POTENSI BUDAYA MINANGKABAU DAN PROSPEK PENGEMBANGANNYA

DALAM setting kebudayaan yang ada di Nusantara ini, budaya Minangkabau menempati tempat dan kekhas-an tersendiri. Melalui pendekatan dialektik yang telah saya coba lakukan sebelumnya,1 budaya Minangkabau berada di satu titik ekstrim dari sebuah garis kontinum budaya Nu-santara itu, sementara di titik ekstrim yang lainnya berada budaya Jawa. Yang lain-lainnya berjejer di antara kedua kutub budaya tersebut, dengan kecenderungan yang terpola: mana yang ciri-ciri budayanya mengarah ke kutub budaya M anak panah orientasinya akan mengarah ke kutub budaya M, dan demikian sebaliknya, mana yang ciri-ciri budayanya mengarah ke kutub budaya J, anak panah orientasinya akan mengarah ke kutub budaya J. Dengan demikian terjadilah dikotomi budaya yang bercorak Nusantara itu: Budaya M dan budaya J. M plus J dengan semua yang ada di antara keduanya = N.
Melalui pemetaan secara dialektik-dikotomik ini sekaligus akan terlihat dinamika budaya Nusantara yang bukan saja multietnik tetapi juga multikultural. Dinamikanya muncul karena tarik-menarik yang terus menerus antara ke dua kutub budaya yang bersifat antipodal itu. Proses dialektik: tesis, anti-tesis dan sintesis dari kebudayaan N yang bersifat multikultural itu, oleh karenanya, senantiasa terjadi.
Baik M dan J, maupun semua yang lain-lainnya dari bu-daya multikultural Nusantara tersebut telah mengalami proses transformasi sejak jauh sebelumnya, sebagai akibat dari letak geografisnya yang di persimpangan jalan. Karenanya masuknya budaya-budaya luar dari Timur maupun dari Barat, dan yang sekarang bahkan telah bercorak global itu, tak terelakkan. Belum lagi bahwa proses transformasi sebagai akibat dari persentuhan maupun pergesekan yang terjadi antara sesama budaya N itu sendiri juga telah berproses sejak cukup lama, dan yang sekarang berwujud dalam bentuk terciptanya budaya baru Indonesia karena menyatunya masyarakat dan budaya N itu ke dalam satu wadah kenegaraan yang terbentuk sejak usainya Perang Dunia Kedua di pertengahan abad ke 20 yang lalu.
Apa yang kita maksudkan dengan masing-masing budaya itu, oleh karena itu, tidaklah lagi dalam wujud dan pengertiannya yang murni, tetapi yang telah bersentuhan dan mengalami proses transformasi dari sekian banyak unsur budaya yang datang dari luar maupun dari lingkungan budaya N itu sendiri. Selain dari unsur-unsur budaya primordial yang dimiliki oleh budaya lokal masing-masing, kita menyaksikan iringan budaya-budaya yang masuk ke Nusantara ini sejak dari awal sejarah perkembangan budaya N itu, yaitu: budaya India (Indik) dan Cina (Sinik), budaya Islam dan Kristen, budaya Barat dan Timur yang moderen, dan budaya global sekarang ini. Semua itu secara bergantian dalam urutan-urutannya itu, dan kemudian setelah semua serba hadir, mempengaruhi budaya N dan budaya lokal masing-masing itu, dalam proses pembentukan dan pengembangannya.
Namun, menariknya, betapapun banyaknya dan silih ber-gantinya unsur-unsur budaya luar yang masuk itu, kita dengan jelas bisa melihat ciri-ciri khas dari masing-masing budaya itu yang menyebabkan masing-masingnya mempunyai watak dan kepribadian sendiri yang sampai saat ini masih bisa dibedakan antara yang satu dengan yang lainnya. Melalui pendekatan dialektik seperti yang saya lakukan itu kita lalu bisa melihat ciri dan watak dari masing-masing budaya N, yakni yang disim-bolkan secara dialektik-dikotomik oleh pola budaya M dan J itu.
Inti dari perbedaan ciri dan watak antara kedua kutub budaya itu adalah di mana yang satu: M, berciri dan berwatak sintetik, sedang yang lain: J, berciri dan berwatak sinkretik. Oleh karena ciri dan watak ini, sebagai mentagi, telah ada sejak semula jadi, maka unsur budaya apapun yang masuk akan diserap dan diolah sesuai dengan ciri dan watak masing-masing itu. Sebagai akibatnya, walau budaya yang masuk pada awalnya adalah sama wujud dan bentuknya, tetapi setelah melalui pro-ses penyerapan dan pengolahan itu, yang keluar adalah yang telah diwarnai dengan ciri dan watak budaya masing-masing tersebut.
Gampangnya, sebagai contoh, walau Islam sebagai agama dan budaya masuk ke Sumatera dan juga ke Jawa, adalah sama, tetapi kultur Islam yang dihasilkan setelah terjadi proses transformasi pada masing-masing mesin pengolahan budaya itu akan keluar berbeda sesuai dengan ciri dan watak masing-masing: Islam yang M bersifat sintetik, sementara Islam yang J bersifat sinkretik. Islam yang M yang setelah bersentuhan dan berasimilasi dengan budaya M menghasilkan rumusan: ABS-SBK (Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah), se-mentara Islam yang J yang setelah bersentuhan dan berasimi-lasi dengan budaya J menghasilkan rumusan: SA-SK: Sedaya Agami Sami Kemawon, semua agama sama baiknya dan sama benarnya. Tinggal kita memilih mana yang lebih berkenan di hati masing-masing. Kitapun bisa mengaduk nilai-nilai budaya agama yang masuk dengan yang telah ada sebelumnya (Animisme, Kejawen, Hinduisme, Buddhisme, Islam, Kristen, dsb) dalam bentukan potpourri atau gado-gado budaya yang sinkretik itu, yang oleh Geertz dinamakan sebagai “Agama Jawa.”
Dikotomi budaya sintetik dan sinkretik inilah yang telah mewarnai kebudayaan Nusantara secara keseluruhannya, de-ngan pola garis besarnya: budaya sintetik M mewarnai seluruh budaya Dunia Melayu, sementara budaya sinkretik J mewarnai Dunia Jawa dan daerah pengaruhnya. Dari segi cakupan geo-kulturalnya, Dunia Melayu terbentang luas dari keseluruhan Sumatera, keseluruhan Kalimantan, terutama daerah lingkaran pesisirnya, keseluruhan Sulawesi kecuali yang dikristenkan (Su-lawesi Utara, sebagian Sulawesi Tengah dan Toraja di Sulawesi Selatan), Maluku Utara, dan NTB. Dunia Jawa terutama Jawa Tengah, Jawa Timur dan Madura. Budaya Sunda, menariknya, secara kultural berada di bawah pengaruh budaya J, sebagai akibat dari pengaruh budaya Indik sebelum masuknya Islam, sementara secara keagamaan lebih dekat ke pola budaya M yang bercorak sintetik karena corak Islam yang masuk bukan-lah yang sinkretik tetapi yang sintetik, seperti yang juga terjadi di pantai utara Jawa umumnya.
Budaya M yang sintetik yang menjadi penggerak-utama dari budaya Melayu itu pada dasarnya menyerap semua unsur budaya yang masuk itu melalui proses dialektik: tesis, antitesis dan sintesis tersebut, sehingga yang keluar adalah budaya yang telah menyatu dan bersenyawa yang satu sama lain saling isi mengisi dan kuat menguatkan. Karena ciri budaya M yang pada dasarnya sifatnya adalah rasional dan universal, maka yang tak serasi dengan itu akan terkesampingkan. Relatif absen atau sedikitnya pengaruh yang masuk dari budaya Indik – berbeda dengan di Jawa yang kuat diwarnai oleh budaya Indik – maka budaya M menemukan dalam Islam dan budaya Barat berikutnya sifat-sifat yang seirama, yakni sama-sama rasional dan universalnya, sehingga sintesis-sintesis yang dimunculkan adalah yang bersifat saling kuat menguatkan dalam bentukan perpaduan yang integral dan sintetikal itu. Karenanya tidaklah ditemukan adanya konflik yang mendasar antara ketiga unsur budaya M, I dan B, yakni Minang, Islam dan Barat, itu. Budaya M, sebaliknya, telah mendapatkan darah baru dengan masuk-nya unsur I dan B tersebut. Wataknya yang sama-sama rasional dan universal dari ketiga unsur budaya yang telah bersintesis tersebut telah menampilkan ciri-ciri budaya derivatif lainnya yang umumnya bersifat: terbuka, egaliter, demokratik, sentri-fugal, dan sintetikal tsb, berlawanan dengan ciri budaya J yang relatif tertutup, feodal, hirarkikal, sentripetal, emosional dan sinkretik itu.
*
Dalam bentukan dan ciri-cirinya yang rasional dan uni-versal inilah budaya Minangkabau menampilkan diri ke te-ngah-tengah masyarakat Nusantara dan Dunia umumnya di era kontemporer sekarang ini, di mana berbagai unsur budaya yang datang dari luar maupun dari dalam sendiri saling berkonvergensi. Ciri-ciri budaya yang rasional dan universal ini menemukan momentumnya justeru di saat dunia kontemporer sekarang ini memiliki ciri dan kecenderungan yang sama, yaitu yang sama-sama rasional dan universal. Budaya Minangkabau, oleh karena itu, memiliki potensi yang cerah ke depan karena didukung oleh budaya global, baik yang datang dari Barat maupun dan terutama yang dari Islam sendiri.
Dalam pergumulannya dalam kancah budaya Nusantara sendiri, diam-diam budaya M telah menemukan jatidirinya kembali terutama sejak diunggulkannya kembali budaya rasio-nal-demokratik melalui proses reformasi yang sekarang sedang berlaku di forum nasional Nusantara ini. Melalui proses Refor-masi ini budaya M kembali ke identitas dirinya, yakni dengan kembali memekikkan semboyan budaya: ABS-SBK itu. Proses desentralisasi dan otonomisasi dari daerah-daerah dalam ke-rangka semangat Reformasi sekarang ini telah memungkinkan semua ini terjadi, di mana daerah-daerah kembali menemukan jatidiri yang selama di bawah hegemoni budaya J di sepanjang era Orde Lama dan Orde Baru tak mungkin secara leluasa terungkapkan.
Proses selanjutnya tentu saja adalah bagaimana menjabar-kannya kembali, untuk kemudian mencerahkan dan mengem-bangkannya, baik dalam konteks budaya Nusantara di tanah air sendiri maupun dalam konteks budaya global di tengah-tengah masyarakat dunia yang juga sedang berproses sekarang ini. Pada kedua pelataran yang sekop dan ruanglingkupnya berbeda ini, kebetulan ditemukan ada faktor konvergen I, Islam, yang peranannya bukan hanya potensial tetapi sekaligus aktual dan krusial. Sebagaimana halnya dengan proses dialektik yang berlaku selama ini pada pelataran nasional, pada pelataran internasional dan global pun, faktor I makin memainkan pe-ranan menentukan, yang kelihatannya untuk dekade-dekade yang panjang ke depan sepanjang abad ke 21 ini, dst, akan makin menentukan dan makin turut membentuk format dan substansi budaya global itu sendiri. Apalagi dengan runtuhnya komunisme di Rusia, lawan dialektik kapitalisme Barat telah beralih ke Islam, dan Islam pada gilirannya makin memperli-hatkan kekuatan dan jatidirinya.
Bagi pengemban budaya M sendiri ini juga berarti bahwa di samping melakukan penggalian kembali akan khazanah bu-daya primordial M yang bersumber dari dan berorientasi ke filosofi etika yang rasional dan universal: ATJG – Alam Ta-kambang Jadikan Guru –,4 pengidentifikasian diri ke dalam bu-daya global yang islami, perlu dilakukan. Dan ini implisit juga berarti bahwa di samping menemukan kembali kearifan-kearifan budaya primordial yang bersifat rasional dan universal itu pengemban budaya M perlu mensinkronkan dan memper-tautkannya dengan budaya global Islam yang tidak hanya rasional dan universal tetapi sekaligus juga transendental, me-tafisikal, spiritual dan emosional. Melalui proses pengintegra-sian secara global dan dialektik inilah konsep ABS-SBK dija-barkan dan diinternalisasikan dalam konteks pengidentifikasian diri kembali ke depan itu. Sementara kearifan-kearifan terha-dap budaya global B, Barat, yang moderen, yang diambil ada-lah terutama aspek rasionalitas dengan metodologi pendekat-annya yang saintifik dan rasional. Ini artinya adalah cara ber-fikir yang obyektif, analitis, kritis, komparatif dan proyektif ke depan.
*
Melalui proses peninjauan kembali secara komprehensif ini para pengemban budaya M tak kurangnya juga perlu mela-kukan introspeksi dan self-kritik akan kekurangan-kekurangan serta kecenderungan inkonsistensi selama ini dalam diri buda-ya M itu sendiri. Inkonsistensi dimaksud mungkin lebih pada pelataran aplikatif ketimbang substantifnya. Misalnya, ke de-pan, inkonsistensi antara sub-varian budaya BC dan KP – Bodi Caniago dan Koto Piliang – tidak terus berlanjut. Salah satu dari ciri budaya yang rasional dan universal adalah tidak ditemukannya inkonsistensi dan inkongruensi antara sub-sub varian itu. Dalam hal ini sub-varian KP harus melepaskan diri dari ciri-ciri feodalistik dan sentripetalnya, lalu menggabung dan meleburkan diri ke dalam sub-varian BC yang lebih egaliter, demokratik dan sentrifugal yang lebih sesuai dengan tuntutan zaman. Atau, BC dan KP melanjutkan proses integra-sinya dengan menciptakan sistem budaya yang lebih konsisten dan lebih terpadu sehingga tidak lagi ditemukan inkonsistensi maupun kontroversi antara kedua sub-varian tersebut. Ini arti-nya jika budaya M secara keseluruhan akan harus seluruhnya serasi dengan inti nilai budaya I dan B, jalan keluarnya adalah dengan melakukan penyesuaian dengan prinsip filosofi intinya itu. Terdapatnya unsur-unsur yang inkonsisten dalam sub-varian budaya KP terhadap inti budaya M jelas mengganggu kepada keserasian totalitas antara budaya M, I dan B itu, di samping kenyataan bahwa setiap transgresi dan penyimpangan dari pola budaya inti akan mengurangi potensi daya total yang dimiliki. Hukum mekanika kuantum pada wilayah sosial-budayapun pada hakikatnya juga bisa dan biasa berlaku.
Kelemahan kedua, terutama pada pelataran aplikatifnya, adalah kecenderungan akan cara berfikir yang sofistik dari para pemangku budaya M itu, dalam arti, sulitnya ditemukan kese-pahaman yang bersifat konsensus antara pihak-pihak yang bertikai pendapat ataupun bertikai kepentingan karena masing-masing ingin mempertahankan kebenaran yang ada pada diri masing-masing sendiri, dan bahkan menginginkan menangnya sendiri. Ini terjadi, pertama, karena kurang terjabarkannya prinsip-prinsip musyawarah dan penyelesaian sengketa ke dalam bahasa-bahasa operasional, dan kedua karena kurang kuatnya tali pergantungan kepada sistem rujukan yang menju-rus ke atas secara vertikal, yakni kepada sistem nilai yang bersifat qath’i atau absolut yang berhakim kepada Al Qur`an, dan pun Hadith yang jadi landasan dari syarak. Dengan prinsip ABS-SBK yang menempatkan adat berada di bawah syarak dan syarak di bawah Kitabullah, secara fundamental-konsep-tual sebenarnya inkonsistensi yang bernuansa sofistik ini telah terselesaikan. Namun masalahnya lebih pada pemahaman dan penghayatan terhadap ajaran qur`ani yang belum seluruhnya terinternalisasi ataupun terbudayakan.
Hal ini juga terlihat kepada kenyataan, kendati prinsip ABS-SBK telah diterima dan disepakati, namun inkonsistensi antara adat dan syarak masih ditemukan pada banyak aspek kehidupan, sehingga orang Minang masih banyak yang lebih menempatkan adat di atas syarak, dan tidak sepenuhnya berha-kim kepada Al Qur`an dan Hadith itu. Pengakuan mereka terhadap supremasi Islam karenanya cenderung lebih bersifat ritual daripada aktual.
Praktek-praktek yang kita temukan di ranah politik dan sosial-budaya pun, sekurangnya selama masa kemerdekaan ini, memperlihatkan bahwa orang Minang belum menerapkan prinsip ABS-SBK itu secara lebih substansial. Salah satu dari faktor kendalanya adalah karena mereka berhadapan dengan kelompok mayoritas yang dominan yang kebetulan memiliki filosofi budaya yang berlawanan: sinkretik. Keharusan untuk menyelamatkan diri sebagai kelompok minoritas dalam artian kultural kadang lebih mengedepan daripada berjuang dan memperjuangkan prinsip yang dianut secara konsisten.
Padahal, sejarah kekuasaan politik dan pun ekonomi dan sosial-budaya di manapun di dunia ini juga dengan gamblang menunjukkan contoh-contoh bahwa tidak selalu golongan yang minoritas yang kalah atau dikalahkan oleh golongan yang mayoritas. Pertimbangan kualitas sesungguhnya jauh lebih menentukan daripada kuantitas. Kelompok minoritas yang memiliki pandangan hidup yang progresif dan dinamis, lalu menata diri secara terorganisasi dengan baik dan efektif, akan mampu melawan dan bahkan mengalahkan lawan-lawan yang betapapun besar jumlah kuantitasnya tetapi tidak punya pandangan hidup yang progresif dan dinamis dan tak ter-organisasi dengan baik. Dari contoh yang kita alami sendiri selama beratus tahun di bawah penjajahan Barat maupun Timur, dan contoh-contoh dari negara-negara terjajah lainnya di Asia dan Afrika, tak lain sesungguhnya adalah itu, yakni yang kecil yang punya pandangan hidup yang progresif dan terorganisasi dengan baik mengalahkan yang besar yang tidak punya pandangan hidup yang progresif dan dinamis dan tidak terorganisasi dengan baik. Al Qur`an sendiri menyindir: “Beta-pa banyaknya kelompok yang kecil-kecil dapat mengalahkan kelompok yang besar-besar, dengan izin Allah…” (Al Baqarah 2:249). Sementara juga ada ungkapan yang populer: “Yang hak yang tak terorganisasi dengan baik dapat dikalahkan oleh yang batil yang terorganisasi dengan baik.”
Implikasinya juga adalah: orang Minang yang menempat-kan dirinya sebagai kelompok kecil yang kendati punya pandangan hidup yang progresif dan dinamis tetapi tak terorientasi dan tak terorganisasi dengan baik, sendirinya akan dikalahkan oleh kelompok besar yang walau tak punya pan-dangan hidup yang progresif dan dinamis tetapi punya kekuatan yang terorganisasi dengan baik. Sekaligus, refleksinya secara internal adalah bahwa ini pula yang membedakan antara generasi dahulu di awal kemerdekaan atau bahkan sebelumnya yang mampu menempatkan diri sebagai jagoan dan pentolan-pentolan di berbagai bidang kehidupan dan kegiatan ketim-bang generasi sekarang yang kehilangan vitalitas dan pandang-an hidup serta tak pula terorientasi dan terorganisasi dengan baik.
*
Potensi budaya Minang ke depan, bagaimanapun, adalah jelas. Sebagai kelompok budaya yang kebetulan memiliki nilai budaya yang serasi dan kondusif untuk menghadapi tantangan globalisasi dan tantangan zaman ke masa depan, pengemban budaya Minang punya peluang untuk melakukan revitalisasi dan dinamisasi terhadap nilai-nilai budayanya itu. Untuk ini yang diperlukan adalah proses penyadaran, yakni dengan kembali kepada landasan filosofi semula dan kembali ke jatidiri kembali.
Proses penyadaran, bagaimanapun, memerlukan kerang-ka konsep yang jelas, ke mana bangsa dan suku-bangsa itu akan diarahkan. Apa program-program prioritas yang harus dilakukan untuk masa-masa terukur mendatang. Dan bagai-mana melakukannya. Potensi-potensi serta kendala-kendala apa yang dimiliki serta bagaimana mencuatkan potensi dan mengangkatkan kendala-kendala itu. Lalu bagaimana menata semua itu ke depan. Untuk itu, bagaimanapun, diperlukan orang dan kelompok orang yang mampu berpikir secara komprehensif dan proyektif ke depan. Diperlukan ahli-ahli pemikir dan pelaksana dan pengemban budaya yang tidak saja berfikir akademik tetapi juga sekaligus didaktik dan manajerial-operasional.
Masalah nomor satu Minang kelihatannya pertama-tama adalah masalah disorientasi. Kekayaan kebudayaan M yang sangat dijunjung tinggi oleh generasi tua ternyata tak cukup diminati dan dihargai oleh generasi muda. Akibat dari sistem pendidikan yang tersentralisasi ke pusat di masa lalu, maka orientasi hidup anak-anak didik teralihkan ke budaya lain yang menasional yang intinya adalah sinkretik, tidak sintetik. Mereka telah menjadi generasi baru Indonesia, dan tidak lagi Minang. Sedikit dari anak-anak Minang yang mengenal Minang dan sadar dengan keminangannya. Sementara, dalam mengangkat-kan nilai-nilai budaya M ke pelataran nasional, bahkan global, diperlukan para pendorong dan pelaku utama yang sadar dan paham akan nilai-nilai budaya itu.
Inilah antara lain tantangan dan sekaligus jawaban ke depan itu. ***

Catatan:

1. Sejumlah makalah dan artikel telah saya tulis sebelumnya yang mengemukakan perbandingan ciri-ciri budaya di Nusantara ini, khususnya antara budaya J dan M itu. Lihat, mis., “Minangkabau dalam Dialektika Kebudayaan Nusantara,” makalah utama yang disampaikan pada Seminar Internasional mengenai Kesusasteraan, Kemasyarakatan dan Kebudayaan Minangkabau, 4-8 Sep 1980, Unand-IKIP-INS-Pemda Tk I Sumbar, di Bukittinggi; dimuat di A.A. Navis, ed., Dialektika Minangkabau dalam Kemelut Sosial dan Politik, Padang, Genta Singgalang Press, halaman 56-67. Lihat juga, “Conflict and Integration: The Minangkabau and the Javanese in the Dialectics of Nusantara Culture,” Seminar Paper, Kyoto University CSEAS, June 18, 1987; 38 pp.

0 Responses to “POTENSI BUDAYA MINANGKABAU DAN PROSPEK PENGEMBANGANNYA”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: