YANG TUA DAN YANG MUDA Dua-dua saling mengincar kursi

FENOMENA yang menarik dengan Pemilu 2004 ini adalah cukup banyaknya generasi muda yang tampil sebagai Caleg, di samping yang sudah tua dan sudah banyak memakan asam-garam politik praktis. Gejala ini adalah hasil dari semangat reformasi yang justeru dicanangkan dan dimulai oleh kaum muda sendiri. Sebagai kita tahu, di zaman Orde Baru, dan Orde Lama sebelumnya, yang dominan adalah yang tua-tua dengan semangat paternalisme kebapakan dari feodalisme masa lalu yang dihidup-suburkan kembali.
Sejauh ini tidak terlihat ada masalah. Yang tua-tua yang merasa dirinya masih cukup mampu dan bergairah, silahkan ajukan diri lagi, sementara yang muda-muda dengan semangat mudanya tampil gagah dengan hari esoknya yang panjang ke depan. Yang kelihatan ada masalah jika dikaitkan dengan gender. Kita ingin, memang, sayap wanita lebih tampil lagi ke depan. Tetapi karena kendala masa lalu, jumlah mereka belum sebanyak seperti yang kita inginkan. Mudah-mudahan ke depan.
Sementara itu antara yang tua dan yang muda ini perlu ada jembatan rasa, yang ukurannya adalah kemampuan potensial yang ada pada diri masing-masing. Ada banyak yang tua yang mampu — mampu berfikir jernih, mampu berfikir kritis, konsepsional dan berwawasan luas – sebagaimana juga banyak yang muda yang juga mampu dan punya potensi yang bahkan bisa mengalahkan yang tua-tua. Tetapi tidak sedikit dari keduanya yang sebenarnya tidak atau kurang mampu, tetapi tampil juga ke depan karena berbagai alasan. Sementara kita mempertaruhkan nasib bangsa dan hari depan kita kepada mereka.
Dari pengalaman saya sebagai anggota MPR RI, saya melihat dengan mata kepala sendiri, betapa masalah kita tidak terletak pada umur, tetapi terutama pada kemampuan intelektual dalam menggarap masalah-masalah besar kenegaraan, yang sendirinya memerlukan kemampuan intelektualitas yang tinggi, di samping stamina dan kesungguhan dalam menggarap masalah-masalah yang diagendakan. Kasihan saya melihat, yang tua dan yang muda, yang tidak siap dan bahkan yang tidak memiliki kemampuan intelektualitas dan berwawasan luas itu.
Dalam kita menghadapi Pemilu 2004 sekarang ini, rakyat kita perlu sekali memilih dan memilah-milah satu per satu, siapa saja yang mempunyai kemampuan intelektualitas dan berwawasan luas itu yang akan mewakili mereka di forum DPR maupun DPD dan DPRD di daerah-daerah. Rakyat dan bahkan negara akan rugi besar jika mengirimkan wakil yang sembarangan, yang tampil baik karena duitnya banyak atau pandai menjual kecap — karena tidak ada kecap yang nomor 2.
Kecuali intelektualitas dan wawasan luas itu, bagaimanapun, kita memerlukan wakil rakyat yang jujur dan amanah, bersih diri dan bersih niatnya. Dia tidak terayu oleh gemerincingnya duit, dan tidak memainkan duit untuk membeli suara rakyat. Dia duduk di DPR, DPD dan DPRD itu dengan niat semata ibadah kepada Allah swt dalam rangka memajukan rakyat, bangsa dan negaranya. ***

0 Responses to “YANG TUA DAN YANG MUDA Dua-dua saling mengincar kursi”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: