ISLAMIC CENTER DI ANN ARBOR

SEPULUH-LIMA BELAS menit berjalan kaki kami sudah sampai di mesjid Islamic Center dari rumah kami di Ann Arbor, Michigan, USA. Kami tinggal di Family Housing dari University of Michigan. Terletak di bagian Kampus Utara (North Campus), sementara kantor Center for Southeast Asian Studies, tempat saya bergabung selama di Univ. of Michigan, berada di Kampus Pusat (Central Campus). Ada bis kampus yang menghubungkan kampus-kampus yang ada. Semua gratis dan tiap sepuluh menit datang. Dan tak sedikit yang sopirnya perempuan, yang tegur sapanya manis-manis.
Seperti biasa, hari Jum’at kemarinpun saya bershalat Jum’at di mesjid Islamic Center Ann Arbor. Khutbahnya selalu menarik. Kebanyakan khatibnya, kalau bukan Arab, Pakistan. Sekali-sekali juga ditingkahi oleh khatib dari orang Afro-American, sebutan sekarang bagi orang hitam Negro di Amerika. Semua mereka bicaranya fasih, bahasa Inggerisnya fasih dan bahasa Arabnya apa lagi, fasih. Dan retorikanya selalu menarik. Memang kalau sudah bicara tentang orang Arab, India-Pakistan dan Afro-Amerikan, Allah sepertinya memberi kelebihan kepada mereka pandai berpidato, pandai berkata-kata dan beretorika. Apa lagi kaya dengan bunga-bunga kata yang orang Amerika sendiri barangkali iri meli-hatnya.
Berbeda dengan khutbah-khutbah yang saya dengar di Mekah, di Medinah dan di Kairo, khutbah-khutbah di Ann Arbor dan di Amerika umumnya kaya dengan nuansa masa kini. Ada politiknya, ada ekonominya, ada kebudayaannya, ada ilmiyahnya. Mungkin karena juga dekat ke kampus dan banyak yang bersekolah tinggi, cara pemaparan permasalahan cocok dengan selera orang kampus cara sekarang. Banyak dari mereka memang orang kampus, professor, doktor, dari ber-bagai disiplin ilmu. Karenanya wacana dan perspektifnya luas. Karena mereka rata-rata sudah warga negara, mereka ngomongnya juga terbuka dan bahkan blak-blakan kalau sudah mengenai politik, dikotomi Islam non-Islam, dan berbagai kesenjangan perlakuan yang dihadapi oleh masyarakat Islam di Amerika.
Berbeda dengan di kita, formalitas dalam berkhutbah tak terlalu dihiraukan. Yang penting rukun-syaratnya terpenuhi. Dan isinya menarik. Sudah beberapa kali saya lihat, khatib bisa berkomunikasi langsung dengan jamaah sambil berkhutbah. Misalnya menyuruh saf-saf yang sudah penuh di belakang maju lagi ke depan merapatkan saf. Atau sambil berkhutbah juga mengajak jamaah untuk mengisi ketiding dalam perjalanan keluar dari mesjid nanti. Ketiding di sini bisa saja artinya kotak kardus yang langsung disodorkan kepada kita untuk diisi. Dan ada beberapa yang tegak di pintu keluar untuk memastikan setiap jamaah menjatuhkan duitnya ke dalam kardus itu. Khatib bilang, kita perlu duit untuk menggaji guru dan mengelolakan sekolah dalam lingkungan mesjid. Makanya bernama Islamic Center. Anak-anak muslim dari TK ke SD ke SMP dan SMA banyak yang sekolah di sekolah Islam ini. Namanya Islamic Academy. Walau tak ada, atau belum ada sekolah tingginyapun, juga dinamai Academy.
Ternyata, semangat menyumbang di antara jamaah mesjid memang tinggi. Makanya sekolah Islam ini standarnya tinggi karena mampu menggaji guru dengan gaji tinggi. Saya ingat, puasa kemarin ini entah berapa ratus ribu dollar keluar dari kocek para jemaah, untuk membantu korban perang di Palestina, di Irak, di Afghanistan. Tapi itulah, karena orientasi-nya banyak ke Timur Tengah, apa yang terjadi di Filipina Selatan, di Indonesia, di Bangladesh, dan di negeri-negeri Islam di Afrika kurang teracuhkan.
Yang menarik juga, yang disampaikan oleh pengurus mesjid sehabis shalat Jum’at kemarin itu, bahwa mulai Jum’at depan shalat Jum’at akan diadakan dua kali. Giliran pertama jam 12 setengah, ketika waktu zhuhur masuk, dan giliran kedua jam setengah 2. Dari pengumuman itu kita bisa menangkap bagaimana mesjid yang cukup besar itu tidak muat untuk menampung jamaah untuk sekali shalat. Lagian, tempat parkiran yang sebenarnya cukup luas, tak memadai. Memang kita bisa lihat sendiri ketika shalat Jum’at usai, banyak sekali muslim dan muslimah yang shalat Jum’at. Yang ikut shalat kecuali laki-laki, juga wanita, sehingga bagian wanitanya pun juga penuh dengan muslimahnya. Ketika ada tele-conference hari Minggu kemarin di antara sesama muslim Indonesia, kawan yang dari Kalifornia juga bercerita hal yang sama. Di Silicon Valley di Kalifornia, katanya, mesjidnya juga melaku-kan sistem Jum’at dua shift. Karena saking banyaknya.
Di waktu keluar itu pulalah masing-masing kelompok suku bangsa saling bertemu, tanya ini-itu, ngobrol sana-sini, sambil melepaskan kangen. Tentu saja dengan bahasa mereka masing-masing. Anak-anak Melayu Malaysia dan Melayu Singapura juga suka saling berkelompok. Hanya anak Indo-nesia yang tak lagi kelihatan seperti di tahun-tahun sebelum-nya. Sekarang ini walau namanya ada ratusan mahasiswa Indonesia di Univ of Michigan, di Ann Arbor, tetapi semua kecuali hanya empat orang, adalah warga keturunan (Cina) dan kebanyakan juga Kristen. Yang empat orang yang pribumi itu, satu, tadinya kiriman pemerintah, sekarang untuk menyelesai-kan PhDnya jadi asisten dosen, sambil cari tambahan lainnya di luar, berkeluarga, dan dari Jawa Timur. Satu, kayaknya kiriman orang tua, berkeluarga, dari Jawa Tengah. Satu, baru datang, dapat grant dari Ford Foundation untuk studi tambahan satu semester di Univ of Michigan, dari IAIN Yogya, asal Sunda. Dan satu lagi anak Padang besar di rantau, kuliah di universitas tetangga, sambil kerja. Lalu yang kelima-nya adalah saya sendiri yang dapat scholarship Fulbright untuk waktu lima bulan, dengan isteri. Sebelumnya ada anak Padang juga, kiriman Bank Indonesia. Tetapi sudah pulang membawa ijazah Master dalam ilmu ekonomi dengan isteri yang lagi hamil. Katanya mau melanjutkan di Inggeris untuk PhD di bidang Ekonomi Syariat. Selain itu ada dosen tari Jawa dari Solo dengan isteri yang juga penari, yang dua-dua Katolik, di samping juga satu dosen Bahasa Indonesia dari Yogya yang juga Katolik.
Selama puasa kemarin ini kegiatan di mesjid nampaknya memang padat. Setiap hari ada buka bersama. Makanan datang dari sana-sini. Malah tak termakan karena saking banyaknya. Isya dan Tarawihnya penuh. Dan makin ke ujung justeru makin penuh. Berbeda dengan di kita yang bagai ekor mancit. Ada kultum yang ditarokkan sesudah dua salam pada waktu Tarawih dengan 21 rakaat. Imamnya spesial didatangkan dari Pakistan yang hafiz al Qur`an. Sudah belasan tahun tanpa pernah absen setiap Ramadhan didatangkan ke Islamic Center, Ann Arbor. Masih terngiang di telinga saya betapa bagusnya bacaan Imam ini – walau lafal dhal dibaca dengan lidah India-Pakistan: zhal. Dia membaca dari hatinya. Dan nyaris tanpa salah. Di belakang di antara makmum ternyata juga ada yang hafal Al Quran yang siap setiap saat membetulkan jika ada yang salah. Di bagian muslimah ada yang mengikuti bacaan Imam sambil membuka Al Quran. Dua hari akan hari raya sang Imam pulang kembali ke negerinya. Di kotanya dia rupanya punya pesantren menghafal al Quran.
Dari jemaah sendiri saya lihat kebanyakan memang dari Arab, dari Pakistan-India, dari Maghribi, dari Albania, Bosnia dan Yugoslavia. Lalu dari Afro-American dan dari Malaysia. Sedikit wajah bule yang dari Amerika sendiri. Dan hanya ada lima wajah pribumi Indonesia yang muslim. Sesungguhnya ada ratusan mahasiswa Indonesia di Univ of Michigan, kampus Ann Arbor, namun sebagian terbesar adalah dari keturunan Cina dan Kristen. Gambaran tersebut juga mewakili gambaran yang sama dari populasi mahasiswa Indonesia di seluruh Amerika sekarang ini. ***

0 Responses to “ISLAMIC CENTER DI ANN ARBOR”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: