DARI DPD KE SENAT REPUBLIK INDONESIA

23 Mei 2005

DPD-RI yang kita lahirkan melalui pergulatan politik di MPR-RI di era reformasi ini ternyata masih memer-lukan upaya-upaya kerja keras ke depan agar setara dengan DPR-RI dalam konteks bikameralisme yang kita cita-citakan.
Sistem bikameral yang sedang kita rintis dan perjuangkan sekarang ini adalah sebuah keniscayaan politik yang tidak mungkin tidak dengan mengingat latar belakang negara kita ini yang secara geografis demikian luas dan dengan jumlah penduduk yang demikian banyak, di samping latar belakang sosial-budaya yang juga demikian beragam dan kompleks. Dengan berkaca ke negara-negara lainnya di dunia ini, me-mang praktis tidak ada satupun negara besar yang demokratik di dunia ini yang tidak bikameral sifatnya. Jangankan negara-negara besar yang demokratik seperti Amerika Serikat, Kana-da, Jerman, India, Australia, dll, negara tetangga kita yang jauh lebih kecil seperti Filipina dan Malaysia saja memiliki sistem dua kamar atau bikameral itu.
Otonomi Daerah yang sudah mulai kita terapkan seka-rang ini akan menjadi lebih efektif dan lebih efisien berjalan-nya jika konsep bikameral itu kita terapkan secara serasi dan bergandengan. Tujuan semua itu tidak lain adalah agar daerah-daerah bisa dengan lebih lincah dan lebih percaya diri dalam menangani masalah-masalah kenegaraan yang sewajarnya me-mang adalah porsi mereka. Pada waktu yang sama, pemerintah pusatpun akan sangat diringankan, dari yang tadinya semua-semua dan apapun diatur oleh dan dari pusat, sekarang masalah-masalah daerah diserahkan kepada daerah untuk menangani dan menanggulanginya. Bukankah dalam kenyata-annya, tidak ada yang lebih mengetahui dan menguasai per-masalahan-permasalahan daerah kecuali adalah daerah itu sendiri? Sebaliknya, marilah kita percayakan hal-hal yang menyangkut kepentingan nasional, seperti yang tertera dalam UUD 1945 itu, tetap kita serahkan dan percayakan kepada pusat. Konsep NKRI, dalam arti, RI ini adalah sebuah Negara Kesatuan, dengan daerah-daerah memiliki otonomi yang luas, yang bertingkat dari provinsi, kabupaten/kota dan desa, harus tetap kita pertahankan.
Yang diperlukan sekarang ini memang adalah sebuah perubahan paradigmatik (paradigm shift) dan sekaligus kesadaran politik, dari cara berfikir kita yang selama ini cenderung bersifat sentralistik, sentripetal, top-down, birokratik, uniform, paternalistik, bahkan feodalistik-despotik, kembali mengarah kepada yang bersifat sebaliknya, yakni yang berorientasi ke-pada kepentingan dan kemaslahatan rakyat terbanyak, dengan ciri-ciri orientasi yang bersifat demokratik, desentralistik, sen-trifugal, bottom-up, egaliter, dan sensitif akan keberagaman latar belakang sosial-budaya dari daerah-daerah dan masya-rakatnya yang demikian tersebar di seluruh kepulauan Nusan-tara ini. Berangkat dari keharusan akan perubahan paradigma-tik itu, langkah-langkah selanjutnya ke depan, bagaimanapun, tidak lain adalah, agar kita secara bersama-sama, dan melalui berbagai cara dan berbagai tingkat dan media, memperju-angkan sistem parlemen yang bikameral, dari yang sekarang sifatnya masih semu dan separoh hati, ke sistem bikameral yang penuh, setara dan saling menguatkan.
Sebenarnya, tanpa satu patah katapun yang menyebut tentang istilah “bikameral” dalam UUD 1945 yang sudah diperbaharui itu, dengan wujud keberadaan DPD-RI yang bersebelahan dengan DPR-RI sekarang ini, dan dengan cara serta proses pembentukan yang dilalui, DPD-RI pada hakekatnya adalah Senat. Seperti halnya dengan Senat di manapun, DPD-RI dipilih secara langsung oleh seluruh rakyat di daerah provinsi masing-masing, dengan jumlah anggota yang sama untuk semua provinsi, tanpa membedakan besar-kecil luas wilayah dan jumlah penduduknya, dan mewakili daerahnya di tingkat nasional di forum DPD-RI itu. Hanya, karena pertimbangan politik sesaat yang bergejolak pada waktu pembentukan DPD-RI di forum MPR-RI di waktu yang lalu itu, sifat bikameralnya itu sangat dibatasi fungsi dan statusnya, sehingga di MPR sendiri berkembang istilah antara soft dan strong bicameral. Akibatnya menjadilah DPD-RI itu menjadi lame duck (itik yang lumpuh) seperti yang kita lihat sekarang ini. Tidak munculnya istilah Senat dan sistem bikameral dalam UUD 1945 yang diamandir itu adalah sebuah kesengajaan politik dari kekuatan yang berkembang pada waktu itu yang tidak secara ikhlas menginginkan terwujudnya sistem bika-meral yang membagi kekuasaan legislatif antara DPR-RI dan DPD-RI itu.
Melalui perubahan paradigmatik seperti di atas yang harus terwujud secara struktural maupun institusional-kelem-bagaan di negara kita ini, sasaran dekat kita ke depan tidak lain adalah: Amandemen ke empat UUD 1945, khususnya terha-dap pasal-pasal yang terkait dengan DPD-RI sebagai Lembaga Negara bersebelahan dengan DPR-RI dalam konteks sistem bikameral yang penuh, setara dan seimbang itu.
Sebagai bagian dari upaya perjuangan untuk merubah DPD-RI menjadi Senat RI dalam sistem parlemen yang bikameral itu, marilah kita secara populer mengusung nama DPD-RI itu sebagai Senat RI, dengan anggota-anggotanya sebagai Senator RI. Mari kita sosialisasikan dan bangkitkan minat dan perhatian setiap lapisan masyarakat untuk mem-populerkan istilah serta konsep Senat dan Senator itu, di samping kita juga berupaya merubahnya secara yuridis-formal melalui forum legislatif-konstitusional, MPR RI. Dengan Senat dan dengan sistem dua kamar itu diharapkan daerah-daerah dan pun nasional secara menyeluruh akan lebih bergaerah dalam mengejar segala ketinggalan yang ada pada kita secara bersama-sama.
Untuk hubungan komunikasi yang bersifat internasional maupun nasional yang bersifat formal bisa saja kita tetap mempergunakan istilah DPD-RI dengan terjemahannya ke dalam Bahasa Inggeris: “House of Regional Representatives” (House, bukan Council, untuk melambangkan bikameralisme-nya itu), sementara secara populer kita juga menyebutkannya sebagai “Senat Republik Indonesia”, dan anggotanya: Senator. ***

0 Responses to “DARI DPD KE SENAT REPUBLIK INDONESIA”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: