PERSPEKTIF DUNIA MELAYU DAN KERJASAMA MASA DEPAN

MENJELANG usainya Perang Dunia Kedua di tahun 1940-an, sejumlah tokoh nasional di dunia Melayu pernah mengimpikan akan membentuk sebuah Ne-gara Melayu yang kawasannya mencakup Filipina, Indonesia, Malaysia dan Singapura sekarang. Tokoh-tokoh berumpun Melayu seperti Jose Rizal di Filipina, Dr Burhanuddin di Semenanjung Melayu, dan Tan Malaka di Indonesia adalah dari antara tokoh-tokoh Melayu yang memiliki impian itu. Impian tersebut bagaimanapun tinggal impian karena penga-laman sejarah yang berbeda-beda di bawah penjajahan Barat yang menyebabkan orientasi mereka juga berbeda-beda. Fili-pina moderen dibentuk oleh pengaruh kekuasaan Amerika dan Spanyol sebelumnya; Indonesia moderen oleh pengaruh keku-asaan Belanda, sementara Malaysia dan Singapura oleh Ing-geris. Semua itu lalu menjurus ke arah pembentukan negara yang merdeka masing-masingnya dengan orientasi yang kuat ke arah pengaruh budaya bekas para penjajah tersebut masing-masingnya.
Pengalaman selama lebih setengah abad sebagai negara merdeka masing-masingnya memperlihatkan bahwa meski terdiri dari negara-negara yang berdaulat masing-masingnya, ternyata bahwa kesatuan dunia Melayu itu tidaklah pernah sirna dan padam sendirinya. Wujud kerjasama dalam bentuk ASEAN ataupun Sijori (Singapura, Johor, Riau), kecilnya, walau bertujuan pragmatik di bidang keamanan dan ekonomi, namun tak terelakkan nuansa sosial-budayanya yang benang merahnya antara lain adalah juga karena kesamaan rumpun dunia Melayu itu.
Sebagai negara bertetangga, pasang naik dan pasang surut dari hubungan-hubungan politik, ekonomi, sosial-budaya dan keamanan terjadi dan tak terelakkan. Politik “Ganyang Malay-sia” di bawah rezim Sukarno di zaman Konfrontasi tahun 1960-an adalah satu dari antaranya. Dengan perbedaan tingkat pertumbuhan antara negara-negara Melayu itu sikap arogan di mana yang satu menganggap diri lebih tinggi dari yang lainnya juga tak terelakkan. Derasnya arus migrasi pencari kerja dari Indonesia dan Filipina ke Malaysia dan Singapura melalui jalur-jalur legal maupun ilegal, sebagai akibat dari perbedaan tingkat pertumbuhan itu, misalnya, juga memberi warna kepa-da corak-corak hubungan itu. Sementara sebelumnya, Malay-sia, karena tuntutan kebutuhan pemba-ngunannya di awal tingkat perkembangannya, tidak sedikit yang mendatangkan guru-guru dan dosen-dosen dari Indonesia dalam mengejar ketinggalannya. Sedang sebelumnya lagi, tidak sedikit dari anak-anak Melayu dari Semenanjung yang datang belajar ke Sumatera Barat ini, termasuk yang ke Parabek ini, yang kemudian juga banyak yang menjadi pemimpin dan menjadi tokoh terkemuka di tengah-tengah masyarakat Melayu di Semenanjung.
Sekarang arus balik pun terjadi. Dan dalam situasi inilah kita sekarang berada, di mana Indonesia lebih mengharapkan bantuan dan kerjasama dari Malaysia dan Singapura di bidang ekonomi dan pendidikan khususnya.
Impian Kesatuan Dunia Melayu yang mencakup seluruh kawasan Nusantara, seperti yang diinginkan oleh ketiga tokoh Melayu tersebut, bagaimanapun, kelihatannya memang tidak berlanjut, karena berbagai pertimbangan fundamental yang tidak memungkinkan hal itu terjadi dalam wujudnya yang utuh itu. Pertama adalah pertimbangan perubahan struktur geo-politik yang terjadi di kawasan Nusantara itu sendiri. Singapura, setelah terlepas dari ikatannya dengan Malay Federated States, telah menjadi negara sendiri yang seluruhnya didominasi oleh kelompok etnis Cina perantauan (Nan Yang Chinese), sehingga secara geo-politik Singapura praktis terle-pas kaitannya dengan ikatan dan semangat Dunia Melayu itu. Singapura telah menjadi bagian dari jaringan Emporium Naga Cina di Asia Tenggara dan Timur Jauh. Demikian juga halnya dengan Filipina yang makin didominasi oleh kelompok non-Melayu, tegasnya dari etnis keturunan Cina, sementara kelom-pok Melayu Filipina kalah dari persaingan merebut hegemoni dalam hampir semua bidang kehidupan.
Kedua tentu saja adalah masalah agama dan budaya. Dalam pembentukannya, Dunia Melayu menganut fundamen-tal budaya sintetik, yakni yang memadu antara budaya adat dan agama ke dalam satu kesatuan sintetikal, di mana Melayu adalah Islam dan menjadi muslim berarti juga menjadi Melayu. Singapura dan Filipina yang dalam perkembangannya lalu teridentifikasikan sebagai negara non-Melayu, sendirinya terle-pas kaitannya dengan dunia Melayu itu. Yang sekarang tinggal adalah kelompok minoritas etnik Melayu di Singapura dan kelompok Islam Moro yang Melayu di Filipina Selatan yang kedua-duanya tersingkirkan dalam percaturan dan persaingan merebut hegemoni kekuasaan ekonomi dan politik yang sekaligus kultural dan agama.
Di Indonesia sendiri yang negaranya memiliki filosofi budaya sinkretik dengan lambang garuda Pancasila, yakni di mana semua agama diperlakukan sama dan negara berdiri di atas semua agama-agama itu, filosofi Dunia Melayu yang sintetik itu menjadi terpojokkan, kendati mayoritas penduduk-nya adalah muslim. Orang Islam di Indonesia yang rata-rata adalah Melayu meski unggul secara kuantitatif tetapi kalah bersaing secara kualitatif dengan kelompok non-muslim dan khususnya keturunan Cina. Keturunan Cina yang dalam statis-tik kependudukan – menurut ahli kecinaan Leo Suryadinata – tidak sampai 1 %, menguasai seluruh kekuatan ekonomi Indo-nesia, dari hulu sampai ke muara, dengan menempatkan kelompok pribumi yang mayoritas sebagai kelompok yang terpojokkan dan tak berdaya. Kelompok pribumi, seperti yang dikemukakan oleh salah seorang kontestan calon presiden sekarang ini, Amien Rais, telah ditempatkan sebagai bangsa kuli di negara kuli yang ekonominya dikuasai oleh para kapita-lis multinasional yang kendalinya dipegang oleh kelompok pedagang merkantilis Cina Nan Yang itu. Di Malaysia sendiri, untungnya, kendati orang Melayunya kurang dari separuh jumlah penduduk, tetapi Islam menjadi agama negara, sikap mendua terhadap Islam terkesampingkan, dan orang Melayu melalui kepemimpinan yang kuat dari kelompok Melayu sendiri berhasil memasuki berbagai dunia kegiatan yang tadi-nya juga dimonopoli oleh kelompok keturunan Cina. Orang Melayu di Malaysia berhasil menjadi tuan di rumah sendiri.
Kelompok Melayu di Indonesia, sebaliknya, seperti kata Buya HAMKA, telah menjadi tamu di rumahnya sendiri. Mereka terpecah-pecah ke dalam berbagai skisma yang cukup kompleks dan melumpuhkan potensi yang ada pada mereka sendiri. Sebagian karena faktor geo-etnografik dan sejarah serta budaya masa lalu, tetapi sebagian karena faktor ideologi kultural-keagamaan yang terbagi ke dalam dikotomi budaya sinkretik dan sintetik itu. Ada kelompok-kelompok Melayu, seperti suku Jawa, Batak dan beberapa lainnya, yang lebih mengidentifikasikan diri kepada budaya kesukuannya semen-tara menempatkan semua agama sebagai sama (Jawa: sedaya agami sami kemawon). Sebagai akibatnya, dalam satu desa, marga ataupun keluarga yang sama, bisa saja terjadi perbauran antara berbagai anutan agama; ada yang Islam abangan, ada yang Islam santri, ada yang Kristen, dan sebagian ada yang tetap pada agama primordialnya, Kejawen, atau Agama Jawa, sebutan yang dipakai oleh ahli kejawaan Clifford Geertz. Sementara kelompok-kelompok Melayu di Sumatera (kecuali Batak), Kalimantan, Sulawesi, NTB, dan Indonesia Timur lainnya, mereka menganut faham ideologi keagamaan yang sintetik, dalam arti, seperti di atas, antara adat dan agama Islam menjadi menyatu. Di daerah-daerah Melayu yang sintetik ini berlaku adagium: Adat Bersendi Syarak, Syarak bersendi Kita-bullah (ABS-SBK). Syarak Mengata, Adat Memakai.
Dalam pola dikotomik yang seperti ini, Selat Melaka yang secara geografik memisahkan antara Semenanjung Malaysia dengan Sumatera, ataupun Kalimantan, Sulawesi, dll, secara sosio-kultural adalah sebuah jembatan pemersatu Dunia Mela-yu; yakni Dunia Melayu yang sintetik dengan pola ABS-SBK itu. Orang-orang Melayu dari kedua belah Selat ini rata-rata merasakan kedekatan hubungan batin dan sosio-kultural, terutama adalah karena kesamaan pandangan ideologi kultural-keagamaan yang sintetik itu. Karena kesamaan pandangan religio-sosio-kultural ini pula ada nuansa bahwa mereka sesungguhnya lebih dekat antara satu sama lainnya ketimbang dengan kelompok Melayu tetapi yang sinkretik lainnya di bagian Indonesia lainnya. Apalagi semua ini dipateri oleh hubungan sejarah masa lalu di mana puak-puak Melayu yang ada di Malaysia sekarang ini sesungguhnya dahulu berasal dari Indonesia, khususnya dari puak Melayu yang berbudaya sintetik itu, yakni dari Minangkabau, Aceh dan Melayu lainnya di Sumatera, dari Banjar di Kalimantan, dan dari Bugis di Sulawesi.
Dalam konteks ini orang bisa membayangkan betapa dekatnya hubungan antara Melayu Malaysia dan Melayu Mi-nangkabau di kedua sisi dari Selat Melaka itu, khususnya. Sejak dari masa yang sudah jauh ke belakang, ketika Semenanjung Malaya masih dalam berproses sebagai sebuah hunian baru (new settlements) dari para peneruka Melayu yang datang dari bagian-bagian Indonesia itu, sampai ke masa sekarang ini, tidak putus-putusnya ada hubungan batin, hubungan kekeluargaan, hubungan sosial-budaya, di samping hubungan perdagangan, dsb, antara kedua sisi dari Selat Me-laka itu.
Ketika orang Melayu di Semenanjung belum lagi tercerahkan seperti sekarang ini, yakni di mana sebagian besar dari mereka masih bermukim di perkampungan-perkam-pungan Melayu di luar bandar dan hidup dari pertanian dan perladangan dalam skala kecil dengan teknologi sederhana, sementara kota-kota dengan kehidupan moderen dikuasai oleh orang-orang Eropah, Cina dan India, orang Melayu di Semenanjung selalu berkiblat dan menoleh ke seberang Selat ini. Sekat-sekat keimigrasian dan kewarganegaraan lainnya kebetulan pula belum seketat seperti sekarang ini, sehingga orang leluasa pulang-balik dan mondar-mandir antara kedua sisi dari Selat ini. Dulu para perantau Minang dan Melayu lainnya dari sebelah Indonesia ini biasa sekali mengambil jodoh pulang ke kampung halaman, dan membawa hasil perantauan pulang kembali. Baliknya, selain isteri juga mem-bawa saudara-saudara dan orang sekampung lainnya untuk juga ikut merantau ke “Kolang” (Klang), sebuah penamaan yang berarti Malaysia seluruhnya pada waktu itu. Sekarang, tentu saja, situasi sudah lain. Orang Melayu dari berbagai latar belakang kesukuan telah kawin-mawin dan membentuk warga dan nation baru: Malaysia. Yang mengikat mereka pertama-tama tentulah ikatan kemelayuannya dan keislamannya, di samping faktor ancaman eksternal bersama, karena yang dihadapi bukan hanya puak-puak lawan yang bersifat etnik tetapi sekaligus rasial, kultural dan anutan agama.
Dengan berorientasi ke Sumatera dan ke Minang inilah orang Melayu di Malaysia mendapatkan siraman dan arahan kerohanian melalui buku-buku agama dan kunjungan-kunjungan dari ulama dan tokoh-tokoh agama lainnya dari seberang Selat Melaka ini, terutama sejak tahun-tahun 20-an sebelum Perang Dunia Kedua sampai ditutupnya pintu migrasi setelah era Konfrontasi di tahun 1960-an. Dalam masa-masa mesra antara sesama suku Melayu dari kedua tepian Selat inilah kita melihat peranan tak terpermanai dan tak tergantikan dari tokoh HAMKA yang jasanya kita peringati melalui Seminar ini, dan tokoh-tokoh ulama dan cendekia lainnya dari sebelah sini yang jumlahnya cukup panjang untuk disebut satu per satu dalam melakukan pencerahan rohani dan intelektual di Semenanjung itu.
Dengan Konfrontasi semua seperti tersenak dan berhenti mengalir. Namun karena itu pula kita merasa seperti ada yang putus, dan kita merasa kehilangan dari hubungan serumpun yang kita sebenarnya belum siap untuk itu. Apa lagi, baik di sebelah sana, maupun di sebelah sini, ada ancaman-ancaman budaya yang menerpa kedua belah pihak. Apakah itu namanya wabah polusi budaya globalisasi, wabah polusi budaya dari Timur maupun dari Barat, dalam berbagai bentuk, yang sasarannya adalah berupa pelunturan dari budaya Melayu, dan Melayu yang Islam itu.
Kendati ke masa depan, kita tidak akan berfikir untuk menyatukan sistem kekuasaan dan kenegaraan, tetapi Dunia Melayu sudah harus berfikir keras bagaimana menyatukan tuntutan-tuntutan kebutuhan yang sebenarnya sama untuk semua kita. Satu tentu saja adalah tuntutan pelestarian dan pemurnian ajaran agama yang sama yang dianut oleh semua warga Melayu, di manapun, di Indonesia dan Malaysia; malah untuk ini di seluruh Dunia Islam. Banyak ahli ilmu futurologi telah memprediksikan bahwa abad ke 21 ini adalah abad gemilang bagi dunia Islam setelah mengalami masa-masa dekadensi dan masa-masa suram yang telah panjang ke belakang. Adalah giliran Dunia Melayu yang Islam di abad ke 21 ini yang akan memperlihatkan dirinya dalam memainkan peran aktif dan menentukan di pentas dunia nantinya.
Dua tentu juga tuntutan pelestarian dan perevitalisasian serta pengaktualisasian budaya Melayu, terutama yang telah teruji kebaikan maupun keindahannya; apakah itu dalam bentuk budaya etika dan estetika, budaya seni dan sastra-bahasa serta budaya alam pemikirannya. Dengan bermodalkan semua warisan budaya Melayu ini kita ditantang untuk mem-perlihatkan kebolehan dan kelebihan kita, yang kalau tidak, habislah kita dalam pergulatan budaya yang makin seru ini. Dunia Melayu akan dimakan dan dihabisi oleh segala macam virus budaya yang datang dari Barat maupun dari Timur dan dari segala penjuru dunia itu, termasuk seperti yang sekarang tengah kita hadapi di Sumatera Barat ini: upaya pemurtadan dan proslitisasi dengan segala cara dari kelompok “Lan Tardha” itu.
Bagaimana menyikapi semua ini adalah tugas kita bersama. Tantangan-tantangan ke masa depan tidak mungkin hanya dihadapi secara sendiri-sendiri, tetapi harus dihadapi secara bersama-sama. Yang diperlukan lalu adalah meeting of mind dalam rangka menyamakan bahasa dan mindset kita, untuk lalu kita menyamakan sasaran dan strategi serta program bersama kita. Masa untuk menghadapi lawan dan tantangan secara sendiri-sendiri dalam alam dan era globalisasi ini rasanya sudah lewat.
Seminar yang diprakarsai oleh ABIM (Angkatan Belia Islam Malaysia) dan Pemerintah Kabupaten Agam serta Madrasah Sumatera Thawalib Parabek, yang kita adakan hari ini, di MST ini, hemat saya adalah satu langkah ke arah itu sempena kita mengingat dan mengenang jasa dari Buya kita, HAMKA. Bagi kita yang Buya kita itu tidak pernah mati. Yang mati hanyalah jasadnya, tetapi rohnya tetap bersama kita. Dia adalah mutiara mutu manikam yang diciptakan oleh sejarah yang memadu dunia Melayu menjadi satu kesatuan budaya yang utuh. ***

0 Responses to “PERSPEKTIF DUNIA MELAYU DAN KERJASAMA MASA DEPAN”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: