MASA DEPAN SUMBAR ARAHNYA KE LAUT

JSR, No. 02, 6 Februari 2006

ALHAMDU LILLAH, Sumatera Barat punya darat dan punya laut dan penduduknya punya tanah air seluas Indonesia ini sendiri. Melalui tradisi merantau orang Minang telah menjadikan seluruh kawasan Nusantara ini, termasuk Malaysia, sebagai rantau mereka, dan Sumatera Barat sebagai kampung halaman mereka.
Daratnya, secara topografis, dilalui oleh pegunungan Barisan yang memanjang di sepanjang pulau Sumatera dan yang sekaligus jadi tulang punggung dari pulau itu. Sebagai jajaran pegunungan, bagaimanapun, permukaannya bergelom-bang, dengan lembah-lembah dan perbukitan yang berlapis-lapis, sehingga tak mungkin dijelajahi, kecuali diambil kayu dan hasil hutannya di bagian-bagian yang dapat dijangkau. Di dataran tinggilah baru, yang jumlahnya ada beberapa, yang tanahnya dapat diolah untuk menjadi daerah persawahan, per-ladangan, perkebunan, dan pemukiman. Dataran tinggi itu ialah dataran tinggi Pasaman, Agam, Tanah Datar, Lima Puluh Kota, Solok-Alahan Panjang, Muara Labuh-Sangir, Sawah Lunto-Sijunjung-Dharmasraya.
Dengan teknologi sederhana yang dikuasai oleh pen-duduk, sejauh ini, praktis seluruh tanah di dataran tinggi yang relatif subur dan dapat ditanami sudah tergarap. Malah tanah-tanah ulayat yang tadinya dimaksudkan sebagai reservasi untuk antisipasi pertambahan penduduk ke masa depan telah pula digarap untuk menjadi tanah-tanah perkebunan yang dikonse-sikan oleh negara kepada perusahaan-perusahaan perkebunan, nasional maupun multi-nasional. Sekarang praktis tanah-tanah ulayat itu sudah tidak tersisa lagi.
Kemudian ada dataran rendah, di bagian Barat dan di bagian Timurnya. Di bagian Barat ada dataran rendah yang sempit yang menjulur di sepanjang pantai Barat dan diapit oleh pegunungan Barisan dan pantai Barat itu. Daerah dataran rendah ini memanjang sejak dari Utara di Pasaman Barat, pesisir Agam, lalu Padang-Pariaman, Kota Padang, dan Pesisir Selatan, sampai ke perbatasan dengan Bengkulu.
Kecuali di daerah-daerah rawa, dataran rendah inipun juga dapat ditanami dengan padi sawah dan perkebunan kelapa atau lainnya. Sebagai alihan lainnya penduduk di sepanjang pantai kecuali bertani dan berkebun juga melaut; tapi dalam tingkat teknologi yang rata-rata masih sangat sederhana. Karenanya jumlah nelayan di Sumbar ini belum ada 1 % dari keseluruhan penduduk walau mereka tinggal di tepi pantai sekalipun; pada hal panjang pantainya, termasuk Mentawai, melebihi 1500 km.
Lalu dataran rendah yang terbentang luas sampai ke pantai Timur yang bagian terbesarmya masuk ke daerah provinsi tetangga: Riau dan Jambi. Dataran rendah di bagian Timur Sumatera Barat rata-rata masih bergelombang walau perbukitannya makin hilang. Sekarang bagian besar dari dataran rendah yang menjulur ke Timur itu telah berubah menjadi daerah-daerah perkebunan, khususnya perkebunan sawit dan karet yang dikelola oleh perusahaan-perusahaan besar nasional maupun multi-nasional itu.
Kemudian, tentu saja, ada sederetan pulau-pulau di lepas pantai Barat: Kepulauan Mentawai, yang tadinya kaya akan potensi hutan, tetapi sekarang kelihatannya dalam menuju ke arah kehancurannya, sebagai akibat dari keserakahan para perusahaan perkayuan, yang menanam bibit-baru dalam rangka reboisasi hanya di atas kertas, tetapi tidak di lapangan. Akibat KKN dengan para pejabat dan pihak-pihak terkait lainnya, semua ini terbiarkan. Yang kasihan adalah penduduk-nya karena mereka tidak mendapat apa-apa, malah dianggap sebagai pencuri walau mereka mencari kayu dan hasil hutan lainnya di atas tanah ulayatnya sendiri tetapi yang dikonsesikan kepada perusahaan-perusahaan perkayuan yang serakah itu oleh pemerintah.
Secara keseluruhan, tanah yang tertanami dan dapat ditanami (arable), karena kondisi alam berpegunungan dan berlembah-berbukit itu, tidak lebih dari 5-10 %. Akibatnya, mayoritas dari penduduk, berpindah ke kota-kota, di Sumbar dan di rantau, rata-rata bergerak di bidang non-pertanian dan non-kelautan, khususnya di bidang non-formal, bisnis kecil-kecil, jasa dan usaha.
Dengan kondisi yang seperti ini, andalan satu-satunya yang tinggal bagi Sumbar yang sifatnya ekspansif horizontal dan sekaligus vertikal tidak lain adalah mengarah ke laut. Namun sebenarnya, jika kita melihat lebih jeli lagi, adalah juga intensifikasi secara vertikal di bidang pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan darat, dan jasa itu sendiri, termasuk jasa turisme. Caranya ialah dengan meningkatkan kualitas tekno-logi, SDM dan aspek manajerialnya. Dan tentu saja di bidang industri otak, dengan intensifikasi persekolahan dan pendi-dikan lainnya yang tidak hanya disediakan untuk penduduk lokal tetapi juga untuk penduduk regional dari berbagai daerah di Indonesia ini untuk datang bersekolah ke Sumbar, dan memasukkan duitnya ke Sumbar melalui jasa pendidikan itu. Satu waktu nanti, jika pantai Barat Sumatera telah terbuka untuk tujuan ekspor dan perdagangan luar negeri lainnya – seperti yang dinikmati oleh pantai Timur sekarang – peluang inipun juga akan terbuka. Pantai Timur, dengan dibukanya Kanal Kra di tanah genting di Selatan Thailand sekitar 2010-2015 nanti, akan menurun peranannya, karena kapal-kapal besar dan tanker-tanker tidak perlu lagi melalui Selat Melaka dan Singapura, tetapi langsung menerobos melalui Kanal Kra itu, ke Timur maupun ke Baratnya. Pada waktu itu diperkirakan pantai Barat Sumatera akan mulai memainkan peranannya dengan outlet ekspor langsung ke Eropa, Afrika, Asia lainnya dan Australia.

Orientasi Laut
Orientasi andalan bagi Sumatera Barat ke depan, oleh karena itu, adalah laut. Laut ini, sebagai pemberian Tuhan yang sudah ada sejak sediakala, bisa kita apa-apakan, sebagaimana juga bisa tidak kita apa-apakan seperti selarut-selama ini. Kita, dalam masa pembangunan di era Reformasi ini, bagaimana-pun, sudah bertekad untuk mulai mengarah ke laut. Dan ini sudah dituangkan dalam Renstra (Rencana Strategis) Sumbar 2006-2009 ke depan.
Pokok-pokok dari usaha kelautan dan perikanan laut ini sudah masuk ke dalam Renstra Sumbar. Tinggal kita menja-barkannya secara lebih rinci ke dalam Renstra Sektoral di bidang kelautan dan perikanan laut maupun darat ini. Pemda Provinsi maupun kabupaten/kota sepanjang pantai Barat pun sudah memprioritaskan bahwa pembangunan kelautan dan perikanan laut terletak di urutan utama. Dinas kelautan dan perikanan laut di tingkat provinsi dan kabupaten/kota juga sedang menyiapkan Renstra dan Program kerja yang lebih rinci dan terukur. Beberapa gebrakan juga sudah dan sedang dila-kukan, termasuk menyiapkan sarana dan prasarana pelabuhan perikanan dan cold storage di beberapa tempat strategis, a.l. di Bungus, Painan, Pariaman, Mentawai, dsb. Pun juga sedang dilakukan penambahan armada-armada perikanan laut, dalam bentuk kapal-kapal bermotor yang mampu melaut selama sekian hari, untuk selanjutnya diolah dan dipasarkan di tempat-tempat pelabuhan yang sudah dan akan disediakan. Peme-rintah sekarang juga sedang berusaha menarik para investor di bidang perikanan ini. Tidak kurangnya, sebagai antisipasi kebu-tuhan SDM ke depan, sekolah perikanan pun telah dibuka, a.l. di Pariaman, selain Fakultas Kelautan dan Perikanan Laut di Universitas Bung Hatta yang sudah lama ada, dan sekarang juga sedang dipersiapkan di Universitas Andalas.
Dalam rangka inilah kami di DPD-RI juga ikut turun tangan. Kami telah menghubungi ahli senior kelautan dan perikanan laut, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Laut, Prof Dr Rokhmin Dahuri, yang adalah juga ‘rang sumando kita, untuk ikut turun tangan, bersama-sama menggariskan langkah-langkah ke depan dalam rangka menyiapkan program strategis ke depan. Kami sudah mengkomunikasikannya kepada Gubernur dan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Laut, Ir Surya Darma Sabirin. Dalam waktu yang singkat ini diharapkan akan ada rapat kerja dengan pihak-pihak terkait se Sumatera Barat dengan rang sumando kita itu. Pak Rokhmin bahkan telah menjanjikan akan mengajak sejumlah investor untuk datang bersama beliau ke Sumbar. Pak Rokhmin, selaku profesor di IPB Bogor, juga berjanji akan melibatkan tenaga-tenaga ahli kelautan dan perikanan laut di IPB untuk ikut dalam Tim pengembangan kelautan dan perikanan laut di Sumbar.
Saya telah membisikkan pada Pak Rokhmin, agar kerja-sama ke depan dengan para investor itu adalah atas dasar syirkah, yaitu di mana para investor datang dengan duit dan managerial know-hownya, di samping tenaga ahli, sementara rak-yat nelayan di sepanjang pantai dengan tanah ulayat dan tenaga SDMnya. Dengan kerjasama syirkah atau serikat itu tidak ada lahan yang beralih tangan seperti kekeliruan yang kita lakukan selama ini di bidang perkebunan, di darat.
Sementara itu, melalui Sdr Zairin Kasim, pendekatan-pendekatan juga sedang dilakukan untuk menarik kerjasama investasi di bidang kelautan dan perikanan laut ini melalui bank dan pengusaha di bidang ini yang telah memperlihatkan keberhasilannya. Seorang ibu pengusaha di bidang perikanan laut yang bersuamikan seorang pilot asal Jerman, melakukan kerjasama dengan ratusan nelayan di daerah Cilacap, pantai selatan Jawa Barat, untuk memasarkan hasil tangkapannya ke berbagai kota di Asia Tenggara dan Asia Timur, sampai ke Hongkong, Taipeh dan Jepang, dengan pesawat terbang. Mudah-mudahan upaya yang sedang dirintis oleh Sdr Zairin Kasim ini juga membuahkan hasil.
Saya melihat bahwa harapan ke depan kita memang ada-lah laut. Untuk itu perlu perhatian yang serius dari semua kita secara bersinergi dan terkoordinasi dengan baik, di samping kita memanfaatkan potensi-potensi yang ada di sekeliling kita untuk tujuan pembangunan kelautan dan perikanan laut itu. Di samping perikanan laut, perikanan darat tentu saja tidak kita abaikan, karena kita juga punya potensi besar tentang itu. ***

0 Responses to “MASA DEPAN SUMBAR ARAHNYA KE LAUT”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: