“FAKTA” SUMBAR DAN PROGRAM MENDESAK KE DEPAN

FAKTA (Forum Aksi Bersama Anti Pemurtadan) Sum-bar lahir dalam rangka menggalang persatuan dan kesatuan antara sesama ummat Islam di Sumbar ini dalam menghadapi bahaya kristenisasi yang sekarang secara nasional sasarannya mulai diarahkan ke daerah-daerah yang relatif kuat Islamnya, seperti Jawa Barat, Sulawesi Selatan dan Sumatera Barat ini. Menurut Irene Handono dalam salah satu VCDnya, sasaran yang ditujukan ke Jawa, dengan konsentrasi Banten, Jawa Barat, dan Madura, kode missinya namanya Jeriko, dan yang ke Sumatera, dengan konsentrasi Sumatera Barat, dengan kode missi: Andalas. Dipilihnya daerah-daerah ini karena kekuatan Islam di daerah-daerah tersebut telah mulai melemah, baik karena pengamalan dan penghayatan dari ajaran agama telah mulai menipis, maupun karena proses pengeroposan yang terjadi dari dalam sendiri.
Sebelumnya, sebagai kita tahu, sasaran mereka ditujukan ke daerah-daerah terbelakang yang tadinya belum terangkat-kan, seperti Nias, Mentawai, Enggano, di pantai barat pulau Sumatera ini; Dayak di Kalimantan, suku-suku di Papua, dsb, yang sekarang semua itu telah mereka kuasai dan kristenkan, sama seperti daerah Batak, Menado, Ambon dan NTT, sebelumnya. Kelompok masyarakat terbelakang yang sekarang sedang mereka incar dan garap termasuk suku Kubu, Talang Mamak, Sakai, yang adalah suku Melayu, di pedalaman Suma-tera, lalu Badui dan Tengger di Jawa, dan suku-suku terbela-kang lainnya yang belum sempat mereka garap sebelumnya.
Sasaran lain dengan prioritas tinggi adalah lapisan miskin dari masyarakat Islam di Jawa, dan Indonesia lainnya, baik di perkotaan maupun di pedesaan, yakni dengan membagi-bagi-kan bantuan pangan dan kesehatan, lalu mendirikan sekolah-sekolah, dari TK sampai ke PT, rumah-rumah sakit, panti-panti asuhan, penitipan anak, adopsi anak, pusat rekreasi dan olah raga bagi pemuda (youth center), dsb. Melalui uluran tangan dan belaian kasih ini mereka lalu menimba hasil banyak. Bagian terbesar dari kelompok Islam yang dikristenkan datang dari segmen dhu’afa yang kesrakat dari ummat ini. Anak-anak jalanan, peminta-minta, mereka yang terlunta-lunta, tuna karya, tuna griya, tuna susila, dsb, adalah makanan empuk mereka. Dengan mengampungkan mereka ke dalam panti-panti, diberi makan, pakaian, sekolah, dan kehangatan di bawah asuhan gereja, mereka para dhuafa yang menjadi kelompok sasaran itu gampang sekali diajak untuk berpindah agama. Apalagi kita-kita yang dari pihak Islam ini sudah lama tidak mengacuhkan mereka. Mereka adalah kelompok yang terabaikan dan tersia-siakan dari lapisan ummat sendiri. Apalagi jarak antara kefa-kiran dan kekafiran, seperti dikatakan oleh agama kita sendiri, demikian tipisnya. Dengan uluran tangan dan belaian kasih dari pihak gereja, wajar kalau mereka gampang ditarik untuk berpindah agama karena hutang budi dan ketergantungan mereka.
Lalu yang terlewatkan dari pengamatan kita adalah dikris-tenkannya bagian terbesar dari komuniti Cina di Indonesia ini, sehingga merekalah yang menjadi tulang punggung finansial dari upaya pemurtadan terhadap ummat Islam yang dananya datangnya dari dalam negeri. Sementara yang dari luar negeri, seperti kita tahu, datang dari berbagai penjuru dunia Kristen, khususnya dari Eropah dan Amerika. Mereka tidak hanya dengan dana, tetapi juga dengan tenaga, fasilitas dan keahlian, selain rencana dan program.
Bayangkan, yang mampu menembus rintangan alam di Papua dengan memiliki armada penerbangan pesawat kecil Cessna, Twin Otter dan Helikopter sendiri, adalah mereka. Yang mampu punya kapal moderen ke Mentawai, adalah mereka. Dan mereka secara bersama-sama bahkan menguasai jalur ekonomi dan perdagangan dari hulu sampai ke hilir di seluruh Indonesia. Mereka menguasai yang terbaik dari semua pelayanan sosial, pendidikan dan kebudayaan, termasuk jaring-an-jaringan televisi, radio dan surat kabar, di Indonesia. Mere-ka juga punya orang-orangnya di pemerintahan, di legislatif, yudikatif, militer dan kepolisian, yang jumlah dan kualitasnya jauh melebihi porsi dan proporsi dari jumlah jemaah mereka. Mereka bahkan juga mengendalikan kedua partai dari kedua kontestan pemilihan presiden sekarang ini. Jumlah mereka sekarang ini telah meningkat secara signifikan dari hanya sekitar 3-5 % sebelum kemerdekaan menjadi lk 18 % sekarang ini. Target mereka, sampai dengan pertengahan abad ke 21 yad, mencapai 50 %. Dari mana mereka mengharapkan jumlah yang fantastis itu kalau bukan dengan mengupayakan peng-kristenan dari ummat Islam sendiri? Dan semua ini adalah dalam rangka tugas suci (mission sacre) mereka yang disuruh oleh agama dan gereja mereka untuk mengkristenkan orang-orang yang belum kristen. Penolakan mereka untuk menerima dan menyepakati kerukunan hidup beragama seperti yang dituangkan dalam SKB 3 Menteri dan UU Sisdiknas itu adalah karena penyebaran agama ke sudut-sudut dunia ini merupakan bahagian dari tugas suci keagamaan mereka itu.
Tantangan kristenisasi yang diarahkan ke Sumbar seka-rang ini adalah demikian riel dan kasat mata, sehingga tidak mungkin kita masih saja berpangku tangan, ataupun berpo-lemik menghabiskan waktu di antara sesama kita; dan pun tidak mungkin jika dihadapi secara sendiri-sendiri tanpa kerja-sama dan koordinasi yang terarah dari semua kita. Ada puluh-an kasus dengan bermacam cara yang telah mereka lakukan seperti yang direkam oleh salah satu organisasi anggota FAKTA ini yang membukukan aksi kegiatan kristenisasi di Sumbar sejak dua dekade kemari ini. Dari kenyataan, apakah itu bukan bukti bahwa dari tidak ada satupun gereja di Pasaman sampai dibukanya Pasaman Barat tahun 1970-an, sekarang telah puluhan gereja berdiri? Apakah kasus Wawah beberapa tahun yl (1996), dan Wawang sekarang ini, yang diliput secara luas oleh media massa, lalu puluhan pemuda-pemudi mahasiswa dan pelajar kita yang kesurupan di berbagai tempat dengan menyebutkan kata-kata Yesus, dsb, di samping juga penyebaran Al Qur`an yang berlapis ayat-ayat Injil di dalam kulit sampulnya, hanyalah sebuah issu belaka yang diverpolitisir? Siapa yang mempolitikkan ini? Demikian naive-kah orang atau pejabat yang mengatakan ini sebagai kasus yang diverpolitisir itu?
Bukankah di daerah pinggiran Sumbar ini: di Pasaman, di Sitiung, di Lunang Silaut, di Sangir, Solok Selatan, di mana ada daerah transmigrasi, di sana mereka beraksi? Mereka kencani anak-anak gadis kita; mereka kawini; jika perlu mereka paksa dan perkosa, dan bawa lari. Walaupun tadinya mereka yang mengaku masuk Islam, supaya bisa mengawini anak-anak wanita kita; setelah dikawini, dapat anak, lalu isteri dan anak-anaknya dibawa masuk Kristen; karena mereka sendiri sesung-guhnya adalah kristen dan bahagian dari jaringan pengkristen-an orang-orang Islam itu. Kasus Mimi yang jebolan S2 IAIN Imam Bonjol, Padang, kasus jebolan lain dari IAIN Imam Bonjol sebelumnya yang kemudian dibawa dan diperisteri oleh seorang pendeta di Irian Jaya, kasus Fitri dari PesSel, dsb., hanyalah sekadar contoh saja dari sekian banyak wanita-wanita kita yang telah mereka murtadkan atau berusaha dimurtadkan.
Kalau tadinya sasaran mereka adalah para transmigran dari Jawa di daerah-daerah transmigrasi itu, sekarang adalah juga penduduk asli sendiri yang Minang. Mereka sekarang juga mulai masuk ke daerah-daerah perkebunan di daerah-daerah lingkaran luar itu, dengan antara lain memasukkan orang-orang Kristen dari Batak dan Jawa sebagai pekerja di perke-bunan-perkebunan itu; lalu mereka menuntut supaya gereja berdiri di sana dengan dalih karena merekapun harus melaku-kan upacara keagamaan mereka. Di perkebunan teh di daerah Solok mereka menuntut agar mereka bisa mendirikan gereja sendiri, atau disediakan kendaraan oleh PTPN diangkut setiap minggu ke gereja di Solok. Di perkebunan teh di Kayu Aro, bersebelahan dengan Solok Selatan, sekarang ada dua gereja besar, satu Katolik, satu Protestan, yang pendetanya datang dari Eropah, dengan dana dan rencana yang langsung datang dari Eropah itu. Seingat kita, bukankah mendatangkan tenaga pastor dan pendeta ini sebelumnya adalah hal yang dilarang, tetapi sekarang seperti dibiarkan kembali.
Dan bukankah di rantau sendiri, di Jakarta, telah ada gereja Minang, berbahasa Minang, dengan arsitektur Minang, dan dengan pendeta orang Minang? Bukankah pendeta Minang sendiri juga sekarang telah ada di kota Padang sendiri memimpin jemaatnya? Dan bukankah, sekarangpun juga telah ada Injil yang berbahasa Minang? Dan ratusan, jika belum ribuan, dari orang-orang Minang di perantauan, karena keseng-sem dengan wanita maupun pria Kristen, atau karena pujuk rayu dari para penginjil, lalu masuk Kristen?
Apakah semua yang ‘bukankah’ itu adalah isapan jempol belaka dan adalah kasus yang diverpolitisir, seperti disindir oleh sementara orang atau pejabat kita?
Rasanya jauh dari itu. Dan ini adalah fakta yang berbicara sendiri yang tak seorang yang berakal sehatpun yang bisa membantahnya.
Sekarang marilah kita kembali ke jati diri kita, dan bertanya ke diri kita sendiri: apakah semua ini akan kita biarkan saja, ataukah, sebaliknya, kita kembali bersatu-padu, dengan mengumpulkan semua tenaga dan kekuatan kita untuk melakukan ‘jihad’ memerangi bahaya kristenisasi dan pemur-tadan ini di kampung halaman kita sendiri, di ranah Minang yang kita cintai ini.
Kita, seperti yang telah berulang kali kita sampaikan, kita tidak anti Kristen, dan tidak memusuhi orang-orang Kristen. Tetapi kita sama sekali tidak mau dan tidak rela dijadikan sebagai obyek pengkristenan. Biar semua mereka tahu, dan kitapun tahu. Kita tidak sekalipun pernah memperlihatkan bahwa kita anti Kristen dan anti orang-orang Kristen. Sudah berapa lama ada gereja dan ummat Kristen di kota-kota di Sumatera Barat ini – sejak Belanda menginjakkan kaki di bumi Minangkabau ini, masih di abad ke 18 dan 19 –; tidak satupun upaya yang kita lakukan untuk menghalang-halangi mereka melakukan upacara keagamaan mereka dan mendirikan gereja-gereja. Kita juga tidak sekalipun pernah mengajak orang-orang Kristen itu kecuali karena kemauan mereka sendiri. Dan itupun biasanya kita suruh lagi agar mereka berpikir ulang atau pelajari secara sungguh-sungguh dan secara seksama terlebih dahulu. Jika terjadi insiden atau kegaduhan dengan pihak gereja di masa lalu, itu biasanya adalah reaktif sifatnya, bukan aktif dan inisiatif yang dimulai dari pihak kita.
FAKTA Sumbar pun tidak perlu ada jika mereka dari pihak gereja-gereja Kristen tidak melakukan kegiatan peng-kristenan yang sekarang ditujukan terhadap penduduk asli Minang sendiri. Bagaimanapun, semua itu sekarang tengah kita hadapi; dan harus dihadapi. Musuh tidak dicari-cari, tetapi bersua pantang dielakkan. Esa hilang, dua terbilang. Kita telah memiliki filosofi hidup yang tak bisa diago-ago, dan tak ada tawar-menawar dengan itu: Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Syarak mangato, Adat mamakai. Orang Minang, seper-ti orang Melayu lainnya, adalah orang Islam; adat dan masya-rakat Minang adalah adat dan masyarakat yang islami. Antara adat dan Islam telah berjalin berkelindan, bak santan dengan tengguli, atau bagaikan aur dan tebing. Filsafat hidup Minang sifatnya sintetis, bukan sinkretis. Orang Minang yang tak lagi Islam, dia berhenti jadi orang Minang. Dia dibuang dari nagari, dibuang sepanjang adat, dan tak lagi dibawa baio-batido. Ini yang membedakannya dengan masyarakat Indonesia lainnya yang menganut budaya sinkretik, di mana “sedaya agami sami kemawon,” kata orang Jawa, semua agama sama saja, sama sah dan sama benarnya.
Untuk menghadapi semua itu, yang frontnya tidak lagi di negeri orang, tetapi di kampung halaman sendiri, di Sumatera Barat tanah Minangkabau ini, ummat Islam di Sumatera Barat perlu bersatu-padu menghadapi lawan bersama ini. Sekali lagi, kita tidak anti orang Kristen dan agama Kristen, tetapi kita anti dengan upaya pengkristenan dengan segala macam cara yang mereka lakukan terhadap kita dan anak-anak kita sendiri. Sungguh keji dan nekad sekali upaya-upaya mereka itu, sementara pemerintah telah melarang usaha-usaha pemurtadan yang mereka lakukan itu, tetapi tidak mereka gubris, dan tidak mereka indahkan.
Untuk itu, dengan berbekalkan tekad dan persatuan di antara sesama kita, untuk menjaga kampung halaman dan anak nagari jangan terpikat oleh segala macam cara yang mereka lakukan dalam upaya-upaya pemurtadan itu, pertama-tama yang harus kita lakukan adalah bahwa kita harus membentengi diri. Kita lakukan ini melalui jalur litigasi di tingkat daerah: provinsi, kabupaten, kota, dan nagari, dan melalui jalur pertahanan nagari dan ketahanan diri.
(1) Melalui jalur litigasi:
– Di tingkat Provinsi, Kabupaten dan Kota, perlu dikeluar-kan Perda yang melarang kegiatan permurtadan dalam bentuk dan wujud apapun terhadap ummat Islam.
– Di tingkat Nagari, masing-masing nagari juga mengeluar-kan Perna (Peraturan Nagari) yang melarang kegiatan pemur-tadan yang sama. Semua dengan sanksi yang cukup berat, baik secara hukum formal, hukum adat, hukum moral dan agama.
(2) Melalui jalur pertahanan nagari:
– Di masing-masing Nagari perlu dihidupkan kembali lem-baga Dubalang yang berwenang menjaga keamanan dan perta-hanan Nagari.
– Setiap pemuda di Nagari dipersiapkan untuk menjadi Paga Nagari dengan dibekali latihan pertahanan semesta oleh pihak kepolisian di Kecamatan, dan ke atasnya. Salah satu dari tugas keamanan Nagari oleh Dubalang dan Paga Nagari ini ialah memagari Nagari dari unsur-unsur kristen yang berniat melakukan upaya pemurtadannya masuk ke nagari-nagari.

(3) Melalui jalur ketahanan diri,
yaitu dengan mempersenjatai diri dengan ilmu dan wawasan yang luas, sikap hidup yang positif, solidaritas sosial yang tinggi, akhlaq yang luhur dan ketaatan dalam beragama yang kuat dan mendalam.

(4) Melalui jalur peningkatan kesejahteraan ekonomi, sosial, budaya dan pendidikan yang berbasis Nagari.
Dengan peningkatan kesejahteraan ekonomi, sosial, budaya dan pendidikan yang berbasis nagari itu kita mengangkatkan kefakiran di tengah-tengah masyarakat kita, sehingga kekafiran akan menjauh dari kita.
Hari ini kita melakukan Rapat Kerja Lengkap dengan seluruh unsur organisasi anggota FAKTA Sumbar untuk merumuskan Program Kerja jangka pendek ke depan. Agar FAKTA bisa berjalan dengan baik dan efektif, perlu dirumus-kan secara jelas dan final dari struktur organisasi FAKTA, hubungan FAKTA dengan organisasi-organisasi anggota, de-ngan lembaga-lembaga pemerintahan, MUI, LKAAM, dan swasta lainnya; program kerja mendesak jangka pendek; sum-ber dana dan cara-cara pencarian dana; fasilitas, sarana dan prasarana serta personalia perkantoran dari FAKTA, dsb.
Saya sebelumnya telah memberikan konsep draft program kerja sebagai sumbangan pemikiran dari saya.
Saya menyampaikan Selamat Berapat Kerja. Semoga Allah melapangkan jalan dan meridhai upaya dan kegiatan kita ini. Diberi-Nya kita kekuatan dan semangat jihad yang tinggi dalam rangka menegakkan agama dan kalimah Allah ini, amin. ***

0 Responses to ““FAKTA” SUMBAR DAN PROGRAM MENDESAK KE DEPAN”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: