LAPORAN KUNKER KE DAERAH SUMATERA BARAT BIDANG PAH I DPD RI Selama Masa Kunker Desember 2005

MMOCHTAR NAIM
Disampaikan
dalam Sidang Paripurna DPD-RI,
Senin, 16 Januari 2006

Pengantar

SESUAI dengan Surat Edaran Setjen DPD-RI sebelum-nya, bahwa masing-masing anggota PAH melakukan tugas kunker ke daerah menurut jalur tugas masing-masing, berikut adalah Laporan Kunker PAH I oleh Mochtar Naim, Anggota No. B-12, selama masa reses Des 2005 yl.

1 Kasus Perluasan Kota Bukittinggi

Kunjungan Tim PAH I ke Sumatera Barat tgl 5-8 Des 2005 sebelumnya, yakni dalam rangka memantau dan melaku-kan pengawasan terhadap proses perluasan wilayah kota Bukit-tinggi dan Padang Panjang yang telah berlarut-larut, yang untuk Bukittinggi telah mulai diangkatkan sejak th 1987 dan dikeluarkannya PP 84 th 1999, dari satu sudut pandang terten-tu justeru menambah maraknya persoalan dari pihak-pihak yang bersengketa, yang dalam hal ini antara pihak pemerintah dan DPRD Kota Bukittinggi serta pihak-pihak masyarakat yang menginginkan masuk ke dalam kota, di satu sisi, dan pihak pemerintah dan DPRD Kabupaten Agam serta masyara-kat Agam yang menolak menyerahkan wilayahnya ke dalam kota Bukittinggi dalam rangka perluasan wilayah kota Bukit-tinggi itu, di sisi yang lain.
Secara obyektif, maraknya persoalan adalah karena kun-jungan Tim PAH I ini secara langsung ataupun tak langsung telah memicu dan membangunkan kembali semangat juang mereka untuk menggolkan keinginan mereka masing-masing, baik yang pro maupun yang kontra perluasan kota Bukittinggi. Selain itu, kebetulan sekali, yang ditunjuk oleh Tim untuk jadi Ketua Tim adalah saya sendiri, karena pertimbangan bahwa saya berasal dari daerah bersangkutan, yang dianggap sekali tahu banyak tentang persoalannya. Sementara, yang Tim tidak cepat arif ialah, bahwa semua warga masyarakat dan pihak-pihak terkait tahu sekali bahwa saya, jauh sebelum terpilih jadi anggota DPD-RI ini, sudah menyuarakan secara lantang kon-sep “jalan tengah” yang menekankan pada prinsip win-win solution dan joint planning, yang oleh pihak Agam bisa diterima tetapi oleh pihak Bukittinggi tidak.
Dalam temu wicara dengan tokoh-tokoh masyarakat Bukittinggi dan sekitarnya, pada hari kedua kunjungan, tgl 4 Des 2005, malamnya, di aula istana Bung Hatta, yang oleh Walikota sengaja diundang semua yang menginginkan perluas-an wilayah kota Bukittinggi saja — sementara yang tidak menginginkan tidak diundang, dan Walikota sendiri langsung bertindak sebagai pemimpin sidang–, saya malah dicecar sebagai tokoh yang tak diinginkan, karena tidak mendukung perluasan kota secara fisik administratif, tapi menyetujui secara sosiologis, dengan model Sleman-Yogya dan Jabotabek, de-ngan prinsip win-win solution dan joint planning itu. Dari lantai, yang kebetulan lagi ditinggalkan oleh Walikota dalam memimpin sidang, datanglah suara-suara yang makin galau dan saling berebutan tampil ke corong untuk berbicara, yang antara lain mengatakan bahwa saya adalah provokator yang menda-langi orang-orang Agam sekitarnya untuk tidak bersedia masuk kota. Malah ada yang sampai mengatakan: “Pak Mochtar, saya menyesal telah terlanjur memberikan suara saya kepada Bapak…”
Untungnya semua itu saya hadapi secara kalem dan penuh percaya diri. Saya sendiri sudah mengalasinya terlebih dahulu, bahwa saya sebagai anggota Tim PAH I tidak berhak untuk memberikan tanggapan, karena tugas Tim terutama adalah dalam rangka fact-finding sambil memantau perkem-bangan-perkembangan yang terjadi dalam rangka perluasan kota Bukittinggi itu. Namun, karena yang dituding itu adalah saya pribadi yang kebetulan juga tercatat sebagai orang — atau tokoh politik di Sumatera Barat – yang banyak memberikan komentar dan pemikiran tentang konsep perluasan kota Bukit-tingi di masa-masa sebelumnya, maka sayapun menjelaskan duduk persoalannya, tentu saja dari segi pandang saya baik sebagai pengamat politik maupun sebagai warga masyarakat yang ikut terlibat.
Kericuhan yang makin tak terkendali ini untung segera dilerai oleh anggota Tim lainnya, Sdr kita yang terhormat, H Subardi, orang Jogya yang kalem, bijak dan suka senyum, sehingga hal-hal tak diinginkan bisa dihindarkan. Semua ini, seyogyanya, perlu saya laporkan, agar distorsi tidak terjadi. Bagaimanapun, peristiwa ini tentu saja tidak disia-siakan oleh para wartawan yang meliput, sehingga keesokan harinya mun-cullah, dengan headline besar-besar di halaman depan dari surat-surat kabar di Padang, sensasi besar. Di Haluan, misal-nya, tertulis dengan kepala berita di halaman depan bagian atas: “Dr Mochtar Naim dituding sebagai Provokator.”
Dari pihak Agam, sebaliknya, terjadi peningkatan kekom-pakan. Dari yang tadinya yang mengeluarkan pernyataan secara tertulis menolak masuk kota selain dari Bupati dan DPRD Agam adalah juga ke 16 Nagari di sekitar Bukittinggi yang dirancang untuk masuk kota melalui PP 84/1999, sekarang ditambah lagi dengan seluruh nagari sebanyak 81 Nagari di Kabupaten Agam yang juga menyatakan penolokannya secara tertulis. Kekompakan suara ini bisa terbaca oleh Tim PAH I dari kunjungan dialog yang dilakukan ke Lubuk Basung, ibu kota Kabupaten Agam, pada hari kedua siangnya, setelah melalui perjalanan berkelok-kelok 44 kali menuruni bukit ke danau Maninjau nan elok itu.
Dalam perjalanan pulang ke Padang untuk mengambil pesawat Garuda sore hari tgl 8 Des 2005 ke Jakarta, Tim PAH I sempat mampir ke Kantor Gubernur. Tapi sayang, karena Gubernur juga harus menghadiri pertemuan dengan kelompok lain sebelumnya, setelah ditunggu sampai jam 15.00, belum juga keluar, sementara janji semula adalah jam 13.00, maka Tim memutuskan untuk meninggalkan tempat mengejar pesa-wat yang jam 16.00, dan mempercayakan kepada saya meng-hadap Gubernur, mewakili Tim, karena saya masih akan tinggal beberapa hari lagi di Padang.
Tak lama Gubernur selesai dan masuk ruangan kerjanya menerima saya beserta sejumlah anggota DPRD Sumbar Komisi A (Pemerintahan). Dalam dialog segi tiga itu disepa-katilah bahwa konflik harus dihindarkan dan penyelesaian yang saling menguntungkan harus dicari. Kepada PAH I DPD RI diharapkan untuk menjadi penengah membicarakan jalan kelu-arnya dengan pihak Menteri Dalam Negeri.
Sekembali di Jakarta, Tim PAH I memberikan laporan-nya di Sidang Pleno PAH I, dan Pleno PAH I menyetujui pokok-pokok pikiran jalan penyelesaian seperti yang dirumus-kan dalam pertemuan segi tiga dengan Gubernur, Komisi A DPRD Sumbar, dan Tim PAH I yang saya wakili itu. Ketua PAH I, pada gilirannya, juga melaporkan hasil kunjungan ke Bukittinggi itu di hadapan Sidang Paripurna DPD RI tgl 16 Des 2005 yl dengan rumusan jalan keluar yang sama, yang kemudian juga diterima dan disepakati oleh Sidang Paripurna DPD RI.
Sementara itu, bagaimanapun, muncullah ke Bukittinggi Mendagri sendiri dan Dirjen PUM Situmorang secara terpisah, yang kedua-duanya kembali menekankan bahwa PP 84 1999 dengan cara bagaimanapun harus dilaksanakan. Dan semua itu diliput dan disebar-luaskan oleh surat-surat kabar. Sementara itu, polemik demi polemik, dan wawancara demi wawancara, juga bermunculan, baik yang pro maupun yang kontra perlu-asan kota Bukittinggi.
Saya membayangkan, inilah kiranya yang “politik” itu, yang serunya bisa seseru perang Bharatayuda dalam kisah-kisah pewayangan, walau lokasinya sekarang ini mengambil tempat di bumi ranah Minang.
Agar masalah ini tidak berlarut-larut, yang sampai saat ini sudah memakan waktu tidak kurang dari 18 tahun, dan 6 tahun setelah dikeluarkannya PP 84 th 1999, janji komitmen dari PAH I harus segera ditepati, yaitu melakukan upaya penengahan dengan Mendagri dan pihak-pihak terkait lainnya. Hendaknya, bagai menghela rambut dalam tepung, rambut tak putus, tepung tak terserak.

2 Kasus perluasan kota Padang Panjang

Berbeda banyak dengan kasus kota Bukittinggi, kasus perluasan kota Padang Panjang akhirnya bisa diselesaikan dengan cara “badunsanak” (bersaudara). Dari hasil kunjungan Tim I DPD RI yang sama ke Padang Panjang dan Batu Sangkar (ibukota Kabupaten Tanah Datar), kedua belah pihak dapat menerima prinsip win-win solution dan joint planning seperti yang diusulkan di Bukittinggi itu; tetapi di Padang Panjang diterima, di Bukittinggi ditolak.

Penutup

Orang antropologi akan berkata: Itu beda antara orang Agam dan orang Tanah Datar. Walau sama-sama Minangnya, tetapi yang satu, Agam, binatang totemnya harimau, sementara orang Tanah Datar, kucing.
Mengenai konsep win-win solution dan joint planning sudah luas saya sampaikan dalam berbagai forum seminar dan pertemuan yang sudah saya sebarkan sejak tahun 1999, yang hakikatnya adalah seperti yang dilaksanakan di Yogya dan Sleman dan di Jabotabek.
Perluasan kota terjadi secara sosiologis, tetapi secara administratif tetap berada pada daerah dan wilayah administratif masing-masing. Dan ini adalah juga solusi yang dipakai secara global dan internasional di mana-mana di dunia ini.

Lampiran-lampiran

1 Mochtar Naim, “Bukittinggi Koto Rang Agam: Memba-ngun Kota Bersama Daerah Sekitarnya,” disampaikan pada Musyawarah KAN dan Pemuka Masyarakat Agam Tuo, 14 November 1999, di Bukittinggi View Hotel, Bukittinggi.

2 Mochtar Naim, “Sinergi Pembangunan Kota dan Nagari. Masa Depan Bukttinggi dan Nagari-nagari di Agam Tuo,” disampaikan pada Musyawarah Badan Koordinasi Masyarakat Agam jakarta, di Kantor Penghubung Perwakilan Pemda Prov Sumbar, Jakarta, 11 Agustus 2002

3 Mochtar Naim, “Win-win Solution: Membangun Bukit-tinggi dan Daerah Sekitarnya secara Bersama-sama,” Batipuah Baruah, 11 Juni 2003.

4 Mochtar Naim, “Dirjen PUM Bermain Api,” Jakarta, 9 Februari 2005

5 Mochtar Naim, “Kasus Pemekaran Kota Bukittinggi dan Padang Panjang,” Jakarta, 23 Mei 2005

6 Mochtar Naim, “Soulsinya: Joint Planning. Kasus Peme-karan Kota Bukittinggi dan Padang Panjang,” Ciputat, 14 Juli 2005

7 Mochtar Naim, “Solusi Jalan Keluar dari Permasalahan Perluasan Kota Bukittinggi,” Padang, 27 Des 2005.

0 Responses to “LAPORAN KUNKER KE DAERAH SUMATERA BARAT BIDANG PAH I DPD RI Selama Masa Kunker Desember 2005”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: