KILAS BALIK MENGIKUTI PEMILU DPD 2004

EMPAT dari 23 calon yang maju untuk bertanding di DPD 2004-2009 telah keluar sebagai pemenang. Saya termasuk dari yang 4 dan terletak di urutan terakhir. Cerita yang sama berulang kembali. Waktu di DPRD Sumbar dilakukan pemungutan suara th 1999 untuk memilih calon daerah Sumbar untuk duduk di MPR RI, sayapun termasuk nomor terakhir dengan urutan ke 5. Ada 5 wakil daerah dari setiap provinsi yang dikirim waktu itu untuk duduk di MPR RI. Menjadilah saya sejak itu juga seorang politikus.
Tiga yang lainnya yang terpilih untuk DPD sekarang ini semua muda-muda dan pengusaha kaya, sementara saya tergolong tua dan hidup sederhana, walau juga tidak miskin. Ketiga jagoan kita itu adalah juga sarjana. Dua pertama di ekonomi, dan ketiga di kimia. Yang nomor 1 bahkan juga dapat pendidikan MBA luar negeri: di Bridgeport, Connec-ticut, USA, tempat saya pernah nongol sebentar di akhir 1950-an, jadi tamunya Prof Justus Maria van der Kroef yang ahli politik Indonesia waktu itu dan tulisannya tersebar di mana-mana.
Dari yang 3 jagoan itupun dua pertama konon ceritanya habis-habisan. Ada yang bilang habis 1 M; ada yang bilang lebih lagi. Memang siapapun lihat foto yang pertama terpam-pang di mana-mana dalam ukuran-ukuran besar. Saya buka pintunya ATM Bank Mandiri di Jl Sudirman yang terletak di parkiran belakang; gambar jagoan yang nomor 1 itupun juga ada tertempel di sana, seolah-olah menunggu saya dan siapa-pun yang masuk, menyapa. Ada yang bilang sampai di WC umumpun juga ada. Dan gambarnya serta brosur dan span-duknya ada di mana-mana, di semua kota dan semua daerah sampai ke pelosok-pelosok sekalipun. Dia ada di bawah pohon, di dinding-dinding, di tembok-tembok; tidak hanya satu, tetapi sekali tiga, empat, lima, berderetan. Belum lagi tiap sebentar ada praharanya di surat-surat kabar, dan di televisi. Lalu serentetan wawancara dan kampanye di mana-mana. Apalagi calon DPD nomor 1 itu, yang saya sangat kenal baik dan akrab lagi karena juga sama-sama di FUD MPR RI, di mana dia adalah juga Wakil Ketua FUD, wajahnya memang cakep, ganteng, simpatik, dan pandai bergaul serta menyenang-kan kalau bicara. Tampak cerdasnya dan cepat menangkap apa-apa.
Yang pemenang kedua, saya selama ini hanya kenal nama, dan sering membaca namanya dan kegiatannya di koran-koran Padang. Tapi kemarin di Jakarta, waktu kami dipanggil oleh KPU Pusat menyaksikan rekapitulasi akhir di Sahid, kami sudah bersalaman. Juga ganteng, muda dan kaya, mewarisi bisnis orang tua sebagai dealer sekaligus suku cadang mobil, dan yang sekarang juga meluas ke perhotelan, dsb. Yang nomor 2 inipun konon habis-habisan. Saya dengar, dia melakukan road show ke Pesisir Selatan dengan membawa truk fuso sekaligus dijadikan pentas untuk kampanye di lapangan terbuka. Ribuan yang hadir. Namun saya belum tahu bagai-mana sepak-terjangnya di politik. Karena belum pernah dengar dia bicara dan baca tulisan-tulisannya, kalau ada. Mudah-mudahan tokoh menjanjikan untuk membawa Sumbar terang-katkan ke masa depan.
Yang pemenang ketiga, pertama kali ketemu ketika kampanye baru saja usai, yakni di rumah makan Pak Sidi di Padang Panjang. Kebetulan kami suami-istri belakangan masuk dan dari meja sedikit berjauhan dari kami dia sedang makan dengan kedua orang tuanya dan entah siapa lagi, lalu mereka menggabit melambaikan tangan dan kamipun memba-lasnya.
Selesai makan saya datangi meja mereka dan sambil ber-diri saya ngobrol dengan mereka. Ternyata bapaknya ini adalah Buya SB, anggota DPRD Sumbar, Ketua Umum Perti Sum-bar. Kalau tidak salah, dari Pasaman. Beliau mengingatkan saya bahwa beliau termasuk yang mendukung pencalonan saya untuk duduk di MPR RI dari Sumbar waktu sidang paripurna di DPRD Sumbar, Sep 1999, nyaris 5 tahun yl itu.
Pemenang ketiga ini malah yang termuda, masih ber-kepala tiga, ganteng lagi, dan orangnya kalem serta bagus budi-bahasanya. Dia adalah politikus pemula. Belum terdengar peran maupun namanya sama sekali sebelumnya, sehingga orang banyak bertanya-tanya, dengan tiba-tiba namanya mun-cul dan langsung melejit. Dia adalah pengusaha muda di Jakarta, dan kebetulan bapaknya tokoh Perti nomor 1 di Sumbar. Mungkin melalui pengaruh kharisma bapaknya ini di Perti di daerah-daerah basisnya itu yang telah turut menen-tukan, di samping tentunya retak tangan dan kehendak Allah sendiri. Dari kesan ketenangan dan kelembutannya itu saya melihat dia punya masa depan yang cukup baik asal saja dia pergunakan kesempatan ini sebaik-baiknya dalam membina dan meniti karir politiknya itu.

*
Lalu ada 19 calon lain yang kebetulan tidak terpilih. Empat dari antaranya yang mendapat suara terbanyak (urutan 5 sampai 8) masuk ke dalam grup cadangan yang berhak langsung duduk secara urutan manakala dari yang 4 yang terpilih ada yang uzur tetap: mati, terpidana, cacad yang tak memungkinkan melaksanakan tugasnya lagi secara permanen, atau menarik diri.
Saya yang tak sampai hati dan grogi justeru dengan yang 4 kedua yang sekarang jadi grup cadangan ini; dan bukan dengan 3 pertama yang adalah jagoan-jagoan itu. Tiga pertama yang jago-jagoan ini memang sejak dari awal sudah melejit terus. Yang pertama bahkan menjujut terus bagaikan meteor yang tak terdekati. Hanya yang nomor 2 dan 3 yang jarak suaranya relatif dekat sekali – sekitar 1000-an – tapi tak pernah bertukar tempat. Masing-masing nomor 2 dan 3 dari semula.
Jika jagoan yang nomor 1 unggul di 12 dari 19 daerah pemilihan, sampai di Mentawai sekalipun, nomor 2 hanya unggul di kandangnya sendiri (Padang/Pariaman dan kota Pariaman), nomor 3 unggul di 3 daerah pemilihan (Pasaman Barat, Pasaman dan Solok Selatan). Sepertiga (33,6 %) dari seluruh suara yang didapatkan oleh pemenang ketiga datang dari Pasaman Barat dan Pasaman, daerah asalnya. Sementara saya, dengan nomor urut 4, hanya mendapatkan suara yang sama atau lebih sedikit dari nomor urut saya hanyalah di 6 daerah pemilihan. Di daerah asal saya sendiri (Agam) saya berada di urutan ke 3. Pemenang nomor 1 juga nomor 1 di Agam, dan pemenang nomor 5 yang cadangan berada pada urutan ke 2 di Agam. Di kota Bukittinggi sendiri saya hanyalah di nomor urut 6. Namun, kecuali di kota Pariaman, di mana saya berada pada nomor urut 11, saya di mana-mana selalu berada pada kelompok daerah pemilihan dengan urutan 9 pertama, dari 19 daerah pemilihan seluruhnya.

*
Saya yang malu hati adalah dengan kelompok pemenang cadangan, yaitu urutan 5 sampai 8 itu. Soalnya karena nama kami muncul silih berganti, khususnya yang nomor urut peme-nang 5-7, di mana termasuk besan saya sendiri, JM. JM bahkan pernah menempati urutan ke 4, yang kalau terus bertahan di nomor 4, dialah yang dikirim ke Senayan, bukan saya.
Ketika nama saya sudah berada pada urutan ke 4, yang berarti calon jadi, komentar Haluan selalu mengatakan bahwa calon yang sekarang di nomor 4 belum ada jaminan dia akan menang, karena bisa saja dia akan dibaipas dan diambil alih oleh nomor-nomor berikutnya, yang bisa nomor 5 sampai nomor 7 yang akan menjadi nomor 4.
Suasana tegang itu berjalan cukup lama karena proses penghitungan suara di KPU daerah memang berjalan lambat karena dihitung secara manual dan disaksikan oleh banyak mata. Suasana yang benar-benar reda dan meyakinkan barulah pada saat-saat terakhir penghitungan suara, setelah nomor 5 yang berada di belakang saya sudah ketinggalan jauh diatas 6 ribu suara. Namun sebelumnya orang sudah memastikan bahwa saya masuk 4 besar, karena hasil penghitungan secara komputer sudah dikirim langsung dari Kecamatan ke KPU Pusat, dan yang perubahan suara praktis tidak terjadi dengan yang dihitung secara manual dari KPU daerah.
Saya sendiri selama masa menanti dalam penghitungan suara yang bisa gregetan itu, sebenarnya tidak pernah resah. Kebetulan, memang, garis batas nomor 4 itu tiba pada diri saya sendiri, yang bisa bergeser terus, masuk atau tidak masuk. Saya malah tenang dan adem ayem saja. Kenapa? Mungkin karena hal itu sudah bawaan saya juga, yang cenderung tidak kompulsif dan tidak temperamental. Tetapi juga, mungkin, saya sempat mendapatkan siraman jiwa sebelumnya dari seorang ustadz di Pasa Lereng Bukittinggi, yang kedainya sederetan orang jual nasi Kapau. Saya sempat diajarkan sebuah do’a olehnya, yang doanya sangat sederhana sekali. Doanya itu bunyinya: “Ya, Allah, berikanlah yang terbaik untukku.” Itu saja. Artinya kalau menang, itulah yang terbaik, dan kalau kalah, itulah juga yang terbaik. Karena menang atau kalah ada di tangan Tuhan. Makanya saya kalem saja, dan tugas-tugas biasa saya jalankan sebagaimana biasanya pula. Saya juga tidak kasak-kusuk melihat di TV tiap sebentar turun naiknya angka-angka perolehan suara itu.
*
Dari 4 pemenang cadangan ini, saya lihat, ada 3 yang tergolong pengusaha dan hanya 1, yang nomor terakhir, yang bukan. Beliau dosen agama, doktor, di UNP, dan juga da’i dari Perti. Dari yang 3 yang pengusaha itu ketiga-tiganya juga sarjana, 1 drs, punya SMK beken; 1 SE, tergolong pengusaha muda yang sukses, serta aktif berdakwah, dan 1 insinyur listrik, bapak perlistrikan di Sumbar, mantan calon gubernur, dan mantan dirut sebuah perusahaan patungan mancanegara di bidang perlistrikan di Jakarta.
Yang 15 lainnya yang tidak lolos, ada nama-nama yang cukup menonjol. Ada yang bekas rektor, bekas pengusaha kaya di zaman Orde Baru, bekas pejabat teras daerah, bekas perwira tinggi, pengacara wanita terkenal, dan sejumlah anak muda yang punya masa depan yang cerah.

*
Apa lalu yang saya dapatkan pelajaran dari pengalaman mengikuti pemilu di mana saya ikut bertanding di dalamnya? Pertama, saya telah membuktikan pada diri saya sendiri, bahwa bermain politik itu bisa biasa-biasa saja. Politik itu tidak harus kotor, dan karenanya tidak harus main kotor. Biar orang bermain politik dengan melakukan segala cara, yang kita jangan. Orang berhabis-habisan dengan dana, yang kita tidak perlu. Kita berbuat seberapa bisa, dan sekuat tenaga. Dan tidak “ngoyo,” bak kata sanak kita dari Jawa. Menang syukur alhamdu lillah, kalahpun tak masalah. Menang jadi, kalahpun jadi. Yang kita tidak akan bertukar rona karenanya.
Dengan prinsip seperti itu, saya tidak pernah main uang, dan sayapun tidak pernah menjanjikan yang muluk-muluk kepada siapapun dalam kampanye-kampanye saya. Sayapun juga tidak memberikan insentif apapun dan sepeserpun kepada adik-adik para mahasiswa yang membantu saya dalam tim sukses saya. Saya hanya menekankan perlunya kita kerjasama dalam melakukan ibadah politik, sebagaimana dengan ibadah lain-lainnya di bidang kegiatan apapun. Politik bagi kami adalah juga bagian dari ibadah. Oleh karena itu tidak boleh dikotori dan disalah-gunakan.
Saya sendiri praktis malah tidak pernah berkampanye dalam arti yang sesungguhnya. Saya tidak pernah sekalipun mengambil peluang untuk melakukan kampanye di lapangan terbuka, bahkan juga tidak di ruangan pertemuan, di hotel atau di manapun. Saya ngeri melihat kenyataan bahwa untuk melakukan kampanye yang seperti itu memerlukan dana yang tidak sedikit, yang jelas saya tidak sanggup melakukannya.
Yang saya upayakan hanyalah memberikan ceramah di mesjid-mesjid. Karena baru pulang dari Amerika, saya lalu menceritakan bagaimana perkembangan Islam di Amerika, yang kelihatannya memang menarik untuk diceritakan kepada jemaah di mesjid-mesjid. Paling dalam ceramah-ceramah terse-but saya selipkan saja sedikit ajakan untuk tidak lupa memilih yang nomor 20.
Ada yang bilang, nomor 20 nomor keberuntungan bagi saya. Karena Golkar yang kuat di Sumbar nomornya juga 20. Ataukah logikanya juga bisa sebaliknya, dengan nomor yang sama saya secara tak disengaja telah ikut pula mensukseskan Golkar di Sumbar dengan menyebutkan angka 20 itu. Saya bagaimanapun tak tahu persis apakah memang ada pengaruh-nya dengan angka 20 itu. Bagi saya kalau iya, syukur saja.
Ada juga yang bilang, Pak Mochtar itu pasti takkan lolos. Mana orang sudah berkucatak dengan persiapan pemilu sebe-lum kampanye dimulai, dia masih saja berleha-leha di Amerika. Yang disuruhnya anak-anak mahasiswanya untuk mengurus-kan segala urusan untuk dia. Sudahpun pulang sehari sebelum masa kampanye dimulai, dia tak kelihatan kasak-kusuk sedikitpun. Paling satu-dua spanduknya tergantung di sejumlah kota. Dan itupun tidak banyak. Paling juga brosur dan kartu-kartu yang diedarkan. Itupun oleh para anak-anak mahasiswa-nya yang menyelinap masuk sampai jauh ke pelosok desa. Paling juga sekali-sekali keluar tulisan dan pariwiranya di beberapa surat kabar. Pariwaranya di koran-koran itupun adalah juga sumbangan dari kawan-kawan anaknya sesama alumni SMA 2 Padang. Orang ramai-ramai mencari keru-bungan massa, saya dibidik oleh sebuah TV swasta untuk beranjangsana dengan kaum nelayan yang lagi memukat di pantai Purus.
Saya kemana-mana berkampanye tidaklah dengan tujuan untuk memperkenalkan diri, lalu pilihlah saya dan bla-bla. Saya datang melihat keadaan mereka, bercengkerama, dan ceramah di mesjid-mesjid. Makanya saya kecuali untuk yang sangat-sangat perlu, nyaris tidak mengeluarkan biaya. Di sebuah mesjid di Payakumbuh, saya bahkan disodori envelop yang tentu saja tidak saya terima dan kembalikan pada pengurus mesjid.
Yang juga cukup membantu saya adalah dengan keda-tangan tamu kami dari Amerika, pesilat Minang, Waleed, yang telah kami kenal di Ann Arbor, Michigan. Dia seorang warga-negara Amerika kelahiran Panama yang tadinya beragama Katolik, masuk Islam, lalu ikut pula dengan tarekat Naqsha-bandi. Dia datang tepat pada waktunya ketika kampanye sedang marak-maraknya di minggu terakhir. Kami ke mana-mana mempertunjukkan demonstrasi silat, dan dalam mem-perkenalkan tamu kita itu paling-paling saya hanya menyelip-kan pesan sponsor: Jangan lupa nomor 20. Biasanya disambut dengan grrr karena orang tidak mengira akan ada pesan seperti itu. Tapi banyak juga yang menduga kalau saya juga akan memanfaatkan peluang emas itu. ***

0 Responses to “KILAS BALIK MENGIKUTI PEMILU DPD 2004”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: