dimakan,
cukup untuk kehidupan hari-hari,
maka sisanya sebagian dikirim pulang;
pembantu sanak saudara yang di kampung.

*
Faktor pendorong kedua, adalah pendidikan.
Anak-anak, laki-laki dan perempuan, disekolahkan.
Tetapi karena pendidikan pula,
bukannya mereka tetap tinggal di kampung,
untuk membangun kampung, setelah sekolah selesai,
tetapi mereka justeru yang duluan cigin ke rantau.

Kenapa?
Karena orang bersekolah tidak diperlukan di kampung,
kalau hanya sekadar untuk melanjutkan kerja bersawah
dan berladang dengan lahan yang terbatas itu.
Pekerjaan untuk orang bersekolah tidak tersedia di kampung, tetapi, itu, di kota dan di kota-kota besar.
Artinya di rantau.
Pendidikan karenanya telah “mengusir” dan menyuruh pergi anak-anak muda keluar dari kampung,
apalagi karena di rumah berguna belum itu.
Celakanya, jika dahulu yang pergi merantau itu
hanya anak laki-laki saja,
sekarang, karena anak perempuan pun telah bersekolah pula, mereka pun ingin cari kerja pula.
Malu jika sekolah tinggi-tinggi tapi nganggur, tidak bekerja. Maka ikut berserabutan pulalah mereka
mencari lapangan kerja,
yang kadang, apapun jadi, walau tak kena mengena
dengan yang disekolahinya.

Maka sepilah kampung dengan yang muda-muda.
Yang tinggal hanyalah yang tua-tua
– yang sudah selesai jadi orang –,
dan yang bakal jadi orang – anak-anak.
Betapa malangnya kampung halaman itu.
Payah-payah membesarkan dan menyekolahkan anak;
tiba waktunya mereka malah pergi dan disuruh pergi merantau. Karena di rumah berguna belum
dan karena tidak ada yang akan dikerjakan di kampung
yang cocok dengan ukuran sekolah mereka.
Sebuah investasi SDM yang sia-sia!

Faktor ketiga, adalah karena gangguan keamanan
seperti di zaman PRRI dulu.
Sekali terjadi, berhamburanlah mereka lari ke rantau.
Besar-kecil, tua-muda, dan juga: laki-laki-perempuan.

Faktor keempat adalah sistem sosial itu sendiri
yang tidak memberikan tempat dan peranan yang berarti
bagi anak muda tinggal di kampung.
Apalagi bagi anak laki-laki.
Kalau sudah akil-balig,
seolah tak ada tempat bagi mereka untuk tinggal di rumah ibu; karena bilik-bilik yang ada hanya disediakan
untuk anak perempuan,
dan untuk ibu-ibu penanti suami di malam hari.
Anak laki-laki yang sudah akil-balig dioper lalu tidur ke surau. Walau sekarang anak laki-laki sudah banyak
yang tidur di rumah orang tua,
namun perannya secara sosial tetap saja marjinal.
Peran sosial itu baru ada kalau sudah berkeluarga
dan beranak pula.
Kalau sudah jadi orang.
Wajar kalau sementara itu rantaulah
yang menjadi tujuan mereka.
Malah yang tak merantau, atau enggan merantau,
suka diketawakan dan diolok-olok:
“bagai tak lepas dari bedungan;”
“masih menyusu ke ibu,”
“tak tampak jalan ke rantau,”
“ongok,” dsb.

Semua faktor-faktor itu,
di samping sekian banyak yang lainnya,
yang bisa berbeda dan bervariasi dari orang ke orang,
dari daerah ke daerah, dan dari masa ke masa,
telah turut menyuruh, atau bahkan “mengusir” mereka
dari kampung untuk pergi merantau.

*
Nah, sekarang, bagaimana di rantau?
Karena yang dibawa adalah, dan hanyalah, modal dengkul, maka bisa dibayangkan,
betapa besar dan hebatnya perjuangan mereka setiba di rantau. Mending kalau ada yang ditepatinya di rantau,
apalagi kalau berkecukupan pula,
sehingga bisa hidup menyandar barang sebulan-dua.
Atau bagi mereka yang pergi merantau
untuk meneruskan sekolah.
Apalagi kalau bekalpun dikirimkan dari kampung;
atau ada saudara, mamak, dsb,
yang turut membantu dengan biaya sekolah itu.
Tetapi bagaimana dengan yang sekolahnya tanggung,
patah di tengah, atau hanya tamat SD dan SMP?
Sekarang, jangankan tamat SMA,
tamat PT saja belum tentu segera dapat kerja.

Bisa dibayangkan, betapa beratnya kehidupan mula pertama datang di rantau.
Untung saja di rantau ada sanak-saudara, orang sekampung, ataupun organisasi paguyuban sekampung dan sedaerah,
yang turut memikirkan dan membantu mereka.
Kalau tidak, sengsaralah badan.
Dan pikiran bisa macam-macam, pangana bisa hilang-timbul. Kalau tidak kuatlah bekal iman di dada,
di samping bekal ilmu di kepala,
gampang sekali anak muda Minang sesat di rantau.
Saya mendengar, dan bahkan melihat sendiri,
betapa anak-anak muda Minang banyak yang terjerumus
ke dunia hitam dan abu-abu itu
– yang menjual kaset-kaset porno dan obat-obat terlaranglah, yang jadi maling-maling kecillah,
yang melakukan hal-hal
yang dilarang oleh agama dan adat, dsb.

Saya kira di Batam ini mungkin kekecualian;
tetapi mungkin juga tidak.
Karena merantau dengan pola dan ciri-ciri yang sama
akan juga menghasilkan corak kehidupan
yang secara sosiologis sama, dan sama di mana-mana. Kekecualiannya adalah,
manakala bekal kehidupan cukup dibawa dari kampung;
dalam arti, diri dipersiapkan dengan bekal keimanan yang kuat, dengan pertahanan diri berupa akhlak dan sikap
serta sifat-sifat hidup yang ulet, kuat bekerja, tahan banting, tahan menderita, sabar, tidak suka mengeluh,
siap untuk memulai dari bawah,
jujur, amanah, rendah hati, suka bergaul,
suka memberi dan membantu,
dan: taat beragama, berakhlak mulia, dan sopan dalam bergaul. Yang punya sifat-sifat ini, insya Allah, selamat,
betapapun badai kehidupan mendera dan menerpa mereka. Kalaupun salah dan keliru, atau alpa, cepat sadar
dan cepat kembali, dan bertobat.

Di sinilah letak krusial dan penting menentukannya
usaha-usaha sosial
yang dilakukan oleh organisasi-organisasi paguyuban sekampung, senagari, sedaerah, dsb, di rantau.
Organisasi-organisasi paguyuban
yang tidak hanya melihat ke atas,
tetapi terutama ke bawah,
mengemasi sanak-saudara yang terlantar di rantau,
mencarikan jalan keluar
dari kesusahan dan kesulitan hidup mereka,
dan memberi kehangatan
dari kesepian hidup yang mencengkam,
serta menjenguk mereka ketika sakit, kemalangan, dsb. Organisasi paguyuban yang berorientasi ke atas, sebaliknya, akan hidup berpura-pura,
melayani bapak-bapak dan ibu-ibu pejabat
dan orang-orang kaya berlebih dari semestinya;
mengutamakan gaya hidup mewah dan hedonistik;
lalu melupakan yang di bawah,
yang dihimpit oleh kesusahan hidup di rantau.

Kecuali itu, orang Minang ketika sampai di rantau,
yang dicarinya pertama kali adalah “induk semang itu.”
Ibu cari, dunsanak cari, induk semang cari dahulu.
Maksudnya, secepatnya mendapatkan kerja,
agar tidak terlantar hidup di rantau.
Jika pandai berinduk semang di rantau
lebih seperti orang tua sendiri.
Dan ketiga, yang dicari adalah: surau.
Surau! Surau tempat kita mengembalikan semua persoalan kepada yang di atas itu.
Tempat kita mencecahkan kening ke tempat sujud,
dan tempat kita mengadukan nasib dan peruntungan,
di rantau, kepada yang di atas itu.
Dengan demikian, ada tali ke atas, kepada Allah swt,
dan ada tali samping menyamping, kepada sesama manusia. (Ali ‘Imran 103).
Dan melalui surau menggabungkan diri dalam komunitas. Orang tidak akan kesepian kalau dekat, dan lekat, ke surau. Dulu, di mana-mana ada “surau dagang,”
tempat orang sekampung berkumpul dan bersua-sua;
tempat mereka membicarakan masalah-masalah berkampung, di rantau.

Yang namanya Minangkabau itu,
sejauh yang saya ketahui dari segi antropologi
dan sosiologinya,
adalah jumlah keseluruhan dari kampung halaman
dan rantau itu.
Kampung dan rantau adalah bagaikan aur dan tebing,
yang satu sama lain saling kuat-menguatkan.
Ada hubungann mutual-simbiosis antara keduanya.
Pokoknya, sejak dahulu, sejak orang Minang mengenal
yang namanya rantau bertuah itu,
tidak ada kampung tanpa rantau,
sebagaimana tidak ada rantau tanpa kampung.
Karenanya, ketika di rantau ini kita ingat kampung.
Kita memikirkan apa-apa yang diperlukan di kampung.
Kita membangun kampung walau badan larat di rantau. Semarak kampung karena rantau.
Hubungan antara kampung dan rantau,
dan hubungan senasib-sepenanggungan antara sesama
di rantau,
diperlihatkan dengan baik sekali oleh perantau Cina,
perantau Yahudi dan perantau India, di mana-mana.
Perantau Cina, sedemikian kuat hubungan primordial
antara sesama mereka,
sehingga mampu, seperti yang kita lihat sekarang ini,
tidak hanya menyelesaikan diri sendiri,
tetapi bahkan menguasai ekonomi Indonesia ini
dan ekonomi dari negara-negara di kawasan Nan Yang
Asia Tenggara ini.
Yang jelas, Singapura,
yang dahulunya adalah kerajaan Melayu Temasek,
sekarang sudah sepenuhnya jatuh ke tangan mereka.
Di Filipina, mereka tidak hanya menguasai ekonomi, industri dan perdagangan,
tetapi mereka juga menguasai pemerintahan, politik, militer, pendidikan, sosial-budaya, dsb;
sementara pribumi Melayu di terlempar ke pinggiran,
ke desa-desa pantai dan pedalaman,
sebagai nelayan dan petani tradisional;
atau lari ke selatan, ke Mindanau dan Sulu,
menjadi pemberontak Moro memperjuangkan negara sendiri. Sejauh ini sudah ada dua presiden Filipina
yang tercatat sebagai keturunan Cina: Marcos dan Aquino. Dan mereka ada di semua sektor kehidupan,
dan menguasainya.

Di Thailand, idem ditto.
Hanya rajanya pribumi, tetapi ekonomi dan perdagangan
juga dikuasai oleh keturunan Cina;
sesuatu yang juga membikin raja suka gusar.
Di Malaysia, lain.
Malaysia punya kepemimpinan nasional yang kuat
dan berorietasi kerakyatan,
dan berpihak pada rakyat Melayu
yang tadinya juga seperti di Indonesia,
berada dibawah-bawah, dan terbelakang.
Tetapi sekarang, dengan kepemimpinan yang kuat
yang diletakkan dasar-dasarnya oleh Mahathir Muhamad,
lalu dilanjutkan oleh Ahmad Badawi sekarang ini,
puak Melayu telah bisa menegakkan kepala,
dan mereka ada di mana-mana.
Pada hal, orang Cina di Malaysia dekat 40 %,
sementara Melayu sekitar 50 %.
Dari penyertaan Melayu di awal 1970-an yang hanya 2 % saja, sekarang telah meningkat menjadi di atas 30%. Ruar biasa!

Di Indonesia? Nasibnya nyaris seperti di Filipina.
Walau keturunan Cina hanya sekitar 3 % saja,
tetapi berkat kerjasama simbiotik saling menguntungkan
yang mesra dengan penguasa pribumi dalam bentuk KKN itu, warga keturunan sekarang ini
praktis telah menguasai seluruh jalur
dan jaringan perekonomian, perdagangan dan industri.
Dan merekalah sesungguhnya yang menguasai negeri ini
dari segi perekonomian, perdagangan dan industri itu,
nyaris di semua bidang.
Dari cerita-cerita yang kita dengar dari hingar-bingar Pilkada sekarang ini,
di hampir setiap calon Bupati, Walikota, Gubernur, dsb, sekarang ini,
berdirilah mereka di belakang,
siap dengan dana berapa saja;
karena dengan menangnya calon-calon
yang mereka dukung itu,
maka masuk pulalah jarum mereka
dalam “membangun” daerah yang calonnya didukung
oleh mereka itu.
Ini cerita yang saya dengar,
yang sampai di DPR dan DPD di Senayan itu.
Karena saya sebenarnya bukan orang ‘fulitik,’
terus terang, saya tak tahu banyak tentang itu.

Namun yang jelas, kita lihatlah betapa hebatnya rasa solidaritas di antara sesama perantau Cina itu,
sehingga secara bersama, dan saling tolong menolong,
mereka mampu menguasai
seluruh rantau Nan Yang Asia Tenggara,
yang memang dekat dengan tanah leluhur mereka.
Dan merekapun sekarang sedang kerja keras
melakukan usaha gugur-gunung
mempersamakan pembangunan tanah leluhur,
yang dalam waktu 10 tahun ke depan
akan menguasai seluruh jalur perdagangan dunia
dan menggantikan kedudukan Amerika dan Eropah
sekarang ini.

Begitu juga, dan apalagi, dengan perantau Yahudi
di mana-mana.
Jumlah mereka sedikit.
Tetapi karena akibat diaspora, tidak diterima di mana-mana, mereka memiliki semangat solidaritas sebangsa
yang tinggi sekali,
sehingga jadinya, merekalah yang menguasai dunia ini, khususnya di bidang bisnis, ekonomi dan perdagangan,
dan sains dan teknologi.
Secara berlebih berkurang begitu juga perantau India, khususnya di bekas dunia jajahan Inggeris,
di Asia, Afrika, West Indies,
dan bahkan termasuk di Inggeris sendiri,
terutama di bagian menengah ke bawahnya.

Kita tentu tidak akan mengambil yang jelek-jeleknya.
Tetapi yang positifnya, kita bisa, dan harus, belajar banyak
dari para perantau dunia itu.
Sifat solidaritas sebangsa dan sesuku bangsa
dalam artian yang baik dan konstruktif perlu kita tegakkan; agar orang Minang tidak tercampak dan terlunta-lunta
di rantau di manapun.
Mereka, sebaliknya, harus jadi pelopor
dan suri tauladan yang baik,
seperti yang dahulu diperlihatkan oleh para perantau Minang di mana-mana.
Dan perantau Minang di Batam, saya yakin,
tidak akan ketinggalan dari itu.

Para perantau Minang itu, di manapun,
jumlahnya sesungguhnya tidak banyak.
Paling 10 sampai 20 % dari jumlah penduduk
dari kota yang ditempatinya itu.
Di Medan, di Jakarta, dan di manapun,
seperti di Batam ini juga, mereka begitu.
Namun, seperti juga orang Cina, orang Yahudi
dan orang India itu,
orang Minang di rantau adalah yang sedikit
yang bisa membanyakkan.
Dia sedikit, tetapi dia banyak!
Artinya dalam; pulang kepada Anda untuk memahaminya itu.

Namun, berbeda dengan warga keturunan Cina,
mereka adalah pribumi,
dan pribumi yang di mana-mana biasanya pandai menempatkan diri.
Mereka dibekali oleh adat kebiasaan dan filosofi
serta ajaran kehidupan
yang menyebabkan mereka pandai menempatkan diri itu.
Ada ajaran “di mana bumi dipijak di sana langit dijunjung.” Ada ajaran “mandi di bawah-bawah, menyauk di hilir-hilir;” “iyokan nan di urang, lalukan nan di awak;”
“nan kuriak iolah kundi, nan merah iolah sago,
nan baiak iolah budi, nan indah iolah baso.”
Dan banyak lagi, yang menuntun mereka untuk pandai
dan berpandai-pandai hidup di rantau.

Khusus seperti yang dimintakan kepada saya,
makanya saya diundang datang ke Batam ini,
baik selaku anggota DPD maupun sebagai pribadi,
saya kira masalah keterlibatan masyarakat Minang
ikut berperan-serta dalam kehidupan berpolitik
di kota Batam ini,
sesungguhnya adalah masalah yang sederhana saja.
Karena kita-kita yang merantau ke Batam ini
bukanlah dengan cara liar,
seperti kebanyakan kita orang Indonesia
yang datang secara haram ke Malaysia, Singapura, dsb,
tetapi adalah penduduk kota yang sah dan berKTP lengkap, apalagi sudah lama pula bermukim di Batam ini,
maka adalah hak dari setiap warga kota, sebagai warga negara, untuk ikut aktif berpolitik.
Mana yang bersusuh, kuat kepak sayapnya,
dan nyaring pula kukuknya,
tampillah ke gelanggang politik,
seperti warga kota yang lain-lainnya,
tanpa harus melihat dari mana mereka,
apa sukubangsanya, agamanya, dsb.
Ini tandanya kita hidup dalam alam demokrasi
dan demokrasi moderen yang berpancasila itu.
Apalagi, berbeda dengan Riau Daratan,
Riau Kepulauan dengan kota metropolitan Batam ini berpenduduk beragam, pluralistis,
dan tak satupun sukubangsa yang dominan di Batam ini.

Yang penting, menurut hemat saya,
apa yang kita bisa sumbangkan sebagai warga kota
bagi pembangunan dan kebangunan Batam ini,
bukan siapa dan dari kelompok etnik mana mereka berasal. Yang penting juga, apapun yang kita lakukan,
kita lakukan secara bersungguh-sungguh,
dengan sepenuh kesadaran,
dan prinsip jujur, amanah, dan dengan niat yang ikhlas,
apalagi dengan niat ibadah. Selesai.
Dan bersiaplah untuk memasuki medan laga
pertarungan politik itu,
terutama bagi yang bersusuh, kepaknya kuat
dan kukuknya nyaring itu.
Berpolitik adalah bagian dari kehidupan.
Dia adalah juga olah raga, olah otak,
dan permainan yang mengasyikkan.
Tidak sia-sia kalau dalam filsafat Yunani dikatakan:
manusia itu adalah zoon politicon dan homo ludens: “Binatang yang suka berpolitik,” dan “suka bermain.”

Sekian, Wassalamu ‘alaikum w.w.

0 Responses to “HIKMAH MERANTAU”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: