DIRJEN PUM BERMAIN API

Mochtar Naim
Selaku Anggota DPD-RI dari Sumbar.
Balik Papan, 12 Februari 2005

SUDAH lama Bukittinggi sebagai kota perjuangan dan kota pendidikan dan pariwisata sekarang ini ingin hendak dimekarkan. Dari arealnya yang hanya sekitar 25 KM2 sekarang ini, dengan jumlah penduduk di bawah 100 ribu, dan kepadatan sekitar 70 orang/km2, oleh pemerintah kota ingin hendak diluaskan sampai lima kali lipatnya; yaitu dengan cara memasukkan nagari-nagari sekitarnya ke dalam wilayah kota. Jika itu terjadi maka persyaratan administratif kota menurut aturan konvensional Depdagri terpenuhi kendati kepadatan penduduk menurun dari 70 sampai hanya sekitar 12 orang/ km2.
Sebagai kota belanja, wisata dan pendidikan, Bukittinggi menggelembung di siang hari, mengempis di malam hari. Dua hari seminggu, Sabtu dan Rabu, pasar-pasar membengkak, karena orang-orang dari daerah sekitar membawa hasil bumi, berdagang dan berbelanja ke Bukittinggi. Siklus pasar yang berputar terus dalam seminggu-seminggunya dengan daerah-daerah pasar sekitarnya menyebabkan hubungan sosial-ekono-mi dengan daerah-daerah sekitarnya itu merupakan mata-rantai yang tak putus-putusnya, dan menjadikan Bukittinggi, Paya-kumbuh, Padang Panjang, Batu Sangkar, dsb, sebagai pusat jentera dari sistem pasar yang bersifat siklus itu.
Seperti selama ini, di Bukittinggi berlaku adagium: “Bukit-tinggi koto ‘rang Agam.” Artinya, yang punya dan menikmati Bukittinggi itu bukan hanya yang tinggal di wilayah kota saja tetapi juga yang di sekitarnya. Mereka yang tinggal di luar kota memanfaatkan kota untuk mencari kehidupan, bersekolah, berbelanja, pesiar, dsb. Pasar Bukittinggi yang ada sekarang ini dulunya memang adalah “pasar-serikat,” milik bersama orang Kurai (penduduk autokton Bukittinggi yang adalah orang Agam) dan orang Agam dari daerah sekitar lainnya itu.
Bagaimanapun, masa berubah. Di zaman di mana semua-semua serba dipaksakan dari atas, khususnya selama masa Orde Baru, tidak ada dari antara warga yang bisa berkutik. Sabda ingkang-sinuhun pendita-ratu dari pusat tidak boleh ditampik. Tetapi begitu situasi berubah, nafiri Reformasi dibunyikan, rakyat dari 15 Nagari yang akan dimasukkan ke dalam kota itu pada menyuarakan suara hatinya: Kami tidak mau masuk kota! Maunya lalu apa? Maunya: Partnership! Kemitraan dan kerjasama yang saling menguntungkan! Pola-nya, katakanlah, mengikuti cara Yogya dan Sleman atau cara Jabotabek. Dan pola itupun secara naluriah-alamiah juga ada dalam tatanan adat dan budaya Minang sendiri yang sangat menekankan kepada kebersamaan dan semangat solidaritas sosial yang tinggi, seperti yang tercermin dari siklus pasar itu; dan bukan individualisme dan egosentrisme yang tinggi yang ditiupkan dari pusat seperti sekarang ini.
Di Yogya tidak ada orang yang mempertanyakan apakah kampus besar UGM dan bandara Adisucipto di Maguwo itu letaknya di wilayah adminstratif kota Yogya, atau di Sleman. Di Jakarta juga, apakah kampus besar UI di Depok dan UIN di Ciputat serta bandara internasional Sukarno-Hatta di Ceng-kareng, dsb, itu ada di Jakarta, atau di wilayah kota Depok, dan di Kabupaten Tangerang di Provinsi Banten, dsb. Tanpa perluasan wilayah administratif kota, kegiatan kota boleh saja melimpah dan mengembang keluar ke wilayah-wilayah sekitar sambil ikut menikmati pemekaran kegiatan kota itu. Yang terjadi lalu adalah: win-win solution, berbagi rasa dan berbagi ke-untungan maupun kerugian, antara kota dan daerah sekitarnya.
Sekarangpun, di Bukittinggi sendiri, kegiatan kota dan kehidupan yang bercorak kota telah melimpah dan menjalar keluar kota; khususnya di sepanjang jalan raya yang menghu-bungkan Bukittinggi dengan Padang Panjang dan ke sananya ke Payakumbuh. Bahkan belakangan, jalur Gadut yang menuju ke arah Medan pun, juga mulai berkembang. Ini adalah per-tumbuhan alami, tanda kota hidup dan berkembang. Kenda-raan publik berupa taksi, oplet, dan bis tidak hanya ada di kota, tetapi juga berseliweran ke luar kota. Malah bank-bank, ruko-ruko, toserba, diler mobil, restoran, kios kerupuk Sanjai dan makanan lokal terkenal lainnya untuk dibawa jauh ke rantau, dan pusat pasar industri konveksi Amor, yang semua terletak di luar batas kota, di Kabupaten Agam, pada bertebaran, dan menjamur. Malah rumah-rumah penduduk sampai jauh ke luar kota sekalipun, terutama yang baru-baru, bentuk dan kualitas-nya tak jauh berbeda dengan yang di kota-kota, yang sebagian besar adalah hasil jerih payah dari rantau.
Bukittinggi sendiri, yang terletak di tengah-tengah dataran tinggi Agam Tuo yang cantik-permai, dan dikelilingi oleh bu-kit-bukit barisan dan disangga oleh dua gunung pujaan: Merapi dan Singgalang, satu waktu sudah bisa dibayangkan dari seka-rang, seluruhnya akan menjadi kota dalam artian moderen. Siapapun yang berdiri di tempat ketinggian, di pinggang Mera-pi ataupun Singgalang, akan melihat ke bawah, ke Bukittinggi dan ke sekitar kuali dataran tinggi Agam Tuo itu, adalah sebu-ah kota, yang di malam hari bertaburan dengan lampu-lampu warna-warni bagaikan galaksi bintang-bintang yang turun me-rayap ke bumi.
Adakah orang waktu itu masih mengimpikan bahwa Bukittinggi akan seluas dataran tinggi Agam Tuo itu? Secara sosio-kultural ya, dan pasti, tetapi secara administratif peme-rintahan, tidak. Orang-orang politik dan pemerintahan, dan orang-orang yang hanya melihat kota sebagai obyek rekayasa planologi perkotaan dalam artian fisik dan obyek untuk mengaut pajak dan retribusi bagi kepentingan kekuasaan dan kekayaan para pejabat akan kecele bahwa konsep-konsep yang mereka pakai sebenarnya telah ketinggalan jaman. Konsep se-perti itu tidak lagi diikuti di wilayah manapun di dunia ini – kecuali di negara-negara totaliter seperti di bawah rezim Su-harto di masa Orde Baru lalu yang secara sentripetal ingin hendak memaksakan kehendaknya bagi sebuah kebesaran kota dan pemusatan kekuasaan dan kekayaan bagi yang berkuasa. Di belahan dunia manapun di dunia sekarang ini yang berlaku adalah hukum mata rantai dari kota-kota yang menjurus ke arah megalopolis, bukan pada pencaplokan wilayah sekitar un-tuk diraup oleh kota-kota besar secara administratif-pewila-yahan. Sebagaimana orang sekarang melihat mata rantai mega-lopolis Boston-New York-Philadelphia-Washington, ataupun Tokyo-Nagoya-Kyoto-Osaka-Kobe-Hiroshima, yang tak pu-tus-putusnya, demikian juga satu waktu orang akan melihat mata rantai megalopolis Padang-Lubuk Alung-Padang Pan-jang-Bukittinggi-Payakumbuh, yang kemudian juga bertali ke Batu Sangkar-Solok-Sawah Lunto, dst.
Oleh karena itu konsep Orde Baru yang bersifat sentri-petal dan memaksakan, yaitu dengan mencaplok daerah sekitar untuk dipaksa masuk ke dalam wilayah kota, menjadi sangat kuno, ketinggalan jaman, dan arkaik. Konsep PP 84 th 1999 mengenai perluasan kota Bukittinggi yang konon ditanda-tangani oleh Habibie sambil berada di atas mobil ketika ia sudah demisioner dan hendak memberikan pertanggung-jawabannya di muka MPR-RI di Senayan – dan yang payung hukumnya adalah UU No. 22 th 1999 yang sekarang sudah dicabut –, PP 84 th 1999 itu sendirinya adalah cacad hukum, dan tidak bisa dipakai lagi; sementara payung hukum peng-ganti berupa UU no. 32 th 2004 itu PP penggantinya belum ada dan masih harus dibuatkan.
Alangkah ceroboh dan tidak bijaksananya sang Dirjen PUM dari Depdagri yang sekarang tahu-tahu ingin hendak memaksakan kehendaknya untuk mempercepat terlaksananya PP 84 th 1999 yang tidak lagi punya payung hukum dan bahkan cacad hukum itu. Apalagi dengan dalih bahwa Pilkada akan diadakan, di mana Walikota Bukittinggi dan Bupati Agam dua-duanya juga akan diganti, kelihatannya seperti mengada-ada. Sementara, Mendagri, Dirjen PUOD dan Gubernur Sumbar sendiri sebelumnya telah mengeluarkan amar bahwa tidak akan ada pelaksanaan PP84 sampai waktu yang tidak ditentukan. Ini dengan mengingat bahwa dalam masyarakat sendiri telah timbul perpecahan dan perbedaan pendapat yang cukup gawat dan menggelisahkan. Protes-protes berupa de-monstrasi, unjuk rasa, pernyataan politik di surat-surat kabar, dan melalui seminar dan pertemuan-pertemuan, dsb, dari penduduk dari ke 15 Nagari yang semuanya tidak meng-inginkan masuk kota, baik yang berada di kampung maupun di perantauan, telah santer disuarakan.
Sikap yang ceroboh dan tidak bijaksana dari Dirjen PUM itu hanya akan mengingatkan orang pada politik membelah betung tetapi dengan tujuan sesungguhnya untuk membukti-kan kepada publik bahwa daerah sebenarnya belum matang untuk berotonomi, dan karenanya pusat harus turun tangan untuk mengambil alih persoalan. Pusat melalui campur tangan Dirjen PUM ini kelihatannya ingin bermain api. Bupati Agam bahkan dipaksa untuk membubuhkan tandatangannya pada Notulen acara pertemuan beberapa saat yl di Depdagri, Jakar-ta, dengan diberi waktu dalam waktu seminggu. Acara itu diadakan dengan fokus tunggal satu-satunya, yaitu dalam rang-ka mempercepat pelaksanaan PP84 th 1999, yang sandarannya adalah pada UU No. 22 th 1999 yang telah almarhum itu. Hal ini pasti ada apa-apanya; berudang di balik batu.
Pada hal Bupati sendiri tidak hadir dalam pertemuan itu, karena pada waktu yang sama Bupati harus menghadiri penye-rahan sertifikat penghargaan di istana negara. Notulen yang isinya konon berbeda dengan jalannya pembicaraan di persi-dangan ditandatangani oleh semua yang hadir kecuali oleh Wakil Bupati Agam yang hadir mewakili Bupati.
Sebagai rentetan akibatnya, begitu sampai kembali di Lubuk Basung (ibukota Kabupaten Agam), Bupati dan jejer-annya, pimpinan DPRD Agam dan seluruh anggota, lalu para Wali Nagari dan pemuka masyarakat dari ke 15 Nagari yang seluruhnya menolak masuk kota itu, semua pada menyatakan kebulatan tekad untuk tetap menolak masuk kota. Sebaliknya, mereka menerima konsep membangun kota dan nagari-nagari sekitar secara bersama-sama tanpa ada batu sepadan yang dialih.
Apakah artinya ini? Dan inikah sesungguhnya yang dimaui oleh Dirjen PUM, di mana api yang sudah mulai redup lalu mau dimarakkan kembali? Yang jelas, dengan perubahan UU No. 22 th 1999 ke UU No. 32 th 2004, makin terlihat kecenderungan involusioner dari pusat untuk kembali mem-perlakukan daerah berada di bawah ketiak pusat dan memper-lakukan otonomi daerah dengan setengah hati. ***

0 Responses to “DIRJEN PUM BERMAIN API”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: