KRISTENISASI DI SUMATERA BARAT

AGAMA Kristen masuk ke Sumatera Barat bersamaan dengan masuknya Belanda ke Sumatera Barat ketika terjadinya Perang Paderi di awal abad ke 19 yl. Gereja-gerejapun berdiri di hampir semua kota di mana orang-orang Belanda yang terlibat dalam pemerintahan dan militer dan serdadu-serdadu serta polisi-polisi pribumi yang Kristen dari Ambon, Menado dan Jawa, juga masuk. Hampir tanpa kecu-ali, semua kota-kota di Sumatera Barat, seperti juga di daerah-daerah lain di Indonesia ini, dibangun oleh Belanda. Orang masih ingat, bahwa yang namanya Bukittinggi dan Batu Sangkar sekarang ini, dulu di zaman Belanda namanya Fort de Kock dan Fort van der Capellen. Kata “Fort,” yang berarti Benteng, mengingatkan orang bahwa kota itu dibangun de-ngan tujuan semula sebagai benteng untuk menghadapi perla-wanan rakyat dari gerakan Paderi.
Lalu, kepulauan Mentawai yang penduduknya masih terbelakang dan bukan dari etnik Minang, sejak semula telah menjadi garapan kristenisasi; sama seperti daerah-daerah terbe-lakang lainnya di Indonesia ini. Sebagai hasilnya, mayoritas penduduk Mentawai sekarang ini beragama Kristen. Dengan masuk Kristen tidak menghalangi mereka untuk tetap melan-jutkan kepercayaan nenek-moyang mereka yang animistik, sementara jika masuk Islam, kepercayaan animistik itu harus mereka tinggalkan, dan merekapun harus disunat. Yang ditim-bulkan adalah ketakutan terhadap Islam, sementara dengan ajaran kasih-sayang dari Kristen, tidak. Melalui simbol-simbol yang juga diadopsi dalam kepercayaan animis itu gereja lalu memasukkan faham kekeristenannya sehingga seolah tidak ter-lihat beda antara yang lama dengan yang baru. Malah keduanya bisa dipadu dan dianut secara berbarengan.
Bagi orang Minang sejak masuknya Belanda di zaman kolonial itu gereja dan agama Kristen bukanlah sesuatu yang baru dan asing bagi mereka. Belandapun, di samping mem-bangun kota, juga mendirikan sekolah-sekolah dan rumah-rumah sakit, yang di samping oleh pemerintah juga didirikan oleh gereja. Karena sikap dari pemerintah Belanda yang tidak menjadikan sekolah dan rumah-rumah sakit yang didirikan oleh pemerintah sebagai ajang kristenisasi, yang melakukan itu adalah sekolah-sekolah dan rumah-rumah sakit yang didirikan oleh zending, yang biasanya di lingkungan di mana gereja itu didirikan. Karena orang Minang ternyata tidak gampang mereka masuki, karena telah terjalinnya dalam sistem budaya Minang ikatan simbiotik yang erat antara adat dan agama (Islam), yaitu dengan motto: “Adat basandi Syarak, Syarak basandi Kitabullah,” incaran mereka terutama adalah pendu-duk pendatang, khususnya Cina, Mentawai, Batak dan Jawa.
Orang Cina sendiri ternyata memanfaatkan sekolah-sekolah yang didirikan oleh gereja, Katolik dan Protestan, dan karenanya, melalui sekolah-sekolah inilah, banyak dari anak-anak mereka yang masuk Kristen. Sekarang ini, kecuali kelu-arga Cina dari generasi tua yang masih bertahan dengan agama Kong Hu Chunya, bagian terbesar dari generasi muda mereka sudah masuk Kristen. Warga Cina selama ini memang mem-perlihatkan dua sikap yang berbeda: terbuka kepada gereja dan sebaliknya tertutup pada Islam. Gereja bagi mereka adalah simbol superioritas, kemajuan dan gengsi, sedang Islam adalah simbol inferioritas, keterbelakangan dan kebodohan. Sekarang ini antara gereja dan Cina sudah bagaikan aur dan tebing dalam berhadapan dengan warga pribumi yang Islam. Mereka mem-buang atau mengucilkan anak-anak mereka yang masuk Islam, sementara yang masuk Kristen tidak. Banyak dari generasi tua itupun juga masuk Kristen, walau tradisi kecinaannya tetap dipelihara. Kendatipun demikian, secara merayap proses isla-misasi di kalangan penduduk Cina juga belakangan terjadi. Sekarang sudah ada sekumpulan warga keturunan Cina yang masuk Islam, khususnya di kota Padang.
Walau orang Mentawai adalah juga penduduk Sumatera Barat, tetapi karena keterpencilan dan keterbelakangan mere-ka, sejauh ini belum terjadi konflik dan pergesekan karena agama yang berarti yang terjadi antara orang Minang dengan orang Mentawai. Barulah belakangan ini, dengan dipisahkan-nya Mentawai dari Kabupaten Padang-Pariaman menjadi ka-bupaten tersendiri: Kabupaten Kepulauan Mentawai, perge-sekan dan konflik yang sifatnya masih laten itu terjadi di Mentawai antara sesama orang Mentawai sendiri, yakni antara yang Kristen dan yang Islam, dan dengan penduduk penda-tang, orang Minang. Fenomena baru yang belakangan muncul adalah dengan masuknya etnik Batak ke Mentawai yang sendirinya memberi warna yang kuat terhadap upaya kriste-nisasi di Mentawai. Sementara gereja Katolik yang masih ber-ada di bawah keuskupan Padang, yang sebelumnya pastornya adalah dari Italia, gereja Protestan mulai berkiblat ke Tarutung dan Balige di tanah Batak.
Karena jumlah yang Kristen adalah yang terbesar dan dominan, dengan Bupatinya sendiri sekarang ini adalah juga seorang pendeta, kelompok yang Islam yang relatif sedikit mendapat perlakuan yang tidak setara. Sedikit dari pejabat dan pegawai Kabupaten yang dari Islam. Karena Gereja menguta-makan pendidikan dengan sekolah-sekolah yang mereka diri-kan, ketimpangan di bidang pendidikan ini akan juga makin terasa antara kedua kelompok agama itu. Di Padang jumlah anak Mentawai yang melanjutkan sekolah ke sekolah mene-ngah dan perguruan tinggi juga makin banyak, yang sebagian juga sudah mulai menempati posisi-posisi di pemerintahan dan legislatif di Mentawai sendiri.
Kecuali orang Mentawai yang bermukim di Padang, juga ditemukan ada orang Nias yang Kristen, yang punya gereja dan perkampungan sendiri di pinggiran kota. Sejauh ini friksi dan konflik secara terbuka tidak terjadi, terutama karena jumlah mereka yang minoritas dan relatif terbelakang itu; kendati mereka selalu berada dalam asuhan dan naungan gereja mereka yang orientasinya adalah ke Nias.
Orang Batak yang Kristen adalah sebuah fenomena tersendiri. Kecuali pendatang yang ada di kota, yang jumlahnya relatif kecil, kebanyakan mereka masuk ke daerah Pasaman yang memang berbatasan dengan Tapanuli. Di Tapanuli sen-diri ke bagian Selatan yang berbatasan dengan Sumatera Barat ada Batak yang Islam, terutama dari suku Mandahiling, dan ada Batak yang Kristen ke bagian Utara Tapanuli. Masukya orang-orang Mandahiling yang rata-rata beragama Islam ke daerah Pasaman telah bermula sejak lama – mungkin bahkan sebelum Paderi. Islamisasi dari Tapanuli datang dari Minang-kabau yang dibawa dan dikembangkan oleh kaum Paderi, di abad ke 19. Karena kesamaan agama dan karena berbatasan dengan latar belakang alam yang sama ini, integrasi dan bahkan akulturasi antara suku Minang dan Mandahiling di daerah perbatasan di Pasaman berjalan secara damai. Di nagari-nagari di mana kedua suku bangsa hidup secara rukun dan damai, mereka saling ambil-mengambil adat, budaya dan bahasa, dan saling kawin-mawin. Sehingga seperti yang terjadi di banyak daerah perbatasan lainnya, terjadilah sub-kultur tersendiri. Di nagari Cubadak, misalnya, walau sukunya adalah Mandahiling dengan marga Nasution, Lubis, dsb, tetapi sistem kekera-batannya adalah matrilineal. Dan mereka memakai dua bahasa, Mandahiling dan Minang, di samping secara formal, Indonesia.
Orang Batak yang Kristen datangnya kemudian, seiring dengan pembukaan Pasaman Barat menjadi daerah transmi-grasi dan perkebunan di awal 1970-an. Seperti kebiasaan suku ini dalam bermigrasi, yang pertama-tama mereka cari adalah tanah. Mereka memiliki semangat meneruka yang kuat. Walau bermula dari gubuk-gubuk, mereka merambah hutan dan bercocok tanam. Dan tentu saja memelihara babi di sekitar rumah. Karena mereka juga digalakkan dengan semangat menyebar-luaskan agama Kristen, ada cara-cara yang khas yang mereka lakukan, yaitu, misalnya, menjadi penjaja keliling berspeda, atau sekarang sepeda motor. Dengan cara cicilan, komunikasi dan saling ketergantungan dengan penduduk setempat terjadi. Upaya mereka melalui cara-cara ini tidak cukup berhasil terhadap penduduk Minang yang memang kental Islamnya. Tetapi tidak demikian halnya dengan suku Jawa yang datang sebagai transmigran. Di Kinali, kredit-kredit pinjaman yang diberikan oleh gereja biasanya dibayarkan ang-surannya ke gereja, dengan tujuan agar mereka para peminjam turut mendengarkan atau mengikuti upacara kebaktian dengan nyanyi-nyanyian terlebih dahulu, di samping juga bisa berdi-alog dengan lebih langsung dan leluasa.
Kelompok transmigran dari Jawa yang disebar ke dalam beberapa proyek pemukiman transmigrasi di Sumatera Barat adalah target utama mereka dalam upaya kristenisasi. Ada tiga situs utama dari pemukiman transmigrasi di Sumbar: Pasaman Barat, Sitiung dan Lunang Silaut, Pesisir Selatan. Transmigrasi suku Jawa ke Pasaman Barat sesungguhnya telah bermula sejak dari zaman Belanda, masih di awal abad ke 20, khususnya di Desa Baru, Air Runding, sebelum Air Bangis. Namun yang intensif dan besar-besaran adalah sesudah kemerdekaan, khu-susnya di daerah Kinali, dan sebelumnya di Tongar, daerah Simpang Ampek, yang merupakan transmigrasi suku Jawa yang datang dari Suriname di awal kemerdekaan. Di Sitiung dan Lunang Silaut sudah belakangan.
Upaya pengkristenan di daerah-daerah transmigrasi ini memang dilakukan secara terprogram dan sistematis, yakni sebagai bagian dari program kristenisasi terhadap ummat Islam yang berskala nasional dengan juga melibatkan bantuan dana dan ekspertis secara internasional. Koordinasi dan sistem jaringannya karenanya juga berlaku secara nasional dan inter-nasional itu. Dari pihak gereja Katolik, jaringannya berlaku melalui jaringan hirarkis kegerejaan, yang puncaknya di atas adalah Paus sendiri di Roma, dan tangan-tangannya di bawah adalah melalui koordinasi keuskupan di daerah. Dari pihak gereja Protestan, mereka bergerak melalui jemaat-jemaat de-ngan melibatkan berbagai potensi, termasuk perguruan tinggi, sekolah-sekolah, rumah-rumah sakit, panti-panti asuhan, dan dana yang tak sedikit dari pusat-pusat pengkristenan di Ame-rika dan Eropah yang disalurkan dan dikelola secara terpro-gram dan sistematis.
Karena skalanya nasional dan caranya sistematis, dengan target-target dan program-program yang jelas dan rinci, mere-ka juga memasukkan orang-orangnya ke dinas-dinas dan lem-baga-lembaga yang terkait dengan program transmigrasi yang juga berskala nasional itu. Mereka tidak hanya memasukkan orang-orangnya yang terlibat dalam program transmigrasi itu, mereka bahkan juga memasukkan orang-orang yang akan ditransmirasikan itu yang sudah Kristen atau dikristenkan sebelumnya. Untuk memasuki daerah-daerah Islam, seperti ke Sumatera Barat ini, mereka diberi kartu identitas transmigrasi dengan mencantumkan agama yang dianut sebagai Islam. Dengan demikian mereka diterima masuk. Padahal mereka inilah, dan melalui mereka ini, nantinya pembentukan jemaah di daerah transmigrasi dimulai. Karena pengakuan dari para transmigran yang katanya tadinya Islam lalu masuk Kristen, alasan itulah yang dipakai untuk mendirikan gereja-gereja dalam rangka mengemban jemaah mereka yang kelihatannya memang kian bertambah.
Sudah barang tentu bahwa sasaran utama dan usaha pertama yang mereka lakukan adalah dengan mendirikan gereja dengan bermodalkan tenaga-tenaga transmigran yang diselundupkan itu. Di Sumatera Barat khususnya memang ada kesepakatan antara pemerintah daerah, sekyu dinas transmi-grasi, dengan para ninik mamak dan masyarakat Minang umumnya, bahwa yang dimasukkan sebagai anak-kemenakan yang baru dari Jawa itu adalah yang beragama Islam; tidak yang Kristen. Tetapi yang terjadi itulah.
Di Pasaman dan di Lunang Silaut gereja-gereja pada berdiri, tetapi tidak, atau belum, di Sitiung. Tetapi di luar Sitiung, yang sudah masuk ke provinsi Jambi, seperti Rimbo Bujang, dsb, sudah. Kenapa di Sitiung mereka tidak atau belum berhasil mendirikan gereja-gereja, sementara di Pasa-man, dari tidak ada gereja satupun, sekarang telah puluhan jumlahnya? Sebuah obyek kajian sosiologi yang menarik, yaitu yang terkait dengan latar-belakang dari daerah asal para transmigran itu masing-masing. Yang masuk ke Pasaman Barat dan Lunang Silaut adalah kelompok Jawa lapisan bawah dari desa-desa miskin di Jawa Tengah. Di Jawa sendiri mereka juga telah menjadi sasaran kristenisasi melalui berbagai cara, khususnya melalui bantuan pangan dan sekolah untuk anak-anak mereka. Karena keislaman mereka sudah tipis juga, yang kebanyakan adalah dari kelompok Islam abangan, dalam kehidupan spiritual mereka banyak nunut pada patron mereka, yakni para priyayi Jawa yang juga abangan. Setiba di tanah barunya mereka kehilangan tempat bergantung itu, karena patron mereka tidak ikut bedol desa bertransmigrasi ke luar Jawa. Perangkat kendang dan gamelan dengan ketopraknya sengaja dibawa ke sabrang sana untuk melestarikan budaya Jawa di tengah perkampungan transmigran yang secara sosio-ekologis sengaja diciptakan tersendiri dan terpisah dari masya-rakat setempat. Perkampungan transmigrasi adalah bagai pulau-pulau enklaf di tengah-tengah masyarakat dan perkam-pungan lokal. Karenanya juga upaya pengkristenan secara ditel dan teknisnya biasa luput dari pengamatan masyarakat setem-pat. Mereka baru tahu kalau sudah berdiri gereja dan sekolah-sekolah, klinik kesehatan dan panti pemuda yang dikelola dan digerakkan oleh missi dan zending itu.
Di Sitiung, sejauh ini upaya gereja tidak atau belum berhasil. Masalahnya adalah karena transmigran yang masuk kebanyakan dari daerah Jawa Timur, yang Islamnya kuat dan taat beribadah. Dikhotomi orientasi kebatinan dan keagamaan yang sudah klassik antara Jawa Tengah dan Jawa Timur juga muncul kembali di daerah-daerah transmigrasi sendiri. Pada hal tidak terhitung lagi upaya-upaya yang dilakukan oleh pihak gereja untuk menancapkan tapaknya di Sitiung, dan dengan berbagai cara. Karena faktor orientasi Islam ini pula yang menyebabkan masyarakat transmigran dan lokal relatif lebih bergaul; apalagi karena anak-anak mereka ketemu di sekolah-sekolah yang sama, sementara orang-orang transmigran juga pergi ke pasar-pasar lokal yang karenanya bergaul dan berga-bung dengan masyarakat setempat. Peranan dari organisasi-organisasi dakwah dengan para da’inya, terutama dari DDII dan Wanita Islam, tidak sedikit artinya dalam mengayomi masyarakat transmigran itu secara kerohanian. Di Sitiung, anak-anak dari kedua belah pihak bisa bergaul dengan mem-pergunakan dua bahasa, Minang dan Jawa, di samping Indo-nesia.
Bagaimanapun, dengan perkembangan di bidang perke-bunan besar di daerah-daerah transmigrasi itu, masuk pulalah faktor dan unsur baru. Perkebunan besar kelapa sawit, karet, dsb, yang dibuka di Sumatera Barat selain yang dikelolakan oleh PTPN milik BUMN pemerintah, juga oleh swasta dari para konglomerat, Cina, dan keluarga pejabat di zaman Orde Baru. Melalui manajemen perkebunan-perkebunan inilah ma-suk unsur Kristen yang orang-orangnya aktif menggerakkan kegiatan keagamaan di lokasi-lokasi perkebunan itu, termasuk, misalnya, upaya pendirian gereja di lokasi-lokasi perkebunan itu. Semua dengan dalih karena dari karyawan dan buruh-buruh perkebunan itu ada yang Kristen. Ini juga terjadi di Kabupaten Solok dan Solok Selatan. Sejauh ini upaya mereka belum berhasil, tetapi mereka cenderung lalu mempergunakan bangunan-bangunan yang ada sebagai tempat sembahyang mereka. Tiap Minggu mereka mengangkut anggota-anggota jemaah mereka dengan truk dari daerah yang jauh-jauh untuk kebaktian bersama. Hal yang mencolok ditemukan di perke-bunan teh Kayu Aro, sudah bagian Kerinci, provinsi Jambi, di mana ada dua gereja besar berdiri yang imam atau pendetanya datang dari Eropah, berkebangsaan Itali dan Jerman.
*
Itu yang menyangkut dengan penduduk pendatang dalam kaitannya dengan upaya kristenisasi itu, di samping penduduk Mentawai yang sudah sejak zaman kolonial dulu sudah juga menjadi lahan garapan mereka. Perkembangan belakangan dan masih hangat menjadi bahan pembicaraan di kalangan masya-rakat di Sumatera Barat ini ialah, adanya usaha dan upaya yang terprogram dan sistematis dari pihak gereja, Katolik maupun Protestan, yang sekarang khusus ditujukan terhadap ummat Islam yang adalah pribumi Minangkabau sendiri. Dalam skala yang bersifat nasional, dan bahkan global, gereja sekarang mengarahkan usaha proslitisasi, yakni usaha pemurtadan dan pengkristenan terhadap orang-orang Islam, yang selama ini dianggap sebagai memiliki keimanan dan ketaatan yang kuat. Dari hasil-hasil survei dan kajian yang mereka lakukan, mereka mulai memasuki daerah-daerah basis keislaman yang kuat. Yang dituju bukan lagi penduduk di pemukiman transmigran saja, tetapi adalah juga penduduk pribumi setempat, baik di perkotaan maupun di pedesaan. Di Indonesia ini ada tiga atau empat daerah yang kuat Islamnya yang menjadi target utama mereka: Jawa Barat dan Madura di Jawa, Sumatera Barat di Sumatera, dan Sulawesi Selatan di Indonesia bagian Timur.
Perkiraan mereka adalah bahwa semangat keislaman dari penduduk setempat tidak lagi sekuat seperti pada generasi-generasi sebelumnya. Dahulu di Sumatera Barat, seperti di daerah-daerah lainnya, penduduk setempat hidup dalam ikatan paguyuban primordial yang seluruhnya tunduk kepada aturan adat dan agama, dengan kontrol dan sanksi yang juga ketat dari ikatan adat dan agama itu. Kuatnya ikatan solidaritas adat dan keagamaan itu menyebabkan orang tidak mungkin keluar dari norma-norma adat dan agama yang dipatuhi oleh semua orang. Mereka tidak mungkin hidup di luar dari aturan adat dan agama itu. Dengan terjalinnya adat dan agama menjadi satu, maka tidak ada pilihan lain bagi orang Minang khususnya kecuali menjadi muslim dan tetap sebagai muslim. Orang Minang yang keluar dari Islam, murtad, masuk Kristen misalnya, maka diapun juga harus keluar dari paguyubannya sebagai orang Minang. Dia tidak hanya dikucilkan tetapi juga dibuang secara adat. Kontrol dan sanksi yang sedemikian berat tidak memungkinkan orang Minang keluar dari adat dan agamanya itu.
Sekarang suasana sudah berubah. Norma adat dan agama bagi generasi muda khususnya tidak lagi sekuat, seketat dan seefektif seperti pada generasi tua sebelumnya. Pemahaman oleh generasi muda terhadap adat dan agama itu sudah makin longgar dan menipis. Mereka sekarang sudah lebih merasakan sebagai orang Indonesia melalui berbagai proses yang terjadi, apalagi yang membentuk mereka bukan lagi hanya aturan adat dan agama itu, tetapi juga nilai-nilai baru yang datang dari luar.
Pertama adalah nilai-nilai kebangsaan yang masuk dengan kemerdekaan ini, karena Sumatera Barat sekarang bukan lagi entitas yang berdiri sendiri, tetapi adalah bahagian yang integral dari Indonesia yang lebih luas. Melalui jalur-jalur kebangsaan ini masuklah faham-faham baru yang sangat kuat diwarnai oleh budaya sinkretik yang berasal dari budaya dominan Jawa, di mana terdapat toleransi yang sangat besar terhadap berbagai keyakinan agama yang berbeda-beda, di mana semua agama diperlakukan sama, dan di mana perpin-dahan keyakinan dari satu agama ke agama lainnya dianggap sebagai urusan pribadi dan tidak memerlukan kontrol dan sanksi dari ikatan paguyuban seperti dalam tatanan adat dan agama sebelumnya. Semua ini masih berupa gejala dan kecenderungan, karena generasi muda yang sama pada pihak lain juga dipengaruhi oleh unsur budaya Islam yang masuk melalui gerakan pensucian dan pemurnian agama dari gerakan-gerakan kaum muda yang pusatnya ada di kota-kota perguruan tinggi di Jawa, khususnya Jakarta, Bandung dan Yogyakarta.
Kedua, adalah air bah budaya global yang masuk melalui pintu-pintu dan celah-celah yang banyak sekali, khususnya melalui media televisi, komputer, dan alat-alat multi-media lainnya. Di Sumatera Barat sekarang, seperti juga dimanapun, di mana listrik dan telepon ada di sana pasti ada alat-alat elektronik multi-media itu yang sangat mempengaruhi prilaku dan kondisi kejiwaan, yakni sisi emosional, spiritual dan intelektual, dari generasi muda di mana-mana – yang positif maupun yang negatifnya.
Atas dasar pertimbangan ini maka gerakan salibi dan palangi melakukan gebrakan-gebrakan baru, sekarang dituju-kan kepada generasi muda yang lagi bersekolah dan generasi tuapun melalui cara yang sangat beragam sesuai dengan taktik dan strategi yang mereka pakai dan persiapkan. Target mereka adalah bahwa menjelang pertengahan abad ke 21 ini sampai separuh dari ummat Islam di Indonesia sudah harus bisa dikristenkan. Sekarang, angka-angka statistik kependudukan memper-lihatkan bahwa penganut Kristen dari yang tadinya sebelum kemerdekaan tidak lebih dari 3 sampai 5 % dari jumlah penduduk Indonesia, setengah abad kemudian, seka-rang, telah meningkat menjadi 17 sampai 20 %. Target mereka, sampai pertengahan abad ini adalah 50 %. Untuk itu segala dana dan daya dikerahkan, dan didukung secara global. Yang jadi incaran mereka, siapa lagi kalau bukan penduduk yang beragama Islam. Sasaran utama mereka adalah mereka dari golongan kesrakat, di desa maupun di kota, yang nyaris tidak lagi bisa membantu diri sendiri, dan dari generasi muda melalui sekolah-sekolah, panti pemuda, dan sekarang kafe-kafe, night clubs dan klub-klub gaul lainnya, dsb.
Oleh karena itu merekapun meningkatkan intensitas gerakan salibisasi mereka dengan menghadang masuk ke tengah-tengah masyarakat Minang, dan lainnya, yang tadinya tak termasuki itu. Gejalanya adalah seperti yang terlihat dari berbagai kasus yang juga terekspos di media massa. Mereka di mana perlu melakukan segala cara, termasuk mempergunakan cara-cara penghipnotisan, eksorsisme, perkosaan, mabuk-ma-bukan, menggiring anak-anak muda Muslim ke daerah-daerah gelap, kelabu, dan remang-remang, ke kafe dan nightclub-nightclub, di kota-kota. Pokoknya, bagaimana caranya supaya generasi muda muslim ini dijauhkan dari adat dan agama mereka. Semua ini dibeberkan secara gamblang sekali oleh seorang mantan biarawati yang sekarang masuk Islam, melalui VCD dan buku-buku yang dia terbitkan.
Praktek-praktek seperti ini di Sumatera Barat sendiri semula dikejutkan oleh kasus Wawah yang sangat menghe-bohkan itu, di mana Wawah, yang adalah siswi MAN Padang dan berjilbab, dibujuk, dikurung, dipindahkan sekolahnya, diperkosa, dikristenkan, diselundupkan dan dilarikan ke Jawa.
Praktek eksorsisme, penyihiran dan penghipnotisan seca-ra berkelompok yang dilakukan di Sumatera Barat ternyata target utamanya adalah anak-anak muda para mahasiswa, khu-susnya mahasiswa puteri yang memakai jilbab, dan dari kelompok yang taat beragama. Bukan sembarang anak muda. Dan itu dilakukan berkali-kali terhadap kelompok anak muda yang sama di asrama-asrama mereka.
Penyakit kesurupan secara berkelompok ini bisa berlang-sung setiap minggu dan dalam bulan-bulan yang panjang ke depannya yang tentu saja sangat menguras tenaga dan keta-hanan tubuh mereka. Karena dalam kesurupan mereka itu, mereka kehilangan kesadaran jati diri dan bertukar bentuk menurut jin atau roh Kristen yang masuk ke dalamnya.
Di bagian lain, di Pesisir Selatan, seorang evangelis dari Amerika juga demikian leluasanya melakukan upaya proslitisa-sinya sehingga ada yang dikristenkan. Mereka juga masuk ke kampus-kampus, khususnya di Padang dan Payakumbuh. Mahasiswa dan dosen-dosen yang kristen yang berasal dari Tapanuli dan Jawa juga banyak yang terlibat dalam melakukan upaya proslitisasi ini. Mereka juga melakukan praktek eksorsisme dan mengencani mahasiswa-mahasiswa puteri muslim untuk tujuan proslitisasi itu.
Di Solok Selatan para pastor dan pendeta yang berbasis di Kayu Aro juga melakukan kegiatan evangeliknya ke daerah-daerah perkebunan. Sementara di Kamang, Bukittinggi, ditemukan ada sejumlah Al Qur`an yang diterbitkan di Jawa, yang dalam kulit sampulnya terdapat kertas tempelan yang berisi do’a-do’a nyanyian gereja. Semua ini adalah indikasi kuat bahwa kegiatan salibisasi telah membuka front baru yang selama ini tidak atau belum mereka lakukan.
*
Reaksi dari ummat Islam sebagai pihak yang dijadikan sasaran nyaris spontan. Kegiatan yang bersifat penggalangan kekuatan menghadapi upaya kristenisasi ini segera muncul. Fakta (Front Aksi Bersama Anti Pemurtadan), pun didirikan, yang dipelopori oleh lembaga-lembaga keislaman yang selama ini aktif mendeteksi dan mengikuti serta menangkis kegiatan kristenisasi, di samping lembaga MUI, LKAAM, Muhamma-diyah, NU, Perti, organisasi LSM dari para pemuda dan mahasiswa, dsb.
Pertarungan keagamaan antara salib dan bulan-bintang kelihatannya tidak lagi cerita dari kejauhan, tetapi telah ada di ranah Minang sendiri. ***

0 Responses to “KRISTENISASI DI SUMATERA BARAT”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: