DENGAN BUKU MENYELAMATKAN PENDIDIKAN DI SUMBAR

ADA banyak faktor yang saling terkait yang menyebab-kan terpuruknya kualitas pendidikan di Sumatera Barat praktis sejak masa Orde Baru ke mari ini. Satu dari antaranya adalah karena banyak atau bahkan kebanyakan anak murid tidak punya buku pelajaran. Ada korelasi positif antara punya buku dan tak punya buku dengan tingkat sosial-eko-nomi orang tua, dengan perbandingan sekolah-sekolah di desa dan di kota, dengan kualitas sekolah, dan dengan perhatian yang diberikan oleh masyarakat dan khususnya orang tua murid terhadap pendidikan anak-anak mereka. Makin tinggi tingkat sosial-ekonomi orang tua, makin ke kota, makin tinggi kualitas sekolah, dan makin banyak perhatian yang diberikan oleh masyarakat dan orang tua murid terhadap pendidikan anak-anak, maka makin banyak anak yang punya buku dan makin tinggi kualitas pendidikan. Demikian pula sebaliknya.
Beda sekali anak yang punya buku dengan anak yang tak punya buku dalam hal prestasi belajarnya. Anak-anak yang punya buku bisa mempersiapkan pelajaran dengan lebih baik. Mereka biasanya lebih aktif, lebih percaya diri, bersikap anti-sipatif dan proaktif. Mereka karenanya bisa naik kelas secara teratur dengan nilai rata-rata baik. Anak yang tak punya buku, sebaliknya, betapapun berbakatnya dia, terhambat perkem-bangannya. Dia menjadi anak tergantung, selalu bersifat me-nunggu apa-apa yang diberikan dari guru. Karenanya cende-rung bersifat passif, ragu-ragu, takut-takut, kurang percaya diri. Mereka tidak punya persiapan yang baik dalam menghadapi pelajaran yang diberikan oleh guru dan tidak mampu mendahului apa yang akan diajarkan oleh guru. Dan sifat ini cenderung berlanjut selepas sekolah sampai besar dan tuanya nantinya. Umur bersekolah adalah umur pembentukan watak dan kepribadian. Bagaimana mereka dibentuk pada waktu itu, begitulah mereka seterusnya nantinya; kecuali ada hal-hal luar biasa yang mengubah watak dan kepribadian mereka selepas masa pembentukan itu.
Anak murid tidak punya buku adalah karena orang tua mereka tidak mampu membelikannya. Apalagi kalau anak yang lagi bersekolah dalam satu keluarga ada dua-tiga pula. Orang tua tidak mampu karena lapangan kerja yang tersedia di Sumbar terbatas. Pendapatan kecil, sedang kebutuhan obyektif selalu di atas itu. Mayoritas penduduk masih bergerak di bidang pertanian berskala kecil dan tradisional. Sebagian berjualan dan sebagian di bidang kerajinan rumah tangga di samping jasa lainnya. Walau Sumbar punya garis pantai yang cukup panjang, tetapi sedikit yang bergerak di bidang perikanan laut. Para nelayan yang ada rata-rata hidup di bawah garis kemiskinan, dan terendah dibanding dengan petani dan yang lain-lainnya. Alat-alat penangkapan ikan yang mereka miliki masih bersifat tradisional. Laut Sumbar, seperti juga laut Nusantara lainnya, lebih dikuasai oleh armada-armada per-ikanan asing dari berbagai negara di Asia Tenggara dan Asia Timur dengan alat teknologi penangkapan ikan yang sudah canggih. Merekalah sesungguhnya yang menguasai laut dan kekayaan alam Indonesia lainnya, dan bahkan jentera ekonomi Indonesia itu sendiri secara menyeluruh.
Karena SDA terbatas dan SDMnyapun rata-rata juga terbatas, penduduk Sumbar tergolong miskin. Banyak yang memilih mengadu nasib di rantau daripada tetap tinggal di kampung tanpa prospek masa depan yang cerah dan jelas. Namun, miskinpun, laki-laki Minang rata-rata perokok. Untuk beli rokok sekurangnya sebungkus sehari harganya 7-8 ribu, yang artinya di atas 200 ribu sebulan, tetap saja ada, dan harus ada. Belum pula kalau ibupun untuk pembeli gincu bibir duitnya selalu ada dan tuntutan sosial lainnya biasanya diletakkan di atas dari skala prioritas kebutuhan sekolah anak. Ini berarti bahwa rasa pengorbanan dari orang tua sekarang terhadap sekolah anak tidak cukup tinggi, dan jauh kalah dari orang-orang tua dahulu dalam menyekolahkan anak-anak mereka. Pada hal dahulu kebanyakan orang tua buta huruf. Orang-orang tua yang buta huruf itulah yang dalam sejarah kemerdekaan ini banyak melahirkan para sarjana dan orang-orang pintar lainnya.
Dulu ada semangat pengorbanan itu. Demi sekolah anak, biar makan berdikit-dikit; selera dikacing. Sekarang semangat pengorbanan orang tua terhadap pendidikan anak jauh ber-kurang, karena anak-anak sekarang telah menjadi anak negara, bukan lagi anak orang tua. Semua-semua selama ini ditentukan dan dikendalikan oleh negara. Karenanya ada anggapan dari rata-rata orang tua anak sekarang, dengan mengirim anak ke sekolah mengira kalau tanggung jawab pendidikan bagi anak telah lepas; yang semua-semua lalu diserahkan kepada guru di sekolah. Orang tua hanyalah memberi makan dan pakaian di samping menjaga kesehatannya. Urusan pendidikan guru yang punya tanggung-jawab.
Guru-guru sendiri sementara itu telah menjadikan seko-lah sebagai lahan kerja dengan semangat kepegawaian zaman sekarang. Artinya mereka lebih menempatkan diri sebagai “pegawai negeri” dalam sistem birokrasi asal-jadi, daripada seorang guru yang penuh rasa tanggung jawab dan berdedikasi tinggi.
Karena merasa bahwa gaji tak pernah mencukupi dalam sebulan-sebulannya, berbagai usaha sampingan dilakukan, yang kadang lebih banyak menyita waktu dan perhatian dari usaha mengajar itu sendiri. Untuk penambah-nambah belanja dapur, banyak guru lalu menyediakan diri untuk menjadi agen perpanjangan tangan dari para penerbit buku dan menjadikan anak murid serta orang tua mereka sebagai obyek dan lahan garapan. Melalui kolusi dan kerjasama yang saling mengun-tungkan ini mereka berhasil meyakinkan Diknas untuk meng-ganti buku teks sekolah bertukar setiap tahunnya. Dari rata-rata 20 % komisi yang didapatkan oleh guru-guru untuk penjualan buku kepada anak murid sendiri ini, secara makro nasional miliaran rupiah setiap tahunnya guru-guru sebagai kelompok professi mendapatkan tambahan penghasilan dari usaha kolusi menyediakan diri sebagai agen penerbit buku-buku pelajaran ini – sementara para penerbit buku-buku pelajaran telah menjadi konglomerat dan kaya-raya. Bisnis perbukuannya berjaringan secara nasional. Mereka berkolusi dengan orang-orang dalam di departemen dan bekerjasama pula secara simbiotik dengan para guru-guru tadi.
Malang sungguh anak-anak yang orang tua mereka me-mang tidak mampu membelikan mereka buku-buku. Tahun-tahun sebelumnya ada paket-paket buku yang didrop oleh Diknas ke sekolah-sekolah, sehingga anak-anak yang tak punya buku bisa pinjam buku-buku di perpustakaan sekolah untuk dibawa pulang. Sekarang konon dropping buku oleh Diknas itu sudah dihentikan.
Sebagai akibat beruntun dari kurangnya keperdulian terhadap pendidikan di Sumatera Barat ini, Sumbar sekarang kembali jadi juara. Namun, bukan lagi juara nomor satu sampai tiga atau lima besar dari atas, seperti dahulu, tetapi juara tiga atau lima besar dari bawah. Sumbar dipermalukan dengan bahkan kalah dengan daerah-daerah lain yang tadinya dianggap sebagai terbelakang dalam bidang pendidikan.

*
Ada banyak cara yang bisa kita lakukan dalam meng-genjot pendidikan di Sumbar ini, jika kita mau. Semua itu, bagaimanapun, memerlukan perhatian dan keperdulian penuh dari kita semua dan dari semua lapisan, dengan melibatkan semua unsur: eksekutif-pemerintahan, legislatif-DPRD, lemba-ga-lembaga sosial-pendidikan, dan seluruh rakyat dan masya-rakat di Sumbar ini.
Untuk memacunya kembali perlu niat dan tekad bulat dan perlu dihidupkan kembali rasa malu membiarkan diri terbelakang dari orang. Mestinya, sebagai orang Minang, dan sebagai orang Islam, harus menjadi kelompok unggulan, menjadi uswatun hasanah, suri tauladan, karena ajaran adat, agama dan kebudayaan kita sangat menyuruh kita untuk menjadi contoh teladan dan kelompok unggulan itu. Orang Minang harus malu untuk menjadi orang sembarangan saja dan tidak lagi diperhitungkan. Ibarat timun bungkuk, masuk tak genap, keluar tak ganjil. Apalagi, seperti sekarang, masuk ke dalam kelas terbawah dan tersisihkan secara nasional itu.
*
Jika kita memang tidak suka masuk ke dalam kelas terbawah dan tersisihkan itu, dari sekarang kita sudah harus memadu tekad. Kita harus mengatakan kepada diri kita: enough is enough! Cukup sekali ini. Yang akan datang, mari kita pacu kudanya, dan segenap dana dan daya harus dikerahkan untuk mengembalikan martabat dan muruah orang Minang itu.
Satu dari antaranya di bidang pendidikan ini adalah melalui program pengadaan buku pelajaran, dari SD, SMP dan SMA, dan dari Ibtidaiyah, Tsnawiyah dan Aliyah, serta sekolah-sekolah kejuruan menengah lainnya.
Kita harus mulai dari satu prinsip bahwa: Setiap anak harus punya buku. Tidak ada anak yang tidak punya buku. Prinsip tersebut langsung kita jadikan sebagai target sehingga jelas sasaran yang akan dicapai: Bahwa “Setiap Anak Punya Buku!”
Ini artinya bahwa begitu anak pada hari pertama masuk sekolah, sudah tersedia sekali satu paket buku pelajaran yang diberikan kepada mereka di kelas mereka masing-masing. Paket buku pelajaran itu berisi keseluruhan buku pelajaran untuk setiap mata pelajaran yang diberikan kepada mereka pada Semester baru itu. Ini berlaku sejak kelas 1-6 SD, kelas 1-3 SMP dan kelas 1-3 SMA. Begitu juga di sekolah-sekolah agama dan kejuruan lainnya.
Bisa dibayangkan bahwa kerja ini adalah kerja besar dan dengan biaya besar. Tetapi kalau kerja besar ini dihadapi dengan jiwa besar dan penuh rasa tanggung jawab terhadap bidang pendidikan ini, dan dipersamakan, rasanya tidak ada gunung yang terlalu tinggi, dan tidak ada lurah yang terlalu dalam, untuk ini. Karena kita tahu, ini adalah kunci dan sekaligus jalan keluar dari kemelut pendidikan di daerah kita di Sumbar ini. Pekik perjuangan kita adalah: Setiap Anak Harus Punya Buku!
Perhitungan secara makro berSumateraBarat bisa kita mintakan kepada Balitbang dan Bappeda Prov Sumbar ber-sama Diknas dan Depagnya. Kalau perlu program ini masuk ke dalam program pendidikan yang anggarannya sudah ditargetkan 20 % dari anggaran biaya nasional. Dari jumlah itu kita lalu bagi-bagi tugas dan tanggung-jawab. Ada tugas pemerintah dengan lembaga-lembaga kedinasannya. Ada tugas legislatif dalam memasukkannya ke dalam anggaran belanja daerah. Ada tugas sekolah dan komite sekolah, ada tugas masyarakat dan lembaga-lembaga masyarakat lainnya, dan ada tugas yang khusus dipikul oleh orang tua dari anak sekolah masing-masing. Selama ini hanya orang tualah yang memi-kirkan sendiri keperluan buku-buku untuk anak-anaknya selain dropping buku dari Diknas dan Depag itu.
Dari 100 anak, mungkin ada sekian persen yang orang tuanya mampu membelikan semua buku yang diperlukan oleh anaknya. Orang tua bersangkutan karena berkecukupan malah ikut dalam program subsidi silang, di mana yang kaya mem-bantu yang miskin; yang kuat membantu yang lemah. Melalui sentuhan agama dan kesadaran bermasyarakat dana-dana bagi pendidikan yang betapapun besarnya biasanya gampang keluarnya. Apalagi kena pula caranya, dan menjadi program dan komitmen bersama secara berdaerah.
Dari 100 anak yang sama, tentu pula ada orang tua yang tidak mampu membelikan seluruh buku pelajaran untuk anak mereka. Ada yang separuh atau seperempatnya; dan mungkin ada pula yang sepenuhnya tidak mampu sama sekali, yang karenanya perlu disubsidi, karena benar-benar miskin, tidak berpencaharian, cacat ataupun meninggal — salah satu ataupun kedua-duanya –, dan meninggalkan anak-anak yatim yang ditinggal miskin. Untuk hal-hal seperti inilah perlu turun tangannya pemerintah dan masyarakat.
Buku-buku yang dibagikan kepada para murid di awal masa pelajaran sebaiknya menjadi milik sekolah. Buku-buku itu diberikan kepada para murid untuk dipakai selama masa pelajaran, untuk nanti dikembalikan kepada sekolah setelah buku itu selesai dipakai. Buku yang sama diturunkan pada angkatan berikutnya. Buku-buku yang rusak atau hilang diganti baru oleh orang tua dari murid bersangkutan.
Dengan telah dikeluarkannya ketentuan baru oleh peme-rintah bahwa buku-buku yang dipakai sekarang berlaku untuk lima tahun ke depan, hal mana sangat meringankan beban orang tua, komite sekolah, masyarakat dan pemerintah sekali-pun; sehingga pengadaan buku bisa dilakukan setiap lima tahun sekali. Dengan hanya pengadaan buku lima tahun sekali, maka tugas bersama dalam pengadaan buku ini sudah sangat diringankan. Biaya pengadaan buku pelajaran tidak lagi perlu dikeluarkan setiap tahun, tetapi cukup sekali lima tahun.
Karena buku-buku pelajaran yang sama diperlukan oleh semua sekolah menurut tingkatannya di seluruh daerah provinsi, pemerintah dengan DPRDnya bisa pula memikirkan untuk mereproduksi buku-buku bersangkutan dalam jumlah yang diperlukan di daerah sendiri. Pemda Provinsi biasanya punya usaha percetakan daerah yang cukup lengkap. Daripada mendatangkannya dari Jakarta, Bandung, atau lainnya, lebih baiklah mencetakkan sendiri, sehingga lebih irit dan ekonomis.
*
Tulisan ini adalah sebuah wacana yang saya tulis dan sampaikan selaku anggota DPD-RI (Dewan Perwakilan Daerah RI) kepada segenap jajaran dan unsur masyarakat di daerah di Sumatera Barat, baik unsur pemerintah Provinsi, Kabupaten dan Kota, dengan Dinas-dinas terkait, unsur legislatif di tingkat Provinsi, Kabupaten dan Kota, serta unsur masyarakat dengan berbagai lapisannya. Dan tentu saja kepada media massa untuk ditolong menyebar-luaskannya.
DPD selaku lembaga baru pendamping DPR di tingkat nasional dalam konteks bikameral sekarang ini tugas utamanya adalah untuk membantu memikirkan, menfasilitasi dan men-jadi penghubung bagi kepentingan pembangunan dalam berbagai segi dan sektor, di daerah. Termasuklah di bidang pendidikan yang demikian vital dan menentukan ini, dan yang sekarang dalam keadaan gawat dan terpuruk di daerah ini.
Semoga apa yang saya sampaikan ini mendapat respons dan reaksi yang positif dari semua pihak. Kami berempat: Irman Gusman, Zairin Kasim, Afdal dan saya, selaku anggota DPD-RI dari Provinsi Sumatera Barat, insya Allah siap untuk melaksanakan tugas-tugas yang dipikulkan kepada kami.
Kami menunggu. Sekaligus kami tak lupa menyampaikan ucapan: Selamat Hari Raya Idul Fithri, 1 Syawal 1425 H, serta mohon maaf lahir dan batin. Kamipun menyampaikan ucapan Selamat Tahun Baru 2005; semoga negara dan daerah kita ini kembali jaya dan senantiasa diberi hidayah oleh Allah swt dan diridhai-Nya, amin. ***

0 Responses to “DENGAN BUKU MENYELAMATKAN PENDIDIKAN DI SUMBAR”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: