MISI DAERAH YANG PERLU SAYA EMBAN

JIKA amanah untuk duduk di DPD
melalui Pemilu sekarang ini
diberikan oleh rakyat Sumatera Barat
kepada saya,
maka ada sejumlah agenda mendesak
yang perlu saya perjuangkan
atas nama rakyat Sumatera Barat
di Forum DPD tersebut
bersama dengan anggota-anggota
DPD lainnya.

Pertama adalah kedudukan lembaga DPD itu sendiri.
Sebagai kita tahu, kedudukan dan peran lembaga DPD
dengan ketentuan yang ada sekarang ini
belum setara dengan DPR
dan memiliki wewenang dan ruang lingkup tugas
yang terbatas.
Kita mau agar DPD yang merupakan forum musyawarah antar-daerah di tingkat nasional
yang membicarakan hal-hal yang bersifat kedaerahan itu berfungsi penuh dan setara dengan DPR sendiri. Kedudukannya kira-kira samalah dengan Senat di Amerika, sedang DPR adalah Kongres.

Dengan demikian kita merubah struktur
kelembagaan legislatif kita
dari sistem satu kamar (unikameral) yang ada selama ini menjadi sistem dua kamar (bikameral) sebagaimana layaknya,
seperti yang juga terjadi di hampir semua negara-negara besar lainnya di dunia ini.

Kedua, sejalan dengan itu,
bersama-sama dengan yang lain-lainnya,
saya ingin memperjuangkan agar otonomi penuh
juga diberikan kepada daerah-daerah provinsi.
Sejauh ini, karena ketakutan yang berlebihan dari pusat terhadap daerah-daerah,
otonomi hanya diberikan kepada kabupaten dan kota,
dan secara semu juga kepada desa-desa.
Pada hal kita tahu identitas dan unit kesatuan daerah itu justeru ada di provinsi,
sementara kabupaten dan kota adalah bahagian tak terpisahkan dari provinsi.
Dengan otonomi penuh diberikan kepada provinsi,
maka provinsi berfungsi sebagai koordinator
bagi semua kegiatan di daerah itu
yang pelaksanaannya memang diletakkan
di kabupaten dan kota sampai ke desa atau Nagari.
Ketiga, dalam rangka otonomi desa, Nagari di Sumatera Barat perlu difungsikan sebagai unit kesatuan ekonomi
di samping unit kesatuan pemerintahan dan adat.
Nagari-nagari, agar bisa menghidupi diri sendiri,
dan mengembangkan usaha ekonomi anak-nagari,
haruslah merupakan badan hukum yang mampu memiliki asset dan usaha perekonomian yang dikelola secara bernagari
dalam bentuk koperasi nagari.
Melalui koperasi nagari, para petani, nelayan dan pengrajin
di nagari membentuk unit-unit usaha koperasi
di bidang masing-masing
di mana mereka tidak hanya menjadi penghasil (produser) tetapi juga mengolah dan memasarkan hasilnya itu.

Dengan demikian mereka secara bersama-sama bisa menguasai jalur produksi, pengolahan dan pemasaran sekali.
Ini artinya mereka melepaskan diri dari jeratan tengkulak
dan pengusaha-pengusaha besar yang ada di belakangnya. Pengusaha-pengusaha yang kebanyakan adalah
warga keturunan itulah justeru sesungguhnya
yang menguasai pasar
dan mengendalikan ekonomi anak nagari
dan bahkan negara ini,
sehingga sebagian besar keuntungan mereka yang dapatkan, bukan petani, nelayan atau pengrajin itu.
Sebaliknya petani, nelayan dan pengrajin
hanyalah menjadi obyek dari para tengkulak
dan pengusaha itu.

Ke depan: petani, nelayan dan pengrajin
haruslah menjadi subyek yang menentukan
– bukan lagi ditentukan.
Kekuatan petani, nelayan dan pengrajin
terletak pada bersatunya mereka
dalam usaha koperasi bersama
yang menguasai ketiga sektor produksi, pengolahan
dan pemasaran itu,
seperti yang contohnya diperlihatkan oleh petani, nelayan
dan pengrajin Jepang, Korea dan Taiwan.

Keempat, tanah ulayat nagari yang telah terlanjur diberikan kepada perusahaan-perusahaan perkebunan, dsb,
supaya dikembalikan kepada Nagari.
Pemerintah pada gilirannya juga mengembalikan tanah ulayat yang telah tercatat sebagai tanah negara itu
kembali menjadi tanah ulayat nagari.
Perusahaan lalu menyewa tanah tersebut kepada Nagari,
atau Nagari memiliki saham perusahaan
yang setara dengan nilai sewa dari tanah itu.
Dengan Nagari memiliki saham perusahaan
maka Nagaripun berhak duduk dalam Direksi
dan ikut menentukan dan mengawasi jalannya perusahaan.
Kelima, hutan nagari sepenuhnya dikelola dan dipelihara
oleh Nagari.
Penebangan liar dapat dihindarkan jika Nagari yang berkuasa atas tanah ulayat berupa hutan nagari itu.
Nagarilah yang mengatur upaya pemanfaatan hutan nagari itu dengan sekaligus menjaga keselamatan dan kelestariannya.

Keenam, kita ingin agar sumber daya alam (SDA) berupa laut yang terbentang hampir seribu km di sepanjang pantai barat dan di kepulauan Mentawai
dimanfaatkan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat, khususnya rakyat nelayan pantai.
Kita perlu membangun armada perikanan
dan usaha-usaha kelautan lainnya dari anak nagari sendiri dengan memanfaatkan teknologi tepat guna yang moderen. Dan ini kita usahakan melalui kerjasama
dengan perusahaan-perusahaan perikanan manca-negara
atas dasar kerjasama bagi hasil
di mana rakyat nelayan dan masyarakat pantai lainnya
yang terlibat di dalamnya
turut memiliki saham dan menikmati hasil jerih payahnya. Sementara itu, sekolah-sekolah
yang berkaitan dengan keterampilan berkelautan itu
perlu ditumbuh-kembangkan.
Harus cukup banyak dari anak-anak kita
yang dikirim belajar ke luar negeri untuk bidang kelautan
dan khususnya perikanan laut ini.

Ketujuh, secara berangsur-angsur tetapi pasti,
kita harus merubah wajah Sumatera Barat ini
dari daerah pertanian tradisional
menjadi daerah pertanian industrial,
yang digandai dengan industri kelautan moderen
dan industri kerajinan dan manufaktur moderen
serta pariwisata alam dan kesenian-kebudayaan.

Untuk itu, Kedelapan, di bidang SDM,
kita perlu meningkatkan kualitas SDM Sumatera Barat
yang belakangan cenderung menurun dan menurun tajam. Meningkatkan kualitas SDM harus dimulai dari rumah tangga dengan tanggung-jawab yang penuh dari orang tua
dan anggota keluarga lainnya
untuk mengasuh, mendidik dan membesarkan anak. Keluargalah pada basis pertama
yang mempersiapkan anak untuk manjadi manusia
yang tangguh, tanggap dan cerdas.

Di sekolah anak-anak tidak hanya dijejali
dengan bermacam ilmu pengetahuan,
tetapi sekolah adalah juga tempat untuk menempa watak
dan akhlak anak
sehingga mereka memiliki kepribadian yang kuat,
rasa percaya diri yang kuat serta rasa sosial yang tinggi.
Oleh karena itu kepada mereka perlu diberikan
pendidikan yang seimbang antara pendidikan intelektual, emosional dan spiritual.
Pendidikan akhlak dan agama
yang diberikan kepada anak didik bukan hanya sekadar teori tetapi sekaligus praktek pengamalannya
yang langsung dibina oleh guru-guru
dan diperlihatkan contohnya oleh guru-guru sendiri.

Kesejahteraan guru, khususnya, perlu diperhatikan,
karena di tangan guru-gurulah terletaknya
tanggung-jawab pendidikan di sekolah itu.
Oleh karena itu jatah 20 % anggaran belanja negara
dan daerah untuk pendidikan
tidak boleh dikurangi.

Kesembilan, seruan Kembali Ke Nagari
(atau Kembali Bernagari)
dalam rangka menerapkan filsafat hidup Minang: ABS-SBK (Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah)
perlu kita tuangkan dan kita jabarkan ke dalam program aksi dalam semua sisi kehidupan.
Dan semua itu di mana perlu dituangkan
dalam bentuk perda-perda,
baik di tingkat provinsi, kabupaten, kota maupun nagari. Untuk pelaksanaannya, semua aparat
(legislatif, eksekutif, yudikatif)
di samping semua warga
dengan semua unsur kepemimpinannya
ikut terlibat di dalamnya.
Dengan kita kembali ke jati diri itu
kita meletakkan dasar-dasar yang kokoh ke masa depan.
Kita menempatkan adat dan syarak sebagai pelita kehidupan dan kita mematuhi undang-undang dan aturan bernegara karena kita ingin tegaknya hukum tanpa pandang bulu.
Oleh karena itu sanksi terhadap pelanggaran hukum
haruslah berat.

Karena tugas besar ini tidak mungkin digarap secara sekaligus, maka kitapun perlu menerapkannya secara bertahap
dan berjangka-jangka.
Adalah tugas dari para unsur legislatif dan eksekutif
di setiap jenjang pemerintahan
untuk menuangkannya dalam program jangka pendek, menengah dan panjang.
Waktu 20 tahun ke depan kiranya akan sangat menentukan dalam proses perubahan besar yang kita lakukan
bagi perbaikan nasib dan peningkatan kualitas kehidupan
di daerah kita dan di negara yang kita cintai ini.
Kita berproses dari masyarakat tradisional yang sederhana

ke masyarakat maju yang moderen,
dan berakhlak tinggi.
Semua itu dilakukan dalam rangka mengabdikan diri
kepada Allah swt.

Mudah-mudahan dengan kita berjuang bersama-sama
dalam rangka mencari keridhaan Allah,
insya Allah, semua yang diinginkan itu bisa tercapai, amin. ***

0 Responses to “MISI DAERAH YANG PERLU SAYA EMBAN”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: