BUYA HAMKA SEBAGAI PUTERA ZAMANNYA

Memperingati 100 Tahun Buya Hamka (1908-2008). Dimuat dalam Buku Buya Hamka, UHamka Press,

April 2008, Jakarta,

BUYA HAMKA, dari segi tinjauan ilmu filsafat sejarah, adalah putera zamannya. Dan masa seperempat abad pertama abad ke 20 adalah masa kebangkitan sebuah bangsa baru di Asia Tenggara ini. Kemenangan bangsa Jepang atas Rusia di Asia tahun 1905 telah memicu bangkitnya bangsa-bangsa baru lainnya di Asia dan di Asia Tenggara ini. Di Indonesia, bermula dengan Sarekat Dagang Islam, lalu Sarekat Islam, Budi Utomo, Muhammadiyah, NU, Persatuan Islam, Permi, Perti, Sumatera Thawalib, Jam’iyatul Washliyah, dst.
Tapi sebelum itu, sejak penggal kedua abad ke 18 dan masuk ke abad ke 19, dunia Islam di Timur Tengah dan di anak benua India telah pula bangkit. Ada gerakan Wahhabi di Jazirah Arab yang mendahuluinya (di bawah pimpinan Mu-hammad ibn Abdul Wahhab, 1703-1792) yang ingin memurni-kan kembali ajaran Islam, bersih dari syirik, bid’ah, khurafat, tahyul, dsb. Ada dua pendekar Islam, Jamaluddin Al Afghani (1838-1897) dan Muhammad ‘Abduh (1849-1905) di Mesir dengan terompet Al Manār dan Al ‘Urwatul Wutsqānya, yang menyuarakan suara pembaruan dan kebangkitan Islam kem-bali. Lalu pada waktu yang bersamaan di anak benua India muncul pula pembaharu Sir Syed Ahmad Khan (1817-1898), Muhammad Iqbal (9 Nov 1877-21 Apr 1938), Muhammad Ali Jinnah (25 Des 1876-11 Sep 1948), dsb. Dan suara mereka membahana sampai ke bagian timur di gugusan kepulauan di kawasan Khatul Istiwa ini.
Masih di awal sampai pertengahan abad ke 19 itu juga gerakan pembersihan aqidah oleh Wahhabi bersipongang sam-pai ke Indonesia ini. Lalu terjadi Perang Bonjol melawan Belanda (1821-1837) di bawah Tuanku Imam Bonjol (1772-1864). Tuanku Imam Bonjol bersama para pengikutnya me-nyuarakan dan melakukan gerakan pembersihan aqidah Islam dari faham syirik, khurafat, bid’ah, dsb itu. Memang benar bahwa di tangan Tuanku Nan Renceh, 1870-an, gerakan menjurus ke arah pembersihan yang lebih bersifat radikal, yang kemudian mengantarkan suasananya ke Perang Kamang dengan Belanda tahun 1908.
Dengan terbukanya terusan Suez tahun 1869 maka mulai banyaklah orang-orang dari dunia Melayu ini yang pergi naik haji dengan kapal ke Jeddah, melalui Singapura, Sailan, Guja-rat, dst. Satu dari antaranya adalah seorang anak muda lulusan Sekolah Raja di Bukittinggi, Ahmad Khatib, yang kemudian tenar disebut sebagai Syeikh Ahmad Khatib Al Minangkabaui (1855-1916). Syeikh Ahmad Khatib yang menjabat sebagai Imam mazhab Syafi’i di Mesjid Haram inilah yang menjadi tepatan orang-orang Indonesia yang selain naik haji juga bermukim untuk beberapa waktu belajar agama di sana. Dan mereka belajar ke Syeikh Ahmad Khatib ini. Anak-anak murid dari Syeikh Ahamd Khatib inilah pula yang kemudian di daerahnya masing-masing menyebarkan faham baru keagama-an yang bersih dari syirk, khurafat, bid’ah, dsb. itu, yang banyak-banyak juga membuka surau, pesantren, madrasah, dsb. Pendiri Muhammadiyah di Yogya, Kiyahi Haji Ahmad Dahlan, adalah dari antaranya yang berguru kepada Syeikh Ahmad Khatib Al Minangkabaui itu, di Mekkah.
Tahun 1928, sebagai kelanjutan dari gerakan kesadaran sejak dari SDI, SI dan BO itu, organisasi-organisasi pemuda dari berbagai daerah di Indonesia berkumpul di Jakarta dan melahirkan pekikan bangkitnya sebuah bangsa baru, bangsa Indonesia. Dari pekikan ini lahirlah keinginan untuk bertanah-air satu, tanah air Indonesia, berbangsa satu, bangsa Indonesia, dan berbahasa satu, Bahasa Indonesia. Pekikan Sumpah Pe-muda 28 Oktober 1928 inilah yang kemudian lalu meng-antarkan Indonesia ke gerbang kemerdekaannya, 17 Agustus 1945.
Buya Hamka lahir pada masanya. Tahun 1928 itu Buya Hamka telah berumur 20 tahun. Umur 20 tahun waktu itu tidak sama dengan umur 20 tahun sekarang. Umur 20 tahun sekarang kebanyakan masih seperti anak-anak yang ‘belum lepas dari bedungan.’ Dan masih ‘berbau kencur.’ Apalagi melalui pendidikan formal-skolastik sekarang praktis tidak ada anak sekolah yang mandiri dan berfikir mandiri, apalagi otodidak seperti Buya Hamka dan banyak anggota generasinya itu.
Anak 20 tahun sekarang rata-rata dikeloni dan dicekoki. Dengan istilah ‘anak bangsa’ yang bukan kebetulan, tetapi tepat menggambarkan filosofinya itu, semua serba diatur, serba disiapkan dan dikendalikan secara seragam untuk anak bangsa itu. Yang mengaturnya adalah mesin sistem yang dimotori oleh Negara, sebagai pengejawantahan dari filosofi kenegaraan yang namanya “etatisme” yang dibungkus dengan label Garuda Pancasila dan dengan semangat birokrasi yang kental berbau feodalisme dan paternalisme yang diangkatkan kembali dari budaya leluhur yang disanjung-sanjung. Melalui filosofi sinkretisme dari budaya leluhur itu feodalisme dan paternalisme yang sudah mengakar dalam masyarakat Indo-nesia itu, agar bisa dipakai lagi, diberi baju baru dengan label demokrasi, modernisme, liberalisme, transparansi, supremasi hukum, globalisme, dsb., yang sesuai dengan tuntutan zaman. Botolnya baru dengan label baru tapi isinya anggur yang lama itu juga.
Di zaman di mana Buya Hamka lahir dan dibesarkan, sebagai kelanjutan dari gerakan pembersihan yang bermula dari gerakan Wahhabi itu, yang muncul di tanah kelahirannya adalah budaya sintetisme, yaitu menyatunya unsur-unsur dari bermacam ragam budaya dan dari berbagai macam sumber, dari manapun datangnya, tetapi yang dalam prosesnya lalu menyatu ke dalam satu sistem budaya dan sistem berfikir yang bersifat sintetik. Artinya, mana yang sejalan digabung dan dipakai, mana yang tidak sejalan, dibuang. Adagiumnya: “Yang baik dipakai, yang buruk dibuang” — dari manapun datangnya.
Dari sanalah munculnya motto dari filsafat hidup yang dipakai di Minangkabau, dulu dan sekarang: ABS-SBK: “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.” Bedanya, dahulu dipakai, sekarang hanya simbol dan slogan, karena terhambat oleh pelaksanaannya. Karena Sumatera Barat adalah bahagian dari Indonesia yang lebih luas dan diatur secara terpusat.
Sendirinya, adat yang bersendi syarak itu adalah adat yang sesuai dengan Islam, yang juga dinamakan dengan “Adat Islamiyah,” sementara adat yang tidak sesuai dengan Islam: “adat jahiliyah.” Adat jahiliyah dibuang. Jadi atah tidak ber-campur dengan beras. Nilainya karenanya bersifat universal, dan bisa berlaku di manapun dan kapanpun. Dan ini yang membikin orang Minang bisa merasa di rumah, ‘at home,’ di manapun melalui tradisi merantaunya itu.
Cara berfikir yang berorientasi sintetik ini, bagaimanapun, terasa mengganjil atau bahkan mengganjal dengan budaya nasional yang berorientasi sinkretik sekarang, yang susah membedakan mana yang atah mana yang beras, karena semua ditampung dan semua dipakai. Feodalisme, paternalisme, ne-potisme, animisme, dsb, dipakai bersebelahan atau bercampur-aduk dengan demokrasi, modernisme, supremasi hukum atau rule of law, rasionalisme, liberalisme, sekularisme, dsb. Budaya-nya budaya gado-gado campur-aduk, sinkretik.
Dengan prinsip ABS-SBK, atah yang berupa feodalisme, paternalisme, nepotisme, animisme, liberalisme, sekularisme, dsb. itu dibuang; yang dipakai adalah beras berupa demokrasi, modernisme, rule of law, rasionalisme, dsb, yang telah dise-suaikan dengan prinsip ajaran Islam, di samping ajaran Islam itu sendiri yang dipadu secara integral, komprehensif dan kaffah. Semua ini adalah hasil dari proses pemurnian, pem-bersihan dan pembaharuan yang telah berjalan sejak dari abad ke 18, 19 dan masuk ke abad yang ke 20. Minangkabau adalah daerah di mana semua proses itu terjadi secara intens dan berkesinambungan sampai ke zamannya Buya Hamka itu.
Namun, Minangkabau yang sekarang tidak lagi Minang-kabau yang dahulu. Dahulu Minangkabau independen, berdiri sendiri. Sekurangnya secara sosio-kultural dan struktural. Minangkabau atau Sumatera Barat yang sekarang adalah dan hanyalah bahagian yang integral dari Indonesia yang lebih luas, yang filosofi hidupnya sinkretik, tidak sintetik, yang struktur budaya-politiknya tidak egaliter-demokratik, tetapi feodal-eta-tik-birokratik dan berorientasi ‘kesatuan’ secara monolitik, bu-kan ‘persatuan’ secara integralistik. Minangkabau yang sintetik, oleh karena itu, terkooptasi oleh dominasi budaya nasional yang sinkretik itu.
Di zaman di mana Hamka dilahirkan dan dibesarkan, anak 20 tahun waktu itu sudah tidak anak lagi. Dia telah menjadi orang. Dia telah berdiri sendiri. Dia menerjang dan menyeruak ke sana-kemari. Dia telah menggeretang dan mem-perlihatkan keakuan dan jatidirinya. Hamka, baru saja kelas dua di Sekolah Dasar, sudah keluar dari kampungnya, Sungai Batang, Maninjau. Pada hal yang ditinggalkannya adalah sebuah ‘surga.’ Di mana di dunia ini ada kampung seelok seperti Maninjau dengan danaunya yang indah dan syahdu itu. Dia lalu berguru ke ayahnya sendiri di sekolah yang didirikan oleh ayahnya, Sumatera Thawalib, di Padang Panjang. Ayahnya adalah ulama terkenal, pembaharu, pelopor gerakan tajdid, dan progresif bahkan radikal. Beliau tidak lain dari Syeikh Haji Abdul Karim Amrullah, yang seperti anaknya pula, juga dapat Doktor Honoris Causa dari Mesir. Karenanya beliau juga biasa dipanggilkan dengan “Inyiak De Er,” di samping panggilan kesayangan “Inyiak Rasul.”
Namun si Malik kecil ini, yang kemudian namanya dikenal dengan Haji Abdul Malik Karim Amrullah, atau di-singkat HAMKA, dan lengkapnya di puncak ketenarannya bahkan: Prof Dr HAMKA, bukan si Malik namanya kalau dia tidak mengikuti suara hatinya. Dia sebentar cuma dengan ayahnya, lalu pindah lagi ke Sumatera Thawalib yang lain di Parabek, Bukittinggi, di bawah asuhan Syeikh Ibrahim Musa Parabek, yang juga berguru kepada Syeikh Ahmad Khatib di Mekkah. Kelihatannya Malik masih melanjutkan tradisi belajar cara surau yang suka berpindah dari satu surau ke surau lainnya seperti yang dilakukan oleh urang siak atau santri pengelana (peripatetic sufi) sebelumnya.
Konon yang saya dengar ceritanya, karena saya dekat dengan Madrasah Sumatera Thawalib (saya sekarang Ketua Dewan Pembina dan sebelumnya Ketua Bidang Pendidikan), si Malik ini lebih banyak keluyuran menurutkan kehendak hatinya itu, mencari sesuatu entah apa yang dicarinya. Kadang dia ditemukan di tengah sawah di tengah orang yang sedang mengirik padi. Kadang memalang, mencari belut, di parit-parit di tepi sawah, sambil berdendang-dendang kecil. [Saya tahu si Malik kecil suka berdendang karena ketika tuanya, ketika saya semobil dengan Buya dan beberapa lainnya dari Padang ke Batusangkar menghadiri Seminar Sejarah dan Kebudayaan Minangkabau di Batu Sangkar th 1970, Buya di sepanjang perjalanan suka berdendang sambil bergurau dan berkelakar]. Kadang di tengah pasar, atau masuk kampung keluar kam-pung, pada hal waktunya waktu seharusnya dia berada di ruang kelas. Tetapi kadang si Malik juga bersitungkin berhabis minyak dengan buku, dengan bacaannya. Membikin catatan dan belajar menulis dari hasil bacaan dan hasil apapun yang diamati dan dipikirkannya itu.
Kekuatan Malik adalah pada membaca, menghafal, ke-mudian menulis dan berbicara serta ingatan yang kuat dan cerdas. Kekuatan membaca adalah karena masih dengan ayahnya di Padang Panjang dia telah mulai belajar dan mengu-asai Bahasa Arab. Karenanya melalui penguasaan Bahasa Arab dia cepat berkenalan dengan kitab-kitab kuning, dan dengan kitab-kitab atau buku-buku yang jauh menyimpang dari kebiasaan santri di madrasah, yaitu buku-buku sejarah, filsafat, sastra, biografi, politik dan kebudayaan. Beliau bahkan menge-nal budaya Eropah melalui buku-buku yang dikarang oleh penulis-penulis Mesir dan Timur Tengah itu.
Ada motto pendidikan di Parabek dan di Minangkabau lainnya waktu itu, “yang murid harus lebih pintar dari guru.” Puncak kepuasan seorang guru adalah kalau muridnya pintar, cerdas, pandai membantah dan pandai ‘melawan’ ke guru, artinya tidak menerima dan membeo saja, tetapi mempunyai pendapat sendiri dan pandai pula mempertahankannya. Tugas guru pada waktu itu adalah ‘menghasung,’ menggelitik, membikin murid pandai menalar dan pandai menguraikan sendiri. Belajar bersilat rupanya bukan hanya dalam artian fisik, tetapi lebih jauh lagi, pandai pula bersilat dengan otak dan kata-kata, dengan argumentasi yang jitu dan mematahkan, atau bahkan mematikan argumentasi orang lain dengan cara menalar, tapi sopan dan berakhlak. Sehingga, ular mati, semai-an benih tak kusut. Rambut tak putus, tepung tak terserak. Budaya Minang mengajarkan, “kata” itu ada empat macamnya: kata melereng, kata mendaki, kata menurun dan kata menda-tar. Tanpa merubah substansi, cara menyampaikan disesuaikan dengan sikonnya.
Sementara itu sistem klasik duduk berkeliling guru dalam bentuk halaqah di mesjid telah mulai berubah menjadi berkelas, berpapan tulis, berbuku, seperti sekarang. Dan yang digalakkan waktu itu selain menghafal, membaca buku sendiri, juga bermudzakkarah, atau seminar cara sekarang, dan berpi-dato, bermuhadatsah. Lalu, tentu saja, menghafal ayat-ayat dan matan-matan hadits, serta ungkapan orang-orang bijak, serta berpantun, berpepatah-berpetitih, bersastra, dan berpidato, tanda orang Minangkabau. Tidak ada duanya di Indonesia ini dalam bentuk dan manifestasinya yang superb, di mana Buya sama tajam penanya dengan fasih lidahnya, sebagai hasil asahan di surau dan di madrasah itu. Sementara kita hanya salah satu saja, atau tidak kedua-duanya.
Karenanya, kalau kita mau mencari di mana letak rahasia kenapa begitu banyak orang-orang pintar tanah air yang berasal dari lulusan surau dan madrasah di Sumatera Barat waktu itu, ketemunya di sini. Ketemunya pada sistem pendi-dikan yang sangat merangsang dan menantang itu. Bandingkan dengan yang sekarang. Sebaliknya. Bahkan bertolak-belakang. Banyak hasil sekolah sekarang hanya kerabang kosong. Karena yang dicari bukan ilmunya tetapi yang secarik kertas itu, ijazah atau sertifikat, untuk dapat kerja, jadi pegawai atau kerani di kantor-kantor. Dan guru sendiri tidak mau anak didiknya lebih pintar dari dia. Guru di sekolah lebih menempatkan diri seba-gai pegawai negeri dan karyawan yang makan gaji, dalam para-digma etatik-birokratik tadi; bukan pendidik, bukan pengasuh dan bukan pula pengasah. Hubungan kepala sekolah dengan guru-guru adalah seperti hubungan bos dan pegawai bawahan, bukan hubungan kolegial sebagai sesama guru. Karenanya juga sekolah-sekolah justeru di zaman kemerdekaan ini seperti mandul. Ribuan menghasilkan lulusan dan sarjana setiap tahun, tetapi jarang atau sedikit sekali yang jadi orang, artinya jadi intelektual, ulama, pemikir, negarawan, dsb, seperti dahulu sebelum perang di zaman Buya Hamka dan di zaman pentolan-pentolan bangsa itu.
Karena menurutkan kata hati itu, Buya kita ini tidak pula tamat di Parabek. Jadi pendidikan formalnya hanya kelas dua SD di kampung itu, lalu melanjutkan ke sekolah ayahnya di Padang Panjang dan dengan Inyiak Parabek di Parabek. Selebihnya: otodidak! Yang ujung-ujungnya, dalam perjalanan hidupnya, dia jadi doktor dan profesor, melebihi semua yang bertitel lain-lainnya. Dan dunia selingkupnya mengakuinya.
Belum lagi berumur 20, tahun 1927, Buya kita ini tersembul di tengah-tengah perkebunan di Tebing Tinggi, Sumatera Timur. Mengajar, jadi guru agama di sana. Tahunya tahun 1928, ketika beliau berumur 20 tahun, kembali lagi ke Padang Panjang, menjadi guru agama, menggerakkan latihan kader-kader da’i dan mengetuai cabang Muhammadiyah di kota itu. Dua tahun kemudian Buya dikirim oleh Muham-madiyah ke Makassar untuk menjadi Konsul di sana. Dari sana perjalanan hidup beliau sambil merantau diretasnya.
Di zaman Jepang beliau ada di Medan. Waktu itu beliau sudah jadi orang. Saya dengar dan saya lihat juga snapshot filemnya, ada ungkapan Buya yang memuji-muji Tenno Heika dan Asia Timur Raya, tetapi yang di belakangnya itu adalah betapa bencinya Buya kepada Belanda dan penjajahannya selama 350 tahun itu. Dengan datangnya Jepang semoga semua berubah. Karena yang dijanjikan adalah kemerdekaan yang sudah sejak 1928 didambakan oleh para pemuda dan kader bangsa itu.
Dan di Medan itulah Buya muda kita mengembangkan bakat menulis dan berpidatonya, walau ketika masih di Padang Panjang buku pertamanya sudah juga keluar, Si Sabariah (1928), konon dalam Bahasa Minang. Beliau menerbitkan dan memimpin majalah Pedoman Masyarakat, di Medan. Beliau menjadi jurnalis dan penulis. Beliau menulis novel, buku sejarah, buku agama, tasawuf, entah apa lagi. Tercatat ada 79 buku yang beliau tulis, baik waktu di Medan, waktu di Makassar, dan tentu saja ketika sudah hijrah ke Jakarta di awal kemerdekaan sampai ke akhir hayat beliau. Dan semua itu beliau tutup di akhir hayat beliau dengan Tafsir Al Azhar, lengkap 30 juz, yang merupakan magnum opus dari semua karya tulis beliau.
Beliau oleh banyak pengamat masuk ke dalam banyak kategori, ya ulama, yang sastrawan, ya budayawan, ya jurnalis, ya politikus, ya entah apa lagi. Dan dengan itu beliau tercatat sebagai orang besar tanah air.
Sampai hari ini tidak ada yang menduai. Hamka hanya seorang. Sebagaimana juga hanya ada seorang Tan Malaka, seorang Agus Salim, seorang Hatta, seorang Natsir, seorang Assaat, seorang Dt Palimo Kayo, dst.
Kenapa demikian? Pertanyaan besar, dari segi ilmu filsa-fat sejarah, menggelitik memang. Sepertinya, para orang-orang besar bangsa itu, sekali datang, juga sekali pergi semua. Dan tidak berganti. Pisangnya masak setandan. Lalu gugur semua. Kenapa?
Saya mengaitkannya kepada suasana budaya yang ber-kembang pada waktu itu, dan yang berkembang sekarang. Antipodal sifatnya. Intinya adalah pada dikhotomi dan polari-sasi budaya sinkretisme dan sintetisme itu di bumi Nusantara ini.
Seperti yang saya gambarkan selintas tadi itu, pantas kalau muncul Hamka waktu itu, sebagaimana munculnya yang lain-lain, hampir pada waktu dan masa yang bersamaan. Pada masa itu suasananya kondusif untuk melahirkan orang-orang besar.
Pertama, mereka tidak dicekoki, tidak dikeloni. Melalui pendidikan surau mereka dilatih untuk hidup frugal, seder-hana, bersahaja, tidak banyak tuntutan, dan sama sekali tidak terguyu oleh materi dan kehidupan senang-hedonistik seperti sekarang. Karenanya, melalui kehidupan surau itu mereka kebanyakan hidup zuhud. Mendalam agama dan praktek agamanya. Tetapi berpijak di bumi dengan hidup minimalis apa adanya.
Kedua, mereka bukan hanya dekat, tetapi berada di tengah-tengah masyarakatnya. Karenanya, etika, basa-basi sosial, dan kurenah bermasyarakat terbawa sampai tua dalam kehidupan mereka. Yang mereka minum adalah air kehidupan bermasyarakat yang egaliter, tidak melihat orang sebagai bertinggi-berendah, tidak sombong, angkuh, tinggi hati, dan tidak elitis, apalagi borjuis, feodalistis, materialistis, seperti cara hidup orang sekarang.
Kebudayaan Minangkabau yang egaliter-sentrifugal telah menempa mereka untuk bisa berada di mana saja. Di mana bumi dipijak di sana langit dijunjung. Di mana ranting di patah, di sana airnya disauk. Dan untuk itu segera bersifat menolong, segera turun tangan. Biar untuk diri berkurang-kurang, tetapi untuk orang dan untuk masyarakat luas kepentingan yang lebih besar diutamakan. Karenanya mereka berorientasi sentrifugal, bukan sentri-petal. Diri untuk masyarakat yang lebih luas, bukan masyarakat yang lebih luas untuk diri sendiri. Diri adalah “yang sedikit yang bisa membanyakkan.”
Bayangkan dengan yang sekarang. Terbalik. Antipodal. Karenanya KKN –korupsi, kolusi dan nepotisme– merajalela. Penyalah-gunaan wewenang dan kekuasaan menjadi barang biasa. Dan ujung dari semua itu adalah feodalisme, nepotisme, etatisme yang dihidupkan kembali di tengah keinginan mau jadi manusia moderen yang demokratik dsb itu.
Ketiga, berpikir kritis-analitis-komparatif, integral-kom-prehensif, dan berpikir secepat kilat. Melintas rusa di tengah rimba, tahu sekali dia jantan-betinanya. Walau kail yang dibentuk tetapi ikan di laut yang diduga. Karenanya bahasanya tidak mengheja satu-satu tetapi bahasa yang melompat-melom-pat dan berkias di samping juga bersastra. Enaknya mendengar Buya berpidato dan berbicara, seperti juga dengan semua yang seangkatannya, adalah logika kuantum yang melompat-melompat itu. Tajam tapi enak. Sehingga tak terasa kena sembilu.
Berbeda dengan kebanyakan orang, Buya kita pandai betul membawakan suasana itu, sehingga suasananya menjadi khas Buya. Apalagi dibawakan pula dengan bahasa air muka atau body language dari Buya, yang kalau Buya ketawa, orangpun ketawa, kalau Buya sedih, orangpun sedih dan menangis. Dan kekhasan Buya juga, orang sukanya berjela-jela sehingga yang tadinya enak lalu membosankan; sementara Buya, sedang terenak dihentikan. Begitulah Buya pandai sekali menakar, sehingga nikmatnya bisa panjang sekali. Muka bercepuk karena waktu kecil kena cacar, malah bagi Buya menjadi hiasan wajah, karena kerenyut kening dan mukanya dibalun dengan senyum dan desauan suara serak-serak basah.
Keempat, berpikir global, universal, multilateral, dan bisa masuk dan menyeruak ke mana saja, walau yang dikaji bukan bidangnya sendiri. Orang surau seperti Buya kita itu, walau dia ulama dalam mengaji tetapi dia bisa masuk ke mana saja, termasuk dunia politik, kebudayaan, seni-sastra, dan apapun. Saya melihat sendiri kebanyakan orang dahulu di Sumatera Barat adalah seperti itu. Dan semua dimulai dengan kepandaian menyusun kata-kata, dan kata-kata yang bermakna, sambil bersenandung dan berseloka. Silahkan buka kaset-kaset pidato yang beliau tinggalkan sebagai pengenang siapa dan bagaimana beliau dalam berkata-kata.
Banyak tentunya lagi yang bisa ditambahkan, yang mem-bikin orang dahulu seperti Buya itu berbeda dari orang yang sekarang. Sayangnya era keemasan itu seperti sudah berlalu, dan cepat berlalu. Seperti dia tidak akan datang lagi. Dan kita seperti si pungguk merindukan bulan tiap kali kita mengingat dan mengenang peri kehidupan Buya kita ini dan sekian banyak buya-buya dan tokoh-tokoh lain yang seangkatannya.
Saya, di sela-sela itu, bagaimanapun, masih bisa berse-nyum diri sendiri, karena jelek-jelek termasuk yang dididik oleh Buya kita ini. Baik melalui buku-buku beliau yang saya baca; apalagi sempat pula menyauk ilmu langsung dari beliau. Saya di tahun 1950-an selain masuk Universitas Gadjah Mada, juga masuk PTAIN –cikal-bakalnya IAIN sekarang– dan bahkan juga masuk Fakultas Ekonomi UII, di Yogya.
Walau semua tidak ada yang tamat, karena ulah secarik kertas rekomendasi dari Buya kita ini, saya langsung tancap ke Kanada. Kebetulan, Prof Cantwell Smith, Direktur Institute of Islamic Studies, McGill University, Montreal, Kanada, berkun-jung ke PTAIN, di Yogya, tahun 1957, dan sayapun bertemu dengan beliau. Waktu itu saya sudah di tingkat doktoral di IAIN dan Fakultas Ekonomi UII. Melalui secarik kertas itu, tanpa melalui program S1 saya dibolehkan langsung mengam-bil program studi MA di bidang Islamic Studies (1957-1959). Dari sana saya baru mengambil program studi PhD di bidang sosiologi di New York University, tapi menyerahkan disertasi-nya mengenai “Merantau” di Univ of Singapore, 1974.
Selama di PTAIN itulah saya mengambil kuliah-kuliah yang diberikan oleh Buya, Prof Dr Hamka, dalam mata kuliah Tasawuf dan Sejarah Islam. Dan tiap kali Buya datang ke Yogya, kami beramai-ramai lagi tiap minggu pagi datang ke rumah Buya A.R. St Mansur, waktu itu Ketua Umum Muham-madiyah, di Kauman, di mana Buya mendapat. Antara Buya St Mansur dan Buya Hamka ada hubungan saudara melalui ibu-ibu mereka. Berjam, kadang, kami dari anak-anak mahasiswa Minang di Yogya, diterima oleh Buya dan Buya St Mansur berkelana ke sana kemari menampung ilmu yang tercurah dari beliau-beliau itu.
Begitulah kami dahulu hormat dan menyenangi orang-orang tua. Sekarang mana ada. Saya yang sudah pula tua sekarang ini praktis tidak ada yang didatangi anak muda mahasiswa seperti kami dahulu mendatangi Buya, Buya St Mansur, Inyiak Haji Agus Salim, Natsir, Assaat, dan siapapun tokoh yang datang ke Yogya. Kami haus dan selalu haus akan petunjuk dan pengajaran dari yang tua-tua. Dan kami hormat kepada mereka. Bagi kami orang tua adalah sumber ilmu dan kearifan yang tak ada tara.
Buya, bagi saya, selain guru adalah idola saya, dan idola dari sekian banyak orang Indonesia dan Melayu lainnya di dunia Melayu. Namun, kok kayaknya seperti si pungguk merindukan bulan mengharapkan Hamka yang lain-lainnya muncul di tengah kekeringan kepemimpinan dan tokoh panutan di masa sekarang ini.
Sekadar menunjukkan bagaimana Buya konsisten dengan filosofi hidup yang sintetik, yaitu berpadu dan terpadu serta serasinya unsur aqidah, sikap hidup dan muamalah pengamalannya, beliau memilih untuk melepaskan kedudukan yang sangat terhormat sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), di akhir hayatnya, daripada bertolak-angsur dengan Menteri Agama waktu itu dalam membolehkan orang Islam ikut dalam perayaan Natal di gereja. Bagi Buya, toleransi agama hanyalah sebatas hubungan sosial dan budaya sebagai sesama warga dan sesama manusia, tetapi kalau sudah sampai kepada masalah aqidah, maka yang berlaku adalah: “Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku. Lakum dīnukum waliya dīn.” Justeru dengan saling menghormati aqidah masing-masing kedamaian dan keserasian itu akan terjelma. Bukan dengan budaya dan agama campur-aduk yang sifatya sinkretik itu. ***

Ciputat, 18 Januari 2008

0 Responses to “BUYA HAMKA SEBAGAI PUTERA ZAMANNYA”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: